"Dewa Penulis... kenapa Kau bikin kami hidup, tapi gak kasih kami arti?" — Lord Valgus, Penyihir Jahat
Gue Leon, dan gue yang bikin dunia ini. Gue yang nulis siapa hidup, siapa mati, siapa kuat, siapa lemah. Tapi gue ngelakuinnya santai banget, asal ketik aja di keyboard. Buat gue, ini cuma cerita hiburan doang.
Sampai akhirnya gue malah terjebak masuk ke dalam cerita itu sendiri.
Ternyata, jadi penulis itu gak enak ya kalau ceritanya sendiri berantakan. Kerajaan megah tapi bentuknya aneh, tokoh-tokohnya punya perasaan sendiri di luar naskah, terus musuh utama malah pengen bunuh gue karena ngerasa hidupnya cuma dipermainkan.
Sekarang gue gak cuma nulis cerita lagi. Gue harus hidup di dalamnya, benerin semua kesalahan gue, dan bikin akhir cerita yang adil buat mereka... sebelum gue dihukum sama karya gue sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Anggit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 14. puncak gunung es dan ratu yang terlupakan.
Pagi-pagi buta, kami sudah berkemas rapi dan berpamitan dengan warga Kota Permata. Mereka mengantar kami sampai ke gerbang kota, membekali kami dengan air minum yang tidak akan habis, roti kering yang tetap terasa lembap, dan jubah tebal khusus untuk perjalanan menuju tempat yang lebih dingin.
“Semoga perjalanan kalian selamat,” kata kepala kota sambil menundukkan kepala sebagai tanda hormat. “Pintu kami akan selalu terbuka lebar jika kalian melewati tempat ini lagi.”
Zarek melambaikan tangan dengan semangat. “Tenang saja! Nanti kalau urusan kami sudah selesai, kami pasti kembali lagi mungkin kali ini sekalian mengajak Sari agar dia bisa melihat keindahan kota ini!”
Perjalanan dari gurun menuju utara mengalami perubahan yang sangat drastis. Semakin jauh kami melangkah, pasir panas perlahan berubah menjadi tanah berbatu, lalu digantikan oleh bebatuan yang tertutup lapisan es tipis. Angin yang awalnya terasa panas berubah menjadi dingin yang menusuk tulang, sehingga kami harus memakai jubah tebal yang diberikan oleh warga kota.
“Wah, tadi masih terasa panas membakar kulit, sekarang sudah sedingin ini,” gumam Zarek sambil menarik kerah jubahnya hingga menutupi setengah wajahnya. “Dunia ini memang unik sekali perubahannya.”
Valgus berjalan paling depan, matanya mengamati setiap celah dan jalan setapak di antara bebatuan. “Ini adalah batas antara dua wilayah yang sangat berbeda. Di depan sana menjulang Gunung Es Abadi tempat yang paling tinggi, paling dingin, dan paling sunyi di seluruh wilayah ini. Dulu Leon tidak pernah menuliskan apa pun tentang penghuninya, hanya satu kalimat saja. Di ujung utara terdapat gunung yang tertutup es selamanya.”
Leon mengangguk sambil menggosokkan kedua telapak tangannya yang terasa dingin. “Benar, aku ingat. Waktu itu aku pikir itu cukup hanya sebagai latar belakang, jadi tidak perlu diisi detailnya. Ternyata kebiasaan inilah yang selalu menimbulkan masalah baru.”
Setelah berjalan hampir seharian, akhirnya kami tiba di kaki gunung yang menjulang sangat tinggi. Puncaknya tertutup kabut tebal dan awan yang membeku, sehingga batasnya dengan langit pun tidak terlihat jelas. Suasananya terasa sangat sunyi tidak ada suara angin yang berhembus, tidak ada suara hewan, hanya keheningan yang terasa berat menekan hati.
“Rasanya seolah waktu berhenti berjalan di sini,” bisik Liora sambil mendekatkan tubuhnya ke Leon agar merasa lebih hangat.
Kami mulai mendaki melalui jalan setapak yang terbuat dari es yang licin. Liora memancarkan cahaya lembut dari telapak tangannya, membuat jalanan menjadi sedikit lebih hangat dan tidak lagi licin. Semakin mendaki, udara terasa semakin tipis dan dingin, namun energi dalam tubuh kami tetap terjaga dengan baik.
Ketika kami hampir mencapai puncak, tiba-tiba jalan di depan tertutup oleh dinding es yang muncul secara tiba-tiba, menjulang tinggi layaknya tembok benteng. Dari balik tembok itu terdengar suara yang dingin dan tenang, namun menyimpan kesedihan yang sangat mendalam.
“Siapakah yang berani menginjakkan kaki di wilayahku? Sudah ratusan tahun tidak ada seorang pun yang datang ke sini. Tidak ada yang ingat bahwa tempat ini ada, apalagi penghuninya.”
Leon melangkah maju, suaranya lantang namun tetap lembut. “Kami datang bukan untuk mengganggu atau mengambil apa pun. Kami datang karena baru menyadari ada tempat yang terlewatkan, dan ada hati yang terabaikan. Kami datang untuk mendengar, bukan untuk memerintah.”
Terdapat keheningan sesaat, lalu dinding es itu perlahan meleleh dan membuka jalan. Di baliknya terbentang sebuah dataran luas yang tertutup es halus, dan di tengahnya berdiri sebuah istana yang seluruhnya terbuat dari es bening yang berkilauan bagaikan kristal.
Di atas tangga istana, duduk seorang wanita yang sangat cantik namun terlihat bersikap dingin. Rambutnya seputih salju, matanya berwarna biru pucat seperti es yang dalam, dan gaunnya terbuat dari lapisan es tipis yang tetap indah dan tidak pernah mencair. Dialah Ratu Es, Elara.
Ia menatap kami dengan pandangan yang kosong, tanpa senyum maupun amarah, hanya rasa hampa yang terlihat jelas di matanya.
“Namaku Elara,” katanya dengan suara yang bergetar lembut seperti kepingan es yang saling bersentuhan. “Aku diciptakan untuk menjaga kesejukan dan ketenangan di ujung dunia. Namun setelah itu… tidak ada lagi tulisan. Tidak ada tugas baru, tidak ada tujuan, dan tidak ada seorang pun yang datang atau berbicara denganku. Selama ratusan tahun, aku hanya duduk menunggu, menunggu sesuatu yang tidak pernah datang.”
Leon merasa hatinya terasa perih mendengar ceritanya. Sama seperti tempat-tempat lain, ia hanya diciptakan secara separuh, lalu dibiarkan hidup dalam kesunyian yang tak berujung.
“Jadi kau merasa dingin bukan hanya karena suhu di sini, melainkan karena hatimu pun terasa membeku dan sepi?” tanya Leon dengan lembut.
Elara mengangguk perlahan, matanya berkaca-kaca namun air matanya langsung membeku menjadi butiran kristal sebelum sempat jatuh. “Aku bisa menciptakan es, bisa menghentikan angin, dan bisa menjaga agar tempat ini tetap tenang selamanya. Namun aku tidak mampu menciptakan kehangatan untuk diriku sendiri. Aku tidak bisa membuat alasan untuk terus hidup selain sekadar ‘ada’.”
Liora melangkah maju dengan hati-hati, tidak terlalu dekat agar tidak terasa mengganggu. “Kehangatan tidak selalu datang dari api atau sinar matahari, Ratu Elara. Kadang kehangatan itu hadir karena memiliki tujuan, memiliki teman, atau merasa dibutuhkan dan dihargai.”
Zarek menyela dengan semangat khasnya. “Benar sekali! Kalau hanya duduk diam sendirian, siapa pun pasti akan menjadi dingin dan kaku. Ayo kita ajak dia mengobrol, ceritakan apa yang terjadi di dunia luar, pasti hatinya perlahan akan mencair!”
Valgus yang biasanya pendiam pun turut berbicara dengan nada tenang. “Aku mengerti perasaan itu. Dulu aku juga merasa tidak memiliki tempat dan arti, hingga akhirnya aku menemukan peran dan teman-teman yang membuatku merasa berharga. Kesunyian yang terlalu lama mampu membekukan hati yang paling kuat sekalipun.”
Elara menatap kami satu per satu, matanya yang tadinya kosong mulai terlihat sedikit bingung, seolah baru mendengar kata-kata yang penuh kehangatan setelah sekian lama.
“Kalian… benar-benar mau berbicara denganku? Mau mendengarkan ceritaku? Padahal aku tidak memiliki apa pun untuk diberikan selain es dan dingin?” tanyanya dengan nada ragu.
“Kami tidak membutuhkan apa pun darimu selain keberadaanmu,” jawab Leon sambil tersenyum tulus. “Dunia ini tidak akan lengkap tanpa tempat yang sejuk dan tenang, dan tidak lengkap pula tanpa penjaga yang setia sepertimu. Kau tidak hanya ada untuk menjaga es… kau bisa menjadikan tempat ini sebagai tempat beristirahat, tempat berkumpul, atau tempat perlindungan bagi mereka yang membutuhkan ketenangan. Kau bisa mengatur ke mana angin dingin akan berhembus agar tidak menimbulkan kerusakan, dan kapan salju akan turun agar tanah tetap subur. Kau memiliki kekuasaan yang besar, namun selama ini belum mengetahui cara menggunakannya untuk kebaikan yang lebih luas.”
Leon membuka buku catatannya, namun kali ini ia tidak menuliskan aturan yang kaku, melainkan menggambarkan peran baru yang bebas untuk dijalani.
“Elara, mulai hari ini kau bukan hanya Ratu Es yang menjaga tempat ini. Kau adalah Penjaga Keseimbangan Iklim. Kau bisa mengatur cuaca, mengirim uap air dari lautan menjadi salju di sini, lalu mengalirkannya kembali sebagai air sungai ke daerah-daerah lain. Kau memiliki peran yang sangat penting bagi kehidupan seluruh dunia ini.”
Begitu kata-kata itu terucap, cahaya lembut menyelimuti seluruh dataran di puncak gunung. Es yang tadinya terasa kaku perlahan berubah menjadi lebih hidup, berkilauan dengan warna-warni lembut saat terkena sinar matahari yang mulai menembus kabut.
Dan yang paling terlihat jelas adalah perubahan pada diri Elara. Pandangannya yang tadinya kosong kini bersinar terang, senyum tipis perlahan terukir di bibirnya, dan gaun esnya tidak lagi terasa dingin yang menusuk, melainkan terasa sejuk dan menenangkan.
“Rasanya… ada aliran energi baru yang mengalir di dalam diriku,” bisiknya dengan suara yang terdengar lebih ceria. “Seolah ada banyak hal yang harus kulakukan dan banyak hal yang bisa kuatur. Terima kasih… terima kasih telah memberiku kembali alasan untuk hidup.”
Kami pun tinggal di puncak gunung itu selama dua hari, mengajari Elara cara mengatur kekuatannya agar bermanfaat bagi seluruh wilayah. Ternyata ia sangat cerdas dan cepat memahami, bahkan mampu menciptakan taman es yang indah dan aman untuk dikunjungi.
Pada malam terakhir kami di sana, saat cahaya bulan menyinari seluruh puncak gunung yang berkilauan bagaikan permata, Leon dan Liora berdiri di tepi dataran sambil memandangi hamparan dunia yang terhampar di bawah.
“Lihatlah,” kata Liora dengan lembut. “Dari puncak ini, kita bisa melihat hampir semua tempat yang telah kita kunjungi. Semuanya telah berubah menjadi lebih hidup dan memiliki makna.”
Leon mengangguk sambil merangkul bahunya. “Benar. Aku baru menyadari bahwa kekuatan terbesar bukanlah menciptakan sesuatu yang sempurna sejak awal. Kekuatan terbesar justru terletak pada memberikan kesempatan kepada setiap makhluk untuk menemukan jati diri dan tujuan hidupnya masing-masing.”
Valgus dan Zarek mendekat, diikuti oleh Elara yang kini terlihat lebih percaya diri dan bersikap lebih hangat.
“Nah, sekarang hanya tersisa satu tempat lagi yang belum kita kunjungi,” kata Valgus sambil menunjuk ke arah bagian paling tengah dunia, di mana kabut tebal yang paling gelap terlihat berkumpul. “Tempat itulah Pusat Dunia. Tempat asal mula segala energi, dan selama ini menjadi sumber dari segala kekosongan serta ketidaksempurnaan yang ada.”
Leon menatap ke arah itu, lalu menoleh ke arah teman-temannya dengan senyum penuh keyakinan.
“Baiklah. Kalau begitu, besok pagi kita berangkat ke sana. Kita selesaikan semuanya sampai ke akarnya.”
Dan di bawah langit malam yang bertabur bintang terang, kami bersiap menghadapi tantangan terakhir yang akan menentukan nasib seluruh dunia ini selamanya.
kecuali kalau Si Bimo udah di ajak ke dunia menakjubkan itu jadi dia punya niat mau berkuasa. 😶
Di real life... kalau kita baca cerita, ceritanya bagus. Tokohnya hidup. Pokoknya bagus lah. Itu pasti pas udah ada kata “Tamat/End/Selesai” itu sebagai pembaca kita masih bisa membayangkan kehidupan mereka setelah itu. Itu ’kan definisi sebenarnya dari “Menciptakan dunia yang cukup kuat untuk terus bercerita meski pena sudah diletakkan”. Karena penulis udah gak lanjutin ceritanya lagi, tapi kita bisa membayangkan kalau gimana kehidupan tokoh-tokoh di cerita yang kita baca setelah itu. Makanya ceritanya gak pernah benar-benar berakhir meskipun ceritanya dah ada label “Tamat”.
Ya enggak? Karena kita gak mungkin masuk novel kayak Leon dan membebaskan aturan dunia cerita itu kan makanya ceritanya tidak pernah benar-benar berakhir. Wkwkwk. 😁