Bagi semua siswi di SMA 1 Nusa Bangsa, kedatangan Rian adalah sebuah anugerah. Cowok pindahan bertampang dingin itu punya pesona yang menyihir siapa saja. Namun tidak bagi Cinta.
Melihat seragamnya yang berantakan dan tatapannya yang tajam, Cinta yakin Rian hanyalah tipikal anak nakal yang harus dihindari. Di saat teman-temannya sibuk memuja Rian, Cinta justru memilih menjauh.
Namun, sebuah tugas kelompok memaksa Cinta mengenal Rian lebih dekat. Di balik kesan urakan yang selama ini ia benci, ada sisi Rian yang tak pernah terlihat oleh orang lain. Kini, Cinta dihadapkan pada satu kenyataan. Apakah ia akan tetap pada prasangkanya, atau justru ikut luluh pada pesona sang murid baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vina Melani Sekar Asih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 Pasar Malam
Hari Sabtu pada malam hari biasanya terasa lebih hidup. Angin laut yang membawa hawa sejuk berhembus menyapu pepohonan, seolah mengajak siapa pun untuk keluar dan sejenak melupakan penat.
Namun bagi Cinta, malam kali ini hanyalah waktu yang tepat untuk bergelung di balik selimut sambil melanjutkan draf novelnya yang sempat terbengkalai. Sejak insiden di sekolah kemarin, Cinta memang sengaja membatasi komunikasinya dengan Rian. Pesan singkat dari cowok itu hanya dibalasnya singkat, atau bahkan hanya dibaca.
Cinta sedang asyik mengetik sebuah adegan emosional saat tiba-tiba ia mendengar suara deru motor besar yang sangat ia hafal berhenti tepat di depan pagar rumahnya. Jantungnya memberikan reaksi instan yaitu berdegup dua kali lebih cepat.
"Gak mungkin," gumamnya sambil bangkit dan mengintip sedikit dari balik gorden jendela kamarnya di lantai dua.
Benar saja. Di bawah temaram lampu jalan, sosok jangkung dengan jaket hitam sedang melepas helmnya. Cowok itu tampak merapikan rambutnya sebentar sebelum melangkah mantap menuju pintu depan.
Cinta panik. Ia belum mandi, rambutnya hanya dicepol asal-asalan, dan ia masih mengenakan kaus kebesaran dengan celana pendek santai. Ia buru-buru mematikan laptop dan berdiri di balik pintu kamar, menempelkan telinganya ke kayu pintu untuk mencuri dengar apa yang terjadi di bawah.
Di lantai bawah, Mamah baru saja membuka pintu. Beliau tampak terkejut melihat siapa yang datang. Mamah tentu masih ingat wajah cowok ini, cowok yang sempat membuat putrinya menangis sesenggukan tempo hari.
"Malam, Tante," sapa Rian dengan suara beratnya yang sopan. Ia sedikit menundukkan kepala sebagai tanda hormat.
Mamah menatap Rian dari ujung rambut sampai ujung kaki. Meskipun Rian terlihat seperti tipikal cowok nakal dengan motor besar dan aura dinginnya, ada ketulusan di matanya malam ini.
"Eh, kamu... Rian, kan?"
"Iya, Tante. Maaf mengganggu malam-malam begini. Saya mau minta izin, apakah boleh mengajak Cinta ke pasar malam di alun-alun sebentar?"
Mamah tidak langsung memanggil Cinta. Beliau justru melipat tangannya di dada dan tetap berdiri di ambang pintu, menatap Rian dengan tatapan menyelidik ala seorang ibu yang sedang memproteksi harta paling berharganya.
"Pasar malam?" ulang Mamah pelan. "Cinta sedang sibuk di atas. Tapi sebelum Tante panggil dia, ada sesuatu yang ingin Tante tanyakan padamu, Rian."
Rian sedikit membetulkan posisi berdirinya, merasa suasana mendadak menjadi sangat formal. "Silakan, Tante."
"Tante tahu kamu teman sebangku Cinta di sekolah. Tante juga tahu Cinta belakangan ini sering gelisah karena urusan di sekolah," Mamah menjeda kalimatnya, memberikan tekanan pada setiap kata.
"Jujur saja sama Tante, apa kamu sebenarnya suka pada putri Tante?"
Rian tertegun sejenak. Ia tidak menyangka akan mendapatkan pertanyaan langsung itu dari ibu Cinta. Namun, ia tidak menghindar. Ia justru menatap mata Mamah dengan tegas.
"Jangan memberi harapan kalau kamu hanya ingin main-main, Rian. Cinta itu anak yang tulus, dia belum pernah pacaran, dan dia menganggap perasaan itu sesuatu yang sakral. Kalau kamu datang hanya untuk menjadikannya pelarian dari masa lalumu, lebih baik kamu pulang sekarang," sambung Mamah dengan nada yang sangat serius.
Rian menarik napas panjang. Ia tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terlihat tulus dan sedikit malu-malu. "Tante, saya jujur. Saya memang sangat menyukai Cinta. Bahkan... Cinta sendiri sudah tahu hal itu. Saya sudah mengatakannya secara langsung kemarin di sekolah."
Kini giliran Mamah yang terdiam sejenak. Alisnya terangkat sebelah. "Cinta sudah tahu? Kenapa anak itu tidak cerita?" batin Mamah.
Seingat beliau, kemarin Cinta hanya bercerita soal si mantan yang pindah sekolah, tapi bagian pengakuan cinta Rian rupanya sengaja disembunyikan oleh putrinya.
"Oh, jadi kamu sudah menyatakan perasaan?" tanya Mamah dengan nada yang sedikit lebih lunak namun tetap waspada.
"Sudah, Tante. Meskipun sepertinya dia masih sangat kesal pada saya," jawab Rian sambil terkekeh pelan, teringat bagaimana Cinta lari meninggalkannya kemarin.
"Tujuan saya ke sini juga ingin membuktikan kalau saya serius. Saya ingin membawanya keluar supaya dia tidak terus-menerus memikirkan masalah Clarissa. Saya ingin dia tahu bahwa fokus saya sekarang adalah dia, bukan orang lain."
Mamah memperhatikan raut wajah Rian. Tidak ada tanda-tanda kebohongan di sana. Sebagai wanita dewasa, Mamah tahu mana cowok yang hanya bicara manis dan mana yang bicara dengan hati.
"Baiklah kalau begitu. Tunggu di sini sebentar," ucap Mamah akhirnya. "Tante panggilkan Cinta dulu. Tapi ingat, jam sembilan dia harus sudah sampai di rumah lagi. Dan jangan sampai dia pulang dengan mata sembap lagi."
"Siap, Tante. Saya janji," sahut Rian mantap.
Cinta yang sedari tadi mengintip dari celah tangga langsung berlari kencang kembali ke kamarnya begitu mendengar langkah Mamah mendekat. Ia melompat ke atas kasur dan pura-pura sedang membaca buku saat pintu kamarnya diketuk.
"Cinta? Belum tidur kan, Nak?" Mamah masuk dengan senyum yang sulit diartikan.
Cinta mendongak, berusaha terlihat kaget yang natural. "Eh, Mamah. Belum, Mah. Ada apa?"
"Ada Rian di bawah. Katanya mau ajak kamu ke pasar malam," Mamah duduk di pinggir tempat tidur. Beliau mengamati wajah putrinya yang mendadak berubah warna menjadi merah jambu.
"Kenapa kamu nggak cerita kalau dia sudah bilang suka sama kamu, hmm?"
Cinta tersedak ludahnya sendiri. "M-mah... itu... maksudnya..."
Mamah tertawa kecil sambil mengelus rambut Cinta. "Sudah, jangan malu-malu begitu. Rian tadi bicara sama Mamah. Dia kelihatan jujur. Dia bilang dia mau membuktikan kalau dia serius sama kamu. Mamah kasih izin, tapi jangan pulang malam-malam ya nanti takutnya Papah kamu keburu pulang."
Cinta terdiam. Ada rasa hangat yang menjalar di hatinya mendengar Rian berani bicara sejujur itu pada Mamahnya. Rasa kesalnya yang setinggi gunung es sejak kemarin mendadak mulai mencair perlahan.
"Tapi Mah, aku belum mandi..." rengek Cinta, meskipun tangannya sudah mulai sibuk mencari pakaian di lemari.
"Ganti baju saja yang rapi, pakai parfum sedikit. Rian sudah menunggu di teras. Jangan bikin anak orang lumutan di bawah," goda Mamah sambil melangkah keluar kamar.
Cinta segera bergerak cepat. Ia memilih mengenakan jeans biru gelap dipadukan dengan sweater rajut berwarna krem yang membuatnya terlihat manis namun santai. Ia membiarkan rambut panjangnya tergerai, menyisirnya rapi, dan memberikan sedikit sentuhan lipstik pada bibirnya.
Setelah memastikan penampilannya oke, Cinta turun ke bawah dengan langkah yang diatur sedemikian rupa agar tidak terlihat terlalu bersemangat.
Di teras, Rian sedang berdiri menyandar pada pilar rumah sambil memainkan ponselnya. Begitu mendengar suara pintu terbuka, ia langsung mendongak. Matanya tidak bisa berbohong. Ia terpaku melihat penampilan Cinta malam ini.
"Hai," sapa Cinta singkat, mencoba kembali ke mode dinding kokoh-nya meski gagal total karena pipinya sudah bersemu merah.
Rian tersenyum, tipe senyum tulus yang membuat matanya ikut menyipit. "Hai. Kamu cantik malam ini."
Cinta memutar bola matanya, menyembunyikan rasa salah tingkahnya. "Gak usah gombal. Ayo berangkat sebelum aku berubah pikiran."
Rian terkekeh dan memberikan helm cadangan pada Cinta. "Ayo. Tante, kami berangkat dulu ya!" pamit Rian pada Mamah yang memperhatikan dari balik pintu.
...****************...
Perjalanan menuju alun-alun hanya memakan waktu sepuluh menit. Selama di atas motor, Cinta duduk dengan jarak yang cukup aman, namun ia tidak bisa menahan diri untuk tidak mencium aroma parfum Rian yang segar bercampur aroma jaket kulit. Ada rasa nyaman yang aneh yang mulai merayap kembali.
Pasar malam sangat ramai. Cahaya lampu dari bianglala dan komidi putar mewarnai langit malam. Aroma harum jagung bakar dan arumanis memenuhi udara.
"Mau naik apa dulu?" tanya Rian sambil berjalan di samping Cinta. Ia sesekali menjaga agar Cinta tidak tersenggol oleh kerumunan orang.
"Aku mau arumanis," jawab Cinta, menunjuk stan penjual gula kapas berwarna merah muda.
Rian segera membelikannya dua bungkus besar.
Mereka kemudian berjalan santai menyusuri
deretan stan permainan. Meskipun suasana sangat bising, bagi Cinta, seolah-olah ada gelembung yang memisahkan mereka dari keramaian.
"Cin," panggil Rian saat mereka duduk di sebuah bangku panjang yang sedikit menjauh dari kerumunan.
Cinta menoleh, mulutnya masih belepotan sedikit gula kapas. "Kenapa?"
Rian tertawa kecil, ia mengambil tisu dari sakunya dan secara alami menyeka sudut bibir Cinta. Gerakan itu begitu lembut sampai Cinta terpaku diam, lupa bagaimana cara bernapas selama beberapa detik.
"Maaf soal Clarissa. Aku tahu kehadirannya merusak segalanya. Tapi aku benar-benar ingin kamu tahu satu hal," Rian menatap mata Cinta dalam-dalam. Cahaya lampu warna-warni dari bianglala terpantul di matanya.
"Aku datang ke sini untuk mencari ketenangan, dan aku menemukannya saat duduk di sebelahmu di kelas. Clarissa itu masa lalu yang nggak bisa kulepaskan begitu saja karena dia memegang rahasia soal keluargaku di Jakarta, tapi hatiku... hatiku gak dipegang sama dia, Cin. Hatiku ada di sini, sekarang, sama kamu."
Cinta menunduk, memainkan plastik arumanisnya. "Aku cuma takut, Rian. Aku nggak suka drama. Aku nggak suka diancam, dan aku nggak suka melihatmu dipaksa menurut padanya."
"Aku akan urus itu. Beri aku waktu, ya? Aku janji bakal beresin urusan Clarissa secepatnya. Aku nggak mau awal yang baru kita hancur karena orang dari masa lalu."
Rian meraih tangan Cinta, menggenggamnya erat. "Jangan hindari aku lagi di sekolah, ya? Rasanya tersiksa sekali dicuekin sekretaris kelas paling galak."
Cinta akhirnya tertawa, sebuah tawa lepas yang sudah lama tidak ia keluarkan di depan Rian.
"Habisnya kamu menyebalkan! Pindah sekolah bukannya bawa prestasi malah bawa mantan."
Rian ikut tertawa, merasa beban di pundaknya sedikit terangkat.
Malam itu, di bawah kerlap-kerlip lampu pasar malam, Cinta menyadari bahwa melarikan diri bukan lagi pilihan. Menjadi dinding kokoh mungkin bisa melindunginya dari luka, tapi itu juga akan menghalanginya untuk merasakan kebahagiaan.
Malam itu di pasar malam, meskipun Clarissa masih ada sebagai ancaman, Cinta merasa ia punya alasan kuat untuk tidak lagi merasa kecil hati. Ia tidak lagi sendirian menghadapi badai itu. Rian sudah menunjukkan arahnya, dan Cinta pun mulai berani melangkah di jalan yang sama. Perjuangan memang baru dimulai, tapi setidaknya, malam ini berakhir dengan sebuah senyuman manis, semanis arumanis di tangan Cinta.