NovelToon NovelToon
TUNANGAN PALSU

TUNANGAN PALSU

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:782
Nilai: 5
Nama Author: AlinaKS

Hanya karena sebuah kecelakaan, Sophia terjebak dengan Damian -- pria kaya, dingin, arogan, dan sangat posesif.

Damian memaksa Sophia menjadi tunangan palsunya demi kepentingan keluarga. Sebagai gantinya, utang besar Sophia akan dianggap lunas.

Awalnya Sophia pikir itu hanya sandiwara sementara.

Sampai Damian mulai ikut campur dalam hidupnya. Mengatur siapa yang boleh dekat dengannya. Dan perlahan memperlakukannya seperti miliknya sendiri.

“Kalau sudah tahu tidak bisa kabur… berhentilah melawan.”

Di saat Sophia mulai kehilangan kendali atas hidupnya, Arkan -- pria yang selama ini selalu ada untuknya, justru menyimpan rahasia yang menghancurkan semuanya.

Kini Sophia terjebak di antara pria yang terlalu ingin memilikinya… dan pria yang tak pernah benar-benar bisa ia miliki.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AlinaKS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TUNANGAN PALSU - Chapter 25

Happy Reading Guys!

_____

Ingatan Sintia kembali pada malam itu, hujan turun begitu deras.

Butiran air menghantam kaca jendela gudang tua tempat Julian membawanya. Suara petir sesekali menggelegar, membuat suasana terasa semakin mencekam.

Sintia berdiri beberapa langkah dari lelaki itu. Tubuhnya gemetar bukan karena dingin, melainkan karena apa yang baru saja didengarnya.

"Apa maksudmu menjadikan Arkan kambing hitam?" suaranya bergetar.

Julian tersenyum tipis. Senyuman yang selama ini selalu berhasil membuatnya tenang. Namun, malam itu, senyuman tersebut justru terlihat mengerikan.

"Arkan orang yang tepat."

Sintia menggeleng cepat. "Tidak, kau salah! Julian, Adikmu tidak pernah terlibat."

"Justru itu alasannya." Julian memasukkan kedua tangannya ke saku celana. "Orang seperti Arkan mudah dipercaya. Polisi akan butuh waktu lama untuk menemukan celahnya."

"Julian!"

Suara Sintia meninggi.

"Aku tidak akan membiarkanmu melakukan ini."

Tatapan Julian perlahan berubah dingin.

"Apa kau sedang membelanya?"

"Aku membela orang yang tidak bersalah!"

Sintia maju satu langkah.

"Selama mengenalnya, aku tahu Arkan orang yang jujur. Dia tidak pantas menerima semua ini."

Wajah Julian mengeras. Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, Sintia melihat sesuatu yang begitu gelap di mata lelaki itu.

"Kau jatuh cinta padanya?"

"Tidak ada hubungannya dengan itu!"

"Lalu kenapa kau begitu panik?"

Karena dia tidak sejahat dirimu.

Kalimat itu hampir keluar dari mulutnya. Tetapi, kali ini Sintia tidak lagi peduli. Ia menatap Julian tanpa rasa takut.

"Aku akan membocorkan semuanya."

Julian terdiam.

"Apa?"

"Aku akan memberitahu media."

Sintia menggertakkan gigi.

"Semua bisnis kotormu. Semua pencucian uangmu. Semua transaksi ilegalmu. Aku akan mengatakan semuanya. Kau adalah kriminal."

Hening.

Beberapa detik berlalu tanpa suara.

Lalu ....

Julian tertawa, tawa rendah yang membuat bulu kuduk Sintia meremang.

"Kau pikir masih bisa keluar dari sini?"

Jantung Sintia langsung berdebar keras.

Perlahan Julian melangkah mendekat.

Satu langkah.

Dua langkah.

Tiga langkah.

Sampai akhirnya lelaki itu berdiri tepat di depannya.

"Kau tahu terlalu banyak." Suara Julian terdengar begitu pelan. Namun, justru itu yang membuatnya semakin menakutkan. "Aku sudah membawamu ke sisi gelapku, Sintia."

Tangan Julian tiba-tiba mencengkeram lehernya.

"Kau pikir setelah melihat semua itu kau masih bisa hidup normal?"

Mata Sintia membelalak, ia berusaha melepaskan tangan lelaki itu. Namun, cengkeramannya semakin kuat. Napasnya mulai sesak.

"Kau tidak punya jalan keluar."

Julian menatapnya tanpa belas kasihan.

"Selain mati."

Air mata langsung mengalir dari sudut mata Sintia, tubuhnya mulai kehilangan tenaga. Dalam kepanikan, ia mendorong dada Julian sekuat tenaga.

Lelaki itu mundur setengah langkah.

Kesempatan itu langsung dimanfaatkan Sintia untuk berlari. Namun, baru beberapa meter, rambutnya ditarik kasar dari belakang.

"Akh!"

Tubuhnya terjatuh ke aspal basah.

Julian menyeretnya tanpa ampun.

Panik.

Takut.

Putus asa.

Semua bercampur menjadi satu.

Pandangannya menyapu sekitar dengan liar, lalu ia melihat sebuah balok kayu tergeletak di pinggir jalan. Tanpa berpikir panjang, Sintia meraihnya. Ia mengayunkannya sekuat tenaga.

Brak!

Balok itu menghantam kepala Julian.

Lelaki itu langsung terhuyung.

Darah mengalir dari pelipisnya.

Namun, Sintia sudah terlalu takut untuk berhenti. Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, ia mendorong tubuh Julian keras-keras. Tubuh lelaki itu mundur beberapa langkah.

Tanpa diduga, sorot lampu mobil muncul dari tikungan. Julian menoleh.

Terlambat.

Sebuah benturan keras menggema di udara malam.

Tubuh Julian terlempar beberapa meter sebelum jatuh menghantam aspal.

Semua mendadak sunyi.

Sintia terkejut.

Matanya membelalak menatap tubuh Julian yang terkapar di tengah jalan. Hujan terus turun membasahi tubuh lelaki itu, mencuci darah yang perlahan mengalir dari pelipisnya.

Untuk beberapa saat, ia hanya berdiri mematung. Seolah tidak mampu memahami apa yang baru saja terjadi.

Lelaki yang selama ini membuatnya takut.

Lelaki yang menyeretnya ke dalam dunia gelap.

Lelaki yang beberapa menit lalu berusaha membunuhnya.

Kini terbaring tanpa bergerak sedikit pun.

Tawa kecil keluar dari bibir Sintia.

Terdengar asing.

Bahkan dirinya sendiri tidak mengenali suara itu.

Beberapa detik kemudian, tawa tersebut berubah menjadi tangisan. Bahunya bergetar hebat. Air mata bercampur dengan air hujan yang membasahi wajahnya.

Ia selamat.

Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, ia menyeret tubuh lelaki itu menuju mobil.

Tubuhnya terasa sakit luar biasa.

Lehernya masih perih akibat cekikan.

Lengannya dipenuhi memar.

Lututnya lecet karena terjatuh di jalan.

Namun, ia tetap memaksa bergerak.

Malam itu ia bahkan tidak tahu dari mana kekuatan tersebut berasal.

Yang ia tahu hanya satu.

Ia tidak bisa membiarkan Arkan menanggung semua dosa Julian.

Entah berapa lama waktu yang dibutuhkan hingga akhirnya ia berhasil memasukkan tubuh lelaki itu ke dalam mobil.

Setelah itu, ia mengemudi tanpa tujuan.

Membelah jalanan malam yang sepi.

Sampai akhirnya sebuah sungai besar muncul di hadapannya.

Mobil berhenti.

Sintia menatap aliran air yang gelap beberapa saat.

Kemudian perlahan menginjak pedal gas.

Mobil mulai bergerak.

Semakin cepat.

Semakin dekat menuju tepi sungai.

Pada detik terakhir, Sintia membuka pintu dan menjatuhkan dirinya keluar.

Tubuhnya berguling di atas aspal. Ia meringis kesakitan.

Menghiraukan rasa sakit, Sintia mencoba bangkit, ia melihat handphone yang berada di tangannya. Dengan tangan gemetar mencoba menelpon. Tapi lelaki itu tak mengangkat telpon.

"Sial!"

Sintia memejamkan mata, lalu mengusap wajahnya gusar, sampai akhirnya ia mengirim pesan, kemudian melempar handphone itu ke sungai.

Sintia mengembuskan napas berat. Mengingat pesan yang ia kirim.

[Aku sedang pusing, baru pulang dari klinik. Aku mengendarai mobil sendiri, karena Sintia tidak bisa mengendarai mobil. Dia sudah pulang lebih dulu. Bisa kau jemput aku sekarang?]

-----

Beberapa jam kemudian, sebuah taxi berhenti di depan gerbang rumah mewah yang berdiri megah di tengah kegelapan malam.

Sintia turun perlahan.

Tubuhnya masih dipenuhi luka dan memar.

Setiap langkah terasa menyakitkan.

Namun, rasa sakit itu tidak seberapa dibandingkan ketakutan yang sedang menggerogoti hatinya.

Ia menatap bangunan besar di hadapannya cukup lama.

Jujur saja, ia ingin berbalik.

Ingin melarikan diri sejauh mungkin.

Namun, setiap kali niat itu muncul, wajah Arkan selalu terbayang di kepalanya. Membuatnya kembali memaksa diri untuk melangkah maju.

Setelah menjelaskan tujuan kedatangannya, satpam akhirnya mempersilahkannya masuk.

Rumah itu sangat besar.

Beberapa pelayan berlalu-lalang di koridor.

Namun, tak satu pun menatapnya lebih dari satu detik. Seolah mereka tidak melihat pakaian basah yang dikenakannya. Tidak melihat luka di wajahnya. Tidak melihat keadaan menyedihkan yang sedang dialaminya.

Semua orang di rumah itu seperti sudah dilatih untuk tidak bertanya.

Sintia tersenyum pahit.

Di tempat seperti ini, dirinya memang tidak lebih dari seekor semut kecil.

Tak lama kemudian, seorang pemuda datang menghampirinya.

Wajahnya tenang.

Tatapannya datar.

Tanpa banyak bicara, ia mempersilakan Sintia mengikutinya.

Mereka berjalan melewati beberapa ruangan sebelum akhirnya memasuki sebuah ruang kerja yang luas.

Saat pintu tertutup, keberanian Sintia yang tersisa seolah ikut menghilang.

Ia menundukkan kepala. Lebih tepat tidak punya banyak keberanian untuk melihat sekeliling. Tubuhnya perlahan berjongkok, tangannya mengepal erat di atas lutut, dan air matanya sudah habis sejak beberapa jam lalu.

Yang tersisa hanya rasa lelah dan putus asa.

Pemuda itu duduk di hadapannya.

Mengamatinya cukup lama.

Seolah sedang menilai apakah wanita di depannya layak didengarkan atau tidak.

"Kau kekasih Julian?"

Suara lelaki itu terdengar tenang.

Namun, cukup untuk membuat tubuh Sintia menegang.

Perlahan ia mengangguk.

Tatapan pemuda itu langsung berubah dingin. Bahkan, ada sedikit penghinaan yang tidak berusaha ia sembunyikan.

"Jadi kau datang ke sini untuk apa?"

Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi.

Tatapannya tetap tertuju pada Sintia.

"Tidak mungkin orang seperti Julian mengizinkan kekasihnya datang tanpa alasan."

Hening beberapa saat.

Kemudian sudut bibir lelaki itu terangkat tipis.

Senyuman yang sama sekali tidak hangat.

"Atau jangan-jangan ...."

Tatapannya semakin tajam.

"Kau berniat mengkhianatinya dan meminta perlindungan kepadaku?"

B e r s a m b u n g ....

Catatan:

Aku posting 2 part hari ini.

Jangan lupa tinggalkan jejak, yah. Makasih (⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)⁠❤

1
falea sezi
anak siapa yg dikandungnya sintia
falea sezi
🤣🤣🤣kapok ketipu jalang makan itu rasa. kasian😒
falea sezi
mending ma Damian 🤣 dripada si goblok arkan kayaknya Sintia licik bgt ini jalang🤣
falea sezi
jangan mau sopii🤣 ada yg singgle. kok milih jd pelakor
Rumia Dell: Sopii food kah😭
total 1 replies
falea sezi
klo ma arkan pasti di nanti sintya ge recokin
falea sezi
ini mah bukan hemat tp medit buat diri sendiri😒
Rumia Dell: Gak boleh gitu, demi rumah impian 🤣
total 1 replies
Juli Rosan
keren
Rumia Dell: Ikutin terus ceritanya yah😍
total 1 replies
Dede Kurniawan
Seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!