NovelToon NovelToon
Sugar Daddy Kere

Sugar Daddy Kere

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Bhebz

Demi mendapatkan pembayaran SPP yang tertunggak dan kesempatan ikut ujian akhir, Ayu terpaksa mengikuti saran temannya mencari Sugar Daddy di sebuah kelab malam. Ia membutuhkan solusi instan—seorang pria kaya yang bersedia membayar mahal untuk kepatuhannya.

​Sialnya, bukan Sugar Daddy impian yang ia dapatkan, melainkan seorang pria dominan berwajah tampan yang, ironisnya, tak punya uang tunai sepeser pun di dompetnya. Pria itu adalah Lingga Mahardika, CEO konglomerat yang penuh rahasia.

​Lingga, meskipun kaya raya, ternyata adalah "Sugar Daddy Kere" yang sebenarnya—ia hanya bisa membayar Ayu dengan jaminan masa depan, martabat, dan pernikahan siri. Transaksi mereka sederhana: Ayu mendapatkan perlindungan dan status, sementara Lingga mendapatkan kepatuhan spiritual dan fisik untuk memadamkan hasratnya yang membara.

Akankah Cinta akan hadir diantara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 Sugar Daddy KR

Pagi datang dengan keheningan yang menyesakkan, membawa serta dinginnya malam yang belum terpecahkan.

Ayu terbangun dalam pelukan Lingga. Lengan kekar itu melingkari pinggangnya dengan kekuatan yang mencekik, seperti borgol yang terbuat dari otot. Rasa tawar yang ia rasakan semalam masih menggantung di udara, pahit dan nyata.

Ia mencoba melepaskan diri dengan hati-hati, tetapi cengkraman Lingga menguat.

“Kau tidak akan lari,” gumam Lingga, suaranya serak dan berat, bukan karena gairah, tetapi karena tidur yang gelisah. Matanya masih tertutup.

“Sudah pagi, Lingga,” bisik Ayu, jantungnya berdebar. “Aku harus menyiapkan sarapan dan pakaianmu.”

Lingga akhirnya membuka mata. Iris matanya yang tajam menatap wajah Ayu, mencari bekas air mata dan keraguan. Ia melihat ketakutan yang samar, tetapi juga ketetapan hati yang baru.

Lingga melepaskan pelukan itu perlahan, duduk, dan menyandarkan punggungnya ke sandaran tempat tidur. Ia terlihat kelelahan, seperti seorang raja yang baru saja memenangkan perang yang tidak ia inginkan.

“Ingat apa yang kukatakan semalam,” ucap Lingga, suaranya kini kembali pada nada otoritasnya yang biasa. “Kau adalah istriku. Tugasmu tidak hanya melayani kebutuhanku, tetapi juga untuk menghilangkan keraguanku. Keraguan adalah pintu masuk bagi racun.”

Ayu hanya menunduk, mengangguk pasrah. Ia tahu bahwa dalam permainan kekuasaan ini, Lingga akan selalu menang. Ia tidak punya hak untuk mencintai; ia hanya punya kewajiban untuk melayani.

Di meja makan, sarapan berlangsung dalam kebisuan yang berbeda. Biasanya, mereka saling bertukar pandang sekilas atau Lingga akan mengajukan pertanyaan tentang jadwal hari itu.

Pagi ini, Lingga sengaja menekankan peran Ayu sebagai asisten.

“Siapkan berkas properti di Cikarang. Aku butuh data lengkap tentang kasus Aleya dan rencana keuangan kuartal ketiga. Serta, pastikan jadwal makanku tidak terganggu,” perintah Lingga, suaranya formal dan datar, seolah mereka berada di ruang rapat, bukan di rumah.

Ayu menjawab dengan anggukan dan jawaban “Baik, Pak.” yang dingin dan profesional. Ia menyadari permainan Lingga: jika ia tidak bisa menjadi istri yang hangat, ia akan dipaksa kembali menjadi asisten yang dingin. Lingga tidak akan membiarkan ada celah emosional yang bisa dimanfaatkan oleh musuh.

Perlakuan yang sangat formal itu seperti cambuk tak terlihat. Lingga menegaskan batas: jika Ayu menolak keintiman batin sebagai istri, maka ia hanya akan menerima batasan formal sebagai karyawan.

Saat Lingga bangkit, ia tidak mencium kening Ayu seperti biasanya. Ia hanya menatapnya dengan pandangan dingin dan penuh perhitungan.

“Kita bertemu di kantor jam delapan, Ayu. Jangan terlambat. Banyak pekerjaan yang tertunda karena masalah pribadi.”

Kalimat itu adalah pengakuan bahwa penolakan Ayu semalam dianggap sebagai “masalah pribadi” yang mengganggu bisnis.

Di kantor, ketegangan itu semakin terasa. Lingga, yang biasanya tenang dan santai, kini menjadi direktur yang otoriter.

Di ruangannya, ia kembali memperlakukan Ayu dengan jarak yang disengaja. Namun, jarak itu bersifat ganda: ia memperlakukan Ayu dengan sangat profesional di depan semua orang, tetapi dia melakukan tindakan kecil yang hanya bisa dipahami oleh Ayu sendiri.

Ia meminta Ayu untuk mempresentasikan laporan di depan seluruh jajaran manajer. Ayu, yang biasanya hanya menyiapkan laporan, kini berdiri di depan ruangan yang penuh, harus tampil sempurna. Lingga tidak memberinya tepukan pujian; ia hanya memberinya tatapan kritis.

“Bagus, Ayu,” kata Lingga, setelah presentasi selesai. “Tapi perbaiki bagian anggaran promosi. Dan... tunggu di sini. Kau ikut pertemuan dengan klien dari Singapura.”

Perintah itu menempatkan Ayu di tengah sorotan. Semua orang tahu Ayu adalah asisten pribadi Lingga yang sangat dipercaya, tetapi kini Lingga memamerkannya—seolah berkata, ’Wanita ini adalah aset saya. Dia bekerja untuk saya, dan saya membayar dia dengan baik.’

Selama pertemuan dengan klien Singapura, Lingga sengaja meletakkan ponselnya di samping Ayu, dengan layar yang menampilkan foto pernikahan mereka. Foto itu terlihat profesional, tetapi Lingga tidak pernah memamerkannya sebelumnya.

Ini adalah pesan untuk dunia luar, dan terutama untuk Ayu: Aku menikahimu, dan ini adalah buktinya. Klaimnya bukan hanya teritorial di kamar utama, tetapi juga di ruang publik.

Sore hari, setelah semua pekerjaan formal selesai, Lingga akhirnya memanggil Ayu kembali ke ruangannya. Ia mengunci pintu.

Ayu berdiri di depan mejanya, hatinya berdebar. Ia takut Lingga akan menuntut apa yang ditolak semalam.

Lingga tidak bangun. Ia hanya memutar kursinya, menatap Ayu dengan pandangan yang dalam dan lelah.

“Apakah kau tahu mengapa aku melakukan semua ini?” tanya Lingga, suaranya kembali melembut.

Ayu menggeleng.

“Ketenangan,” jawab Lingga. “Aku tidak membelimu, Ayu. Aku membeli ketenangan yang kau bawa. Dunia di luar ini adalah neraka, dan aku membutuhkan surga kecilku di kamar itu. Aku butuh kepatuhanmu, aku butuh kesediaanmu, aku butuh dirimu yang tidak akan mengkhianatiku seperti wanita-wanita lain.”

Lingga bangkit dan berjalan ke arah Ayu. Ia tidak menyentuh, tetapi berdiri sangat dekat.

“Aleya benar tentang satu hal: aku membayar. Aku membayar dengan perlindungan, dengan martabat, dan dengan jaminan bahwa kau tidak akan pernah kelaparan. Itu adalah harga yang harus kubayar agar kau mau tidur denganku tanpa rasa bersalah dan agar kau bisa mendapat pahala.”

Lingga mengangkat tangan Ayu dan meletakkan sebuah kartu hitam di telapak tangannya.

“Ini adalah kartu tanpa batas. Gunakan untuk membeli apapun yang kau mau, kapanpun kau mau. Ini bukan untuk memenuhi kebutuhanmu; ini untuk memenuhi keinginanmu,” ucap Lingga, suaranya sangat rendah. “Anggap saja ini adalah bonus kesabaran karena harus menghadapi racun di luar sana. Kau adalah istriku, Ayu, dan istriku tidak boleh kurang satu pun dari hal yang ia inginkan.”

Ayu menatap kartu itu, lalu menatap Lingga. Hadiah itu terasa berat, seperti pengakuan terang-terangan bahwa cinta memang tidak ada; yang ada hanyalah transaksi.

“Aku tidak butuh ini, Lingga,” bisik Ayu. “Aku hanya butuh... kepercayaan.”

Lingga tersenyum pahit, senyum yang tidak mencapai matanya.

“Kepercayaan, seperti cinta, adalah sesuatu yang harus diusahakan, Ayu. Aku percaya kau akan menenangkan hasratku. Dan kau, kau harus percaya bahwa aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Itu adalah dasar dari pernikahan kita.”

Ia meraih tangan Ayu, mengambil kartu itu kembali, dan memasukkannya ke dalam saku blazernya.

“Sampai kau benar-benar percaya, kartu ini akan kutahan. Kau boleh menolak hasratku semalam, tetapi kau tidak bisa menolak kenyataan bahwa kau adalah milikku. Sekarang, siapkan mobil. Kita pulang.”

Lingga telah memenangkan pertarungan kekuasaan itu dengan cerdas. Ia menggunakan uang, otoritas, dan kepemilikan. Ayu menyadari, ia tidak bisa lari dari takdir ini. Ia adalah istri Lingga—hanya saja, ikatan itu terbuat dari emas, bukan dari hati.

***

1
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
pasti ayu merinding dengar kalimat itu....
pasti bulu bulunya berdiri....
upssss 🤭🤭🤭
bulu yang mana ea bun
..????
ciiynn 2
uuuww menggoda~😖
ciiynn 2
duhhh berani bgt
ciiynn 2
duhhhhh😷
ciiynn 2
tersenyum tipis? dia tidak tersenyum tapi hatinya yang tersenyum😏
Halah mas mas senyum aja gengsiiii
ciiynn 2
haha🤣🤣🤣
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
waduh jamu guncang jagad....weleh welehhh itu bisa bikin remukkk kasur dong bun🤭🤭🤭🤭
novi a.r
good novel, good job thor, cemungut
Bhebz: makasih banyak kk
total 1 replies
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
semua cuma omong kosong... lambat laun nty saling jatuh cinta... gak mau pisahhhhg
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
😀😀😀😀
jadi lingga lagi tak bermoral donk bunda....?
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
sabar ay....
nty mlm kamu cari kotoran sapi lalu timpuk ke wajah lingga.... di jamin deh kamu puas.... cobain dehhhh
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
ahhhhh gak guna menggerutu...
mending langsung sat set antrin itu si baby kucing.... 😀😀😀
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
ea harus pahit..
karna yang kau pandang lurus lurus sudah manis..
jadi pahit itu sudah tak terasa lagi saat memandang ayu
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
bukan pengawal/peramal ayu dia pelawak 😃😀🤭
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
setipis apakah senyuman itu... apa setipis tisu basah / kering bun.....???
srius tanya dengan nada halus sehalus sutra.....
HanaShui🌺
gak yakin Yu🤣
HanaShui🌺
debaran jantung ni yeee
Daniaaa
waduh nyesel 🤣
Daniaaa
awal yang keren Thor
Sofiaa
seruuuu thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!