NovelToon NovelToon
Istri Yang Tak Pernah Dicintai

Istri Yang Tak Pernah Dicintai

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:16.6k
Nilai: 5
Nama Author: gigiwww

Alya terbangun di tubuh Sabrina—seorang wanita hamil yang dibenci suaminya sendiri. Dalam novel yang pernah ia baca, Sabrina akan mati tragis setelah melahirkan.

Kini hidup sebagai Sabrina, Alya berusaha mengubah takdirnya dan menjauh dari Leon, suami dingin yang tak pernah mencintainya. Namun semakin ia mencoba pergi, semakin Leon mulai memperhatikannya.

Di balik kebencian, perlahan tumbuh rasa yang tak seharusnya ada. Tapi apakah cinta bisa lahir dari hubungan yang sejak awal dipenuhi luka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 — Rasa yang Mulai Memiliki

Suasana apartemen kecil itu berubah aneh sejak kedatangan Bastian.

Pria Eropa itu terlihat sangat santai berdiri di dekat dapur sambil membantu Alya menyusun roti dan beberapa kantong belanja.

Sementara Leon duduk diam di sofa dengan rahang menegang samar.

Tatapannya tidak pernah benar-benar lepas dari mereka berdua.

“Aku juga bawain sup buat Liora,” ujar Bastian sambil mengangkat wadah makanan. “Dia suka yang ayam.”

Alya tersenyum kecil.

“Thanks, Bast.”

“Santai.”

Leon langsung mengernyit mendengar panggilan akrab itu.

Bast?

Dan lebih menyebalkan lagi…

Bastian terlihat terlalu nyaman di rumah ini.

Seolah sudah sering datang.

“Kamu sering ke sini?” tanya Leon tiba-tiba dingin.

Bastian menoleh santai.

“Lumayan.”

Alya langsung merasa suasana mulai tidak benar.

“Bastian tinggal dekat sini,” jelasnya cepat. “Dia bantu aku waktu pertama buka toko bunga.”

Leon mengangguk tipis tanpa ekspresi.

Namun justru itulah yang membuat aura dinginnya semakin terasa.

Bastian tampaknya menyadari ketegangan itu. Pria itu menatap Leon beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum samar.

“Kamu suaminya Alya?”

Pertanyaan itu langsung membuat ruangan hening.

Alya membeku.

Sementara Leon perlahan mengangkat pandangannya.

“Masih secara hukum,” jawabnya tenang.

Bastian sedikit mengangguk pelan.

“Pantas.”

Satu kata sederhana.

Namun entah kenapa membuat Leon semakin tidak nyaman.

“Aku sering dengar cerita tentang kamu,” lanjut Bastian sambil bersandar santai di meja dapur.

Alya langsung panik kecil.

“Bastian…”

Namun pria itu malah tertawa kecil.

“Apa? Aku salah?”

Leon menatap Alya.

“Cerita apa?”

Alya langsung menghindari tatapannya.

“Bukan hal penting.”

Namun Bastian justru menjawab santai.

“Dia sering nangis waktu awal pindah ke Roma.”

Deg.

Tatapan Leon langsung berubah.

Sementara Alya menutup mata malu sekaligus kesal.

“Bastian stop.”

“Kenapa?” pria itu tampak polos. “Dulu kamu tiap malam duduk di toko bunga sampai ketiduran.”

Leon membeku mendengar itu.

Bayangan Sabrina sendirian di negara asing sambil hamil langsung memenuhi pikirannya.

Dan yang paling membuat dadanya sesak—

Saat itu dirinya bahkan tidak tahu apa-apa.

“Kadang dia demam sendiri tapi tetap buka toko,” lanjut Bastian pelan. “Pas lahiran juga dia hampir depresi karena capek urus bayi sendirian.”

“Aku bilang stop.”

Suara Alya melemah.

Ia benar-benar tidak ingin membahas masa-masa sulit itu di depan Leon.

Namun semuanya sudah terlanjur.

Leon menatap wanita itu diam-diam.

Dan rasa bersalah dalam dadanya semakin berat.

Sementara Bastian akhirnya sadar suasana mulai terlalu sunyi.

“Oke, aku pulang aja deh.”

Pria itu mengambil jaketnya santai.

Namun sebelum pergi, ia sempat mengusap kepala Alya lembut.

“Kalau butuh bantuan telepon aku.”

Leon langsung menegang melihat sentuhan kecil itu.

Dan lebih parahnya lagi—

Alya tidak menolak.

“Thanks.”

Bastian lalu melambaikan tangan kecil sebelum keluar apartemen.

Pintu tertutup.

Dan suasana langsung berubah sunyi.

Sangat sunyi.

Alya menghela napas panjang sambil memijat pelipisnya.

“Dia emang suka ngomong sembarangan.”

Leon tidak langsung menjawab.

Tatapannya masih tertuju pada pintu apartemen.

“Apa dia suka sama kamu?”

Pertanyaan mendadak itu membuat Alya langsung menoleh cepat.

“Apa?”

Leon akhirnya menatap Alya.

Tatapan pria itu jauh lebih gelap dibanding biasanya.

“Aku tanya apa dia suka sama kamu.”

Alya langsung merasa jantungnya berdetak aneh.

“Kenapa kamu tanya begitu?”

“Karena dia terlihat terlalu perhatian.”

Nada suara Leon terdengar datar.

Namun justru itu yang membuat Alya sadar—

Pria ini sedang kesal.

Dan entah kenapa kesadaran itu membuat suasana makin aneh.

“Bastian cuma teman,” jawab Alya akhirnya pelan.

Leon masih diam.

“Aku sama dia nggak ada hubungan apa-apa.”

Tatapan Leon perlahan berubah rumit.

Entah kenapa ia merasa sedikit lega mendengar jawaban itu.

Dan fakta itu membuat dirinya sendiri kesal.

Karena sejak kapan ia mulai peduli pria lain di sekitar Sabrina?

“Kamu cemburu?” tanya Alya tiba-tiba.

Leon langsung membeku.

Ruangan mendadak terasa terlalu sunyi.

Alya awalnya hanya ingin bercanda kecil untuk mencairkan suasana.

Namun saat melihat ekspresi Leon yang berubah diam…

Senyumnya perlahan menghilang.

Karena pria itu tidak langsung menyangkal.

“Aku cuma nggak suka orang lain terlalu dekat sama anakku.”

Jawaban itu keluar beberapa detik kemudian.

Terlalu cepat.

Terlalu defensif.

Dan Alya langsung tahu itu bukan jawaban sebenarnya.

“Liora suka Bastian,” ujarnya pelan sambil duduk kembali di sofa.

Leon mengernyit samar.

“Dia sering ngajak Lio main ke taman. Kadang bantu jagain toko juga.”

Semakin Alya bicara, dada Leon justru makin terasa sesak.

Karena selama tiga tahun…

Ada orang lain yang mengisi tempat kosong yang seharusnya menjadi miliknya.

“Mereka dekat?” tanya Leon pelan.

Alya mengangguk kecil.

“Liora sayang sama dia.”

Kalimat itu terasa seperti sesuatu yang menusuk ego Leon perlahan.

Pria itu menunduk sambil mengusap wajahnya lelah.

Dan untuk pertama kalinya…

Ia mulai takut.

Takut kalau dirinya sudah terlambat masuk ke kehidupan Alya dan Liora.

Takut kalau tempatnya sudah digantikan orang lain.

“Alya.”

Wanita itu menoleh pelan.

Leon menatapnya cukup lama sebelum akhirnya berkata lirih—

“Apa masih ada tempat buat aku di hidup kalian?”

Pertanyaan itu membuat hati Alya langsung bergetar hebat.

Karena untuk pertama kalinya—

Leon Ardian terdengar seperti pria yang benar-benar takut kehilangan.

1
wulaniii
gais komen like dan kasih gift dong biar tambah semangat 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!