Bayangan pernikahan yang bahagia agaknya tidak berlaku untuk Nadia Witama. Gadis seperempat abad itu justru terpaksa menikah dengan pria kasar dan arogan seperti Arya Dirgantara untuk melunasi hutang ayahnya. Bisakah Nadia bertahan dengan sikap Arya? Atau pada akhirnya dia akan menyerah ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31
Rio memanggil tuannya sekali lagi, kali ini dengan suara yang lebih tegas namun tetap ditahan agar tidak menarik perhatian. “Tuan… kita haruskah pergi sekarang?”
Namun Arya tidak bergerak. Tubuhnya membeku di tempat, seolah-olah kakinya tertanam di aspal yang basah oleh sisa hujan. Pandangannya tertuju lurus ke depan, menembus jarak beberapa meter, tepat pada pemandangan yang membuat darahnya mendidih perlahan namun pasti.
Rio mengikuti arah tatapan itu.
Dan di sanalah Rio melihatnya.
Seorang laki-laki yang jelas bukan orang sembarangan sedang memeluk Nadia. Lengan pria itu melingkar di bahu Nadia, tangannya menepuk-nepuk punggung wanita itu dengan gerakan yang terlalu akrab untuk disebut sekadar menenangkan. Wajah Nadia tersembunyi di dada pria itu, tubuhnya tampak rapuh, seolah menggantungkan seluruh berat emosinya pada pelukan tersebut.
Rio terperanjat.
Jantungnya berdegup keras, bukan karena cemburu, melainkan karena ia tahu betul apa arti pemandangan itu bagi tuannya.
“Itu…” Rio menelan ludah. “Tuan—”
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, suara pintu mobil terbanting keras, menggema di jalan kecil itu. Arya telah masuk ke dalam mobil dengan gerakan kasar, tangannya mencengkeram gagang pintu seolah ingin menghancurkannya.
“Ayo pergi,” ucap Arya dingin.
Nada suaranya rendah, namun Rio tahu itu jauh lebih berbahaya daripada teriakan.
Tanpa berani membantah, Rio segera berlari mengitari mobil dan masuk ke kursi pengemudi. Mesin dinyalakan, kendaraan melaju meninggalkan tempat itu, meninggalkan seikat bunga yang tergeletak di aspal dan sebuah pemandangan yang telah membakar amarah Arya hingga ke akar.
Di dalam mobil, suasana begitu mencekam.
Arya bersandar kaku, rahangnya mengeras, matanya menatap kosong ke depan. Tangannya mengepal begitu erat hingga buku-bukunya memutih. Napasnya berat, teratur, namun penuh tekanan.
Rio melirik sekilas dari kaca spion.
Ia pernah melihat tuannya marah.
Namun yang ini berbeda.
Ini bukan kemarahan yang meledak-ledak seperti biasanya bukan amukan yang membuat ruang kerja hancur seperti kapal pecah, bukan teriakan yang membuat bawahan gemetar. Ini kemarahan yang ditahan, dikurung rapat, dan justru karena itulah jauh lebih berbahaya.
Sesuatu yang dianggap miliknya berada dalam pelukan orang lain.
Rio menelan ludah.
Ia tahu betul, terakhir kali Arya berada dalam kondisi seperti ini, satu divisi perusahaan diganti seluruhnya hanya dalam satu malam. Dan itu hanya karena sebuah laporan keuangan yang terlambat.
Kini, yang tersentuh bukan sekadar urusan bisnis.
Ini soal Nadia.
“Ke mana, Tuan?” tanya Rio akhirnya, memecah keheningan.
Arya tidak langsung menjawab. Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia berkata, “Pulang.”
Satu kata. Datar. Tidak memberi ruang untuk pertanyaan lanjutan.
Rio mengangguk, fokus kembali ke jalan. Dalam hati, ia menggelengkan kepala kuat-kuat. Ia tidak boleh berprasangka lebih jauh. Tidak boleh. Tuganya hanya satu memastikan tuannya aman dan memastikan dampak dari amarah itu tidak menghancurkan lebih banyak hal.
---
Sementara itu, Galang sempat menangkap kilatan kendaraan roda empat yang melintas di ujung pandangannya. Mobil hitam dengan desain elegan itu terasa familiar. Seperti pernah ia lihat sebelumnya, entah di mana.
Ia mengerutkan kening sejenak, lalu pandangannya turun pada seikat bunga yang tergeletak di pinggir jalan, kelopaknya basah, tangkainya patah.
“Aneh…” gumamnya pelan.
Namun pikirannya segera kembali pada Nadia yang masih berada dalam pelukannya. Ia merasakan tubuh gadis itu perlahan lebih rileks, napasnya mulai teratur.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Galang lembut, menjauhkan sedikit tubuhnya agar bisa menatap wajah Nadia.
Nadia mengangguk pelan. Matanya merah, namun sorotnya lebih tenang. “Aku… ada yang ingin aku bicarakan.”
Galang tersenyum kecil. “Kalau begitu, ayo kita jalan sebentar.”
Ia menggenggam tangan Nadia dengan lembut, menuntunnya menuju taman kecil tak jauh dari kos. Lampu taman menyala temaram, bangku-bangku kayu masih basah oleh hujan sore tadi, dan udara malam terasa sejuk, menenangkan.
Sebelum duduk, Galang menghentikan langkah mereka di sebuah kios kecil yang masih buka. Ia membeli dua es krim rasa favorit Nadia sejak dulu lalu menyerahkan satu pada gadis itu.
Nadia menerimanya dengan mata berbinar sesaat. Senyum kecil terukir di bibirnya, senyum yang membuat Galang merasa lega.
“Terima kasih,” ucap Nadia lirih.
Galang mengangguk, lalu mereka duduk berdampingan di bangku taman.
“Apa yang ingin kamu bicarakan?” tanya Galang lagi.
Nadia membuka mulut lalu menutupnya kembali. Kata-kata terasa berat di lidahnya. Ia menatap es krim di tangannya, lalu ke arah jalan setapak di depan mereka.
Galang tidak memaksa. Ia hanya berkata, “Habiskan dulu es krim kamu. Aku tidak ke mana-mana.”
Perhatian Galang membuat Nadia sedikit tersenyum. Ia mengangguk dan mulai memakan es krimnya perlahan. Separuh cup habis dalam keheningan yang nyaman.
“Sudah merasa lebih baik?” tanya Galang.
Nadia mengangguk lagi. “Sedikit.”
Ia menarik napas panjang, lalu menoleh pada Galang. “Aku mau bicara tapi aku minta satu hal.”
“Apa?” Galang menatapnya serius.
“Berjanjilah kamu tidak akan pergi sebelum aku selesai menjelaskan semuanya.”
Galang tertawa kecil. “Sejak kapan kamu jadi seperti ini? Seperti anak kecil saja.”
Namun Nadia tidak ikut tertawa. Tatapannya lurus, tanpa ekspresi, menunjukkan keseriusannya.
Galang terdiam, lalu mengangguk. “Baik. Aku janji.”
Nadia membuka mulut—
“Nadia.”
Suara itu datang dari samping.
Baik Nadia maupun Galang menoleh hampir bersamaan.
Seorang wanita berdiri beberapa langkah dari mereka.
Clara.
Galang terkejut. Wajahnya berubah seketika. “Clara?”
Nadia diam. Hidungnya menangkap aroma parfum yang begitu familiar parfum yang pernah ia cium di tempat yang tidak seharusnya. Sesuatu bergetar di dadanya, perasaan yang belum bisa ia beri nama.
Clara melangkah mendekat dengan senyum manis, namun sorot matanya gelisah. “Aku sudah menunggu kalian,” katanya ringan. “Ada sesuatu yang perlu aku bicarakan.”
Nadia mengalihkan pandangan ke Clara. “Tentang apa?”
Clara menelan ludah, lalu berkata dengan suara yang dibuat tenang, “Aku hamil.”
Waktu seolah berhenti.
Galang terbelalak, bangkit dari duduknya begitu cepat hingga bangku kayu berderit. “Apa?”
“Aku hamil,” ulang Clara, kali ini lebih tegas.
“Itu tidak mungkin,” bantah Galang, suaranya meninggi. “Kamu bohong.”
Clara menggeleng. “Aku tidak bohong.”
“Tidak mungkin!” Galang mengacak rambutnya frustasi. “Kenapa kamu bisa hamil?”
“Galang!” Clara ikut meninggi. “Aku juga kaget!”
Pertengkaran itu berlangsung cepat, panas, penuh emosi. Kata-kata saling lempar tanpa kendali.
Di tengah semua itu, Nadia berdiri perlahan… lalu melangkah mundur.
Satu langkah.
Dua langkah.
Ia menyaksikan semuanya dari jarak yang semakin menjauh. Otaknya bekerja keras, menghubungkan potongan-potongan yang sejak tadi mengganggunya.
Tanda merah di leher Clara.
Aroma parfum pria yang melekat di tubuhnya.
Reaksi Galang yang terlalu emosional bukan terkejut semata, tapi panik.
Semuanya perlahan membentuk gambaran yang begitu jelas dan begitu menyakitkan.
Dada Nadia terasa sesak. Nafasnya pendek. Tangannya gemetar.
Tanpa bertanya, tanpa perlu penjelasan tambahan, ia tahu.
Ada sesuatu yang selama ini disembunyikan darinya.
Dan
malam itu, di bawah lampu taman yang temaram, Nadia menyadari bahwa bukan hanya satu hatinya yang hancur melainkan seluruh dunianya sedang runtuh, pelan tapi pasti.