Bagaimana rasanya menjadi seorang anak yang tidak diinginkan, di tuntut untuk selalu mengalah dalam segala hal, menyerahkan apapun yang dimiliki untuk orang lain bahkan orang yang di cintai sekalipun harus ia lepaskan? Selalu salah dan di anggap pembawa sial.
Itulah penderitaan yang di rasakan oleh seorang wanita bernama Ayla, ia tumbuh di keluarga yang serba berkecukupan, punya dua kakak laki-laki dan orang tua yang masih lengkap, namun sayang sekali, meskipun memiliki semua itu Ayla sama sekali tidak memiliki kasih sayang dan kebahagiaan.
Di mata keluarga Ayla adalah pembawa sial, sosok yang selalu salah dalam segala hal, berbanding terbalik dengan Alena yang selalu menerima kasih sayang penuh dan selalu di utamakan oleh semua orang.
Siapa Alena? Dan kenapa Ayla memiliki nasip berbeda dengan nya? Cus baca kisah mereka di sini, bersama author Nadia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25# Rahasia Bubur & Teh Jahe
"Tunggu dulu… Beberapa bulan yang lalu, saat aku jatuh sakit karena terlalu banyak minum, bukankah setiap pagi kau selalu datang ke kamarku? Kau yang merawatku, bahkan menyuapiku bubur yang rasanya sangat lezat," ucap Adnan, nada suaranya mulai berubah tegang.
"Apa? Kak, bicara hal lain saja nanti ya. Aku ada janji bertemu Reyhan, aku harus keluar dulu. Kalau Kakak mau makan bubur, suruh saja pelayan yang menyiapkannya," jawab Alena buru-buru. Ia langsung berdiri, menyambar tas punggungnya, lalu bergegas pergi tanpa menoleh sedikit pun.
"Alena! Kau belum menjawab pertanyaanku! Alena, tunggu! Aku sendirian di sini, Alena!" seru Adnan memanggil, namun sia-sia.
Alena justru terlihat sangat gembira—karena tunangannya, Reyhan, sudah datang menjemput untuk berjalan-jalan bersama.
"Sial! Kenapa semua orang pergi meninggalkanku tepat saat aku sedang sakit dan butuh bantuan!" umpat Adnan kesal.
"Tuan Muda, apakah ada hal yang bisa saya bantu?" tanya salah seorang pelayan yang kebetulan lewat dan melihat Adnan tampak marah besar.
"Bi, aku lapar. Tolong buatkan aku bubur yang biasa kumakan saat sakit dulu. Rasanya sangat enak dan selalu membuat tubuhku cepat pulih," perintah Adnan dengan nada tidak sabar.
Mendengar permintaan itu, pelayan tersebut seketika membeku. Ia bingung, bagaimana cara menjelaskan hal yang sebenarnya kepada Adnan: tidak ada satu pun pelayan di rumah itu yang mampu membuat bubur dengan rasa yang sama persis.
"Kenapa diam saja? Cepat kerjakan! Aku sangat lapar. Aku tidak mau makan apa pun selain bubur itu!" bentak Adnan makin tidak sabar.
"Tuan Muda… saya sungguh memohon maaf, tapi tidak ada siapa pun yang bisa menirukan rasa bubur itu. Sebab bubur yang biasa Tuan makan dulu semuanya dibuat oleh Nona Ayla saja. Kami pun tidak tahu resep rahasianya. Beliau biasa membuatnya selama tiga jam penuh, meracik setiap bahan sendiri, dan mengolahnya dengan sangat teliti serta penuh ketelitian," jelas pelayan itu panjang lebar.
Adnan terkejut luar biasa mendengar penjelasan itu. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa bubur yang selalu ia puji dan nikmati selama ini ternyata buatan tangan Ayla.
"Maksudmu… saat seluruh penghuni rumah ini jatuh sakit, dialah yang menyiapkan bubur penyembuh itu semua? Bukan Alena?" tanya Adnan kembali, memastikan agar tidak salah dengar.
"Benar, Tuan Muda," jawab pelayan itu dengan sedikit rasa takut.
"Apa maksudnya semua ini? Kenapa aku tidak pernah tahu hal ini sejak dulu? Dan kenapa justru Alena yang selalu datang mengantarkan bubur itu ke kamarku, bukan Ayla?" gumam Adnan masih tak habis pikir.
"Itu karena… karena Nona Alena meminta Nona Ayla tetap diam di dapur dan membiarkan dirinya saja yang maju untuk mengantarkan makanan kepada kalian semua," ungkap pelayan itu dengan ragu.
"Hah… Jadi begitu rupanya. Ayla sengaja melakukan semua ini hanya supaya kami semua menjadi bergantung padanya? Benar-benar cara berpikir yang rendah dan picik. Baiklah, lupakan saja soal bubur itu. Buatkan aku teh jahe saja sebagai gantinya," ucap Adnan dengan nada meremehkan namun masih penuh rasa kesal.
Namun sekali lagi, pelayan itu hanya diam terpaku. Bukannya segera melaksanakan perintah, wajahnya justru terlihat makin cemas dan gelisah.
"Hei! Kau tuli ya?!" bentak Adnan, emosinya makin meluap.
"Ampun, Tuan Muda… maafkan saya… tapi teh jahe yang biasa Tuan minum juga merupakan racikan khusus buatan Nona Ayla," jawab pelayan itu sambil mulai meneteskan air mata karena takut dimarahi.
"Apa?! Kalau begitu, apa gunanya kalian semua sebagai pelayan di rumah ini? Kenapa segala hal baik selalu berpusat pada Ayla, Ayla, dan Ayla terus!" teriak Adnan marah besar.
"Maafkan kami, Tuan Muda…" Itulah satu-satunya jawaban yang bisa keluar dari mulut pelayan itu.
"Pergi! Aku tidak butuh bantuan kalian siapa pun!" usir Adnan dengan kasar.
Hatinya sudah kacau balau, selera makannya hilang sama sekali. Ia pun menggerakkan kursi rodanya menjauh menuju arah kolam renang, berharap udara segar bisa sedikit menenangkan pikirannya yang penuh kebingungan dan kemarahan.
Sepertinya, dari seluruh penghuni keluarga Gunawan, Adnan adalah orang pertama yang mulai menerima pelajaran berharga tentang kenyataan pahit yang selama ini tertutup rapat.
"Kenapa semua hal yang ada di rumah ini harus selalu berhubungan dengan Ayla, sebenarnya selama ini apa saja yang sudah dia lakukan di rumah ini? Apa dia sengaja?" batin Adnan.
Adnan menatap kolam renang yang ada di hadapannya, hatinya mulai merasakan perasaan aneh, sesekali ia memegang dadanya yang terasa sakit saat mengingat dimana ia mendorong Ayla masuk ke kolam tersebut, ia juga perlahan-lahan mulai memikirkan sosok sang adik di benaknya, di mana setiap sudut tempat itu ada kenangan masa kecil mereka.
"kamar Ayla, ya aku harus ke kamar Ayla," ucap Adnan.
Ia segera memutar kursi roda tersebut meninggalkan kolam renang beralih ke kamar Ayla. Entah apa yang akan dia lakukan di sana yang jelas ia pergi ke kamar Ayla seolah-olah di tuntun oleh hati dan pikiran nya sendiri.
sementara itu di sisi lain.
suasana di dalam mobil cukup sepi baik Ayla maupun Valen tidak ada yang angkat bicara, sementara Leo fokus mengemudi mobil.
Kruk...
Kyuuk...
terdengar suara asing yang akhirnya membuat Valen menoleh ke arah sang istri.
"Ah sial, memalukan sekali," batin Ayla sambil memegang perutnya.
"Lapar?" tanya Valen singkat dengan wajah tanpa ekspresi.
"Tidak terlalu, hanya saja tadi pagi belum sarapan," jawab Ayla sambil menahan malu.
"Leo, mampir ke restoran biasa," ucap Valen kepada Leo.
"Oke," jawab Leo tidak butuh banyak komentar.
"Seperti nya tidak perlu,aku makan di rumah saja," jelas Ayla menolak.
"Aku mau makan," jawab Valen lagi tampa menoleh ke arah Ayla.
Seketika Ayla kembali terdiam, kedua pipinya bersemu merah menahan rasa malu yang tiada duanya.
Tak butuh waktu lama, mereka pun akhirnya tiba di sebuah restoran bintang lima, itu adalah restoran milik keluarga Aditama yang terkenal akan kelezatan makanan nya.
Tidak buang-buang waktu, mereka pun masuk ke dalam restoran tersebut.
sementara itu di sisi lain.
"Kau sangat berbeda dengan Ayla, kau jauh lebih cantik dan pintar berdandan,kau sangat elegan," ucap Rey yang saat ini bersama dengan Alena.
"Kau bisa saja, oh iya Rey aku sangat lapar, bisakah sebelum jalan-jalan kau membawakan makan terlebih dahulu?" ucap Alena kepada Rey yang saat itu sudah menjadi tunangan nya.
"Tentu saja," jawab Rey dengan senang hati.
untuk saat ini Rey mungkin merasa sangat beruntung memiliki Alena, namun kedepannya, tidak ada yang tau penyesalan seperti apa yang akan dia rasakan.
****
bukan satu atau dua alur cerita begini jadi udah malas ma ceritanya