Pernikahan adalah tentang kepercayaan. Setidaknya itu yang diyakini oleh Arini selama lima tahun pernikahannya dengan Galang. Namun saat kenyataan itu terungkap secara tidak sengaja, ternyata pernikahan mereka hanyalah sebuah lelucon yang dibuat oleh suami dan selingkuhannya selama ini. Dan dia hanyalah wanita bodoh yang tidak tau apa-apa, dan sudah bekerja keras untuk membangun reputasi suaminya sebagai istri yang baik selama ini.
Hancur dan merasa di bohongi sudah pasti, lalu apa yang akan dilakukan Arini setelah mengetahui semua kebohongan suaminya?
Apakah dia bisa bertahan di kerasnya hidup tanpa Galang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eys Resa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai Menerima
Hari-hari Arini kini semakin berwarna saat Kevin selalu memberikan perhatian kecil kepadanya. Baik itu di dunia nyata maupun hanya sebatas pesan singkat yang ia kirimkan. Sebuah pesan singkat dari Kevin yang selalu masuk pada jam tujuh pagi tepat membuatnya menyunggingkan senyuman untuk memulai hari.
"Jangan lupa sarapan, Rin. Hari ini jadwalmu padat, tapi jangan biarkan energimu habis sebelum makan siang. Semangat!"
Pesan-pesan sederhana seperti itu menjadi bahan bakar baru bagi Arini. Ia mulai menyadari bahwa kebahagiaan ternyata tidak selalu datang dari kemenangan besar di ruang rapat, tapi dari perhatian kecil yang tulus.
Arini yang dulu dikenal sangat kaku di kantor, kini mulai menunjukkan sisi kemanusiaannya. Ia tak lagi keberatan jika Kevin tiba-tiba muncul di ruangannya hanya untuk mengajaknya minum kopi selama lima belas menit.
Sore itu, Kevin datang tanpa membawa dokumen apa pun. Ia hanya membawa sebuah kantong plastik berisi martabak manis.
"Vin, ini masih jam kantor," protes Arini sambil tertawa kecil melihat Kevin yang dengan santai duduk di sofa ruang kerjanya.
"Kantor ini milikmu, Rin. Dan menurut penelitian yang baru saja aku buat secara mendadak, kadar kebahagiaan CEO Samudera Group sedang menurun karena kurang asupan gula," canda Kevin sambil membuka kotak martabak itu.
Arini akhirnya menyerah. Ia melepas kacamata kerjanya dan duduk di samping Kevin. Mereka makan bersama sambil mengobrol tentang hal-hal di luar pekerjaan, tentang film yang ingin mereka tonton, tentang hobi lama Arini yang sempat terlupakan, hingga tentang masa kecil Kevin yang lucu.
"Kamu tahu, Vin? Dulu aku pikir hidupku akan selalu tentang angka dan grafik," ujar Arini sambil mengunyah martabaknya. "Terima kasih sudah mengingatkanku bahwa aku masih bisa menjadi manusia biasa."
Kevin menatap Arini dengan lembut. "Kamu selalu menjadi manusia yang hebat di mataku, Rin. Tugas ku hanya memastikan kamu tidak lupa cara menikmatinya."
"Baiklah Tuan Kevin. "
Kevin tersenyum lebar mendengar Arini memanggilnya Tuan. Dia lalu mencondongkan tubuhnya seolah ada sesuatu yang penting yang ingin ia sampaikan.
"Malam minggu nanti kamu ada acara nggak? " tanya Kevin dengan wajah serius.
"Apaan sih, nggak ada. Emang kenapa? "
"Kalau gitu aku akan menjemput mu. Kita akan bersenang-senang. "
"Terserah kau saja. "
Benar saja, Kevin melakukan sesuatu yang tidak terduga. Ia tidak mengajak Arini ke restoran mewah berbintang lima, atau ke mall besar. Sebaliknya, ia menjemput Arini dengan pakaian santai, hanya kaos dan celana jeans, lalu membawanya ke sebuah pasar malam di pinggiran kota.
"Pasar malam?" Arini terbelalak saat turun dari mobil. Suara musik dangdut dari komidi putar dan aroma telur gulung memenuhi udara.
"Sekali-kali kita keluar dari zona nyaman," kata Kevin sambil mengedipkan mata. "Di sini tidak ada wartawan, tidak ada klien, dan tidak ada yang peduli siapa itu Arini Samudera. Kamu hanya akan menjadi Arini, teman kencanku malam ini."
Awalnya Arini merasa canggung. Ia terbiasa dengan lantai marmer dan lampu kristal. Namun, saat Kevin menarik tangannya untuk mencoba permainan lempar gelang, Arini mulai merasa bebas. Ia tertawa terbahak-bahak saat Kevin gagal berkali-kali memasukkan gelang ke dalam botol.
Mereka makan sate ayam di bangku plastik pinggir jalan. Arini merasa sangat lepas. Tidak ada beban yang harus ia pikul di pundaknya.
"Vin, lihat itu!" Arini menunjuk ke arah bianglala yang berputar lambat. "Aku sudah lama sekali tidak naik itu. Mungkin terakhir kali saat aku masih sekolah dasar bersama Papa."
"Ayo naik," ajak Kevin.
Di puncak bianglala, saat dunia di bawah mereka tampak kecil dan penuh warna, Kevin menggenggam tangan Arini. Kali ini, Arini tidak menarik tangannya. Ia justru menyandarkan kepalanya di bahu Kevin.
"Terima kasih untuk malam ini, Vin. Ini jauh lebih menyenangkan daripada gala dinner mana pun yang pernah kuhadiri," bisik Arini.
"Aku akan membawamu ke mana pun kamu mau, Rin. Asalkan kamu terus tertawa seperti tadi," jawab Kevin tulus.
Kedekatan mereka kini bukan lagi rahasia di lingkungan terdekat. Staf di kantor mulai menyadari bahwa Arini sering terlihat lebih ceria jika Kevin ada di sekitarnya. Namun, yang paling penting adalah bagaimana Arini mulai membuka hatinya dari trauma masa lalunya.
Salam perjalanan pulang, Arini mulai bercerita tentang rasa takutnya.
"Kadang, aku masih terbangun di malam hari karena mimpi buruk, Vin. Aku takut semua kebaikan ini hanya ilusi. Aku takut suatu saat nanti, orang yang paling kupercaya akan menusukku dari belakang lagi," Arini menunduk, memainkan jemarinya.
Kevin tidak langsung menjawab. Ia mendengarkan dengan penuh kesabaran. Setelah Arini selesai bicara, Kevin memegang kedua tangan Arini.
"Rin, aku tidak bisa menjanjikan bahwa hidup akan selalu sempurna. Tapi aku bisa menjanjikan satu hal, aku tidak akan pernah pergi tanpa pamit. Aku tidak butuh hartamu, aku tidak butuh apapun. Aku sudah cukup bahagia hanya dengan menjadi orang tempat kamu pulang saat kamu merasa lelah."
Arini menatap mata Kevin dan ia tahu pria ini jujur. Kevin tidak pernah memintanya untuk cepat-cepat sembuh dari lukanya. Kevin justru memilih untuk berjalan perlahan di sampingnya, menyesuaikan langkah demi langkah Arini yang masih sesekali ragu.
Tanpa mereka sadari, keterbukaan ini membawa hubungan mereka ke tahap yang lebih serius. Arini mulai sering menanyakan pendapat Kevin tentang masalah pribadinya, dan Kevin selalu memberikan saran yang tulus tanpa maksud terselubung.
Setiap hari yang mereka lalui bersama memperkuat ikatan yang ada. Mereka tidak lagi canggung untuk menunjukkan perhatian di depan publik, meski tetap menjaga profesionalisme di kantor. Arini mulai merasa bahwa masa lalunya sudah usai, kini dia berfikir untuk membangun kebahagiaan baru bersama Kevin.
"Kamu tahu apa yang paling aku suka dari kita sekarang?" tanya Arini suatu pagi saat mereka berjalan bersama menuju lobi kantor.
"Apa?" tanya Kevin penasaran.
"Kita tidak perlu berpura-pura. Aku tidak perlu pura-pura kuat di depanmu, dan kamu tidak perlu pura-pura sempurna di depanku," jawab Arini sambil tersenyum manis.
Kevin mengangguk setuju. Ia merasa perjuangannya selama bertahun-tahun mulai membuahkan hasil. Arini telah kembali, dan kali ini, ia bukan lagi wanita yang rapuh karena dikhianati, melainkan wanita yang kuat karena dicintai dengan benar.
Kisah cinta mereka yang sederhana namun mendalam ini menjadi bukti bahwa setelah badai yang paling hebat sekalipun, pelangi akan selalu muncul bagi mereka yang berani menunggu dan percaya pada ketulusan. Arini dan Kevin kini bukan lagi sekadar rekan kerja, mereka adalah dua jiwa yang saling menyembuhkan, siap melangkah menuju masa depan yang jauh lebih cerah.