NovelToon NovelToon
The Phantom

The Phantom

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Dark Romance / Kriminal
Popularitas:367
Nilai: 5
Nama Author: Nameika

Di kota Valmere, nama Phantom dibisikkan seperti legenda.
Seorang kurir bayangan. Pembunuh yang tak pernah gagal.

Leon hidup di dunia yang gelap dan presisi—sampai satu malam peluru yang bersarang di tubuhnya memaksanya masuk ke sebuah klinik kecil di Distrik 6.
Di sana ia bertemu Alice Arden, seorang dokter yang tidak bertanya siapa dia, dan tidak takut pada darah yang dibawanya.

Namun ketika dunia bawah mulai memburu sesuatu di distrik itu, Leon menyadari satu hal yang berbahaya.
Target yang mereka cari…

Mungkin adalah satu-satunya orang yang memperlakukannya seperti manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nameika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29 — Ruang Tanpa Kepercayaan

"Kalau ini tempat amanmu… kenapa rasanya seperti penjara?”

Suara Alice terdengar pelan, namun cukup tajam untuk menembus kesunyian yang membeku di dalam ruangan itu. Ia memeluk tas medisnya erat-erat, seolah benda itu adalah satu-satunya jangkar yang tersisa di dunia yang baru saja runtuh.

Leon tidak langsung menjawab. Ia berdiri di dekat pintu baja yang baru saja menutup dengan bunyi dentum berat—sebuah suara final yang seolah mengunci dunia luar, suara hujan, dan bising mesin kota Valmere di balik dinding beton setebal setengah meter.

Di dalam, tidak ada jendela. Cahaya hanya berasal dari belasan monitor yang berkedip-kedip, memantulkan warna biru pucat yang dingin ke permukaan dinding beton yang kasar. Tempat ini bukan rumah. Ini bukan tempat tinggal. Ini adalah bunker, sebuah sel isolasi teknologi tinggi yang dirancang untuk menghilang dari radar dunia.

Alice melangkah pelan, sepatu botnya yang basah meninggalkan jejak samar yang segera menguap di lantai logam. Matanya bergerak cepat, menilai setiap sudut ruangan dengan ketajaman seorang dokter yang sedang mendiagnosis anomali.

Layar-layar itu menampilkan aliran data yang gila: peta satelit real-time, grafik enkripsi, feed kamera jalanan yang menangkap setiap pergerakan di Distrik 6, dan baris-baris kode yang bergerak terlalu cepat untuk dipahami manusia biasa. Tidak ada suara kehidupan di sini, hanya dengung statis dari sistem pendingin server yang bekerja tanpa henti.

“Selamat datang di titik buta Valmere.”

Suara itu muncul dari sudut yang paling gelap, tenang namun berwibawa.

Alice menoleh cepat. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat.

Seorang pria berdiri di sana. Setengah tubuhnya tersembunyi di balik bayangan rak server, setengahnya lagi diterangi pendar biru monitor. Rambutnya sedikit memutih di bagian pelipis, namun matanya tajam dan waspada—mata seorang pengintai yang sudah terlalu lama hidup di balik rahasia.

Gray.

Ia tidak tersenyum. Ia tidak memberikan sapaan hangat sebagai tuan rumah. Ia hanya berdiri di sana, menilai. Tatapannya turun perlahan dari wajah Alice, ke tangannya yang gemetar, ke tas medisnya, hingga ke postur berdirinya yang defensif. Gray menatapnya seolah Alice adalah spesimen laboratorium yang baru saja dibawa masuk ke mejanya.

“Jadi ini alasan kenapa Phantom lupa cara menyelesaikan kontraknya,” ucap Gray datar, nadanya mengandung sindiran yang halus namun mematikan.

Alice mengernyit, merasa harga dirinya tersinggung. Namun sebelum ia sempat membalas, Leon sudah bergerak. Dengan kecepatan yang sulit ditangkap mata, Leon melangkah satu langkah ke depan, menempatkan dirinya tepat di hadapan Alice.

“Jaga ucapanmu,” desis Leon. Suaranya rendah, tidak keras, namun cukup untuk membuat udara di ruangan itu mendadak terasa berat. Ada ancaman nyata dalam nada bicaranya.

Gray mengangkat satu alis, tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun. Ia adalah pria yang membangun Phantom; ia tahu persis di mana tombol kendali Leon berada.

“Aku tidak mengubah fakta, Leon. Aku hanya mengatakannya dengan jujur,” balas Gray. “Kau membawa aset sepuluh juta dollar ke ruang kerjaku tanpa rencana ekstraksi.”

“Dia bukan target,” potong Leon tajam.

“Semua orang adalah target,” balas Gray cepat, suaranya naik satu oktav. “Hanya masalah waktu sebelum seseorang menarik pelatuk. Dan kau tahu itu lebih baik dari siapa pun.”

“Berhenti.”

Alice mengangkat tangannya sedikit, telapak tangannya terbuka. Keduanya tidak langsung bereaksi, namun atmosfir di antara mereka mulai retak. Alice melangkah maju, memecah barisan, berdiri tepat di tengah kedua pria yang saling mengunci pandangan itu.

“Berhenti bicara seolah-olah aku tidak ada di ruangan ini,” kata Alice, suaranya kini stabil.

Sunyi jatuh. Untuk pertama kalinya, Gray benar-benar menatap mata Alice—bukan sebagai objek kontrak, tapi sebagai manusia yang mulai menunjukkan taringnya.

“Menarik,” gumam Gray pelan. “Dia punya tulang punggung.”

“Aku bukan barang,” tegas Alice, matanya menatap Gray tanpa gentar. “Dan aku juga bukan ‘paket’ yang bisa kalian bicarakan seolah-olah aku tidak punya pilihan atas hidupku sendiri.”

Leon tidak menyela. Ia hanya berdiri di samping Alice, matanya tetap waspada pada Gray, namun tubuhnya sedikit rileks. Ia menyerahkan panggung itu pada Alice.

Gray menyandarkan tubuhnya ke meja kontrol yang penuh dengan kabel. Ia mengambil napas panjang, menatap Alice dengan tatapan yang sedikit lebih lembut, namun tetap waspada. “Kalau begitu, mari kita bicara sebagai manusia, Dokter Arden.”

Alice menunggu, bahunya menegang.

“Manusia tidak kabur tanpa alasan,” Gray melanjutkan dengan suara yang tenang namun menekan. “Dan manusia tidak diburu dengan sumber daya sebesar Helix kecuali mereka membawa sesuatu yang sangat berharga di dalam kepala mereka.”

Ruangan itu terasa lebih dingin sepuluh derajat. Alice mengepalkan tangannya di balik jas medis yang basah.

“Jadi,” lanjut Gray, “kau mau mulai dari mana? Dari kebohongan yang kau ceritakan pada Leon, atau dari masa lalu yang kau coba kubur di klinik kumuh itu?”

“Aku tidak berbohong,” Alice membela diri, namun ia tahu Gray bisa mencium keraguan sekecil apa pun.

Gray tersenyum tipis, jenis senyum yang membuat Alice merasa telanjang di bawah sinar lampu interogasi. “Semua orang berbohong, Alice. Bahkan pada diri mereka sendiri.”

“Cukup.” Leon menyela, ia melihat Alice mulai terpojok.

Gray menoleh ke arah muridnya itu. Dua pria dengan masa lalu yang terikat kini berdiri dengan arah yang mulai berbeda. “Kau membawanya ke sini, Leon. Itu berarti kau sudah memilih sisi. Kau sudah melanggar aturan utama kita: jangan pernah terikat.”

“Aku tidak memilih sisi,” jawab Leon dingin. “Aku memilih hasil. Dan hasilnya adalah dia tetap hidup.”

“Dan hasilmu sekarang adalah membawa perang Helix ke pintu kita sendiri,” balas Gray.

Sunyi kembali menguasai bunker. Di layar monitor, data terus mengalir—titik-titik merah di peta Valmere yang menandakan pergerakan unit penyisir Helix. Alice menatap Leon, menyadari satu kebenaran pahit.

“Jadi benar,” katanya pelan pada Leon. “Kamu tahu semuanya sejak awal. Kamu tahu siapa aku sebelum kamu menjemputku di klinik.”

Leon tidak menjawab. Keheningannya adalah konfirmasi yang paling menyakitkan bagi Alice. Ia merasa dikhianati oleh satu-satunya orang yang ia percayai sebagai penyelamat.

Alice membuang muka, lalu beralih kembali ke Gray. Matanya kini berkilat dengan keputusasaan yang berubah menjadi keberanian. “Katakan saja. Apa sebenarnya yang mereka inginkan dariku? Aku hanya seorang dokter distrik.”

Gray menatap Alice lama, seolah sedang menimbang apakah wanita ini siap mendengar kenyataan yang sesungguhnya. Ia berjalan mendekat, kini sepenuhnya keluar dari bayangan, menampakkan wajahnya yang keras.

“Helix tidak pernah kehilangan sesuatu, Alice,” kata Gray, suaranya merayap masuk ke telinga Alice seperti bisikan maut. “Mereka hanya… menunda untuk mengambilnya kembali.”

Alice menelan napas. Langkahnya mundur setengah langkah. Ingatan yang ia kunci rapat-rapat selama lima tahun mulai berontak di balik kepalanya. Bayangan laboratorium yang meledak, api yang menjilat langit-langit, jeritan ayahnya, dan aroma darah yang bercampur kimia.

“Tidak…” bisiknya.

Leon bergerak mendekat secara refleks, tangannya hampir menyentuh bahu Alice, namun ia menahannya. Gray memperhatikan gerakan protektif itu dengan tatapan penuh arti.

“Sekarang kau mulai mengerti,” kata Gray pelan. “Kau berpikir pelarianmu ke Distrik 6 adalah sebuah kemenangan kecil. Kau berpikir ledakan lima tahun lalu sudah menghapus keberadaanmu dari database mereka.”

Alice mengangkat kepala, matanya bergetar. “Aku sudah mati bagi mereka. Ayahku memastikan itu. Ledakan itu seharusnya menghapus semuanya.”

“Ledakan itu tidak pernah meyakinkan mereka, Alice,” potong Gray tanpa empati. “Helix tidak percaya pada kematian tanpa mayat yang terverifikasi.”

Hening. Kata-kata itu jatuh seperti peluru yang menembus keheningan bunker. Gray melangkah satu langkah terakhir, berdiri tepat di depan Alice, mengunci tatapannya.

“Dan ada satu hal lagi yang perlu kau pahami, Alice. Sesuatu yang akan mengubah caramu memandang dunia ini.”

Alice menatapnya, menanti vonis.

“Jelaskan,” desak Alice dengan suara bergetar.

Gray menatap langsung ke mata Alice, suaranya kini terdengar sangat dingin, nyaris seperti vonis dari hakim yang tidak mengenal ampun.

“Kau tidak pernah benar-benar kabur dari Helix selama lima tahun ini, Alice.”

Alice tidak bergerak. Ia bahkan lupa cara bernapas.

Gray melanjutkan, suaranya lebih pelan.

“Organisasi seperti mereka tidak pernah percaya pada kematian tanpa tubuh.”

Ia menatap tajam.

“Mereka mungkin menutup kasusmu… tapi mereka tidak pernah benar-benar berhenti mencarimu.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!