Gendis, mantan analis bank BUMN yang cemerlang, kini terjebak dalam hambarnya kehidupan rumah tangga demi menuruti keinginan suaminya, Indra. Lima tahun dedikasinya sebagai ibu rumah tangga justru dibalas dengan sikap dingin dan tekanan terkait ketidakhadiran buah hati.
Keharmonisan palsu itu runtuh saat Indra pulang membawa aroma alkohol dan parfum vanilla murah. Insting tajam Gendis terpicu ketika menemukan sehelai rambut pirang di kerah kemeja suaminya. Meski Indra mengelak dengan kasar, Gendis berhasil membongkar rahasia di ponsel suaminya: Indra berselingkuh dengan seorang pemandu lagu bernama Cindy.
Melihat foto mesra dan panggilan "Daddy" di layar ponsel tersebut, hancurlah harga diri Gendis. Namun, di atas kepedihan itu, muncul amarah yang terkontrol. Gendis bersumpah untuk berhenti menjadi istri yang tertindas. Malam itu, ia mulai menyusun rencana besar untuk merebut kembali jati dirinya dan membalas pengkhianatan Indra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruby Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cermin Retak di Balik Jeruji
Udara di dalam ruang kunjungan lembaga pemasyarakatan itu terasa berat, pekat oleh aroma disinfektan murah dan keputusasaan yang mengental. Gendis melangkah masuk dengan ketukan stiletto yang ritmis, sebuah suara yang terdengar asing di lantai semen yang kusam. Ia mengenakan setelan blazer putih tulang yang tajam, kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya memberikan kesan misterius sekaligus tak tersentuh.
Di seberang sekat kaca yang kusam, Cindy duduk dengan bahu merosot. Seragam narapidana berwarna oranye cerah itu tampak kebesaran di tubuhnya yang kian kurus. Rambutnya yang dahulu selalu tertata salon kini lepek dan kusam, diikat asal-asalan dengan karet gelang. Saat melihat sosok Gendis, mata Cindy yang cekung seketika menyala oleh kebencian yang murni.
Gendis duduk dengan anggun, meletakkan tas tangannya di pangkuan, lalu perlahan melepas kacamata hitamnya. Ia menatap Cindy dengan tatapan yang sulit diartikan, bukan kemarahan, melainkan sesuatu yang jauh lebih menyakitkan, rasa kasihan.
"Apa kabar, Cindy?" suara Gendis mengalun tenang, bening seperti denting kristal.
"Mau apa kau ke sini?!" Cindy langsung menyambar gagang telepon komunikasi dengan kasar. Suaranya serak, gemetar karena emosi yang meledak.
"Mau pamer? Mau lihat aku membusuk di sini sementara kau dipuja-puji sebagai malaikat di media sosial dan di kampungku? Hah?!"
Gendis perlahan mengangkat gagang telepon di sisinya. Ia tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya.
"Aku hanya ingin melihat hasil akhir dari sebuah pilihan, Cindy. Ternyata, kehancuran jauh lebih cepat menjemputmu daripada yang kuprediksi."
"Kau bajingan, Gendis! Kau menghancurkan hidupku!" teriak Cindy, air matanya mulai mengalir, merusak wajahnya yang kini tanpa riasan. "Kau datang ke kampungku, kau menyuap orang tuaku, kau mencuci otak adik-adikku dengan uangmu! Sekarang ibuku memanggil namamu di setiap doanya, dan ayahku bahkan tidak mau menyebut namaku lagi! Kau merebut keluargaku setelah kau merebut posisiku!"
Gendis tertawa kecil, suara tawa yang halus namun sanggup menyayat ego Cindy hingga ke dasarnya.
"Merebut posisimu? Posisi yang mana, Cindy? Posisi sebagai parasit di hidup Indra? Atau posisi sebagai penerima aliran dana korupsi yang kini membuatmu harus meringkuk di sel sempit ini?"
"Jangan sok suci! Kalau bukan karena kau yang melaporkan semua bukti itu ke polisi, aku tidak akan ada di sini!" Cindy memukul kaca pembatas dengan kepalan tangannya yang gemetar. "Kau sengaja merancang ini semua! Kau wanita licik!"
"Licik adalah kata yang terlalu besar untukmu," sahut Gendis, intonasi suaranya tetap terjaga, elegan tanpa emosi yang meledak-ledak.
"Aku tidak merancang apa pun. Aku hanya memberikan panggung agar kau bisa menunjukkan kebodohanmu sendiri. Dan kau melakukannya dengan sangat luar biasa, Cindy. Kau ceroboh. Sangat, sangat ceroboh."
Gendis memajukan sedikit tubuhnya, menatap lurus ke dalam pupil mata Cindy yang bergetar. "Kau tahu di mana letak kesalahan terbesarmu? Bukan karena kau tidur dengan suamiku kala itu. Bagiku, Indra hanyalah barang usang yang memang sudah waktunya dibuang. Kesalahanmu adalah kau merasa bahwa dengan mendapatkan hati seorang lelaki, kau otomatis mendapatkan kekuasaannya. Kau lupa bahwa di balik setiap langkah Indra, ada otakku yang bekerja selama bertahun-tahun."
Cindy terisak, giginya bergeletuk menahan geram.
"Aku mencintainya! Dia bilang dia tidak pernah bahagia bersamamu!"
"Cinta?" Gendis menaikkan sebelah alisnya.
"Seorang LC yang terbiasa hidup dari satu meja ke meja lain berbicara tentang cinta? Jangan naif. Kau mencintai fasilitas yang ia berikan. Kau mencintai tas-tas mewah dan liburan yang ia biayai dari uang yang sebenarnya adalah hak karyawan lain di perusahaan. Dan dengan bodohnya, kau menggunakan rekening pribadimu untuk menampung semua itu. Kau pikir jaksa tidak akan bisa melacaknya? Itu adalah kecerobohan tingkat dasar yang bahkan anak magang di bankku pun tidak akan melakukannya."
"Diam kau! Kau tidak tahu apa-apa tentang rasanya berjuang dari bawah!" maki Cindy lagi. "Kau lahir di atas tumpukan uang! Kau punya segalanya! Sedangkan aku? Aku harus menggunakan kecantikanku untuk bertahan hidup!"
"Kecantikan adalah aset yang paling cepat terdepresiasi, Cindy," balas Gendis tenang.
"Dan kau menggunakannya dengan cara yang paling murah. Harusnya, sebelum kau memutuskan untuk menjadi lawan seorang Gendis, kau riset dulu siapa lawanmu. Kau mengira aku hanyalah istri rumahan yang akan menangis di pojok kamar saat diselingkuhi? Kau pikir aku sama dengan perempuan-perempuan di lingkungan kerjamu yang hanya bisa saling jambak karena berebut tamu?"
Gendis menggeleng pelan, wajahnya menunjukkan keprihatinan yang tulus namun menghina.
"Dunia kita berbeda, Cindy. Aku bergerak dengan angka, strategi, dan hukum. Sementara kau bergerak dengan nafsu dan keserakahan yang tidak berdasar. Kau masuk ke wilayahku tanpa membawa senjata apa pun selain gincu merah dan rayuan murahan. Itu bukan keberanian, itu bunuh diri."
Cindy terpaku. Kata-kata Gendis terasa seperti tamparan yang lebih menyakitkan daripada pukulan fisik. Di dalam hati kecilnya, sebuah pengakuan pahit mulai muncul. Ia melihat pantulan dirinya di kaca pembatas, kusam, hancur, dan hina. Lalu ia melihat Gendis, bercahaya, berwibawa, dan utuh.
Ia tersadar bahwa selama ini ia tidak sedang bertarung dengan sesama wanita simpanan atau perempuan kelas bawah yang bisa ia intimidasi. Ia sedang berhadapan dengan tembok baja yang ia tabrak sendiri hingga dirinya hancur berkeping-keping.
"Kenapa kau memberikan uang kepada keluargaku?" tanya Cindy dengan suara yang kini melemah, hampir berbisik. "Kenapa kau harus membiayai adik-adikku? Kau ingin aku merasa berutang budi padamu?"
"Tidak perlu merasa berutang," jawab Gendis, sambil merapikan letak blazer-nya. "Aku melakukan itu karena orang tuamu adalah orang baik yang malang karena memiliki anak sepertimu. Dan adik-adikmu, mereka punya masa depan. Aku tidak ingin mereka tumbuh menjadi sampah masyarakat hanya karena kakak mereka adalah seorang kriminal. Aku ingin mereka melihat bahwa untuk menjadi terhormat, seseorang tidak perlu mencuri milik orang lain."
Gendis bangkit dari kursinya, menandakan sesi kunjungan itu telah berakhir baginya.
"Satu hal lagi, Cindy. Jangan pernah menganggap dirimu setara denganku, bahkan dalam hal penderitaan sekalipun. Luka yang kau berikan padaku telah kujadikan mahkota. Sementara luka yang kuberikan padamu, itu adalah liang kubur bagi harga dirimu sendiri. Kau akan selamanya diingat sebagai wanita yang menghancurkan keluarganya sendiri, sementara aku akan diingat sebagai wanita yang membangun kembali apa yang kau rusak."
"Gendis! Tunggu!" teriak Cindy saat Gendis mulai berbalik. "Apakah Indra... apakah dia pernah menanyakan aku?"
Gendis berhenti sejenak, namun tidak menoleh. Ia hanya tersenyum miring ke arah dinding.
"Indra? Dia sekarang sibuk berbicara dengan dinding di selnya sendiri. Penyesalan ternyata bisa membuat orang kehilangan akal sehat, Cindy. Dia merindukan hidupnya yang dulu, bukan merindukanmu. Baginya, kau hanyalah kesalahan fatal yang menghancurkan karier dan martabatnya. Dia membencimu lebih dari siapapun di dunia ini."
Cindy merosot dari kursi, jatuh bertumpu pada lututnya di lantai semen yang dingin. Ia menangis meraung-raung, sebuah tangisan yang penuh dengan penyesalan yang terlambat. Suara isakannya menggema di lorong penjara, namun Gendis terus melangkah pergi tanpa sekalipun menoleh ke belakang.
Di setiap langkahnya menuju pintu keluar, Gendis merasakan beban di pundaknya semakin ringan. Ia telah memberikan penutupan yang sempurna. Ia tidak hanya menang secara hukum, tapi ia telah memenangkan pertempuran moral dan martabat.
Begitu keluar dari gerbang lapas, sinar matahari sore menyambut wajahnya. Sopirnya segera membukakan pintu mobil. Sebelum masuk, Gendis menghirup udara dalam-dalam.
"Ke bandara, Pak," ucap Gendis singkat.
"Kita kembali ke rumah, Non?" tanya sopir itu sopan.
"Tidak. Kita ke Paris. Peluncuran 'Resonance No. 1' harus menjadi ledakan yang paling indah di industri parfum dunia. Aku sudah selesai dengan masa lalu. Sekarang saatnya dunia mencium aroma kemenanganku."
Mobil mewah itu meluncur membelah jalanan, meninggalkan bangunan kusam di belakangnya. Di dalam sel, Cindy masih terisak, menyadari bahwa di papan catur kehidupan ini, ia hanyalah sebuah pion yang dikorbankan, sementara Gendis adalah sang Ratu yang tetap berdiri tegak, memegang kendali atas seluruh permainan. Ia memang tak pernah setara, dan tak akan pernah bisa menyentuh level perempuan yang baru saja meninggalkannya dalam kehampaan.
..