NovelToon NovelToon
Rahasia Sang Pengantin : Gadis Berniqab Dan Cassian Noir

Rahasia Sang Pengantin : Gadis Berniqab Dan Cassian Noir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:917
Nilai: 5
Nama Author: nurproject

Penerbangan dua belas jam menuju Kanada seharusnya menjadi awal hidup baru yang tenang bagi Aisya. Gadis sederhana yang hanya ingin mengejar mimpinya itu tidak pernah menyangka bahwa kursi economy class yang ia tempati akan membawanya masuk ke dalam pusaran hidup Cassian Noir.

​Cassian, pria dengan aura mengintimidasi dan tatapan setajam silet, duduk di sana bukan untuk berlibur. Ia sedang melarikan diri dari pengkhianatan di organisasinya. Pertemuan singkat di atas Samudra Atlantik itu bermula dari sebuah ketidaksengajaan—sebuah bantuan kecil dari Aisya yang justru membuat Cassian melihat sesuatu yang berbeda di balik niqab gadis itu: Ketulusan tanpa rasa takut.

​Namun, sebuah insiden di tengah penerbangan memaksa mereka untuk mendarat dalam situasi yang tidak terduga. Cassian yang terluka dan terpojok mengklaim Aisya sebagai "pengantinnya" demi menyelamatkan nyawa gadis itu dari musuh yang sudah menunggu di bandara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nurproject, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Kontra Strategi

​Cassian bergerak dalam senyap. Rencana besar untuk mengamankan takhtanya di Noir Enterprises melalui Aisya dirahasiakannya rapat-rapat dari radar sang ayah, Alexander Noir. Pria itu tahu betul, jika Alexander sampai mencium pergerakannya, rencana ini bisa berantakan sebelum dimulai.

​Namun, mengabaikan Rebecca Winston sepenuhnya di kota sekecil lingkaran elit Toronto adalah hal yang mustahil.

​Malam itu, atas desakan dari sang ibu yang tidak bisa ia tolak, Cassian terpaksa menghadiri acara amal eksklusif di Casa Loma, istana megah di tengah kota Toronto yang malam ini disewa khusus untuk gala para miliarder. Suasana dipenuhi alunan musik klasik yang elegan dan denting gelas sampanye. Di tempat seperti inilah orang-orang kaya memamerkan kekuasaan mereka.

​Cassian berdiri di balkon luar yang agak sepi, memegang segelas wiski tanpa niat meminumnya. Pikirannya tidak berada di ruangan itu. Ia sedang mengalkulasi langkah taktis untuk mendekati wali Aisya minggu depan.

​"Kau selalu tahu cara bersembunyi dari keramaian, Cassian."

​Sebuah suara dengan aksen London yang kental menginterupsi keheningan. Rebecca Winston melangkah keluar ke balkon. Malam ini, wanita itu tampil sangat berani. Ia mengenakan gaun sutra merah marun dengan potongan backless yang sangat rendah, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang sengaja diekspos untuk menarik perhatian. Aroma parfum melati yang pekat langsung menguar merusak wangi maskulin kayu cedar di sekitar Cassian.

​Rebecca berjalan mendekat, memperkecil jarak di antara mereka hingga gaun halusnya hampir menyentuh jas Cassian. Dengan gerakan yang sengaja dibuat sensual, ia menyandarkan satu tangannya di pagar pembatas, tepat di samping tangan Cassian, membuat tubuh mereka berada dalam jarak yang sangat intim.

​"Kudengar kau membuat keributan di makan malam keluarga kemarin," bisik Rebecca, matanya menatap bibir Cassian sebelum naik mengunci sepasang mata elang pria itu. Ia memajukan tubuhnya, sengaja membiarkan kehangatan kulitnya yang terbuka menyentuh lengan Cassian. "Ayahmu sangat marah. Tapi aku tahu... pria mutlak sepertimu hanya tidak suka didikte, bukan?"

​Cassian tidak bergerak satu senti pun. Ia bahkan tidak melirik sedikit pun pada lekuk tubuh Rebecca yang sengaja dipamerkan di hadapannya. Tatapannya sedingin es, menatap lurus ke depan seolah-olah wanita tercantik di kalangan elit Toronto itu hanyalah patung pajangan yang transparan.

​"Kau membuang waktumu, Rebecca," ujar Cassian, suaranya begitu datar dan tanpa emosi.

​Rebecca tersenyum tipis, tidak menyerah. Ia justru mengulurkan tangannya yang lentik, berniat merapikan kerah kemeja Cassian dengan gerakan lambat, membiarkan jemarinya sengaja menyentuh kulit leher pria itu.

​"Aku tidak merasa membuang waktu. Kita adalah pasangan yang sempurna, Cassian. Secara bisnis, reputasi, dan..." Rebecca menurunkan suaranya menjadi bisikan menggoda di dekat telinga Cassian, "...aku tahu cara memuaskan pria sepertimu. Aku bisa memberikan apa pun yang kau inginkan dari seorang wanita. Singkirkan egomu, dan mari kita pimpin Noir Enterprises bersama."

​Mendengar tawaran yang begitu vulgar berkedok kelas atas itu, Cassian mendadak teringat kembali pada memorinya di perpustakaan kota.

​Sosok Aisya yang berpakaian serba tertutup, bahkan tidak sudi membiarkan kulit tangannya bersentuhan dengan pria asing, menjaga kehormatannya dengan begitu ketat dan anggun tanpa perlu menjual fisiknya untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Kontras yang begitu menjijikkan malam ini membuat ego Cassian berontak.

​Cassian dengan kasar menepis tangan Rebecca dari kerah bajunya. Ia mundur satu langkah, menatap Rebecca dengan pandangan rendah yang penuh muak.

​"Kau murah, Rebecca," desis Cassian dingin, kata-katanya menghantam langsung pada harga diri wanita Winston tersebut. "Dan aku tidak pernah tertarik pada barang murah yang ditawarkan dengan cara seperti ini."

​Tanpa memedulikan wajah Rebecca yang seketika memucat dan gemetar karena terhina, Cassian berbalik dan melangkah lebar meninggalkan balkon.

​"Kevin," panggil Cassian melalui earpiece-nya saat ia berjalan menembus aula gala. "Batalkan semua agendaku besok pagi. Kita pergi ke kediaman Paman Aisya sekarang juga. Aku tidak ingin membuang waktu lagi."

​Sepanjang perjalanan membelah jalanan Toronto yang mulai mendingin, kabin mobil Rolls-Royce Ghost itu diliputi keheningan yang pekat. Cassian menyandarkan punggungnya, mengetuk-ngetukan jemarinya di atas sandaran tangan kulit dengan ritme yang konstan—tanda bahwa otaknya sedang bekerja keras menyusun taktik.

​Di kursi kemudi, Kevin beberapa kali melirik spion tengah dengan ekspresi penuh kecemasan. Sebagai orang kepercayaan yang paling memahami hukum dan regulasi, ia tahu ada satu tembok besar yang tidak bisa dihancurkan begitu saja oleh kekuasaan ataupun tumpukan uang milik Cassian.

​"Tuan Noir," Kevin akhirnya memberanikan diri memecah keheningan. "Ada satu hal krusial yang harus kita hadapi sebelum Anda melangkah lebih jauh menemui keluarga Nona Aisya."

​"Katakan," sahut Cassian pendek, tanpa mengalihkan pandangannya dari balik jendela yang gelap.

​"Ini mengenai regulasi pernikahan di dunia Nona Aisya," Kevin berdeham pelan, memastikan suaranya terdengar seprofesional mungkin. "Dalam hukum syariat yang dianut oleh Aisya dan keluarganya, pernikahan beda agama adalah hal yang mutlak dilarang. Seorang wanita muslimah tidak sah dinikahi oleh pria non-muslim. Hukum Kanada mungkin bisa melegalkan pernikahan sipil kalian, tetapi bagi Aisya, pernikahan itu akan dianggap tidak pernah ada, ilegal secara agama, dan dia pasti akan menolaknya mentah-mentah sejak detik pertama."

​Cassian sedikit menyipitkan sepasang mata elangnya. Rahangnya mengeras. "Jadi kau mengatakan dia lebih memilih mengabaikan dokumen legal demi aturan agamanya?"

​"Benar, Tuan. Bagi Aisya, kepatuhan pada agamanya berada di atas segalanya," lanjut Kevin hati-hati. "Jika Anda datang ke sana sebagai seorang Cassian Noir yang sekarang, jangankan mendapatkan persetujuan, Anda bahkan tidak akan diizinkan melewati pintu depan rumah pamannya. Aturan di dunianya mengharuskan Anda untuk... berpindah keyakinan secara resmi terlebih dahulu."

​Mendengar penuturan Kevin, Cassian terdiam. Sebuah kerutan dalam muncul di dahinya.

​Berpindah keyakinan? Menundukkan kepala pada sebuah institusi agama? Bagi seorang miliarder yang terbiasa menjadi pusat kendali dan hanya memercayai kalkulasi logika bisnis, konsep itu terdengar sangat asing dan mengusik egonya yang setinggi langit. Cassian tidak pernah menyembah apa pun selain kerja keras dan kekuasaannya sendiri.

​Namun, Cassian bukanlah pria yang mudah menyerah ketika targetnya sudah ditentukan. Kehilangan Noir Enterprises ke tangan skenario perjodohan ayahnya adalah kekalahan yang tidak akan pernah ia toleransi. Jika legalitas di atas kertas adalah satu-satunya senjata untuk mempertahankan takhtanya, dan Aisya adalah satu-satunya tameng yang paling aman dari drama korporat, maka ia harus memenangkan permainan ini dengan cara apa pun.

​Bahkan jika ia harus berpura-pura tunduk pada aturan main di dunia gadis itu.

​"Siapkan janji temu dengan otoritas keagamaan setempat atau Islamic Centre yang legal di Toronto besok pagi-pagi sekali," perintah Cassian tiba-tiba, suaranya terdengar begitu dingin, tenang, namun sarat akan manipulasi yang berbahaya. "Aku akan mengambil apa pun status atau sertifikat yang mereka butuhkan untuk melegalkan pernikahan ini di mata keluarga Aisya."

​Kevin tersentak di kursi kemudi. "Tuan Noir... Anda bermaksud melakukan... mualaf? Hanya untuk sebuah kontrak pernikahan?"

​"Anggap saja ini sebagai biaya investasi terbesar untuk mengamankan takhta Noir Enterprises, Kevin," ujar Cassian dengan senyum miring yang penuh kemenangan di sudut bibirnya. "Aku hanya butuh status legal itu di atas kertas. Masalah apa yang aku percayai di dalam kepalaku, itu bukan urusan mereka."

​Cassian tidak peduli dengan kesucian proses tersebut. Baginya, ini adalah catur bisnis. Jika ia harus mengenakan 'topeng' baru untuk menjerat Aisya masuk ke dalam lingkaran perlindungannya dan mengamankan warisan keluarganya, maka ia akan melakukannya dengan sangat sempurna tanpa celah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!