Seraphina Halstrom pernah percaya bahwa keluarga adalah segalanya, hingga di detik terakhir hidupnya ia menyadari bahwa suami dan kedua anaknya sendiri telah merencanakan kematiannya demi harta. Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Kembali ke masa lalu sebelum semuanya terjadi, Seraphina tidak lagi menjadi ibu yang lembut dan mudah dimanfaatkan.
Dengan ingatan akan pengkhianatan yang sama, ia mulai menyusun langkah demi langkah untuk membalas mereka. Kali ini, ia tidak akan dikhianati, ia akan menghancurkan mereka terlebih dahulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2
Rasa pusing itu tidak juga mereda, justru semakin jelas seiring waktu berjalan. Seraphina awalnya masih mencoba meyakinkan dirinya bahwa itu hanya efek anggur yang terlalu kuat untuk tubuhnya yang jarang menyentuh minuman keras. Ia mempertahankan senyum tipisnya, menjaga sikap agar tetap terlihat tenang di hadapan mereka, seolah semuanya masih berada dalam kendali.
Namun perlahan, sesuatu yang lebih berat mulai mengambil alih, menggantikan rasa hangat yang tadi terasa biasa. Panas itu berubah menjadi aneh, tidak nyaman, menyebar dari dada ke seluruh tubuhnya dengan cara yang tidak bisa ia abaikan. Sensasi itu membuatnya menarik napas lebih dalam, mencoba menenangkan diri, tetapi udara yang masuk terasa tidak cukup.
Ia mengangkat tangan ke lehernya, jemarinya menyentuh kulit yang mulai terasa lebih sensitif dari biasanya. “Aku…” suaranya melemah, nyaris hilang di tengah ruang makan yang tetap tampak tenang. “Aku agak… sesak.”
Darius langsung menoleh, sorot matanya tampak fokus seperti sebelumnya. “Sesak?”
Nada suaranya masih lembut, masih terdengar penuh perhatian, tetapi ada sesuatu yang berbeda yang tidak bisa Seraphina jelaskan. Ia mencoba mengangguk, meski gerakan kecil itu membuat pandangannya bergetar lebih jelas dari sebelumnya.
“Sepertinya… aku butuh oksigen.”
Ia mendorong kursinya perlahan, berusaha berdiri untuk mendapatkan udara yang terasa lebih lega. Namun kakinya tidak langsung menopang tubuhnya, seolah kehilangan kekuatan dalam waktu singkat yang tidak wajar.
Sensasi aneh menjalar dari ujung jari hingga ke lutut, membuatnya kehilangan keseimbangan. Tubuhnya goyah, hampir terjatuh sebelum ia sempat meraih sisi meja sebagai pegangan, menggenggamnya dengan sisa tenaga yang ia miliki.
“Seraphina.”
Suara Darius terdengar lebih dekat, tetapi tidak ada sentuhan yang benar-benar menahannya. Tidak ada tangan yang mencoba menopang tubuhnya yang jelas mulai kehilangan kendali.
Seraphina menggenggam tepi meja lebih erat, mencoba menstabilkan diri yang semakin goyah. Napasnya mulai tidak teratur, pendek dan terputus, seolah dadanya menolak untuk mengembang sepenuhnya meski ia berusaha.
“Aku… tidak enak badan,” katanya lirih, suaranya hampir tenggelam oleh napasnya sendiri.
Ia menoleh, berharap seseorang bergerak mendekat, memberikan reaksi yang seharusnya muncul dalam situasi seperti ini. Namun yang ia lihat justru membuat sesuatu di dalam dirinya perlahan membeku.
Mereka masih di tempat masing-masing, tidak ada yang tergesa, tidak ada yang panik. Lysandra berdiri dengan posisi yang tetap anggun, tangannya terlipat rapi di depan tubuhnya, senyum masih terpasang meski kini terasa berbeda.
Senyum itu terlalu rapi, terlalu tenang, seperti sesuatu yang sudah dipersiapkan. Tidak ada kehangatan di dalamnya, hanya bentuk yang tetap dipertahankan tanpa emosi yang nyata.
Kael tetap duduk di kursinya, tidak bergerak sedikit pun. Tatapannya tertuju pada Seraphina, diam tanpa tanda ingin bangkit atau membantu.
Seraphina mengerjap beberapa kali, mencoba memastikan penglihatannya tidak mempermainkannya. “Kenapa…” suaranya bergetar, lebih karena perasaan yang mulai muncul daripada kondisi tubuhnya. “Kenapa kalian diam saja?”
Tidak ada jawaban langsung yang datang. Hanya suara detik jam di sudut ruangan yang terdengar pelan, mengisi keheningan yang tiba-tiba terasa lebih berat dari sebelumnya.
Darius akhirnya berdiri, gerakannya tenang tanpa tergesa. Ia melangkah mendekat, tetapi berhenti pada jarak yang masih cukup jauh untuk tidak benar-benar menyentuh Seraphina.
Tatapannya turun, mengamati kondisi Seraphina dengan seksama. Cara ia melihatnya tidak lagi seperti seorang suami yang khawatir, melainkan seperti seseorang yang sedang memastikan sesuatu berjalan sesuai rencana.
Perasaan dingin menjalar di punggung Seraphina, berlawanan dengan panas yang memenuhi tubuhnya. “Aku… ingin duduk,” katanya pelan, lebih seperti berbicara pada dirinya sendiri.
Namun saat ia mencoba menggeser tubuhnya kembali ke kursi, kakinya justru melemah sepenuhnya. Pegangannya pada meja mulai goyah, jemarinya kehilangan kekuatan sedikit demi sedikit.
Napasnya semakin berat, setiap tarikan terasa dangkal dan tidak cukup. Dadanya seperti ditekan oleh sesuatu yang tidak terlihat, membuatnya kesulitan mempertahankan ritme napas yang normal.
“Darius…” ia memanggil, kali ini dengan nada yang lebih jelas meminta bantuan.
Darius menatapnya dalam diam selama beberapa detik. Ia tidak langsung menjawab, tidak juga bergerak lebih dekat.
“Apa kamu yakin ini hanya pusing biasa?” katanya akhirnya.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi cara ia mengucapkannya membuat maknanya terasa berbeda. Tidak ada kekhawatiran di dalamnya, hanya sesuatu yang terdengar seperti konfirmasi.
Seraphina menatapnya, kebingungan bercampur dengan rasa takut yang mulai tumbuh perlahan. “Aku tidak tahu...”
Ia terbatuk kecil, mencoba mengatur napasnya yang semakin tidak stabil. Lysandra melangkah satu langkah ke samping, membuat posisinya lebih jelas terlihat.
Senyum di wajahnya perlahan memudar, digantikan oleh ekspresi yang lebih datar. Tatapannya tetap tertuju pada Seraphina tanpa tergesa, tanpa tanda kepanikan.
“Harusnya memang terasa seperti itu ibu,” ucap Lysandra pelan.
Suara itu halus, hampir seperti bisikan yang sengaja ditahan. Namun cukup jelas untuk membuat Seraphina membeku di tempatnya.
“Apa maksudmu?” tanyanya, suaranya melemah tanpa bisa ia tahan.
Lysandra tidak langsung menjawab, hanya menatapnya beberapa detik sebelum memalingkan wajahnya sedikit. Sikap itu terasa seperti penolakan untuk menjelaskan lebih jauh.
Jantung Seraphina berdetak lebih cepat, pikirannya mulai berputar mencari arti dari semua yang terjadi. Potongan-potongan kecil dari beberapa menit yang lalu muncul kembali dengan lebih jelas.
Rasa anggur yang berbeda dari biasanya, cara Darius terus mendorongnya untuk minum, Kael yang sama sekali tidak menyentuh gelasnya, serta senyum Lysandra yang terasa terlalu sempurna.
Semuanya mulai tersusun perlahan, membentuk sesuatu yang lebih besar. Sesuatu yang tidak ingin ia percayai, tetapi semakin sulit untuk ia abaikan.
“Ini…” napasnya terputus. “apa maksudnya..?”
Tidak ada jawaban yang datang, tetapi keheningan itu sendiri sudah cukup menjelaskan. Seraphina merasakan tubuhnya semakin lemah, pegangannya pada meja akhirnya terlepas.
Ia jatuh kembali ke kursi dengan gerakan yang tidak terkontrol. Pandangannya mulai bergetar, garis-garis di sekelilingnya kehilangan bentuk yang jelas.
Cahaya lampu di atas tampak berpendar lebih terang dari sebelumnya, membuat matanya terasa perih. Ia mencoba fokus pada satu titik, pada wajah Darius yang kini berdiri di depannya.
Ekspresi pria itu telah berubah sepenuhnya. Tidak ada lagi kelembutan yang selama ini ia kenal, hanya ketenangan dingin yang sulit dikenali.
“Aku…” Seraphina menelan dengan susah payah. “Kenapa…”
Darius memiringkan kepalanya sedikit, seolah mempertimbangkan sesuatu yang sederhana. “Kadang sesuatu harus diselesaikan sebelum menjadi masalah yang lebih besar.”
Kalimat itu jatuh begitu saja, tanpa penjelasan tambahan. Tidak jelas, tetapi cukup untuk membuat jantung Seraphina seperti berhenti sejenak.
Ia menatapnya, mencoba mencari makna lain, mencoba menemukan celah bahwa semua ini hanyalah kesalahpahaman. Namun yang ia temukan hanya tatapan yang tenang dan jauh.
Seraphina mencoba bangkit lagi, meski tubuhnya sudah tidak merespons dengan baik. Ia tidak tahu apa yang ingin ia lakukan, mungkin hanya ingin menjauh, mungkin hanya ingin berdiri.
Namun kakinya tidak memiliki tenaga, tangannya gemetar saat mencoba mendorong tubuhnya sendiri. Napasnya semakin pendek, setiap tarikan terasa seperti berlari tanpa henti.
“Kael…” suaranya pecah saat ia menoleh ke arah anak laki-lakinya. “Tolong…”
Kael menatapnya tanpa perubahan ekspresi. Beberapa detik berlalu, tetapi ia tidak bergerak sedikit pun.
Tatapan itu tidak menunjukkan kebencian, juga tidak mengandung kepedulian. Hanya diam, seperti seseorang yang memilih untuk tidak terlibat.
Seraphina merasakan sesuatu di dalam dirinya runtuh perlahan. Bukan hanya karena tubuhnya yang melemah, tetapi karena kesadaran yang mulai terbentuk.
Ia sendirian.
Tangannya kembali mencari pegangan, tetapi kali ini tidak menemukan apa pun yang cukup kuat. Kursi di belakangnya bergeser saat ia mencoba berdiri sekali lagi.
Usaha itu gagal, tubuhnya kehilangan keseimbangan sepenuhnya. Ia terhuyung ke depan, dan waktu terasa berjalan lebih lambat.
Ia merasakan lututnya menyentuh lantai terlebih dahulu, diikuti oleh tubuhnya yang tidak mampu lagi bertahan. Suara benturan terdengar pelan, hampir tidak terdengar di tengah keheningan.
Dingin lantai marmer langsung merambat ke kulitnya, tetapi sensasi itu segera tertutup oleh panas dari dalam tubuhnya sendiri. Tangannya bergetar hebat, jari-jarinya bergerak tanpa kendali.
Napasnya tersengal, pendek dan tidak teratur. Pandangannya mulai kabur, tetapi ia masih bisa melihat siluet mereka yang tetap berdiri di tempat.
Darius, Lysandra, Kael.
Masih tidak bergerak.
Seraphina mencoba membuka mulut, ingin mengatakan sesuatu, meminta bantuan sekali lagi. Namun suaranya tidak keluar dengan jelas.
Yang terdengar hanya napas berat yang terputus-putus. Tubuhnya mulai gemetar lebih kuat, bukan karena dingin, tetapi karena kehilangan kendali sepenuhnya.
Otot-ototnya menegang tanpa bisa ia hentikan. Ia menggenggam lantai dengan sisa tenaga yang ada, kukunya menekan permukaan halus itu tanpa hasil.
Pikirannya mulai terpecah, sulit fokus pada satu hal. Namun satu perasaan tetap bertahan.
Ada sesuatu yang sangat salah.
Dan orang-orang di hadapannya bukan lagi tempat ia bisa berharap.
Tubuhnya kembali bergetar, lebih kuat dari sebelumnya. Perlahan, seluruh kekuatannya benar-benar habis, meninggalkan dirinya terbaring di lantai dengan napas yang semakin lemah dan tubuh yang masih bergerak tanpa kendali.