NovelToon NovelToon
Magic Knight: Sunder-soul

Magic Knight: Sunder-soul

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Antagonis
Popularitas:110
Nilai: 5
Nama Author: Arion Saga

Arion adalah seorang pemuda biasa yang terobsesi dengan novel fantasi populer berjudul Magic Knight, ia bukan penggemar pahlawan suci kerajaan Ashford, namun seorang antagonis yang namanya samapersis Arion. Arion didalam cerita novel, merupakan seorang antagonis yang dikhianati oleh kerajaannya sendiri, ia putra mahkota yang dilengserkan karena alasan Arion terlalu kejam dan tidak layak untuk menduduki tahta, namun kenyataannya para petinggi istana taku akan kekuatannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arion Saga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21. Malam Berdarah

Di lorong bawah tanah yang pengap dan berbau besi, Liora berdiri mematung di depan sel tahanan.

Di belakangnya, Komandan Garl masih berada dalam posisi berlutut yang janggal; tubuhnya membeku, napasnya tersengal, dan jiwanya seolah telah tercabut meski raganya masih dipaku oleh belati-belati Liora ke lantai batu yang dingin.

Dari balik kegelapan pintu masuk, sebuah langkah kaki yang teratur dan tenang terdengar.

Sebas muncul dengan setelan jas yang masih sangat rapi, seolah-olah kekacauan berdarah di luar sana tidak berani menyentuh sedikit pun ujung pakaiannya.

"Kau melakukannya dengan sangat meriah... Nona Liora," ucap Sebas.

Suaranya dingin namun mengandung nada pujian yang tulus khas seorang pelayan setia yang sedang menginspeksi hasil kerja rekannya.

Liora tidak langsung menoleh.

la sedang menempelkan wajahnya pada jeruji besi, menatap anak-anak yang meringkuk ketakutan di dalam sana.

"Hei... jangan takut," bisiknya dengan nada yang dipaksakan lembut, meski sisa-sisa haus darah masih terpancar dari matanya.

"Bedebah itu sudah kubunuh kok. Kalian aman... kalian bisa keluar nanti."

Anak-anak itu hanya gemetar, tak sanggup menjawab, terhimpit antara rasa syukur dan ketakutan melihat sosok Liora yang bersimbah darah.

Liora kemudian bangkit dan menoleh ke arah rekan sejawatnya.

"Owh, Sebas. Apa yang kau lakukan di sini?"

"Ada tugas yang harus diselesaikan," jawab Sebas singkat.

la tidak terlalu memperhatikan anak-anak budak itu; fokusnya adalah efisiensi misi. Matanya yang tajam menyapu setiap sudut dinding marmer di ujung lorong, mencari sesuatu yang tidak selaras dengan arsitektur ruangan.

Clack.

Sebas menekan sebuah ornamen tersembunyi yang menyerupai hiasan kepala singa. Sesaat sebelum ia melangkah masuk, ia berhenti dan melirik sekilas ke arah sel.

"Kalian, tunggu di sini. Setelah pertarungan di luar selesai, aku akan membawa kalian keluar dari tempat ini."

Dinding batu itu bergeser tanpa suara, menyingkap sebuah pintu rahasia yang menuju ke bawah-tangga melingkar yang mengarah ke ruang pribadi Putri Valerica yang tersembunyi.

"Apa Tuan Arion yang menyuruhmu?" tanya Liora sambil mengikuti langkah kaki Sebas menuruni tangga.

"Beliau menginginkan 'paket' yang ada di bawah sini," jawab Sebas tanpa menoleh, langkahnya tetap stabil dan anggun saat cahaya obor mulai menerangi ruangan mewah di ujung tangga.

Langkah kaki Sebas dan Liora membawa mereka ke kedalaman yang lebih mengerikan dari sekadar sel penjara.

Ruangan yang mereka masuki adalah perpaduan antara kemewahan yang memuakkan dan kekejaman yang murni.

Di satu sisi, ruangan itu dihiasi furnitur beludru dan lampu kristal, namun di sudut lainnya, terdapat sebuah sumur besar yang meluap dengan tumpukan tulang belulang dan sisa-sisa mayat yang membusuk -sebuah tempat pembuangan bagi mereka yang tidak selamat dari "hiburan" sang putri.

Di tengah kegelapan yang kontras itu, Kaldor duduk bersantai di atas kursi kebesarannya. Kakinya yang besar terjulur lurus di atas meja kayu ek yang mahal, seolah-olah ia sedang menikmati pertunjukan yang membosankan.

"Ooh, hebat... hebat kalian bisa sampai ke sini," ucap Kaldor dengan suara parau yang menggema.

la berdiri perlahan, meregangkan otot-ototnya, lalu menggelengkan kepala sambil memegang leher dengan tangan kirinya, menciptakan bunyi gemertak tulang yang nyaring.

Mata Sebas tidak tertuju pada Kaldor, melainkan melirik tajam ke arah sosok yang tergeletak di lantai tak jauh dari meja tersebut.

Eric.

Pria itu terbaring lemah dengan luka- luka yang menyayat hati; kulitnya membiru dan napasnya tersengal di antara genangan darahnya sendiri.

"Apa dia masih hidup?" tanya Sebas dingin. Kaldor menyeringai, menampakkan deretan taringnya yang tajam.

"Yaah... Tuan Putri melakukan hal-hal yang sangat 'menarik' padanya semalam. Tapi sampah ini punya daya tahan yang mengagumkan. Dia masih hidup."

Mendengar bahwa Eric telah dijadikan alat permainan penyiksaan oleh Valerica, suasana di ruangan itu mendadak membeku.

Tekanan udara turun drastis.

"Silakan, kalian bisa menyerangku bersamaan," tantang Kaldor dengan angkuh, membuka kedua lengannya lebar-lebar.

Liora, yang biasanya meledak-ledak, kali ini hanya berdiri bersandar di dinding batu yang dingin.

la memutar-mutar belatinya dengan jari-jemari yang lincah, menatap Kaldor seolah-olah pria itu hanyalah bangkai yang sedang menunggu waktu untuk dikubur.

"Itu tidak perlu," jawab Sebas tenang.

Sebas melangkah maju. Langkahnya pelan, anggun, namun pasti, hingga ia berdiri tepat di hadapan Kaldor.

Hanya ada selisih satu langkah di antara mereka. Jarak yang sangat berbahaya bagi siapa pun, namun Sebas tampak begitu rileks dalam balutan jas hitamnya yang rapi.

Mereka saling beradu tatap. Kaldor yang raksasa dan Sebas yang ramping namun memancarkan otoritas yang menindas.

"Tunjukkan kemampuanmu, binatang..." ejek Sebas dengan nada suara yang begitu rendah dan menghina.

"Heh." Kaldor tertawa sinis, matanya berkilat kuning penuh amarah.

Tanpa peringatan, Kaldor melayangkan pukulan maut. Tinju raksasanya membelah udara dengan kecepatan yang seharusnya mampu menghancurkan dinding baja.

Namun, pemandangan berikutnya membuat Liora tersenyum tipis: Sebas hanya mengangkat tangan kanannya, menahan tinju seberat ratusan kilogram itu hanya dengan satu jari telunjuk.

Deg.

Jantung Kaldor berdegup kencang. la segera melancarkan serangan bertubi-tubi-pukulan, tendangan, hingga sabetan kuku tajam.

Namun, dengan gerakan yang hampir terlihat seperti tarian, Sebas menghindar dengan sangat enteng.

la hanya bergeser beberapa inci, menangkis setiap serangan mematikan itu dengan tepukan tangan ringan seolah sedang mengusir lalat yang mengganggu.

Kesabaran Kaldor mencapai batasnya. Harga dirinya sebagai komandan elit Beast terkoyak melihat bagaimana seorang pelayan manusia mempermainkannya seperti anak kecil.

Urat-urat di dahinya menonjol, dan aura ungu gelap mulai meledak dari pori-pori kulitnya.

"Kau... manusia sialan!" raung Kaldor.

Tubuh Kaldor mulai bergetar hebat. la tidak lagi peduli pada instruksi untuk menahan diri.

Harga dirinya yang terluka menuntutnya untuk mengeluarkan kemampuan tersembunyi yang selama ini ia simpan untuk pertempuran besar. Ruangan itu mulai berguncang hebat seiring dengan perubahan bentuk Kaldor yang semakin mengerikan.

Atmosfer di dalam ruangan mewah itu mendadak berubah drastis.

Tekanan udara menjadi begitu berat hingga lantai marmer mulai retak di bawah pijakan Kaldor. Perlahan, sisik-sisik hitam yang berkilau mulai muncul, merambat dari ujung jari tangan hingga menyelimuti kakinya.

Tubuhnya membesar, otot-ototnya memadat, dan sepasang sayap membran yang belum sempurna muncul dari punggungnya.

Kaldor bukan sekadar Beast biasa; ia adalah keturunan dari Ras Naga, predator puncak yang nyaris punah.

Dengan zirah artefaknya yang ikut membesar mengikuti perubahan fisiknya, Kaldor kini berdiri sebagai sosok manusia naga yang terlihat mustahil untuk dikalahkan.

"Owh... sudah cukup lama aku tidak melihat pemandangan ini," ucap Sebas.

Nada suaranya tidak menunjukkan ketakutan, melainkan sedikit kekaguman yang dingin.

Ras Naga sangat langka di zaman ini, keberadaan mereka yang tersembunyi membuat pertemuan dengan mereka menjadi peristiwa sekali seumur hidup bagi kebanyakan orang.

Sebas terdiam sejenak, pikirannya melayang pada masa lalu.

la pernah beberapa kali terlibat pertarungan dengan ras ini, bahkan pernah merasakan kekalahan pahit satu kali saat melawan Komandan Tertinggi Pasukan Naga.

Namun, melihat Kaldor saat ini hanya membuatnya bernostalgia, bukan merasa terancam. Baginya, naga memang kuat dan merepotkan, tapi bukan berarti tak bisa dijinakkan.

"Anggaplah ini kehormatan bagi kalian!" raung Kaldor, suaranya kini terdengar seperti geraman reptil purba.

Aura ungu yang meluap-luap dari tubuhnya menyebar ke seluruh ruangan, bahkan getarannya terasa hingga ke lorong luar.

"Hanya ada segelintir orang yang bisa menyaksikan sosok ini sebelum mereka menjemput ajal!"

"Anak muda memang selalu bersemangat," gumam Sebas pelan, seolah sedang menanggapi tingkah cucu yang nakal.

Kaldor, yang biasanya bertarung dengan tangan kosong, kini memanggil senjatanya- sebuah tombak panjang dengan mata pisau berbentuk taring naga.

la memutar tombak itu dengan kecepatan luar biasa, menciptakan pusaran angin yang menghancurkan perabotan di sekitarnya, sebelum menghentakkan ujungnya ke lantai dengan keras.

Boom!

"Sudah selesai akrobatnya?" batin Liora sambil menguap tipis, masih bersandar malas di dinding. Kaldor menerjang.

Tombaknya melesat, mengarahkan tusukan dan ayunan beruntun yang mengincar titik vital Sebas.

Namun, Sebas bergerak seperti bayangan di atas air.

la melompat dan menghindar tipis, hanya selisih beberapa milimeter dari mata tombak, tanpa pernah membiarkan ujung jasnya tergores sedikit pun.

Dalam sepersekian detik yang fatal bagi Kaldor, Sebas menghentikan gerakannya. Ternyata, sejak awal Sebas melangkah masuk, ia sudah menyiapkan jebakan.

Benang Baja Tak Kasat Mata-kemampuan spesial Sebas -kini telah melilit setiap sendi dan lekuk tubuh naga Kaldor.

Sebas mengaitkan jari telunjuk dan tengahnya, lalu menariknya perlahan.

Sret!

Lilitan benang itu mengerut kuat. Sisik naga yang terkenal sekeras berlian itu mulai pecah, mengeluarkan darah merah pekat yang mengalir di sepanjang benang.

"Tenang saja," ucap Sebas dengan senyum yang tidak sampai ke mata.

"Akan kuhindari kau terbunuh dengan mudah. Itu akan terlalu membosankan, bukan?" Wajah Kaldor yang bersisik berubah pucat pasi.

la mencoba meronta, namun setiap gerakan hanya membuat benang itu semakin tenggelam ke dalam dagingnya. Bagaimana mungkin seutas benang tipis bisa melukai kulit naga? Sebas menarik jemarinya lebih kencang.

Jling!

Suara itu terdengar halus namun mematikan.

Dimulai dari ujung jari-jari Kaldor, benang itu memotong dengan presisi bedah.

Sebas mengendalikan setiap helai benang seolah- olah ia sedang memainkan harpa kematian.

Perlahan tapi pasti, ia memotong apa yang ingin ia potong: pergelangan tangan, lengan, ujung kaki, hingga ke paha. Hanya dalam beberapa detik, Kaldor yang tadinya terlihat tak terkalahkan kini tergantung di udara, terikat oleh jaring benang Sebas dalam keadaan yang sangat mengenaskan.

Anggota tubuhnya yang terpotong rapi jatuh ke lantai marmer tanpa suara, menyisakan sang naga yang kini hanya menjadi batang tubuh yang berdarah.

Di sudut ruangan, Liora memperhatikan pemandangan itu dengan mata menyipit. la tidak lagi memainkan belatinya; perhatiannya sepenuhnya tersedot pada teknik yang baru saja diperagakan Sebas.

"Masih sedingin biasanya," batin Liora. la adalah sedikit dari orang yang tahu bagaimana Sebas bekerja.

Liora mengingat kembali setiap detik sejak Sebas melangkah masuk ke ruangan ini. Saat Sebas menahan tinju Kaldor dengan satu jari di awal tadi, itu bukan sekadar aksi pamer kekuatan. Di sela jemari Sebas, terselip cincin tipis yang menjadi pangkal benang-benang mikro.

Saat tinju Kaldor bersentuhan dengan jari Sebas, benang itu sudah melompat, menempel pada zirah sang komandan seperti parasit.

Lalu, saat Sebas melompat menghindari setiap tusukan tombak, ia sebenarnya sedang "menenun". Setiap gerakan menghindar Sebas adalah pola melingkar yang sengaja dibuat untuk menggiring Kaldor masuk ke dalam lilitan tak kasat mata. Kaldor yang terlalu fokus pada amarahnya tidak sadar bahwa setiap ayunan tombaknya justru membantu Sebas mengencangkan simpul mati di sekitar sendi-sendinya sendiri.

"Pasti merepotkan jika benda itu sudah menempel," gumam Liora pelan.

la sedikit bergidik membayangkan jika dirinya yang berada di posisi Kaldor.

Sekali benang itu menyentuh kulit, kau bukan lagi seorang petarung; kau hanya boneka kayu di tangan sang butler.

Kaldor kini tergantung di udara, meraung kesakitan saat potongan tubuhnya yang bersisik jatuh satu per satu ke lantai. Naga yang agung itu kini tak lebih dari sekadar eksperimen bedah bagi Sebas.

"Tuan Kaldor," Sebas mendekat, suaranya tetap tenang seolah tidak baru saja memutilasi seekor naga.

la berdiri di depan Eric yang tergeletak, menutupi pandangan pria malang itu dari pemandangan mengerikan di depannya.

"Seekor naga seharusnya tahu kapan harus terbang tinggi dan kapan harus merangkak. Kesalahan Anda adalah mencoba berdiri tegak di hadapan kami." Sebas mengepalkan tangannya dengan kuat.

CRACK!

Benang-benang yang tersisa di leher dan dada Kaldor mengerut seketika, menghancurkan zirah naga dan tulang belulangnya menjadi serpihan kecil. Sang Komandan Naga itu mati tanpa sempat mengeluarkan raungan terakhirnya.

Liora berjalan mendekat, melangkahi potongan tangan Kaldor dengan ekspresi jijik.

"Evaluasi dariku... 9 per 10, Sebas. Kau terlalu banyak bicara di akhir tadi."

Sebas hanya membungkuk hormat ke arah Liora, lalu segera berlutut di samping Eric untuk memeriksa nadinya.

"Saya akan menerima kritik itu, Nona Liora. Sekarang, bisakah Anda membantu saya membawa 'paket' ini? Tuan Arion tidak suka menunggu lama."

Liora hanya mendengus, namun ia tetap mendekat.

"Yah... Kau memang tidak suka jas itu kotor."

Di luar, suara ledakan dari halaman istana terdengar semakin keras-pertanda bahwa Hanz sudah mulai mengamuk.

Bersambung....

1
Leon 107
ngak tau lagi apa yang mau dibaca...
Leon 107
pertama...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!