NovelToon NovelToon
Wasiat Terakhir Ibu

Wasiat Terakhir Ibu

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dokter / Romansa
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Yehppee

🍀AYO, MAMPIR 🍀
Galang Langit jatmika sama sekali tidak mengenal sosok Hanum Sekar Salsabila.

Tapi di ranjang kematian ibunya, ia di paksa mengucap ijab Kabul untuk menikahi gadis itu.

"Nikahi Sekar, jaga gadis itu untuk ibu."

Pernikahan tanpa cinta, masa lalu yang datang, dan rumah tangga yang semakin terasa hambar.

Tapi bagaimana kalau wasiat itu justru jadi jalan satu-satunya untuk menyembuhkan hati mereka berdua yang penuh luka?


Yuk, cari jawabannya di sini 🍀

°°°°°°°°

Jangan lupa subscribe, like, vote, dan komen🫶

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20. Mengenal sosok Galang Langit jatmika

Dua puluh menit kemudian, mobil Galang melaju membelah jalanan Tarogong yang mulai ramai oleh lampu malam. Udara dingin masuk samar dari jendela yang sedikit terbuka.

Sekar duduk di kursi penumpang sambil memainkan ponselnya.

"Jauh?" tanya Sekar setelah membalas pesan teks dari ibunya.

"Enggak."

"Tempat baru?"

Galang menggeleng kecil.

"Tempat lama."

Sekar melirik pria di sampingnya.

Galang menyetir dengan satu tangan santai, sementara tangan lainnya sesekali mengetuk pelan setir mengikuti lagu lawas Sunda dari radio mobil.

Dan entah kenapa Sekar mulai sadar. Belakangan ini ia semakin sering melihat sisi lain Galang yang tidak muncul di rumah sakit atau di depan orang lain.

Lebih santai, lebih hangat. Tidak sedingin kesan pertamanya dulu.

Mobil akhirnya berhenti di sebuah tempat makan sate yang cukup ramai di pinggir jalan Tarogong. Asap dari pembakaran sate mengepul ke udara malam, bercampur aroma bumbu kacang dan kecap manis yang langsung membuat perut lapar.

Lampu kuning sederhana menggantung di atas warung besar itu. Beberapa meja sudah di penuhi keluarga dan rombongan anak muda.

Galang turun lebih dulu.

Lalu tanpa banyak bicara, ia berjalan memutari mobil dan membukakan pintu untuk Sekar.

Gadis itu terdiam, memperhatikan suaminya. Entah sejak kapan, gestur seperti itu selalu berhasil membuatnya salah tingkah.

Mereka memilih duduk di meja pojok dekat kipas angin besar.

"Pesan apa?" tanya Galang sambil membuka menu.

Sekar melihat daftar makanan sebentar.

"Sate ayam aja."

Galang mengangguk lalu memanggil pelayan.

"Sate ayam dua puluh, sate kambing sepuluh. Nasi dua. Teh panas satu, es teh manis satu."

Sekar langsung melirik.

"A Galang hafal?"

"A Galang mah sering ke sini atuh neng," ucap pelayan bapak-bapak itu sembari tersenyum lalu melirik Galang. "Siapa atuh ini teh A Galang? Tumben bawa perempuan ke sini."

Galang tersenyum lalu melirik Sekar sebentar, "Istri saya Pak Ujang."

"Oh...A Galang udah nikah? Selamat atuh," ucapnya.

Galang mengangguk kecil sambil tersenyum.

Pelayan itu pamit.

Setelah Pak Ujang pergi suasana kembali tenang, Galang menyandarkan tubuhnya santai.

"Asapnya masih sama," gumamnya pelan.

Sekar memperhatikan wajah Galang.

"A Galang sering ke sini?"

Galang mengangguk kecil.

"Dari kecil."

Untuk pertama kalinya malam itu, nada suara Galang berubah sedikit lebih lembut.

"Dulu Abah yang ngenalin tempat ini."

Sekar diam mendengarkan.

"Kalau malam minggu atau habis jalan-jalan, Abah sering ngajak ke sini." Sudut bibir Galang terangkat samar. "Saya, ibu, Teh Indah, sama Teh Mila."

Sekar langsung bisa membayangkan.

Galang kecil, mungkin masih SD. Duduk bersama keluarganya di tempat sederhana seperti ini sambil makan sate hangat di udara dingin Garut.

"Dulu saya sama Teh Mila suka rebutan sate kambing terakhir," lanjut Galang kecil. "Kalau kalah biasanya ngambek."

Sekar terkekeh pelan. "A Galang bisa ngambek?"

"Bisa."

"Kayanya gak mungkin deh." Jawab Sekar yakin.

"Dulu bisa."

Lampu kuning hangat di warung sate itu memantulkan wajah Galang yang terlihat jauh lebih santai dibanding biasanya.

Dan Sekar sadar,

Ini pertama kalinya Galang bercerita cukup panjang tentang keluarganya tanpa ditanya berkali-kali.

"Abah paling suka sate kambing di sini," kata Galang lagi sambil melihat ke arah meja-meja lain. "Katanya bumbunya gak berubah dari dulu."

Tak lama kemudian pesan mereka datang. Aroma sate panas langsung memenuhi meja.

Galang otomatis mengambil piring Sekar lebih dulu lalu menuangkan bumbu kacang sebelum menyerahkannya.

Gesture sederhana. Sangat natural. Seolah sudah terbiasa memperhatikan dirinya. Sekar menerima piring itu pelan.

"Terima kasih."

Galang hanya mengangguk kecil. Lalu beberapa detik kemudian berkata santai,

"Kalau lidahmu cocok, nanti lain kali kita ke sini lagi."

Sekar tersenyum manis, kalimat itu sangat hangat hingga memeluk dadanya. Wajah Galang yang terlihat excited menceritakan masa kecilnya bersama keluarganya.

🪷🪷🪷🪷🪷🪷

Asap sate masih samar tertinggal di udara ketika Galang membukakan pintu mobil untuk Sekar. Jalanan Tarogong malam itu jauh lebih ramai dibanding biasanya. Lampu-lampu warna-warni mantul di kaca mobil, suara musik tradisional bercampur dengan suara anak-anak dan pedagang kaki lima memenuhi udara dingin khas Garut.

Sekar baru saja mau mengenakan sabuk pengaman ketika Galang menoleh padanya dengan ekspresi yang jarang sekali ia lihat.

Malam ini Galang terlihat sangat antusias.

"Sekar," katanya sambil menyalakan mesin mobil, "kayanya kamu beruntung deh."

"Hm?"

Galang menunjuk ke arah keramaian di kejauhan. "Hari ini ada festival di alun-alun Tarogong."

"Festival apa?"

Galang tersenyum kecil, senyum yang membuat wajahnya tampak jauh lebih muda dari biasanya. "Biasanya tiap tahun suka ada acara budaya sama kuliner gitu. Kadang ada pentas seni Sunda, jajanan khas Garut, lomba UMKM... pokoknya rame."

Nada bicaranya berubah lebih hidup. Tidak setenang biasanya. Dan Sekar menyadarinya. Galang benar-benar menyukai suasana ini.

"Dulu waktu SMA saya sering kesini sama teman-teman," lanjut Galang sambil fokus menyetir. "Apalagi kalau malam Minggu, alun-alun pasti penuh banget."

Sekar menatap profil suaminya diam-diam.

Ada sesuatu yang hangat saat mendengar Galang mulai bercerita tentang dirinya sendiri tanpa diminta.

Mobil mereka akhirnya parkir tak jauh dari area alun-alun Tarogong. Begitu turun, udara dingin langsung menyambut wajah Sekar. Di depan mereka, suasana festival tampak meriah. Lampu gantung menghiasi pepohonan, suara angklung terdengar dari panggung kecil, sementara aroma cilok kuah, jagung bakar, dan bandrek bercampur memenuhi udara.

"Mau jalan?" tanya Galang.

Sekar mengangguk pelan.

Mereka mulai berjalan berdampingan di tangan keramaian. Sesekali bahu mereka bersentuhan karena orang-orang berlalu-lalang. Galang yang biasanya terkesan kaku justru beberapa kali menunjuk sesuatu dengan semangat.

"Itu dodol Garut yang terkenal."

Sekar mengikuti arah telunjuk Galang.

"Kalau yang itu?" tanya Sekar seraya menunjuk seorang bapak-bapak dengan gerobak hijau. Terlihat ada santan dan gula merah cair disana.

"Oh, yang itu tuh es goyobod." Jawab Galang.

"Enak?"

"Enak, kamu mau coba?"

Sekar menggeleng. "Lain kali saja, aku kenyang."

Mereka kembali melanjutkan langkahnya, karena alun-alun ini sangat ramai dan bahkan Sekar hampir tertinggal dengan langkah Galang yang cepat akhirnya Galang meraih jemari Sekar dan menuntunnya agar tidak tertinggal di belakang.

"Nah kalau itu, yang bapak-bapak pake topi biru itu yang jual dorokdok udah lama banget, kayanya dari aku kecil masih ada." Ujar Galang.

Sekar menatap jemarinya yang saat ini bertautan dengan jemari Galang.

"Kamu mau apa?" tanya Galang.

"Nanti saja, aku masih kenyang A." Jawab Sekar.

"Ya sudah, kalau mau apa-apa bilang aja. Jangan sungkan." Ujar Galang.

Sekar mengangguk, mereka kembali berjalan.

"LANGIT!"

Galang menoleh cepat, mencari sumber suara yang menyebut panggilannya saat SMA.

Seorang pria berjaket hitam dan topi hitam menghampiri sambil tertawa tidak percaya.

"Ya ampun, Lang? Anak songong zaman SMA?"

Galang melepaskan jemari istrinya, ia tersenyum menyambut kedatangan pria itu. Gegas mereka saling berjabat.

"Rendi...apa kabar? Di Garut sekarang?" tanya Galang.

"Iya nih, ada libur dua minggu. Si uwa mau nikahin anaknya." Ujarnya.

"Beda nih kalau lama tinggal di Jakarta." Seru Galang seraya menatap teman SMA-nya.

"Beda apanya? Sama aja perasaan. Kamu tuh, susah banget di ajak reuni." Guyonnya seraya menepuk lengan Galang.

"Susah, jadwal padat terus. Kebetulan sekarang lagi longgar." Sahutnya.

Rendi melirik Sekar yang sedari tadi hanya diam. "Siapa nih? Pacar? Tunangan?"

Galang melirik Sekar sekilas. "Istri saya."

Kedua bola mata Rendi membulat. "Seriusan? Cowok galak kaya kamu udah nikah?"

Galang menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

Rendi tersenyum kepada Sekar, dan gadis itu menunduk memberikan salam sopan.

"Dari kapan? Kok gak ada undangan?"

"Baru mau sebulan," jawab Galang.

"Widih, pengantin baru dong." Serunya lalu kembali melirik Sekar. "Jadi, gimana Teh nikah sama pria panggilan?" kekehnya.

Sekar melirik Galang, panggilan dengan kata "Pria panggilan" membuat Sekar nyengir tak jelas.

Galang tertawa kecil. "Sama siapa ke sini?"

"Istri sama anak, tuh lagi mainan mancing-mancing."

Galang melirik Sekar, gadis itu hanya diam memperhatikan. "Eh Ren, aku duluan ya."

"Oh, okey-okey. Kapan-kapan dateng ke acara reuni. Udah lama lho, kamu gak dateng." Tegur Rendi.

Galang tersenyum, "insha Allah."

Percakapan itu hanya sebentar, anaknya Rendi pun sudah memanggil. Mereka pun berpisah.

"A Galang," ucap Sekar pelan.

"Ya,"

"Apa maksudnya?" gumam Sekar.

"Apa?"

"Pria panggilan....aku...belum mengerti kenapa teman Aa bilang gitu," kali ini Sekar menatap serius kepada suaminya. "Apa...Aa beneran seorang pria panggilan?"

.

.

.

Apa maksud Rendi????

Temukan jawabannya di bab selanjutnya.

Jangan lupa komen, vote, like dan subscribe 🫶

Bersambung....

1
Gemuruh riuh
kiw, mulai ada rasa nih
Gemuruh riuh
awas aja kalo tiba-tiba jadi asing
Gemuruh riuh
cie cie 🤭
Gemuruh riuh
yu Galang Pepet terus istrimu! jangan sampe di ambil mantan nya😭
Gemuruh riuh
cie cie mulai gombal, pasti di ajarin Ardi nih🤣🤭
Gemuruh riuh
ah baru aja mau gosip🤣
Gemuruh riuh
Ardi ini tipe rusuh banget 🤭
Gemuruh riuh
iya sih rata-rata kenapa ya suka padanya kapan hamil, seolah pertanyaan itu tuh udah biasa
Gemuruh riuh
waduh 😲
Gemuruh riuh
Galang berantem yuk🫵
Gemuruh riuh
Bu Dian ini tipe tetangga kalau nurunin kulkas langsung kepanasan
Gemuruh riuh
nih orang blak-blakan banget 😭🤣
Alia Chans
Jleb😯😯
falea sezi
lanjut bkin cerai aja dah laki. bloon bgt dikira istrimu g ada yg suka apa
falea sezi
istrimu di gondol pebinor kapok lu lang😒 jd suami cuek bgt🤣 arif uda siap tuh nrima janda mu🤣
falea sezi
🤣kampret di prank
falea sezi
😍 ganteng amat dokternya aduhh
🍀 YEHPPEE 🍀: silahkan di pilih kak😁
total 1 replies
Gemuruh riuh
ih Galang jahat banget mulutmu! awas aja nanti-nanti nelen ludah sendiri
Gemuruh riuh
wkwkwkw teh Emi lucu nih, jangan sampe Sekar satu circle sama teh emi🤣
Gemuruh riuh
Jangan-jangan Sekar putus sama dokter Arif gara-gara milih nikah sama Galang ya???
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!