"Saya menikahimu karena saya bertanggung jawab telah menidurimu, kamu jangan berharap apapun dalam pernikahan ini." ~Reno Mahesa.
-
-
Deana benci saat Reno memaksanya untuk menikah dengannya. Bukan karena cinta, tapi karena Reno takut Deana mengandung benihnya dan meruntuhkan karirnya saat anaknya lahir nanti.
-
-
Bagaimana kelanjutan kisah mereka? ayo klik tanda baca dan ikuti alur ceritanya✨️‼️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ditaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: Pernikahan
Tiga hari kemudian, suasana di teras depan rumah Tuan Samuel sudah dihias dengan kelambu putih dan nuansa cream coklat.
Hari ini Reno akan melangsungkan acara pernikahannya dengan Deana, pun dengan persetujuan pernikahan kontrak yang sudah Deana tandatangani.
Deana awalnya ragu karena baginya pernikahan adalah suci dan bukanlah sebuah permainan. Karena Reno mengiming-iming dengan berbagai cara, akhirnya mau tak mau Deana mengiyakannya.
"Sah!"
"Sah!"
"Sah!"
Suara para saksi menggema di sana, semua orang langsung mengucap syukur. Akhirnya Reno dan Deana sudah resmi menjadi sepasang suami istri dalam ikatan pernikahan yang sah.
Reno menghela napasnya berat, lalu melirik pada Deana yang sudah sah menjadi istrinya. Deana terlihat sangat cantik dengan pakaian pengantinnya.
Nyonya Ellen dan Tuan Samuel langsung meninggalkan tempat duduknya dan masuk ke dalam rumahnya.
Ibu Hesti dan Tio menghampiri keduanya dan mengucapkan selamat pada mereka.
"Selamat atas pernikahanmu sayang, semoga langgeng sampai akhir hayat." ucap Ibu Hesti lalu memeluk Deana. Air matanya sejak pagi tadi sudah mengalir deras karena teringat dengan mendiang suaminya yang sudah lama meninggal dunia.
"Aminn, makasih Bu." balas Deana mengangguk.
"Nak Reno, tolong jaga putri Ibu, Ibu percaya Nak Reno bisa menjaga Deana dengan baik." ujar Ibu Hesti menatap wajah Reno.
Reno mengangguk, "Iya Bu." balasnya lalu menjabat tangan Ibu Hesti dengan sopan dan berlanjut menjabat tangan Tio.
"Adik Deana ya?" tebak Reno. Ia baru kali ini melihat bentukan wajah Adik dari Deana.
Tio mengangguk, "Iya Kak." sahut Tio. Tio senang akhirnya bisa melihat Kakaknya menikah dengan seorang laki-laki yang jauh lebih baik daripada Arya.
Reno mengangguk. Ia juga hampir melupakan Adiknya, Bramana. Bram tidak bisa hadir karena harus melanjutkan kuliah S2 nya yang hanya tersisa empat bulan lagi.
Acara itu hanya berlangsung selama kurang lebih dua jam, setelah makan bersama, semuanya langsung pulang ke rumah masing-masing.
Ibu Hesti dan Tio juga langsung kembali ke rumah.
Kedekatan Deana dan Lena juga terjadi di sana, Lena yang memakai pakaian serasi dengan Reno dan Deana, sekarang Lena duduk di samping Deana sambil memakan sereal kesukaannya.
Deana duduk di sofa yang kosong, berduaan dengan Lena saja, sementara yang lainnya sedang berkumpul di ruang keluarga.
Deana menghela napasnya berat, "Apa aku salah mengambil langkah ini?" tanyanya dalam hati sambil mengelus kepala Lena dengan lembut.
"Mommy, Len mau ini." ucap Lena yang memainkan ponsel Deana, menunjukkan beberapa gambar es krim di sana.
"Iya, tapi Len harus tanya Daddy dulu ya. Mommy tidak tahu." balas Deana tersenyum mencoba memberi pengertian.
Lena memanyunkan bibirnya ke depan, "Kalau sama Daddy pasti nggak boleh." ucapnya.
Deana terkekeh, "Oh ya?"
Lena mengangguk, "Iya."
Deana mengelus pipi Lena dengan sayang.
Kedatangan Zavia memasuki rumah itu langsung ceriwis saat melihat Deana duduk seorang diri saja tanpa ikut gabung bersama keluarganya.
"Deana sini makan bareng...!!" ajak Zavia menyeru.
"Len sayang, ayo ajak Mommy Deanya ke sini." seru Zavia lagi.
"Reno, Deana itu istrimu, kenapa nggak diajak makan bareng. Kasihan dia, pasti belum makan dari pagi, nanti kalau pingsan bagaimana." geram Zavia mendengus pelan menatap Reno yang sedang mengusap mulutnya dengan tisu.
Reno berdiri dari duduknya, "Reno ingin pergi ke kantor." ucapnya lalu melangkahkan kakinya hendak pergi.
Zavia menarik tangannya, "Reno, kamu tidak mengambil cuti di hari pernikahanmu? Tega sekali kamu." hardiknya.
Reno mendengus kesal, "Sudahlah Kak." balasnya lalu menepis tangan Zavia yang sedang memegang ujung bajunya.
Zavia menatap kedua orang tuanya yang sama sekali tidak menyukai Deana itu. Mereka anggap Deana adalah baby sitter untuk cucunya.
Bukannya mendekat, Deana justru mengajak Lena untuk menjauh dari sana dengan alasan ingin menghapus makeup dan mencuci wajahnya.
"Mom... Dad... Kenapa kalian jadi jahat seperti ini...?? Zav tidak menyangka. Kasihan Dea, dia pasti sakit hati diperlakukan seperti ini. Tolonglah kalian berdua nasehati Reno." dengus Zavia pelan.
"Zav, Reno saja tidak mencintainya. Pernikahan juga di atas kertas, untuk apa menganggapnya sebagai menantu?" sahut Daddy Samuel.
"Bun sudah, kemari...." ajak Noah, ia mencairkan suasana istrinya yang emosi itu.
Zavia mengangguk. Ia mengambil makanan dan membawanya menghampiri suami dan anak sulungnya, Azam.
"Abang Azam ambil makan sendiri, minta tolong ke Opa." ujar Zavia menatap putra sulungnya yang sibuk mengelus benda pipihnya itu.
"Iya Bun."
"Sini Abang Azam, makan sini sama Opa." ajak Daddy Samuel pada cucu pertamanya.
"Iya Opa. Bun, Abang mau makan di kursi sama Opa dan Oma." ucap Azam lalu menaruh hpnya di pangkuan Zavia, dan berlari mendekati Opa dan Omanya untuk makan bareng mereka.
***
Deana di tempatkan sementara di kamar tamu, ia mulai menghapus makeupnya setelah melepaskan perintilannya di kepalanya.
Lena setia menemani Mommy Cantiknya ditemani dengan Vania. Ada Suster Ina juga yang sedang menyuapi Vania dan Lena makan.
"Nyonya Deana, kalau Nyonya membutuhkan sesuatu, bilang saja pada Sus Ina ya... Biar Sus Ina bantu." ucap Suster Ina. Ia merasa kasihan karena semuanya seperti mengucilkan Deana.
Deana tersenyum, ternyata masih ada orang baik di sana, "Terima kasih banyak Suster Ina."
"Sus Ina, nanti malam, Len mau tidur dengan Mommy." ucapnya.
"Iya, nanti kamarnya Sus bersihkan dulu ya...."
"Sus Ina, mau lagi. Aaaa...." ucap Vania membuka mulutnya.
Suster Ina kembali menyuapi keduanya dengan berbeda sendok tapi dalam satu piring yang sama.
"Nyonya Deana ingin makan?" tanya Suster Ina.
"Apa boleh Sus? Dea merasa nggak enak. Dea beli saja." ucap Deana menatap Suster Ina.
Suster Ina menepuk pelan keningnya mendengar perkataan Deana, "Pelayan dapur sudah memasak banyak untuk pesta kalian. Nyonya Dea bantu suapi mereka ya, biar Sus Ina bawa ke sini makannya." ujar Suster Ina lalu memberikan piringnya pada Deana.
Deana mengangguk, "Kakak Vania dan Lena habis ini temani Mommy makan ya." ucap Deana lalu kembali menyuapi mereka.
"Oke Aunty." balas Vania mengangguk.
"Iya Mommy. Aku mau sama Mommy saja." ucap Lena menyengir kuda menatap wajah Deana.
***
Sehabis melaksanakan akad dan resepsi sederhana, Reno sudah ada di kantor lagi. Semua orang yang melihatnya kaget karena setahu mereka, direktur utamanya sedang melangsungkan acara pernikahan intimate wedding itu.
Jordi yang sudah tahu Reno akan datang ke kantor langsung menyambut kedatangannya, "Tuan, selamat siang." ucap Jordi.
Reno mengangguk, "Jo, suruh OB membuat jus jeruk untukku." ucapnya sekilas lalu melangkahkan kakinya berjalan menuju ke arah ruangannya.
Jordi mengangguk tipis, ia segera menghubungi nomer bagian dapur dan meminta segelas jus jeruk segera diantar ke ruangan Reno.
Tidak menunggu waktu lama, akhirnya pesanan Reno datang. Pelayan tidak diperkenankan masuk ke dalam ruangan Reno kecuali membersihkan ruangan ataupun disuruh, jadi Jordi yang membawanya masuk ke dalam ruangan Reno.
Jordi memasuki ruangan Reno, ia melihat Reno sedang fokus dengan laptop di pangkuannya. Reno duduk di atas sofa. Mendengar pintu terbuka, Reno sudah bisa menebaknya siapa yang datang.
"Tuan, ini pesanan Anda. Ada yang bisa saya bantu lagi?" tanya Jordi sembari menaruh nampan berisi satu gelas jus jeruk itu di atas meja.
"Rumah yang saya beli, apa sudah bisa ditempati?" tanya Reno.
Reno menaruh laptopnya di samping kirinya lalu mengambil gelas jus jeruk itu dan meminumnya. Rasa manis dan asam membuat tubuhnya jauh terasa lebih segar.
Jordi mengangguk, "Hari ini sedang dibersihkan, besok langsung bisa di tempati, Tuan."
"Hm." gumam Reno mengangguk.
"Saya permisi dulu Tuan. Mari...." pamit Jordi pada atasannya dengan sopan sambil membawa nampan kayu yang kosong itu.