Rendra tidak pernah menyangka, kedekatannya dengan Cila dan keluarganya akan membuatnya merasa seperti menemukan tempatnya sendiri.
Semua terasa nyata. Terasa spesial.
Sampai suatu hari, ia melihat sendiri sesuatu yang mengubah semuanya.
Di saat itulah Rendra mulai memahami, bahwa tidak semua perasaan memiliki arti yang sama bagi setiap orang.
Dan dalam hidup, ada hal-hal yang harus dihadapi sendirian—meski itu berarti merelakan sesuatu yang dulu ia anggap bagian dari dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha Aprila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Antara Ramai dan Rindu
*TRINGGG!*
Bel istirahat berbunyi nyaring, memecah suasana kelas yang dari tadi terasa datar.
Beberapa murid langsung berdiri, ada yang meregangkan badan, ada juga yang langsung keluar tanpa banyak basa-basi.
Aku sempat melirik ke arah pintu.
Dalam pikiranku cuma satu—
ke kelas Cila.
Niatnya sederhana. Ngajak ke kantin bareng.
Tapi belum sempat aku bangkit dari kursi—
“Eh, bro.”
Suara dari belakang.
Aku menoleh.
Andi sudah setengah berdiri di bangkunya, menatap ke arahku dengan ekspresi santai.
“Lu suka motor jadul?” tanyanya tiba-tiba.
Aku mengangkat alis sedikit.
“Iya,” jawabku singkat.
Andi langsung menyengir.
“Gue juga. Dari tadi liat motor lu… beda sendiri,” katanya.
Aku sedikit tersenyum.
“Lu juga ngerti motor?” lanjutnya.
Aku mengangguk pelan. “Sedikit.”
“Wah, pas nih,” katanya makin semangat. “Abang gue punya bengkel. Dia mainannya motor-motor retro… custom gitu. Kayak Harley, Japstyle… gitu-gitu lah.”
Aku langsung sedikit tertarik.
“Oh ya?” tanyaku.
“Iya. Kalau lu mau modif… bisa banget. Tinggal budget aja,” lanjut Andi santai.
Dalam kepalaku langsung kebayang motorku.
Kalau di-up sedikit…
mungkin hasilnya bisa jauh lebih keren.
“Bisa diubah sejauh apa?” tanyaku mulai serius.
“Macem-macem. Mau basic doang, atau total sekalian juga bisa,” jawab Andi.
Kami mulai ngobrol lebih dalam.
Dari mesin, rangka, sampai tampilan.
Tanpa sadar, obrolannya makin seru.
“Eh.”
Suara berat memotong.
Bara.
Dia berdiri di samping bangku, wajahnya sudah kelihatan lapar.
“Kantin, yuk,” katanya singkat.
Andi cuma melirik sekilas.
“Iya bentar,” jawabnya asal, lalu balik lagi ke aku.
“Jadi kalo lu mau, nanti gue ajak ke sana…”
Belum selesai—
“Anjir, gue laper banget,” potong Bara lagi.
Aku menahan senyum.
Andi mulai terlihat sedikit kesal.
“Apa sih… lu aja duluan sono,” katanya.
Bara langsung mengerutkan wajah.
“Ayolah… nggak ada temen gue.”
Andi menghela napas, lalu menoleh ke arahku.
“Sorry bro… ini bocah emang ribet,” katanya sambil menunjuk Bara.
Aku akhirnya ketawa kecil.
“Ya udah… kita lanjut di kantin aja ngobrolnya,” kataku.
Andi langsung mengangguk. “Boleh.”
Bara terlihat lega.
Aku menoleh ke samping.
“Miko,” panggilku.
Dia yang dari tadi diam langsung mengangkat kepala.
“Ikut?” tanyaku.
Dia mengangguk singkat. “Ya.”
Kami pun berdiri dan keluar kelas bareng.
Koridor sudah ramai. Suara langkah kaki, obrolan, dan tawa bercampur jadi satu.
Dalam perjalanan ke kantin—
kami melewati deretan kelas.
Dan tanpa sadar, langkahku sedikit melambat saat melewati satu pintu.
Kelas Cila.
Refleks, mataku melirik ke dalam.
Mencari.
Tapi—
nggak ada.
Sepertinya dia sudah keluar duluan.
Aku menarik napas pelan, lalu kembali melangkah.
Mengikuti yang lain menuju kantin.
Kami berempat berjalan menyusuri koridor, lalu turun ke area bawah.
Beberapa kali kami sempat berhenti.
“Ini kantin bukan sih?” tanya Bara sambil menunjuk satu tempat.
“Bukan, itu koperasi,” jawab Miko datar.
“Yaelah…”
Kami lanjut jalan lagi.
Maklum, masih baru.
Belum hafal seluk-beluk sekolah.
Di sepanjang jalan, suasana terasa hidup.
Lapangan basket di sisi kanan cukup ramai. Beberapa anak terlihat main serius, suara bola memantul terdengar jelas.
Di taman, ada yang duduk santai, ngobrol, ketawa-ketawa.
Sebagian lagi cuma berdiri di pinggir koridor.
Sekadar ngumpul.
Aku sempat melirik sekeliling.
Suasana ini…
berisik, tapi enak.
Akhirnya—
“NAH, itu!” kata Andi sambil menunjuk ke depan.
Kantin.
Lumayan ramai.
Kami langsung masuk.
Beberapa antre di depan penjual, sebagian sudah duduk.
Aku ikut memilih makanan seadanya.
Yang penting kenyang.
Setelah itu, Andi langsung jalan duluan.
“Ke sana aja,” katanya sambil menunjuk satu meja kosong.
Kami mengikuti.
Aku mendekat, baru saja mau duduk—
“Rendraa—!”
Suara itu terdengar samar, tapi jelas.
Aku langsung menoleh.
Cila.
Dia duduk beberapa meja dari kami, bersama beberapa cewek yang sepertinya teman barunya.
Tangannya melambai kecil ke arahku.
“Ren, cewek lu manggil tuh,” celetuk Andi santai di sampingku.
Aku cuma melirik sekilas ke arahnya, lalu kembali melihat ke depan.
Cila masih melihat ke arahku.
Menunggu.
Sepersekian detik aku diam.
Pengen.
Jelas pengen ke sana.
Tapi—
aku melirik ke arah Andi, Bara, dan Miko.
Kami baru kenal.
Baru mulai nyambung.
Masa langsung ninggalin?
Belum lagi…
duduk bareng cewek di depan mereka semua?
Aku menghela napas kecil.
Akhirnya aku cuma tersenyum ke arah Cila.
Lalu memberi isyarat kecil dengan tangan—
di sini aja.
Cila memperhatikan sebentar.
Lalu dia mengangguk kecil.
Gesturnya seperti bilang, “Oh… ya udah.”
Aku duduk.
Menaruh piring di meja.
Andi langsung nyengir tipis.
“Setia juga lu,” katanya.
Aku cuma mengangkat bahu.
“Biasa aja.”
Bara sudah mulai makan tanpa peduli.
“Gue mah yang penting makan dulu,” katanya dengan mulut hampir penuh.
Aku sedikit tersenyum.
Tanganku mengambil sendok.
Tapi entah kenapa…
mataku sempat melirik lagi ke arah Cila.
Dia sudah kembali ngobrol dengan teman-temannya.
Seolah nggak terjadi apa-apa.
Aku mengalihkan pandangan.
Lalu mulai makan.
Suara kantin kembali memenuhi telinga.
Ramai.
Berisik.
Tapi sekarang…
rasanya mulai terasa familiar.
Andi masih lanjut makan sambil ngomong.
Topiknya… nggak jauh-jauh dari motor.
“Kalau mau, motor lu bisa dibikin lebih clean,” katanya sambil nyendok nasi. “Tinggal ubah dikit bagian belakang sama knalpotnya.”
Aku mendengarkan sambil makan.
Kepikiran.
Menarik sih.
Apalagi kalau soal motor… aku nggak pernah bener-bener nolak.
“Dipikirin dulu deh,” jawabku santai.
Andi langsung mengangguk. “Santai. Tapi kalau serius, nanti gue ajak ke rumah. Sekalian ke bengkel abang gue.”
Aku sempat berhenti sebentar.
Buset… baru juga kenal.
Aku menahan senyum kecil.
“Untuk sekarang belum dulu deh,” kataku. “Mungkin lain kali.”
“Iya, bebas,” jawab Andi santai. “Gue mah tinggal ngajak.”
Obrolan pun pelan-pelan mereda.
Bara masih fokus makan.
Miko seperti biasa… diam, tapi tetap ikut.
Aku kembali menyuap makanan.
Sambil sesekali mikir.
Tentang motor.
Tentang kemungkinan modif.
Dan tanpa sadar—
tentang Cila.
—
Bel masuk berbunyi.
Kami kembali ke kelas.
Suasana masih jauh dari kata serius.
Beberapa bangku berisik, ada yang ngobrol, ada yang bercanda, ada juga yang cuma duduk sambil main HP.
Pelajaran belum benar-benar mulai.
Masih terasa seperti… masa transisi.
Di barisanku—
suara tawa cukup sering terdengar.
Andi dan Bara.
Dua orang itu gampang banget ketawa.
Hal kecil aja bisa jadi bahan.
Aku cuma ikut tersenyum kecil.
Sesekali nimbrung.
Tapi pikiranku…
nggak sepenuhnya di situ.
Aku bersandar sedikit ke kursi.
Menatap ke depan… tapi sebenarnya nggak benar-benar melihat apa-apa.
Pikiranku ke mana-mana.
Motor.
Bengkel.
Dan—
Cila.
Entah kenapa…
aku jadi pengen lihat dia lagi.
Padahal jelas—
nanti juga pulang bareng.
Bisa ketemu.
Bisa ngobrol.
Tapi tetap aja…
rasanya kayak ada yang narik.
Bikin nggak sabar.
Aku menghela napas pelan.
Lalu tersenyum kecil sendiri.
Apaan sih…
baru juga tadi ketemu.
Aku menoleh sedikit ke arah jendela.
Cahaya siang masuk pelan ke dalam kelas.
Hangat.
Tenang.
Tapi di dalam kepala—
nggak setenang itu.
Aku diam beberapa detik.
Lalu satu pikiran muncul begitu aja.
…ini yang namanya rindu?