NovelToon NovelToon
PAK USTADZ JANGAN GODAIN SAYA

PAK USTADZ JANGAN GODAIN SAYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: wanudya dahayu

Zahra dijodohin sama Rayan karena wasiat almarhum Ayah Zahra yang sahabatan sama Abah Rayan. Zahra _ngamuk_ karena ngerasa nggak pantes jadi istri ustadz. Rayan juga _shock_ karena harus nikah sama cewek bertato yang nggak bisa baca Al-Fatihah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wanudya dahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22: PILIHAN SULIT UNTUK USTADZ

Hari ke-36 di Ndalem. Status Zahra Almira: Bu Nyai Yang Baru Sadar Kalau Musuh Sebenarnya Bukan Ning Aliya, Tapi Politik Pesantren.

Jam 05.00, aku nggak tidur. Duduk di teras. Di sebelah, Rayan ngaduk kopi tapi nggak diminum. Dari tadi diem. Gelas di tanganku yang pecah semalem udah disapu Mbak yuni. Tapi pecah di hati belum.

"Tadz," kataku pelan. "Tadi malem Tadz bilang Tadz nggak bisa dicopot. Karena Ndalem ini punya Abahnya Tadz. Bener?"

Rayan ngangguk. "Bener. SK aku sebagai Ustadz dan pengelola langsung dari Abah. Kyai Zaid nggak punya hak copot. Para Dewan Pesantren juga nggak bisa. Ini Ndalem keluarga."

"Terus kenapa Tadz diem aja waktu Kyai Zaid ngancam?"

Rayan senyum. Pahit. "Karena yang dia ancam bukan jabatan aku di Ndalem ini, Zahra. Yang dia ancam nama aku di Dewan Pengurus Pusat. Nama Abah."

Aku diem. Baru ngeh.

Jam 09.00, utusan dari Ndalem Pusat dateng. Bawa surat. Stempel Dewan Syuro.

Isinya: Sidang akan diadakan tiga hari lagi. Dengan dua agenda.

Rayan baca keras-keras. Biar aku denger.

"Pertama: Membersihkan nama Ning Aliya binti Kyai Zaid dari fitnah merebut suami orang. Kedua: Menentukan sikap Ustadz Rayan bin Kyai Abdullah terkait tanggung jawab moral atas kegaduhan di Ndalem pesantren."

Aku rebut suratnya. Baca ulang. "Tanggung jawab moral? Maksudnya?"

Bunda Aisyah yang dari tadi nguping di pintu akhirnya masuk. Wajah sembab. "Nak, Bunda denger dari Bu Nyai Fatimah. Kyai Zaid sudah ngomong di forum kyai. Katanya kamu, Rayan, harus milih. Pertama, nikahin Aliya. Biar fitnah selesai. Nama Aliya bersih. Nama Ndalem bersih. Kedua, kalau nolak, kamu bakal dicoret dari Anggota Dewan Pengurus Pesantren se-Jawa Timur. Kamu nggak akan diundang lagi. Nggak akan diajak musyawarah. Nama Abahmu ikut kebawa-bawa. Dianggap gagal didik anak."

Aku jatoh duduk. "Jadi bukan dipecat dari Ndalem. Tapi ditendang dari sirkel kyai."

Rayan ngepal tangan. "Itu lebih hina dari dipecat, Zahra. Abah itu sepuh. Dihormati. Kalau gara-gara aku nama Abah dicoret dari sejarah, aku mati-matian pun nggak bakal bisa nebus."

Aku berdiri. Panas. "Jadi Tadz mau nurut? Nikahin Aliya?"

Rayan nengok. Cepet. "Nggak. Aku nggak akan poligami. Aku udah janji sama kamu."

"Terus nama Abah gimana?" tanyaku. Suaraku naik. "Tadz mau liat nama Kyai Abdullah dicoret dari buku sejarah pesantren? Mau liat Bunda dihina di pengajian? Mau liat Ndalem ini nggak dianggap lagi sama kyai-kyai lain?"

"Terus kamu mau aku nikahin Aliya?" Rayan balik tanya. Suaranya naik juga. Pertama kali dia bentak aku. "Kamu rela aku pegang perempuan lain, Zahra?"

Aku diem. Napas sesek. Nggak rela. Tapi nama Abah...

"Aku nggak rela, Tadz!" teriakku. Air mata keluar. "Tapi aku juga nggak mau Tadz jadi anak yang bikin nama Abahnya busuk! Aku nggak mau Bunda diem-diem nangis tiap malem! Aku nggak mau Ndalem ini jadi bahan gunjingan di forum kyai!"

Bunda Aisyah narik aku. Dipeluk. "Udah, Nduk. Udah. Jangan berantem. Kalian berdua korban."

Sore, aku ke makam Ayah. Sendirian. Duduk. Cerita.

"Yah, Zahra pusing. Suami Zahra disuruh milih antara Zahra sama nama Abahnya. Kalau pilih Zahra, nama Kyai Abdullah dicoret dari Dewan. Kalau pilih Dewan, Zahra hancur. Ayah dulu temenan sama Kyai Abdullah. Beneran mau anaknya kayak gini?"

Angin kenceng. Debu masuk mata. Aku nangis lagi.

Pas pulang, Ndalem rame. Ada Ning Aliya. Dateng tanpa Abahnya. Bawa jilbab biru.

"Mbak Zahra," katanya. Suaranya lembut. Jijik. "Aku ke sini mau ngomong baik-baik. Sebagai perempuan ke perempuan."

Aku lipet tangan di dada. "Ngomong."

"Aku nggak mau dimadu, Mbak. Sama kayak Mbak," kata Aliya. "Tapi Abah udah kadung rapat sama Dewan. Kalau Ustadz Rayan nolak nikahin aku, namanya bakal dicoret. Nggak cuma namanya. Nama Abahnya. Nama Ndalem ini. Nanti di buku sejarah pesantren, Kyai Abdullah ditulis: Gagal didik anak. Mbak tega?"

Aku ketawa. "Tega? Ning Aliya yang tega. Ning pake nama Abahnya Ustadz buat neken Ustadz Rayan. Itu namanya apa? Makelar nama baik?"

Ning Aliya mukanya merah. "Jaga omongan, Mbak! Aku cuma kasih tau. Jalan satu-satunya biar semua selamat ya Mbak Zahra yang mundur. Mbak kan orang luar. Nggak punya beban sejarah. Kalau Mbak pergi, Ustadz Rayan bisa nikahin aku. Nama Abahnya selamat. Ndalem selamat. Mbak juga selamat dari gunjingan. Semua menang."

Tangan aku gatel pengen nampar. Tapi aku tarik napas.

"Ning Aliya," kataku pelan. "Ning bilang nggak mau dimadu. Tapi Ning maksa suami orang nikahin Ning. Terus Ning suruh aku mundur. Itu namanya apa? Nggak mau makan, tapi mau kenyang?"

Ning Aliya pergi. Banting pintu.

Malam, Rayan masuk kamar. Bawa kertas.

"Apa itu, Tadz?" tanyaku. Dingin. Masih kesel abis debat sama Aliya.

"Surat pengunduran diri," jawab Rayan. "Dari Dewan Pengurus Pesantren. Biar nama Abah nggak kebawa. Biar Aliya nggak punya alasan. Biar kamu nggak disuruh pergi. Aku yang keluar dari sirkel. Ndalem tetep jalan. Kamu tetep di sini sama Bunda."

Aku rebutan kertasnya. Kubaca. Beneran surat. Isinya: Saya, Rayan bin Abdullah, menyatakan mengundurkan diri dari Anggota Dewan Pengurus Pesantren se-Jawa Timur.

"Tadz gila?!" teriakku. "Ini nama Abahnya Tadz! Dibangun 30 tahun! Mau Tadz kubur cuma gara-gara aku?"

Rayan duduk. Lesu. "Terus aku harus gimana, Zahra? Nikahin Aliya? Kamu mau?"

"NGGAK!" aku teriak. "TAPI NGGAK GINI JUGA CARANYA!"

Rayan natap aku. Matanya merah. Kurang tidur. "Zahra. Aku udah mikir. Cuma ada dua jalan. Aku nikahin Aliya, kamu hancur. Aku nggak nikahin Aliya, nama Abah hancur di Dewan. Dua-duanya aku nggak mau. Jadi biar aku aja yang hancur. Aku keluar dari Dewan. Aku tanggung malu. Yang penting kamu nggak dimadu. Ndalem nggak kena imbas."

Aku diem. Lama. Terus nyobek surat itu. Jadi empat.

"Nggak ada yang hancur, Tadz," kataku. Suara bergetar. "Nggak ada yang mundur dari Dewan. Kalau mau main politik, ayo politik. Aku cewek barista, cewek kekinian, pantang nyerah, Tadz. Bukan cewek Ndalem. Aku nggak ngerti adab Dewan. Tapi aku ngerti satu hal: Nggak ada yang bisa nginjek nama orang tua kita kalau kita nggak nunduk."

Rayan natap aku. Kayak baru kenal.

"Kamu yakin?" tanyanya.

Aku ngangguk. "Yakin. Tiga hari lagi sidang. Kita datang. Bukan sebagai pesakitan. Tapi sebagai pemilik Ndalem. Tadz anak Kyai Abdullah. Aku istri Tadz. Kita lawan pake data, pake dalil, pake logika. Bukan pake air mata."

Rayan senyum. Akhirnya. 1mm. Tapi tulus.

"Siap, Bu Nyai," katanya.

1
hasatsk
setelah di baca terus menerus ternyata ceritanya seru.....💪💪
wanudya dahayu: makasi kak 🙏. lagi nyari ide lagi, biar bisa menuhi syarat kontrak. doain ya kak. 🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Di Dia
tokoh aryanya cpt"di singkirin ...
Titik Sofiah
awal yang menarik ya Thor moga konfliknya nggak trllau berat 😍😍😍
wanudya dahayu: iya kak, semoga suka, mohon dukungannya 😍🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!