NovelToon NovelToon
Kontrak 90 Hari Sang CEO

Kontrak 90 Hari Sang CEO

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Mafia / Tamat
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Febriana Hanifah

*Sinopsis*

Evelyn Mahesa bukan orang yang percaya cinta instan.
Ia hanya percaya pada satu hal: ibunya harus sembuh.

Saat tagihan rumah sakit 200 juta menumpuk dan semua jalan buntu, muncul Matthias Virel—CEO dingin, kaya, dan paling ditakuti di dunia bisnis.
Ia menawarkan jalan keluar yang mustahil ditolak:
*4,5 miliar rupiah. Syaratnya, Evelyn harus jadi istri kontraknya selama 90 hari.*

Tanpa cinta. Tanpa sentuhan. Hanya peran di depan publik demi menenangkan nenek Matthias yang sekarat.

Awalnya, Evelyn pikir ini cuma transaksi.
Tapi tinggal serumah dengan pria yang jago bikin jengkel sekaligus bikin jantung berdebar itu… ternyata lebih sulit dari yang ia kira.

90 hari.
Cukup untuk jatuh cinta?
Atau cukup untuk saling membenci sampai akhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Febriana Hanifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kontraksi Palsu

Hari ke-152.

Kehamilan Evelyn masuk minggu ke-18.

Perutnya udah jelas keliatan sekarang.

Kalau jalan, dia harus pegang pinggang dikit biar nggak pegel.

Hidup mereka tenang banget 3 minggu terakhir.

Nggak ada gugatan, nggak ada gosip, nggak ada paket aneh.

Clarissa masih dalam proses hukum, tapi dia nggak ganggu lagi.

Katanya pengacara, dia lagi fokus rehabilitasi.

Evelyn mulai bisa tidur 6 jam semalam.

Matthias malah jadi yang sering bangun duluan buat bikin oatmeal.

Katanya, “Gue latihan jadi bapak.”

Malam itu hujan deras.

Jam 2 pagi, Evelyn kebangun karena perutnya kencang banget.

Rasanya kayak diremas pelan-pelan, terus lepas, terus kencang lagi.

Dia duduk, napas pelan.

“Matthias...”

Matthias langsung bangun.

“Kenapa? Mimpi buruk?”

Evelyn genggam lengannya.

“Nggak. Perut gue. Sakit.”

Matthias langsung nyala lampu.

Mukanya pucet dalam 2 detik.

“Sakit gimana? Sakit kayak mules?”

Evelyn ngangguk pelan.

“Terus kencang-kencang. Kayak... kayak mau lahiran.”

Matthias udah turun dari ranjang.

“Gue telpon dokter. Lo jangan gerak.”

Evelyn narik tangannya.

“Matthias, jangan panik dulu. Gue baca, ini bisa jadi kontraksi palsu.”

Matthias diem.

Tapi tangannya udah gemetar pas nyari ponsel.

“Kalau salah, gimana? Kalau beneran mau lahiran, gimana?”

Evelyn senyum lemah.

“Belum waktunya. Baru 18 minggu.”

Tapi dia juga takut.

Karena rasanya... nyata banget.

---

10 menit kemudian dokter kandungan mereka, dr. Laras, video call.

Evelyn dijelasin cara bedain kontraksi asli dan palsu.

Napas dalam. Hitung jeda.

Kalau jedanya nggak teratur dan nggak makin sakit, besar kemungkinan Braxton Hicks.

“Bu Evelyn, coba minum air putih hangat dulu. Terus rebahan miring kiri.

Kalau 30 menit nggak reda atau ada flek, langsung ke RS. Oke?”

Evelyn ngangguk.

“Siap, Dok. Makasih.”

Telepon ditutup.

Matthias langsung tuang air putih hangat, bantu Evelyn minum.

Tangannya masih gemetar.

“Gue takut,” katanya pelan.

Evelyn pegang pipinya.

“Gue juga takut. Tapi kita nggak sendirian, kan?”

Matthias ngangguk.

Dia bantu Evelyn rebahan miring kiri, selimutin dia sampe dagu.

Terus dia duduk di lantai, sandar ke kasur, pegang tangan Evelyn.

“Ngomong aja,” kata Evelyn pelan.

“Ngomong apa?”

“Apa aja. Biar gue nggak mikir yang aneh-aneh.”

Matthias mikir.

Terus dia cerita.

Cerita pertama kali dia liat foto USG Aurelia.

Cerita dia nangis di kamar mandi kantor waktu tau Evelyn hamil.

Cerita dia udah beli sepatu bayi warna putih kecil banget, tapi nggak berani kasih tau.

Evelyn dengerin, matanya mulai ngantuk.

Rasa kencang di perutnya pelan-pelan reda.

“Gue nggak siap jadi bapak,” bisik Matthias.

Evelyn senyum.

“Nggak ada yang siap. Tapi lo udah jadi bapak yang bagus sekarang. Lo takut kehilangan kita.”

Matthias diem.

Terus dia bisik balik:

“Karena gue baru nemu alasan buat hidup, Evelyn.”

---

30 menit lewat.

Kontraksinya hilang.

Evelyn nggak ada flek. Nggak ada sakit lain.

Cuma capek dan sedikit kram.

dr. Laras kirim pesan: _“Itu Braxton Hicks, Bu. Normal di trimester 2. Tapi kalau ulang lagi lebih dari 4x sejam, hubungi saya ya.”_

Evelyn baca pesan itu, terus ketawa pelan.

“Lihat kan? Gue bilang juga apa.”

Matthias masih duduk di lantai.

Dia nggak gerak.

“Gue kira... gue kira kita kehilangan dia malam ini.”

Evelyn tarik tangannya, suruh naik ke ranjang.

“Belum waktunya, Matthias. Aurelia belum mau keluar. Dia masih nyaman di sini.”

Matthias rebahan di sampingnya, peluk dia dari belakang.

Tangannya di perut Evelyn.

“Maaf bikin lo khawatir.”

“Gue nggak khawatir. Gue senang. Karena artinya lo sayang kita.”

Mereka diem.

Hujan di luar masih deras.

Tapi di dalam, rasanya hangat.

---

Jam 4 pagi, Evelyn kebangun lagi.

Kali ini karena Matthias.

Dia tidur tapi tangannya masih di perut Evelyn, kayak takut Aurelia jatuh.

Evelyn senyum.

Dia ambil ponsel, foto tangan Matthias di perutnya.

Caption nggak perlu.

Foto itu udah ngomong semuanya.

Pagi harinya, Evelyn ceritain ke Nyonya Alina.

Nyonya Alina langsung dateng bawa sup ayam dan cerita pengalaman dia waktu hamil Matthias.

“Katanya, kalau kontraksi palsu gitu, artinya bayi lagi latihan. Siap-siap aja, Nak. Dia aktif banget nanti.”

Evelyn ketawa.

“Semoga nggak kayak bapaknya. Aktif ngerepotin.”

Nyonya Alina ketawa keras.

“Matthias kecil dulu juga gitu. Suka nendang pas gue rapat.”

Matthias yang baru masuk langsung ngerasa malu.

“Ma, jangan bongkar aib gue.”

Nyonya Alina ngelirik dia.

“Lah, biar istri lo tahu siapa yang dia nikahin.”

Mereka ketawa bareng.

Untuk pertama kalinya, suasana di mansion itu bener-bener kayak rumah.

---

Sore harinya, Evelyn ngerasa Aurelia gerak.

Gerakan kecil. Kayak gelembung.

Dia langsung pegang tangan Matthias.

“Gerak! Coba rasain!”

Matthias naruh tangan di perutnya.

Nunggu 20 detik.

Nggak ada apa-apa.

Dia cemberut.

“Dia malu sama gue kali.”

Evelyn ketawa.

“Nanti juga lo kebagian. Sabar.”

Malamnya, mereka rebahan bareng sambil dengerin playlist lagu pengantar tidur.

Evelyn pilih lagu piano.

Matthias pilih lagu lawas Chrisye.

“Anak kita bakal bingung,” kata Evelyn.

“Bagus. Biar dia punya selera luas.”

Mereka ketawa.

Terus diem.

Cuma ada suara hujan dan detak jantung mereka.

---

Hari ke-160.

Kontrol lagi.

Aurelia beratnya 280 gram.

Gerakannya udah keliatan di USG.

Nendang-nendang kecil.

Dokter bilang, “Ibu siap-siap ya. Minggu depan biasanya udah kerasa tendangan dari luar.”

Di mobil pulang, Evelyn ngeliat Matthias.

“Lo siap nggak?”

Matthias genggam tangannya.

“Gue nggak tahu. Tapi gue mau coba. Sama lo.”

Evelyn senyum.

“Gue juga.”

Mereka pulang.

Makan malam.

Nonton film lawas.

Nggak ada drama.

Nggak ada ancaman.

Cuma mereka berdua dan bayi kecil yang lagi tumbuh di perut Evelyn.

---

Malam itu, sebelum tidur, Evelyn nulis lagi di diarynya:

_“Hari ini gue ngerti kenapa orang bilang kehamilan itu nggak cuma soal bayi.

Tapi soal belajar percaya lagi.

Sama diri sendiri. Sama orang yang lo pilih. Sama masa depan.”_

Dia tutup buku.

Matiin lampu.

Tidur di pelukan Matthias.

Di luar, dunia masih nggak sempurna.

Tapi di dalam kamar itu, semuanya cukup.

---

Bersambung –

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!