Bagi Raka Aditya, menyendiri adalah cara terbaik untuk bertahan hidup dari tekanan dunia yang melelahkan. Ia merasa asing dan tak dimengerti, hingga akhirnya beberapa orang datang menawarkan persahabatan yang tulus. Perlahan, cara pandang Raka mulai berubah. Ia pun belajar bahwa untuk menemukan tempatnya di dunia, ia harus lebih dulu belajar menerima dirinya sendiri dan orang lain apa adanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RS Star, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 23
Empat belas hari berlalu sejak pertengkaran antara Elma dan Sari, namun kondisi dikelasku masih cukup buruk. Pagi ini sudah menjadi hari ke empat belas sejak aku menjadi musuh kelas, bahkan mungkin satu sekolah karena secara terang – terangan aku mengakui telah memasukkan sebuah Manga romantis komedi ke dalam tas seorang siswi populer kelas. Yah aku tidak sedih juga sih, dari awal memang aku sudah menjadi seorang serigala penyendiri jadi tidak akan ada bedanya dengan kehidupan SMA-ku yang biasanya.
Beruntungnya teman sekelas tidak ada yang menyakitiku secara langsung atau merundungku secara fisik, mereka cuma menggosipkan aku sepanjang hari ketika mereka melihatku baik sengaja ataupun tidak. Eeeh... mungkin bahkan ketika kami tidak saling bertemu, mereka tetap membicarakanku di belakang. Entahlah...
Tapi perlahan gosip – gosip itu mulai menghilang dan tidak semasif sebelumnya, seharusnya tidak lama lagi aku akan menjadi serigala penyendiri seperti dulu, kan? Maksudku adalah serigala penyendiri yang tenang yang kehadirannya bahkan tidak dirasakan oleh siapa pun, aku merasa rindu saat – saat mereka semua tidak menyadari keberadaanku. Sayang situasinya masih belum membaik, aku harus lebih bersabar.
Selama empat belas hari belakangan juga aku dengar rencana study tour sudah dibahas, bahkan tujuan perjalanan kami pun katanya sudah ditentukan antara siswa – siswi, para orang tua, dan guru. Perjalanan dan pembelajaran di luar seperti itu sudah pasti menjadi musuh utama bagi seorang serigala penyendiri, aku merasa yang begini cuma menjadi alasan buat main keluar kota dengan legal karena diberi izin oleh orang tua dan ada penanggung jawab.
Jadi, serigala penyendiri sepertiku akan terlihat mencolok kalau ada acara study tour begini... jujur saja aku merasa begitu tertekan setiap hari berganti akhir – akhir ini...
Untuk meredakan stresku yang semakin menumpuk beberapa hari belakangan ini, aku jadi semakin sering membaca buku. Perpustakaan sekolah menjadi tempat yang paling aku sukai belakangan ini karena banyak buku yang bisa aku baca dengan gratis, seperti siang hari ini ketika sekolah telah usai. Aku tidak langsung pulang ke rumah karena disana hanya akan membuatku ingat kalau study tour akan segera dilaksanakan, yah aku bukan membenci kegiatannya sih tapi...
...Hei... kenapa aku sebenci itu dengan study tour???
Di kehidupan yang pertama kalau tidak salah... kelasku memilih untuk pergi ke Bali, meski aku tidak ingat perinciannya tapi itu tidak jadi masalah. Murid – murid yang ikut hadir di acara itu saja aku sudah lupa, aku dulu berkelompok dengan siapa ya? Apa kali ini aku akan berkelompok dengan mereka lagi? Seharusnya ada perubahan karena Elma dan Sari di kehidupan kedua ini tidak meninggalkan sekolah seperti yang terjadi pada kehidupan pertama, kan?
...Merepotkan... aku harus singkirkan pemikiran tentang hal berat seperti itu
Sesampainya di perpustakaan, aku mengisi daftar hadir sebelum menuju rak buku. Hari ini juga jadwalku mengembalikan buku yang sebelumnya aku pinjam, nah kutu buku sepertiku tentu tidak akan berbalik lalu pulang begitu saja karena selalu ada buku yang menarik untuk aku pinjam lagi saat aku berada di perpustakaan sekolah. Yaah meskipun akhirnya aku tidak meminjam buku apa pun, tapi batinku selalu menarikku untuk menelusuri setiap rak buku yang ada di perpustakaan.
Melihat tumpukan buku pada rak rasanya begitu menyenangkan, mereka terlihat berkilauan seperti sebuah bintang – bintang di langit gelap. Di kehidupanku sebelumnya, aku juga sudah dibuat jatuh cinta sama tempat ini. Tidak pernah ada yang kesini kecuali aku dan penjaga perpustakaan dan hal itu membuatku merasa nyaman berada di sini, aroma buku tua yang begitu khas juga terasa begitu nyaman di hidungku.
Aku memilih satu buku yang terlihat menarik lalu membukanya perlahan untuk membaca sedikit dari isinya, berharap itu buku yang bagus maka aku akan meminjamnya untuk dibaca di rumah. Tapi konsentrasiku membaca sedikit terganggu karena aku merasa ada yang sedang berjalan mendekat dari arah belakang, aku rasa aku telah menutup jalan karena memang lorong yang tersisa di antara rak buku cukup sempit.
“Oh maaf, ak...” kata – kataku terhenti ketika aku berbalik untuk menatap orang yang sedang datang mendekatiku, jujur saja aku terkejut melihatnya.
“Haiii~” sapa Elma
Mengejutkan melihatnya di sini, pertama karena Elma memiliki branding diri sebagai anak bandel di sekolah dan tidak mungkin dia berada di tempat seperti ini, kedua kami baru saja terlibat drama sebagai seorang penguntit dan yang dikuntit!! Bagaimana bisa dia begitu santainya menemuiku ketika kami berada dilingkungan sekolah?! Ini akan membuat gosip baru yang mungkin akan membuat Elma di musuhi dan tidak menutup kemungkinan Elma akan keluar dari sekolah seperti yang pernah terjadi di kehidupan pertamaku!!!
“Yakin nih? Kita disekolah loh” aku memberi peringatan pada Elma namun dia hanya tertawa mendengar peringatanku
“Aku sudah memeriksa sekitar dulu sebelum menyapamu, tenang, cuma ada aku dan kamu di sini” timpal Elma, aku menghela nafas lalu mengembalikan buku yang aku pegang ke dalam rak buku.
“Yaah.. memang kesadaran membaca anak muda sangat menyedihkan, ini akan jadi masalah serius di kalangan anak remaja” gumamku, Elma pun tertawa mendengar kata - kataku.
"Kata - katamu seperti pak guru atau bapak - bapak random di tempat umum" timpal Elma sambil tertawa, lalu dia menghela nafas.
“Aku baru tau kamu baca buku seperti ini juga, aku pikir kamu cuma tertarik sama novel Rom-Kom (Romantis - Komedi)” ucap Elma yang terdengar seperti sebuah sindiran, itu terdengar seperti aku ini adalah orang mesum yang suka membaca hanya untuk mencari hal – hal mesum di dalam sebuah buku...
“Aaa... itu terdengar kasar...” timpalku dan Elma pun terlihat panik sambil kedua tangannya melambai ke arahku.
“Bu.. bukan, bukan begitu!!! aku cuma gak nyangka aja kamu suka baca buku serius seperti pelajaran dan lain – lain seperti itu!!” dengan panik Elma mengatakannya, yah pada dasarnya dia bukan Maya yang kasar dan suka menghinaku itu dan sepertinya Elma kesulitan untuk menemukan kata yang tepat untuk menggambarkan apa yang ada di dalam kepalanya. Tapi bagaimana mungkin dia kesulitan untuk berbicara? dia kan anak ekstrovert?
“Aku suka membaca jadi buku seperti apa pun tetap akan aku baca” jelasku datar, Elma pun membuang muka menatap rak buku yang sama denganku.
“Aah iya juga ya, kamu kan penulis novel ya, Raka. Membaca genre – genre lain juga bagus bagi seorang yang sedang nulis novel, katanya sih gitu” ucap Elma
“Iya benar, tapi cuma kebe... tulan... aku... suka... bacaan...” tunggu sebentar, ada yang aneh dan mengganggu pikiranku dari kalimat Elma tadi sampai aku tidak bisa menyelesaikan kalimatku karena tiba - tiba aku merasa malu...
Aku menoleh menatap Elma di sebelah kananku yang masih menatap rak buku, tidak lama, Elma pun menoleh menatapku dengan senyum manisnya seperti dia tidak merasa ada yang salah dari percakapan kami barusan. Jujur saja aku sempat tidak sadar kalau Elma baru saja mengatakan hal yang membuatku panik, aku terus tatap mata Elma dengan tajam namun dia tidak juga kunjung sadar kalau aku kaget dengan yang baru saja dia katakan...
“Tu... tunggu, Elma. Apa katamu tadi?” tanyaku menekannya, Elma terlihat bingung meski dia tetap tersenyum menatapku.
...Aku sangat mendengar apa yang Elma katakan tadi, hanya saja aku berharap kalau yang aku dengar itu salah...
“Baca buku bagus buat penulis novel?” jawab Elma memastikan, aku menggelengkan kepala
“Penulis novel lebih baik membaca banyak genre?” jawab Elma lagi dan aku kembali menggelengkan kepala
“Raka sedang menulis novel?” percobaan ketiga Elma menjawab pertanyaanku, aku semakin yakin kalau rahasiaku sudah bocooooor!!!
“Aku gak ingat pernah mengumumkan rahasia ini, aku cuma bicarakan rahasia ini sama satu cewek aja. Kenapa kamu bisa tahu?!!!” dengan penuh amarah aku katakan itu, Elma pun terlihat canggung dengan senyum yang dia paksakan di hadapanku.
“Aah iya... justru aku dengar dari perempuan itu” timpal Elma sambil jarinya menggaruk pipi seolah dia memintaku untuk tidak menyalahkannya, sudah aku duga Maya itu selalu kasar kepadaku.
Dalam hati aku memaki Maya karena aku yakin kalau bertemu pun aku tidak bisa melakukannya, Maya sangat seram kalau sedang marah terutama kalau dia sedang marah kepadaku...
“Eeh tapi dia gak ada niat buruk kok! Bahkan dia mengatakan kalau dia memberitahu rahasiamu demi aku” ucap Elma membela Maya, sepertinya mereka menjadi akrab beberapa hari belakangan ini tanpa sepengetahuanku.
Aku rasa mereka juga sudah saling bertukar nomor WA, bahkan mungkin mereka sudah saling bertukar pesan lewat WA sampai Elma membela Maya seperti ini. Tidak terlalu heran juga sih, sesama orang ekstrovert bisa berteman lalu menjadi sangat akrab hanya dalam hitungan hari. Tapi apa yang membuat mereka bisa cepat akrab? Apa karena Elma menganggap Maya seorang wibu juga karena dia dekat denganku? Aku rasa Elma sedang menghadapi kesalahpahaman yang besar kalau sampai menganggap Maya seorang wibu. Eeh.. bodo amat sama hal itu!!!!
“Bisa – bisanya dia membongkar rahasia orang demi dirimu!!” bentakku begitu emosi
“Soalnya hubungan kami sudah sangat dekat sampai saling berbalas pesan, dia bilang kalau gak adil rasanya hanya rahasiaku yang dibongkar olehmu” timpal Elma dengan jari telunjuk di dagu sambil menatap ke langit – langit seolah sedang mengingat apa yang mereka bicarakan sebelum Maya membongkar rahasiaku.
“Ooh lalu?” tanyaku memaksa Elma untuk terus menceritakan alasan sebenarnya sampai Maya membongkar rahasiaku ke Elma.
“Terus dia bilang, sebagai ganti maka dia akan membocorkan rahasiamu dan aku mendengarkannya. Terus kita impas deeh~” jawab Elma lalu dia tertawa kecil dan tersenyum padaku sambil memberi gestur tangan seolah dia memintaku untuk menerima takdir kalau rahasia besar dan memalukan itu terbongkar, aku mengangguk sambil menghela nafas lega karena aku bisa memahami maksud dan tujuan Maya.
“Ooh gitu, jadi aku dan kamu sudah gak punya hutang bu... TUNGGUU DULUU!!!! Cewek itu malah gak rugi apa – apa donk!!!” aku begitu kesal saat mengatakannya, sebenarnya tadi aku sudah menerima keputusan Maya tapi setelah dipikir kembali kok hanya aku dan Elma yang rugi di sini...
Yaah pada intinya memang aku yang salah karena sudah memberitahu rahasia Elma ke Maya, tapi aku punya alasan kuat untuk tidak disalahkan atas tindakanku itu, kan? Disini tetap saja Maya memang selalu kejam kepadaku, perbedaan sikap dia ke orang lain dibanding kepadaku seperti langit dan bumi.
“Ta... tapi menurutku, menulis novel itu hebat loh! Kamu harus lebih percaya diri!!” begitu terasa Elma mencoba untuk memberiku semangat, mungkin karena tiba – tiba aku terlihat murung... yah memang, aku sangat patah hati mengetahui perbedaan sikap Maya kepadaku dan kepada orang lain...
“Be..begitu..?” gumamku, ingin aku menangis haru meski hanya dalam hati...
“Kalau kamu gak keberatan, aku ingin membaca hasil karyamu! Boleh aku baca kalau sudah selesai? Aku cukup tertarik buat baca karyamu!” seru Elma masih mencoba memberiku semangat, dan aku rasa ide bagus juga untuk menunjukkan hasil karyaku ke orang lain yang aku kenal sebelum aku upload ke platform penerbit.
“Hmm.. mungkin aku bisa dapat masukan juga, boleh juga, nanti aku kirim kalau sudah selesai” jawabku, Elma tersenyum lebar dan dia terlihat semakin bersinar karena kecantikannya...
“Yey~ terima kasih” seru Elma terdengar senang, tiba – tiba ada tekanan kuat yang menguasai hatiku...
Mendadak aku merasa takut sendiri melihat seberapa antusiasnya Elma untuk membaca karyaku... ‘Tidak... tidak... aku harus percaya diri sama hasil karyaku sendiri’ begitulah aku menyemangati diri dalam hati, dengan tekad kuat maka tidak akan ada hal yang mustahil untuk di lakukan oleh manusia. Aku cuma belum menggunakan kekuatan sejatiku saja selama ini, demi ekspektasi Elma maka aku akan menulis sebuah maha karya dengan kemampuan dari seorang Raka yang telah menjalani dua kehidupan.
“Aah sudah waktunya kerja sambilan” celetuk Elma sambil menatap layar ponselnya, aku pun mengalihkan pandanganku pada jam dinding dimana saat itu sudah jam dua siang lewat.
“Kita sudahi dulu ngobrolnya ya, sampai nanti~” celetuk Elma sambil berlari kecil untuk meninggalkan perpustakaan, kami sempat bertatapan mata dan dia melambaikan tangan sebelum dia benar – benar pergi dari perpustakaan itu.
Aku menghela nafasku lalu kembali menatap rak buku untuk mencari buku yang menarik, tapi tidak lama aku mendengar suara langkah kaki Elma mendekatiku lagi. Sebelum menoleh menatapnya aku katakan...
“Kenapa? Ada yang ketinggalan, El...” aku belum selesai berbicara karena aku terkejut saat mengetahui orang yang sedang berjalan mendekatiku bukan Elma melainkan..
“Luna...?” aku sebut nama orang yang tiba – tiba datang mendekat, saking paniknya aku sampai tidak tahu harus berkata apa untuk menutupi ucapanku yang menyebutkan nama Elma.
Aku panik, takut si ketua kelas mendengar semua pembicaraanku dengan Elma tadi. Bagaimana pun jangan sampai ada yang tahu kalau aku dan Elma menjadi akrab sejak kejadian itu, keakraban kami hanya akan membawa dampak buruk untuk Elma karena antara aku dan dia sudah terbentuk narasi sebagai pelaku dan korban. Luna sebagai ketua kelas... aku rasa sekali dia bocorkan rahasia kami maka habislah sudah riwayat sekolah Elma...