NovelToon NovelToon
Benih Rahasia Sang Dokter

Benih Rahasia Sang Dokter

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Anak Genius / Dokter Genius
Popularitas:24.7k
Nilai: 5
Nama Author: lala_syalala

Ashela Safira, seorang gadis yang membanting tulang demi melunasi utang ayahnya, terpaksa merelakan kesucian yang ia jaga selama ini direnggut oleh pria asing.

Merasa harga dirinya telah hancur, ia memilih melarikan diri dan menghilang setelah malam panjang itu. Namun, di tengah pelariannya, Ashela justru mendapati dirinya hamil.

Sementara itu, Elvano Gavian Narendra, seorang dokter berhati dingin, terbangun dan mendapati gadis yang bersamanya telah pergi.

Rasa sesal seketika menghantamnya saat melihat bercak merah di atas ranjang, yaitu sebuah tanda bahwa ia telah menodai seorang gadis asing yang bahkan tidak ia ketahui identitasnya.

Bagaimana kelanjutannya???
YUKKKK GAS BACAAAA!!!

IG @LALA_SYALALA13
YT @NOVELLALAAA

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertaruhan Nyawa Berlangsung

Lampu merah bertuliskan OPERATING di atas pintu ruang bedah nomor satu menyala dengan pendar yang mencekam.

Di balik pintu baja itu, sebuah pertaruhan nyawa sedang berlangsung. Udara di dalam ruangan terasa sangat dingin, dikontrol ketat untuk menjaga suhu tubuh pasien dan sterilitas lingkungan, namun ketegangan yang menyelimuti tim medis justru membuat suasana terasa panas dan menyesakkan.

Leo terbaring di atas meja operasi yang dikelilingi oleh mesin-mesin canggih. Tubuh mungilnya hampir tenggelam di balik tumpukan kain hijau steril, hanya menyisakan area dada yang telah disiapkan untuk sayatan.

Di sekelilingnya, monitor-monitor besar menampilkan grafik neon yang berkedip yaitu tekanan darah, saturasi oksigen, dan yang paling krusial, ritme jantung yang tidak stabil.

Elvano Gavian Narendra berdiri di posisi utama. Ia mengenakan jubah bedah biru gelap, masker yang menutupi separuh wajahnya, dan loupe (kacamata pembesar khusus) yang terpasang di depan matanya.

Tangannya yang terbungkus sarung tangan lateks tampak sangat tenang, meski di dalam benaknya, ia sedang memetakan labirin pembuluh darah Leo yang kacau.

"Pisau bedah," suara Elvano memecah kesunyian. Suaranya dingin, fokus, dan tanpa ragu.

Di luar ruang operasi, di lorong panjang yang sepi, Ashela duduk bersimpuh di atas lantai koridor. Ia menolak duduk di kursi tunggu karena baginya, bersentuhan langsung dengan lantai terasa seperti bentuk penyerahan diri yang paling tulus.

Tangannya tertangkup di depan wajah, bibirnya tak henti menggumamkan doa yang sama berulang-ulang.

"Tuhan, pinjamkan kekuatanmu untuk dokter itu. Jangan biarkan tangannya goyah. Berikan napas untuk Leo... biarkan dia hidup normal seperti anak-anak lainnya," isaknya lirih.

Ashela membayangkan Leo yang sedang berlari di kebun teh, Leo yang tertawa tanpa harus merasa sesak, Leo yang bisa tumbuh besar dan melihat dunia.

Harapan itu adalah satu-satunya hal yang menjaganya agar tidak pingsan di tengah ketakutan yang mencekik. Ia tidak peduli jika setelah ini ia harus menghadapi kemarahan Elvano, atau jika identitasnya terbongkar. Yang ia inginkan hanyalah melihat monitor itu menunjukkan garis detak jantung yang stabil bagi putranya.

Kembali ke dalam ruang operasi, waktu seolah melambat. Operasi telah berjalan selama tiga jam, dan mereka baru saja memasuki tahap paling kritis yaitu menghentikan jantung Leo untuk sementara agar Elvano bisa menjahit lubang di dalam sekat jantung dan merekonstruksi pembuluh darah pulmonal.

"Hubungkan ke mesin heart-lung bypass," perintah Elvano.

Detik-detik saat jantung asli Leo berhenti berdetak dan fungsinya diambil alih oleh mesin adalah momen yang paling mendebarkan bagi seluruh tim.

Garis di monitor berubah menjadi datar, diiringi suara dengung mesin yang monoton. Nyawa Leo kini benar-benar berada di tangan Elvano dan teknologi di depannya.

Elvano mulai bekerja dengan ketelitian mikroskopis. Ia menggunakan benang bedah yang lebih halus dari rambut manusia. Setiap tusukan jarum harus sempurna karena satu milimeter saja meleset, maka aliran darah ke paru-paru Leo akan terhambat selamanya.

"Saturasi menurun! Ada pendarahan di balik katup trikuspid!" seru dokter anestesi dengan nada panik.

Suasana seketika berubah kacau. Monitor berbunyi tit-tit-tit dengan frekuensi cepat dan melengking. Darah mulai merembes keluar dari area yang sedang diperbaiki, menutupi pandangan Elvano.

"Tenang! Jangan panik!" bentak Elvano, suaranya menggelegar di dalam ruangan, seketika membungkam kepanikan staf lainnya.

"Berikan suction maksimal. Naikkan dosis epinefrin. Aku butuh area ini bersih sekarang juga!" perintahnya.

Keringat mulai membanjiri dahi Elvano. Seorang perawat dengan sigap menyekanya agar tidak jatuh ke area bedah.

Elvano menahan napas. Tangannya tidak bergetar sedikit pun, namun di balik maskernya, rahangnya terkatup sangat rapat. Ia melihat lubang itu yaitu sumber pendarahannya ternyata berasal dari anomali pembuluh darah yang sebelumnya tidak terlihat jelas di hasil pemindaian.

'Jangan mati, Leo. Jangan sekarang,' batin Elvano menjerit.

Ia bekerja melawan waktu. Setiap detik jantung itu berhenti, risiko kerusakan otak pada pasien anak semakin besar.

Elvano melakukan gerakan tangan yang sangat cepat namun terukur. Ia menjahit pembuluh darah yang pecah itu dengan satu gerakan kontinu yang hanya bisa dilakukan oleh dokter dengan jam terbang ribuan jam.

"Pendarahan terkendali," ucap Elvano setelah beberapa menit yang terasa seperti selamanya.

"Lanjutkan penutupan sekat." seru Dokter Elvano.

Lima jam berlalu. Di luar, matahari Jakarta sudah mulai terbenam, memberikan semburat jingga di jendela koridor. Ashela masih di posisi yang sama. Tubuhnya sudah mati rasa, namun jiwanya tetap terjaga.

Setiap kali pintu ruang operasi terbuka dan seorang perawat keluar untuk mengambil kantong darah tambahan, Ashela akan berdiri dengan harapan yang membuncah, namun ia hanya mendapatkan gelengan kepala yang berarti masih berlangsung.

"Leo... mama janji akan membawamu melihat laut jika kamu bangun." bisiknya pada keheningan.

"Mama akan membawamu melihat semua tempat indah yang pernah mama ceritakan. Tolong, jangan tinggalkan mama sendiri di sini." lirih Ashela pasrah.

Ashela merasa seolah-olah separuh nyawanya sedang berada di dalam sana, ikut dibedah dan dijahit bersama Leo. Ia bisa merasakan setiap rasa sakit yang mungkin dirasakan anaknya, meski Leo sedang berada di bawah pengaruh bius total.

Di dalam ruang bedah, tahap akhir dimulai. Tahap yang paling menentukan yaitu melepaskan mesin bypass dan membiarkan jantung Leo berdetak kembali dengan kekuatannya sendiri.

"Siapkan defibrilator anak. Energi rendah," Elvano bersiap.

Semua orang di ruangan itu menahan napas. Elvano melepaskan klem pada pembuluh darah utama, membiarkan darah kembali mengalir masuk ke dalam ruang-ruang jantung yang baru saja ia perbaiki.

Jantung mungil itu tampak tergetar, namun tetap diam. Tidak ada detak.

"Satu kali kejut," perintah Elvano.

Deg!

Tubuh Leo sedikit terangkat. Garis di monitor masih datar.

"Naikkan energi. Kejut kedua."

Lagi, tubuh mungil itu tersentak. Keheningan yang menyiksa menyelimuti ruangan. Elvano menatap jantung itu dengan tatapan yang sangat intens. Di dalam hatinya, ia melakukan sesuatu yang jarang ia lakukan selama bertahun-tahun yaitu ia berdoa.

'Tuhan, jika Kau ingin mengambil seseorang, ambil aku. Jangan anak ini. Dia belum melihat apa-apa. Dia pantas mendapatkan hidupnya kembali.' batinnya memohon.

Tiba-tiba, monitor berbunyi.

Pip...

Satu puncak kecil muncul di layar.

Pip... Pip...

Detak itu mulai muncul. Awalnya lambat dan lemah, namun perlahan semakin kuat dan berirama. Jantung Leo mulai berdenyut secara mandiri. Aliran darah yang kini sudah berada di jalur yang benar membuat warna jaringan jantung yang tadinya pucat berubah menjadi merah segar yang sehat.

"Saturasi naik ke 98 persen. Ritme sinus normal," lapor dokter anestesi dengan suara yang terdengar sangat lega, hampir menangis.

Elvano menghela napas panjang, sebuah beban yang sangat berat seolah terangkat dari dadanya. Ia merasa lututnya sempat lemas untuk sedetik, namun ia segera menguasai diri. Ia menatap jantung Leo yang kini berdetak dengan gagah di balik tulang rusuk yang masih terbuka.

"Tutup rongga dada," perintah Elvano.

"Lakukan dengan sangat hati-hati. Pastikan tidak ada rembesan sedikit pun." lanjutnya.

.

.

Cerita Belum Selesai.....

1
Ari Atik
deg-segan banget,ikut tahan bafas...😊😊
semoga mereka bisa berkumpul bersama...
Ari Atik
sejauh ini,ceritanya menarik...

next...
4_amiraa_ Tadzkiyaa_
huhu bayangin alat2 n riuhnya r operasi... seru kaa👍🙏
🇧🇬
al udah deg2an kurang darah dan ketahuan! 🦖
chiara azmi fauziah
buat asela bahagia thor please
Nurilbasyaroh
mudah mudahan cepet ketahuan klo leo itu anak y
NN
lanjuttt
Deliz Diaz Dla FM B
Semangat ya
tia
lanjut thor
Wardi's
best bgt ka author..
Wardi's
omegat.. sampe deg2an bacanya...
NN
alur cerita bagus, lanjut thor
elief
lanjut thor💪
Tutuk Isnawati
bagus ceritanya
Asni Kenedy
lanjutttt
semangat othor💪💪💪💪
Fatmawati Qomaria
asya coba kamu berterus terang tentang kejadian itu? apakah ada yg menghapuskan jejak cctv di hotel
Fatmawati Qomaria
elvano blm tahu kebenaran tentang malam itu,
di double up
Deliz Diaz Dla FM B
Semangat ya
Nurilbasyaroh
bagus banget cerita y coba elvano ada kepikiran buat tes DNA biar tau yg bodoh itu dia sendiri
Eliermswati
bangus bngt q sk cerita nya klo bs sehari 3 bab thor😂😂😂 biar tmbh puas bc🤣🤣smngt thor up nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!