Danil Dwi Cahya, 16 tahun, lulus SMP dengan prestasi gemilang. Namun, ia tak bisa lari dari "Pernak-Pernik Kehidupan" yang keras: kemiskinan, pengkhianatan masa lalu sang ayah, dan beban mengangkat harga diri keluarga.
Hatinya makin rumit saat Ceceu Intan Nuraini, sahabat sekaligus cinta tak terucapnya, rela berkorban segalanya. Di tengah dilema merantau atau bertahan, Danil harus menghadapi intrik desa, mitos seram, dan bahaya dari majikan "buaya darat" Ceceu.
Akankah ia menemukan jalan keluar dari jeratan takdir dan cinta? Atau justru terhanyut dalam 'pernak-pernik' kehidupan yang tak terduga? Baca kisah perjuangan Danil dalam PERNAK-PERNIK KEHIDUPAN
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aris Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Kring..........................!
Kring..........................!
Kring............................!
Suara telepon berdering beberapa kali di ruangan megah dengan pernak pernik barang barang berkelas tinggi, tampak seorang lelaki tua bergegas melangkah menuju meja telepon di ujung sudut ruangan itu.
" Halo." Kata itu keluar setelah menggenggam telepon seraya di tempelkan kedalam daun telinga.
" Tuan Besar, group maha karya sudah mulai bertindak menjalin kerjasama dengan seorang lelaki tua yang cukup kejam, mereka kemungkinan terbesar memanfaatkan kelengahan kita di saat Tuan Muda Prediansyah menghilang dan tanpa jejak." Seseorang dari sebrang telepon melaporkan keadaan musuh bebuyutan nya itu.
" Hmph.! Menarik, lalu bagaimana dengan orang orang sudah di suruh mencari keberadaan anak keduaku itu, apakah menemukan jejak.?" Tanya lelaki tua yang di panggil Tuan Besar itu.
" Saat ini masih nihil Tuan Besar, namun anda tenang saja, anak buah saya terus menyusuri area Gunung Kanyang hingga kedalaman bukit itu.!
" Jawaban mu itu sudah bosan di telinga ku. Anak buahmu yang begitu banyak tidak bisa menemukan satu orang yang hilang di Gunung itu, hmph sungguh terlalu." Lelaki tua menarik nafas kasarnya lalu membuangnya dengan kasar dan melanjutkan lagi perkataannya.
" Hentikan seluruh pencarian itu dan kembali ke markas, ini sainganku sudah bertindak dan sudah saatnya kita mengatur rencana, malam esok bawa anak buah mu ke markas, kita akan adakan pertemuan besar untuk membahas yang harus kita bahas.!
" Baik Tuan Besar perintah anda akan saya laksanakan." Seseorang suara lelaki itu berkata lalu menutup teleponnya.
Setelah selesai obrolan dalam panggilan telepon bersama dengan asistennya itu, lelaki tua itu termenung sesaat sebelum ia di kejutkan oleh pertanyaan dari seseorang yang sedari tadi memperhatikannya.
" Ayah, ada apa? Tadi ayah telepon dari Erwin bukan?" Apakah sudah ketemu adikku.?" Rentetan pertanyaan di tunjukkan pada lelaki tua yang tak lain anaknya.
Lelaki tua itu menoleh ke arahnya tersenyum pilu, tampak raut kesedihan terpancar jelas di wajah yang menua itu." Alfiansyah seandainya kau memiliki kecerdasan dan kepintaran seperti adikmu itu, mungkin kehilangan Prediansyah tidak akan membuatku pusing tujuh keliling. Yang aku takutkan akhir akhir ini akhirnya adik tiriku mulai bergerak untuk melawan ku dan memanfaatkan situasi yang saat ini keluargaku sangat lemah dengan ketiadaan nya Prediansyah.
" Sampai saat ini, adikku belum di temukan dan bahkan jejaknya pun seolah olah di telan bumi." Sang ayah melangkah menuju ruangan keluarga, Alfiansyah pun mengikutinya.
Di ruangan keluarga tampak dua wanita berbeda usia sedang termenung keduanya dengan jalan pikiran masing masing, lamunan keduanya Buyar ketika kepala keluarga duduk di kursi utama dan di ikuti oleh lelaki berusia 30 tahunan.
Kamu pasti lelah kan, kamu pasti capek kan, kamu pasti prustasi kan, kamu pasti sangat ketakutan saat ini kan. Kini baru kamu rasakan ketidakadaan anak yang kau banggakan kan. Walaupun demikian apa yang kau lakukan itu benar, namun kenapa kamu tidak bertanya dulu padaku, kenapa kamu langsung mencemooh nya dan mengusirnya, sekarang aku harus mencari kemana putra kita." Serangan batin bergejolak di hati lelaki tua menatap ke arah istri yang tertunduk dengan wajah ke bawah.
" Telepon dari siapa barusan?" Sang istri bertanya tanpa menatap ke arahnya, kepergian sang anak itu karena ucapan nya waktu itu.
" Erwin.! Dia mengatakan sampai saat ini belum ada jejak tentang keberadaan Prediansyah, satu bulan lebih dia menghilang bagaikan di telan bumi.!
" Maaf itu semua salahku." Air matanya keluar menyusuri pipi mulus di wanita setengah tua itu.
Sunyi senyap ruangan itu, bahkan deru nafas mereka berempat pun tampak terdengar di telinga masing masing, wanita muda berusia 29 tahun dengan status dalam keluarga itu adalah menantu dari keluarga besar Irwansyah dan Juliana sekaligus istri dari Alfiansyah, tertunduk lesu tak bergairah, kesalahan pertamanya dia menggoda adik iparnya hingga menjalani hubungan terlarang dan sampai puncaknya kekhawatiran itu akhirnya sang ibu mertua serta suaminya mulai curiga, hingga kata kata umpatan dan pengusiran terhadap anak keduanya hingga sampai saat ini entah di mana dan kemana Prediansyah.
" Kenapa harus Bunda minta maaf, bunda tidak salah sama sekali, yang harus di salahkan itu bukan Bunda melainkan, melainkan Amanda istriku, seandainya dia, tidak mempunyai anak sudah aku buang waktu itu." Batin Alfiansyah bergejolak ada rasa benci dan jijik pada wanita yang sudah ia nikahi tiga tahun lalu itu.
" Untuk saat ini tolong jangan memperkeruh keadaan, biasakan terlebih dahulu seperti biasa. Aku sebagai kepala keluarga sekaligus pimpinan di keluarga ini, mohon untuk tidak ada perselisihan sebelum ketemunya anak itu dan setelah itu aku akan memutuskan permasalahan ini." Lelaki tua itu memberi penengah dalam keluarganya berhenti sejenak menatap ke arah mereka bertiga, dan kembali melanjutkan perkataannya.
" Alfiansyah ayah, mohon untuk saat ini bersabar dulu dan legowo sebelum ketemunya adik kamu, ayah harap kamu seperti biasa memperlakukan istri mu dengan baik, dan untuk Bunda kesayangan ayah, ikhtiar sudah kita lakukan, berdoalah dan meminta bantuan dari sang maha tunggal dalam permasalahan yang sedang kita hadapi, sejatinya kehilangan Prediansyah berakibat patal dalam roda perusahaan yang semakin lama di biarkan akan semakin hancur dan itu menjadi keinginan terbesar Rusdiansyah adik tiri ku.
" Apakah kau bisa Alfiansyah.?" Irwan bertanya pada anak sulungnya itu yang tampak menahan rasa kecewa berat dalam hidupnya itu.
" Dan kamu Amanda apakah kamu juga bisa?" Irwan kembali bertanya namun itu di tunjukkan pada menantunya, sesaat belum menerima jawaban kesanggupan dari putra sulungnya itu.
Keduanya sama sama tertunduk, namun ada perbedaan dari keduanya itu, sang anak tertunduk karna menyembunyikan amarahnya yang akan meledak ledak, berbeda dengan menantunya itu, tertunduk karna rasa malu terhadap mertuanya.
Aku tidak bisa ayah, terlanjur benci dan kecewa terhadap wanita di hadapan ku ini, seandainya itu terjadi pada ayah apakah ayah bisa menjalankan sesuai dengan keinginan ayah." Batin Alfiansyah bertanya dan menolak permintaan darinya.
" Mungkin kalian butuh waktu untuk menjawab pertanyaan dan keinginan dari ayah, namun sekali lagi ayah tekankan, ayah mohon dan berharap kalian mau menerima saran dari ayah sebelum Prediansyah kembali ke rumah ini." Lelaki tua bangkit dari duduknya menggapai tangan sang istri untuk mengikutinya meninggalkan mereka berdua.
Waktu bergulir cepat, langit yang tampak cerah di siang hari itu perlahan lahan tampak berubah warna kuning keemasan, dan waktu senja pun tiba.
Seorang wanita tua yang sedang berbaring di balkon bersamaan dengan pandangan ke arah langit berwarna kuning, tiba tiba di kejutkan dengan getaran ponsel yang tersimpan di atas perutnya.
" Dreatt....................!
" Dreatt.....................!
" Dreatt......................!
Wanita tua yang tak lain adalah Nyonya besar Juliana sesaat mengacuhkan getaran ponsel itu hingga berakhir getaran itu, namun detik kemudian ketika getaran hp itu terulang kembali, Juliana pun mau tidak mau mengangkat telepon nya.
" Halo siapa ini?" Tanya Juliana setelah menggeser layar ponselnya.
" Halo juga, saya adalah orang yang di suruh oleh orang lain, Nyonya Juliana jika kau ingin bertemu dengan orang yang kau cari datanglah ke kota kecil di Jawa Barat, namun kau harus datang sendiri." Terang si penelpon dari sebrang.
Jedar jantung Juliana langsung berdetak kencang." Apa yang barusan kau katakan, orang yang ku cari.?" Panik Juliana.
" Siapa kau hah?" Juliana bertanya dengan nada teriak, hingga sang suami dan para pelayan langsung menghampirinya.
" Tut......... Tut........ Tut............!
Panggilan telepon di ponsel Juliana langsung mati setelah suaminya dan para pelayan serta pengawal datang menghampirinya.
Bersambung.