NovelToon NovelToon
JANJI PERNIKAHAN TUAN AROGAN

JANJI PERNIKAHAN TUAN AROGAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: La Rumi

Zenna Amalia bukanlah perempuan suci. Ia memiliki masa lalu yang kelam, pernah menjadi simpanan pewaris kaya bernama Rendy Wangsa demi membiayai pengobatan ibunya yang sakit kanker.

"Di luar sana, mana ada laki-laki yang sudi bersamamu, apalagi kalau mereka tahu, kamu bukan lagi perempuan yang punya kesucian dan kehormatan?" kata Rendy keji, sebelum mencampakkan Zenna.

Setelah kehilangan segalanya, Zenna berusaha kembali ke jalan yang benar, rela menebus dosa dengan menikahi seorang lelaki arogan bernama Bram Atmaja.

Bram tahu semua masa lalu Zenna, bersedia menikahinya, demi memenuhi wasiat mendiang ayah tirinya, yang juga merupakan ayah kandung Zenna. Meski dari awal, ia juga sudah memperingatkan Zenna bahwa dirinya adalah pria kasar dan arogan, dan barangkali tak akan pernah mencintai Zenna seumur hidupnya.

Pernikahan yang berlangsung dengan itikad penebusan dosa, tanpa cinta pada awalnya, dan dikejar bayang-bayang gelap masa silam, akankah berujung bahagia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Rumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Janji Pernikahan Tuan Arogan - Bab 25

Lorong menuju ruang ICU terasa bagai tak berujung.

Derap kaki Bram menghantam lantai dengan liar, napasnya memburu, dadanya seperti akan meledak. Suara peringatan yang melengking dari kejauhan menusuk telinganya.

"Code blue! Code blue!"—terus berulang seperti vonis kematian yang tak bisa dihentikan.

“ZENNA!”

Ia hampir menabrak pintu kaca ICU saat hendak mendorongnya terbuka.

“Maaf Tuan, Anda tidak boleh masuk—dokter harus melakukan prosedur penting sekarang! Ruang ICU harus steril!" seorang perawat dengan sigap mendekat dan menghalanginya.

"Tapi istriku--"

Bram kehilangan napas dan kata ketika melihat Zenna melalui jendela kaca ICU. Zenna terbaring tanpa detak jantung di atas pembaringan dingin, dikelilingi beberapa dokter dan suster yang bergerak cepat menyiapkan berbagai peralatan dan suntikan.

"Mas Ridwan!"

Kalila yang sedari tadi juga berdiri di luar ICU, menangis dan memeluk Ridwan kala kakaknya itu muncul bersama Rendy, kedua lelaki tampan itu terengah dan pucat pasi.

"Kalila, apa yang terjadi?" tanya Ridwan parau.

"Aku nggak tahu, Mas... tadi saat aku menjaga Zenna, seorang perawat muncul dan memintaku ke loket untuk secepatnya mengurus administrasi obat baru... karena tak ada siapapun di sisi Zenna dan Bram tidak bisa kuhubungi, jadi aku memutuskan untuk menandatangani berkas itu... aku hanya pergi lima menit, tapi begitu aku kembali, monitor detak jantungnya--Zenna, dia--"

Kalila tak bisa melanjutkan kalimatnya, tangisnya pecah tanpa jeda.

"Kamu... meninggalkan Zenna seorang diri?" Rendy tampak terguncang, sekaligus berang. "Dan sekarang, dia jadi begini...?"

Keganjilan itu juga menghantam kesadaran Ridwan dan Bram, namun perhatian mereka teralihkan seketika dengan pemandangan mengerikan yang kini tersaji di depan mata.

“Clear!”

Seorang dokter menempelkan defibrillator ke dada Zenna.

Tubuh Zenna terangkat sesaat saat sengatan listrik dilepaskan.

“Jantung masih tidak merespon! Siapkan lagi—200 joule--cepat!”

“Clear!”

Tubuh Zenna kembali terhentak. Tetap tak ada perubahan.

“Tidak ada denyut!”

“Mulai CPR!”

Tangan para dokter bergantian menekan dada Zenna dengan ritme cepat dan brutal.

Setiap tekanan itu terasa seperti menghancurkan kedalaman—bukan hanya tulang belulang, namun juga sesuatu yang nun di dalam diri Bram.

“Epinephrine, sekarang!”

Jarum suntik menusuk kulit pucat Zenna. Cairan itu dengan lekas menembus nadinya, bagai arus panas yang ingin menariknya kembali dari jurang kematian.

Detik-detik menitik.

Garis lurus itu masih bergeming.

***

Zenna masih terdiam di bawah pohon yang kini sepenuhnya gersang. Ia sendirian. Ayah dan ibunya tak lagi di sisinya, entah bagaimana menghilang seiring angin menghempas daun-daun emas terakhir dari ranting-ranting kering.

Alam di sekitarnya bagai kekal dalam kesunyian. Tetapi Zenna sama sekali tak keberatan. Baru kali ini, ia merasa lengang dan damai. Tak ada luka. Tak ada derita.

Jadi kenapa aku harus kembali...? Di sini jauh lebih baik...

Angin hangat tiba-tiba berhembus. Menarikan ilalang dan menyibak sesuatu di kejauhan--seperti fatamorgana yang merekah di bawah rintik cahaya langit senja.

Zenna melihat bayangan dirinya berjalan dan tertawa di sana. Ia tak sendirian. Di sisinya ada Bram, yang juga tersenyum dan ketampanannya memancar hangat. Di antara mereka, seorang anak perempuan berjalan dan berceloteh riang.

Anak itu begitu cantik dan menggemaskan--raut mukanya mirip Bram, tetapi bentuk mata, rambut, dan gaya tawanya mirip Zenna.

"Papa... Mama... terima kasih sudah melahirkanku ke dunia... aku sayang kalian...!"

Suara gadis kecil itu begitu indah mengalun, seperti bening dentang lonceng yang mengurai hening dini hari.

Air mata Zenna perlahan mengalir--suara dan pemandangan itu memantik kembali melodi dalam inti diri yang semula hanya ingin beku dan sunyi.

Seisi alam itu kembali berdenting.

***

Di luar ruang ICU, Bram nyaris jatuh berlutut. Tangannya berpegangan erat pada gagang dingin pintu ICU. Badannya gemetar. Segenap jiwanya menyeru dalam pilu dan doa yang tertuju hanya pada satu nama.

Ya Allah... ambillah segalanya dalam hidup hamba, tetapi tolong, jangan ambil Zenna... hamba mohon dengan sangat... mohon dengan sangat...

“Dua menit sejak henti jantung—”

Seorang dokter mundur dan mengecek arlojinya, tampak kelelahan usai melakukan CPR kesekian kalinya. Peluh menetes-netes di pelipisnya.

"Kita tidak boleh berhenti!" Dokter lainnya maju sambil memegang defribillator, otot-otot di wajah tirusnya mengeras. "Charge lagi! 300 joule!"

"Dok—"

"Lakukan!"

"Clear!"

Sentakan berikutnya bagai pertarungan paling absurd dan nadir--merebut kembali hangatnya hidup dari tangan beku malaikat maut.

Garis tipis itu tak kunjung mengalirkan gelombang.

Sedetik kemudian---

Bip.

Satu denyut kecil muncul. Lemah. Nyaris tak terlihat.

Bip.

Seorang perawat melihatnya--ekspresinya takzim seakan ia baru saja menyaksikan bidadari turun membawa setetes cahaya surga.

"ROSC!" serunya dengan suara tercekat. "Detak jantungnya kembali!"

Semua orang di ruangan ICU langsung sigap bergerak lagi—kali ini dengan napas lega yang tertahan.

Bram jatuh berlutut. Air matanya menetes.

"Zenna...," lirihnya. "Kamu kembali..."

Ridwan menghela napas panjang, sementara tangis Kalila makin kencang di bahunya, namun kali ini dengan kelegaan dan syukur yang luar biasa.

"Alhamdulillah, ya Allah... terima kasih, ya Allah..."

Badai kelam itu menepi perlahan. Situasi di dalam ruang ICU semakin terkendali, seiring detak kehidupan Zenna kembali mengaliri nadi.

"Tuan Bram."

Dokter yang terakhir memegang defribillator keluar dan dengan lembut membantu Bram berdiri.

"Dokter...," Bram berusaha keras menguatkan diri. "Bagaimana kondisi Zenna...? Dia akan baik-baik saja, kan...?"

"Nyonya Zenna akan hidup," kata Dokter itu menenangkan. "Meski begitu, sebaiknya tak ada yang menjenguknya sampai kondisinya benar-benar stabil. Kami akan pantau ketat tanda vital Nyonya Zenna selama 24 jam ke depan, dan mengabari Anda setiap perkembangan yang terjadi."

Bram mengangguk lemah. "Terima kasih, Dokter..."

"Kembali kasih. Saya permisi."

Bram duduk di bangku lorong sambil menangkupkan wajahnya di kedua tangan. Ridwan membelai punggung Kalila yang masih berusaha meredam isakan. Sementara Rendy bersandar di dinding--matanya terpejam sejenak. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya, seolah menahan sesuatu yang jauh lebih gelap dari sekadar ketakutan.

"Kalian semua--dengarkan aku!"

Suara Rendy tiba-tiba terdengar lantang dan garang, memecah keheningan. Ia kini berdiri di tengah lorong, aura gelap menakutkan entah bagaimana memancar kuat dari kedalaman dirinya.

"Mulai detik ini, semua akses ke ICU ditutup! Tidak ada yang keluar atau masuk tanpa izin dariku! Siapa pun!"

Tatapan gila dan mengerikan Rendy kemudian tertuju pada Bram.

"Termasuk kamu, Bram! Kamu tak boleh lagi mendekati Zenna dengan alasan apapun--tak akan kuizinkan! Jika kamu nekat, akan kujebloskan kamu ke penjara dengan kedua tanganku sendiri--camkan itu!"

***

Catatan Penulis (keterangan medis):

* Code Blue \= istilah darurat di rumah sakit yang menjadi tanda bahwa pasien memerlukan tindakan medis segera.

* Defribillator \= alat kejut jantung.

* CPR \= Cardiopulmonary Resuscitation atau Resusitasi Jantung Paru (RJP), adalah prosedur pertolongan pertama darurat yang dilakukan saat detak jantung atau pernapasan seseorang terhenti. CPR menggabungkan kompresi dada (tekanan berirama) dan napas buatan untuk menjaga aliran darah beroksigen ke otak dan organ vital.

* Epinephrine \= obat untuk mengatasi syok anafilaktik akibat reaksi alergi berat, dan juga digunakan pada tindakan resusitasi jantung paru (RJP).

* ROSC (Return of Spontaneous Circulation) \= kembalinya detak jantung spontan dan sirkulasi darah secara mandiri pada pasien yang sebelumnya mengalami henti jantung (cardiac arrest) dan setelah dilakukan tindakan Resusitasi Jantung Paru (RJP/CPR).

💫💫💫 Anggaplah nambah ilmu. Jangan pusing ya, Lovely Readers. Cheers. 😆✌️

1
Shamira Zee
Aduh bahaya banget ini si paman...
Shamira Zee
Duh bahaya gak tuh Zenna ditinggal sendiri? Trus drama apa lagi ini yang dimainin keluarganya Bram? /Gosh/
Shamira Zee
Keren banget thor adegannya dapet banget tegangnya berasa nyata /Gosh/ Dan ilmu medisnya keren... jadi nambah ilmu nih 👍
Shamira Zee
Aduh plis Zenna jangan pergi /Sob/
Shamira Zee
Author nyindirnya ngena banget deh soal polisi /Tongue/ Wah bisa nggak tuh Bram dan Rendy kerja sama buat nemuin pembunuhnya? Kira-kira siapa ya?
Shamira Zee
Duh ngeri kali diracun demi dapat warisan /Gosh/
Lord Aaron
Racun?
Nyonya Billy
Narasinya bagus. Ceritanya cukup menghanyutkan emosi.
Nyonya Billy
Ada apa dengan Zenna...?
Shamira Zee
Ceritanya bagus, gak kacangan, alurnya unik, penuh intrik. Gak bisa berhenti baca soalnya tiap babnya bikin penasaran terus. /Angry//Good/
Shamira Zee
Aduuuh Zenna kenapa ini thor? /Gosh/
Shamira Zee
Keren Bram bisa atur pesta jadi gitu. Tapi gak ketemu Rendy malah ketemu Aurel /Grimace/
La Rumi: sama aja ya 😅
total 1 replies
Shamira Zee
Pengantin baru malah ngurus kerjaan /Facepalm/ Duh ada Rendy ntar... gimana tuh Zenna? Semoga baik-baik aja yaa
La Rumi: pengantin teladan 😅
total 1 replies
Nyonya Billy
Selamat dan semangat menempuh hidup baru, Zenna ❤️
La Rumi: ❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
total 1 replies
Nyonya Billy
Manisnya Bram
La Rumi: Like sugar 🤭
total 1 replies
Shamira Zee
Horee akhirnya sah! Selamat Ze-Bra! /Angry/
La Rumi: Yaaay
total 1 replies
Shamira Zee
Kenapa Bram bisa manis begini? Duuuh meleleh lho denger dia bilang "perlukah alasan" /Proud/
La Rumi: So sweet yesss
total 1 replies
Lord Aaron
Melahirkan seratus kurawa dong... othor bisa aja /Facepalm/
La Rumi: 🤭🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Nyonya Billy
Parah kelakuan rendy
Nyonya Billy
Hubungan toxic juga bisa bikin hubungan ke sekitar hancur...kasihan Zenna
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!