Soren Ravensdale-seorang assassin yang tak pernah gagal menjalankan misinya kini harus menerima kenyataan pahit ketika sahabat yang ia percaya-Vera, justru mengkhianatinya. Bukan hanya itu, Vera juga terlibat dalam pembunuhan adik angkatnya, Ellian Sorrel dan ternyata semua telah direncanakan atas perintah langsung dari ketua mereka sendiri.
Janji bahwa keluarga para anggota akan aman ... ternyata hanyalah kebohongan.
Dengan luka tembak di perutnya, Soren memilih mengakhiri hidupnya dengan kepercayaannya yang hancur dan terjun ke dasar jurang. Namun bukannya mati, ia justru terbangun di tubuh seorang gadis rapuh dengan wajah yang sangat mirip dengannya.
Yang kini statusnya adalah menjadi istri seorang Letnan Kolonel yang dingin dan penuh rahasia.
Dari seorang assassin menjadi seorang istri, apakah Soren benar-benar bisa berhenti dari dunia yang sudah menelan hidupnya atau justru kehidupan barunya hanya akan menyeretnya kembali ke lingkaran kejahatan yang lebih gelap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luo Aige, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Grimwald Mansion
Kelopak mata Aveline bergerak pelan sebelum akhirnya terbuka sepenuhnya. Cahaya matahari siang yang masuk dari sela tirai besar langsung menyambut penglihatannya, membuat wanita itu sempat memicingkan mata beberapa detik sambil mengembuskan napas panjang.
Suasana kamar terasa tenang.
Tidak ada suara langkah prajurit, maupun suara kendaraan militer dari halaman depan Eisenhall. Hanya cahaya siang yang jatuh lembut ke lantai marmer kamar dan udara dingin Silvercrest yang masih terasa samar di dalam ruangan.
Aveline masih berbaring beberapa saat sambil menatap langit-langit kamar.
Lalu alisnya bergerak tipis. Ia baru sadar dirinya sudah berada di kamar. Padahal terakhir kali yang ia ingat, dirinya tertidur di sofa ruang utama setelah kembali dari Velmire.
Pandangan Aveline perlahan turun ke arah tangan kanannya yang masih diperban rapi. Jemarinya menyentuh kain putih itu pelan sebelum potongan kejadian beberapa waktu lalu langsung muncul di kepalanya.
William.
Pria itu mengangkat tubuhnya dari sofa. Lengan yang menopang punggung dan lututnya dengan hati-hati. Dada bidang tempat kepalanya tanpa sadar bersandar saat setengah tertidur. Bahkan samar-samar Aveline masih mengingat bagaimana jemarinya refleks mencengkeram bagian depan kemeja William waktu itu.
Sudut bibirnya bergerak tipis kecil.
“Hm.”
Aveline akhirnya meregangkan tubuhnya perlahan. Bahunya bergerak santai, diikuti lehernya yang dimiringkan ke kanan dan kiri untuk melemaskan otot yang terasa pegal setelah tidur terlalu lama.
Baru saja ia hendak bangkit sepenuhnya dari ranjang, pintu kamar lebih dulu terbuka pelan. Liora masuk ke dalam seraya langsung membungkukkan tubuh.
“Nona.”
Aveline menguap pelan dengan malas tanpa menutupi mulutnya. Rambut hitamnya masih sedikit berantakan saat ia duduk di tepi ranjang sambil menyibakkannya ke belakang bahu.
“Sudah siang rupanya.”
“Ya, Nona,” jawab Liora pelan. “Anda ingin makan apa untuk siang hari?”
Aveline tidak langsung menjawab. Wanita itu sudah bangkit berjalan menuju lemari pakaian besar di sudut kamar sebelum membukanya perlahan.
Deretan gaun langsung terlihat rapi di dalam sana. Tatapannya bergerak santai memilih satu per satu pakaian tanpa terburu-buru sampai akhirnya ia menarik keluar sebuah gaun putih panjang.
“Tunggu sebentar.”
“Baik, Nona.”
Aveline masih memperhatikan gaun di tangannya beberapa detik sebelum akhirnya ia berbicara lagi tanpa menoleh.
“Kupaskan apel saja.”
Liora sempat terlihat bingung sesaat.
“Hanya apel, Nona?”
“Hm.”
“Baik.”
Liora langsung mengangguk patuh sebelum akhirnya keluar dari kamar untuk menjalankan perintah tersebut.
Sementara itu, Aveline meletakkan gaun pilihannya di atas ranjang lalu mulai merapikan beberapa barang di kamarnya yang sedikit berantakan. Mantel hitamnya dipindahkan ke kursi dekat jendela, beberapa buku dirapikan kembali ke meja kecil, dan tirai kamar sedikit dibuka lebih lebar hingga cahaya siang masuk memenuhi ruangan.
Setelah semuanya terasa cukup rapi, Aveline berjalan menuju kamar mandi. Uap hangat langsung memenuhi ruangan marmer besar itu tidak lama kemudian.
Aveline berdiri di bawah aliran air hangat cukup lama tanpa tergesa. Air mengalir perlahan melewati bahu dan punggungnya, membersihkan sisa debu, darah tipis, dan aroma jalanan Velmire yang masih tertinggal sejak tadi pagi.
Wanita itu memijat pelan bagian lehernya yang sedikit kaku sebelum mulai membersihkan tubuhnya dengan gerakan tenang dan terbiasa. Rambut hitam panjangnya disisir perlahan menggunakan jemari di bawah air hangat sampai benar-benar rapi kembali.
Setelah selesai mandi, Aveline membungkus tubuhnya menggunakan handuk putih besar sebelum duduk di depan meja rias.
Ia mulai mengeringkan rambutnya perlahan, lalu menyisir helaian hitam panjang itu sampai lembut dan jatuh rapi di punggungnya. Sedikit parfum tipis diaplikasikan di leher dan pergelangan tangan sebelum akhirnya ia mulai mengenakan gaun pilihannya tadi.
Gaun putih itu membungkus tubuhnya dengan pas tanpa banyak detail berlebihan. Kain satin panjang jatuh lurus mengikuti bentuk tubuhnya hingga ke bawah kaki, sementara bagian atas tanpa tali memperlihatkan bahu putih dan tulang selangkanya dengan jelas. Di bagian dada terdapat detail bulu putih lembut yang membuat penampilannya terlihat mahal namun tetap bersih dan sederhana.
Rambut hitamnya kemudian disanggul rendah dengan beberapa helai tipis dibiarkan jatuh di sisi wajahnya. Dan seperti biasa, Aveline tetap terlihat terlalu mencolok bahkan tanpa perlu berusaha.
Setelah selesai, wanita itu akhirnya keluar dari kamar dan segera turun menuju ruang makan utama. Suara langkah hak sepatunya bergema pelan melewati anak tangga marmer kediaman William. Begitu memasuki ruang makan, Greta, Marta, Sabine, dan Liora yang sudah berdiri di sisi meja langsung membungkukkan tubuh secara bersamaan.
“Nona.”
Aveline berjalan mendekat tanpa banyak bicara. Di atas meja hanya tersedia beberapa makanan ringan dan sepiring apel yang sudah dikupas rapi sesuai permintaannya tadi.
Namun sebelum duduk, matanya sempat bergerak memperhatikan sekitar ruangan.
William tidak ada.
Greta yang menyadari arah pandangan itu langsung menegang samar sebelum buru-buru membuka suara.
“Tuan kembali beberapa jam yang lalu ke barak militer.” Tatapan Aveline langsung berpindah padanya.
Beberapa detik wanita itu tidak mengatakan apa-apa. Hanya melirik Greta sekilas sebelum akhirnya duduk perlahan di kursinya. Pelayan itu langsung menundukkan kepala lebih rendah.
Seolah sudah menemukan jawaban yang ia cari, Aveline tersenyum tipis miring lalu mengangguk kecil.
“Begitu.”
Ia mulai memakan apel di depannya dengan santai. Suara kecil garpu yang menyentuh piring sesekali terdengar samar memenuhi ruang makan besar itu.
“Liora ....”
Gadis itu langsung melangkah maju satu langkah.
“Ya, Nona?”
Namun Aveline belum langsung melanjutkan ucapannya. Ia masih memakan potongan apel terakhir dengan tenang sampai buah itu benar-benar habis sebelum akhirnya meletakkan garpu perlahan di atas meja.
“Sepertinya sudah waktunya menjemput seseorang dari libur panjangnya.”
Liora terlihat bingung beberapa detik.
“Maaf, Nona ... siapa?”
Namun sebelum Aveline menjawab, Greta, Sabine, dan Marta justru saling melirik cepat seolah langsung memahami siapa yang dimaksud wanita itu.
Sudut bibir Aveline kembali terangkat tipis.
“Nanti kau juga tahu.”
Aveline bangkit perlahan dari duduknya diikuti oleh Liora yang segera berdiri tegak di belakangnya. Sementara langkah mereka mulai meninggalkan ruang makan, Greta langsung mengembuskan napas pelan.
“Perasaanku sedikit tidak enak,” bisiknya lirih.
Marta mengangguk pelan.
“Aku juga. Bahkan saat terluka, Nona tetap bergerak ke mana-mana seolah tubuhnya tidak merasakan lelah.”
Sabine ikut mendekat sedikit sambil memperkecil suaranya. “Dan itu yang membuatku takut. Beliau terlihat semakin menakutkan.”
Greta melirik ke arah pintu ruangan tempat Aveline tadi pergi sebelum kembali bicara.
“Nona benar-benar berubah sejak insiden perjamuan keluarga Grimwald.”
“Dulu beliau bahkan jarang keluar kamar kalau sedang sakit,” sahut Marta pelan.
“Sekarang justru pergi ke Velmire, membuat kekacauan, lalu kembali seperti tidak terjadi apa-apa,” tambah Sabine.
Greta menatap piring apel yang kini sudah kosong. “Bahkan nafsu makannya berubah.”
“Hanya sebuah apel untuk makan siang,” gumam Marta. “Padahal dulu beliau selalu memakan apa saja yang tersaji di atas meja. Meski hanya semangkuk sup kosong.”
Sabine menurunkan suaranya lebih pelan lagi.
“Aku kadang merasa cara Nona memandang orang sekarang juga berbeda.”
“Kau benar.” Greta mengangguk sebagai tanggapan.
“Tetapi itu juga hal yang baik bagi Nona. Itu artinya siapapun tidak akan berani berbubat macam-macam dengannya. Apalagi mengingat Tuan dan Nona akhir-akhir ini semakin dekat.” Marta menjelaskan. Ada kelegaan dalam hatinya ketika ia mengingat bagaimana menderitanya Aveline semenjak menikah dengan William.
“Menurutmu ... apa Kepala Pelayan Ines benar-benar akan kembali?”
“Entahlah, aku hanya berharap bahwa dia tidak akan pernah menginjakkan kaki ke dalam rumah ini lagi.”
~oo0oo~
Begitu Ralf menyadari sesuatu, pria itu langsung berjalan menghampiri Aveline yang sedang berdiri di dekat pintu depan mansion bersama Liora. Gerakannya membuat salah satu alis Aveline sedikit terangkat. Tanpa banyak bicara, Ralf menyerahkan sebuah kunci mobil ke arah wanita itu.
“Tuan berpesan agar saya menyerahkan kunci mobil ini ketika Anda ingin bepergian.”
Aveline menerima kunci tersebut dengan tenang sebelum pandangannya bergerak ke arah halaman depan mansion.
Sebuah mobil hitam sudah terparkir tidak jauh dari tangga utama.
Mobil itu jelas berbeda dari kendaraan militer William yang biasa digunakan menuju barak atau operasi lapangan. Bentuknya lebih panjang dan elegan dengan bodi hitam mengilap yang memantulkan cahaya siang Silvercrest. Detail krom perak di bagian depan membuat tampilannya terlihat mahal tanpa terlalu mencolok. Interiornya pun terlihat jauh lebih nyaman dibanding kendaraan militer yang keras dan dingin.
Kendaraan itu memang lebih cocok digunakan untuk kegiatan sehari-hari seorang bangsawan.
“Aku tahu,” jawab Aveline santai.
Wanita itu langsung mengambil kunci tersebut begitu saja dari tangan Ralf sebelum berjalan turun menuju halaman depan mansion diikuti oleh Liora di belakangnya.
Ralf hanya berdiri diam memperhatikan. Netra pria itu bahkan nyaris tidak berkedip saat Aveline membuka pintu mobil lalu masuk ke kursi pengemudi tanpa ragu sedikit pun.
Sedangkan Liora justru terlihat jauh lebih gugup. Beberapa saat sebelumnya, tepat sebelum naik ke dalam mobil, Aveline memintanya untuk duduk di kursi sebelah. Dan itu membuat gadis tersebut masih sedikit tegang sampai sekarang.
Begitu duduk di kursinya, mata Liora perlahan bergerak ke arah tangan kanan Aveline yang masih diperban.
“Nona ...,” panggilnya pelan.
“Hm?”
“Tangan Anda masih terluka.” Liora terlihat ragu beberapa saat sebelum melanjutkan kalimatnya. “Apa benar tidak apa-apa jika Anda menyetir sendiri?”
Aveline yang sedang memasukkan kunci ke dashboard mobil akhirnya menoleh sekilas ke arahnya.
“Kenapa?”
Liora langsung menegakkan tubuh.
“Apa kau ingin menggantikanku menyetir?”
Mata Liora langsung membesar.
“Ti-Tidak, Nona!” jawabnya cepat sampai membuat Aveline meliriknya beberapa detik. Liora buru-buru menggeleng berkali-kali.
“Aku bahkan belum pernah menyetir mobil sebagus ini ... kalau sampai tergores sedikit saja aku mungkin langsung pingsan.”
Sudut bibir Aveline bergerak tipis samar sebelum akhirnya ia kembali melihat ke depan.
“Setidaknya kau sadar diri.”
Liora langsung menutup mulutnya sendiri sambil duduk semakin tegak. Mobil itu akhirnya mulai bergerak perlahan meninggalkan halaman rumah William.
Suasana jalan Silvercrest siang itu terlihat jauh lebih tenang dibanding Velmire. Deretan mansion besar berdiri rapi di sepanjang jalan utama, dipisahkan pagar besi hitam dan taman luas yang terawat sempurna.
“Lagi pula ...,” ucap Aveline tiba-tiba sambil tetap fokus pada jalan di depan, “Aku mengajakmu karena aku tidak tahu jalan menuju Kediaman Grimwald.”
Liora langsung menoleh cepat.
“Ah, benar juga ....”
“Kalau saja di mobil ini ada GPS, tentunya aku tidak akan mengajakmu.”
Liora terlihat bingung.
“GPS?” ulang gadis itu pelan. “Apa itu?”
Baru setelah kata-kata itu keluar, Aveline tersadar. Tangannya sempat berhenti sepersekian detik di atas setir sebelum akhirnya ia mengembuskan napas kecil.
Ia lupa sedang berada di dunia seperti apa sekarang. Di dunia ini memang sudah ada mobil, radio, telepon kabel, bahkan surat kabar modern di Valdoria. Namun semuanya belum benar-benar berkembang seperti dunia tempat Soren dulu hidup.
Belum ada layar navigasi ataupun teknologi penunjuk jalan otomatis seperti yang tanpa sadar ia sebutkan tadui.
“Bukan apa-apa,” jawab Aveline dengan nada santai. “Aku hanya salah bicara.”
Liora yang masih terlihat bingung hanya mengangguk pelan.
“Oh ....”
Mobil terus melaju melewati jalan utama Silvercrest sampai akhirnya area mansion keluarga bangsawan mulai berubah semakin megah. Tak membutuhkan waktu lama, gerbang besar keluarga Grimwald mulai terlihat di kejauhan.
Pagar besi hitam tinggi berdiri mengelilingi wilayah mansion besar itu. Lambang keluarga Grimwald terpasang jelas di bagian tengah gerbang, sementara dua penjaga berpakaian formal berdiri di sisi kanan dan kiri pintu masuk.
Begitu mobil Aveline mendekat, kedua penjaga langsung terlihat saling bertukar pandang. Salah satu dari mereka segera melangkah maju menghentikan kendaraan itu.
“Maaf,” ucap pria itu formal sambil sedikit membungkukkan badan ke arah jendela mobil. “Mohon tunjukkan identitas Anda.”
Liora terlihat sedikit gugup di kursi sebelah. Namun Aveline justru membuka kaca jendela mobil perlahan dengan ekspresi tenang. Tatapan penjaga itu awalnya masih terlihat profesional sampai akhirnya matanya benar-benar melihat wajah wanita di balik kemudi.
Ekspresinya langsung berubah.
“N–Nona Aveline ...?”
Aveline hanya menopang dagunya dengan satu tangan sambil menatap pria itu santai.
“Sudah cukup lama sejak terakhir kali aku datang,” ujarnya tenang. “Apa sekarang aku perlu meminta izin untuk masuk ke rumah keluargaku sendiri?”
Penjaga itu langsung menegang.
“Ti-Tidak, Nona! Tentu tidak!”
Pria itu buru-buru mundur beberapa langkah sebelum memberi isyarat cepat ke penjaga lain.
Gerbang besar keluarga Grimwald langsung terbuka perlahan. Mobil hitam Aveline kembali bergerak masuk melewati halaman utama mansion besar itu.
Liora diam-diam menelan ludah sambil melihat sekeliling. Kediaman keluarga Grimwald memang terlihat jauh lebih megah dibanding kebanyakan mansion di Silvercrest. Air mancur batu besar berdiri di tengah halaman depan, sementara patung-patung marmer dan taman luas memenuhi sisi jalan menuju bangunan utama.
Dan di ujung sana, mansion keluarga Grimwald berdiri dengan megah dan dingin di bawah cahaya siang. Begitu mobil berhenti di depan tangga utama, Aveline langsung mematikan mesin kendaraan. Wanita itu keluar lebih dulu dari mobil diikuti oleh Liora beberapa detik kemudian. Sepatu hak tingginya menyentuh lantai batu itu. Tatapannya terangkat lurus ke arah bangunan besar di depannya.
Kediaman keluarga Grimwald.
Rumah yang dulu pernah menjadi tempat tinggalnya. Tidak, lebih tepatnya rumah yang dulu pernah menjadi sarang penderitaan bagi Aveline.
.
.
.
Bersambung
Kira-kira ini gambaran dress yang dipake Soren