Kisah cinta pandangan pertama seorang pria dewasa kepada gadis muda, yang merupakan anak dari teman baiknya, dan berakhir menjadi obsesi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhahra Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24. Menolak Percaya
Sekumpulan wanita kelas atas tengah berkumpul di salah satu restoran mewah. Ruangan VIP yang mereka tempati membuat pembicaraan begitu lepas, tanpa takut ada orang lain yang mendengarnya.
Hidangan mahal, tas tas bermerek, pakaian serta aksesoris lainnya dengan harga selangit tersusun apik seolah menunjukan identitas mereka sebenarnya, yang bukan dari kalangan biasa.
Tawa menguar keras. Mereka senang atas perkumpulan hari itu, dengan formasi yang lengkap, akhirnya terwujud juga.
"Karena ini momen bersejarah setelah bertahun tahun, kita harus menikmatinya!" salah satu wanita mengangkat tinggi gelas wine miliknya, diikuti oleh semua orang disana.
"CHEERS!" mereka berucap serempak.
Satu persatu kembali meletakan gelas du atas meja setelah menyesap cairan di dalamnya.
"Kangen banget sama kalian semua!" Fitri, wanita yang sebelumnya kembali berbicara. "Apalagi sama lo," semua pandangan ikut tertuju pada orang yang di maksud.
"Iya loh, primadona sekolah kita pada zamannya" ujar yang lain, mendapatkan sorakan dari yang lain.
Sedangkan yang dimaksud hanya tersenyum sambil menggelengkan pelan kepalanya. "Kalian masih sama hebohnya kaya dulu"
"Kita itu terlalu kangen sama lo Diana, masa lo ga ngerti juga sih"
Diana, wanita yang masih terlihat cantik di usia yang sudah menginjak kepala empat itu kembali memberikan senyumnya menanggapi ucapan Fitri, teman lamanya.
"Tahu, tapi inget umur juga. Anak lo ada berapa sekarang"
Fitri mengibaskan tangannya, "Jangan bawa bawa anak. Kita ini lagi memanjakan diri. Lupain sebentar tanggung jawab rumah, lagipula ga tiap hari kita begini kan?"
Semuanya setuju.
"Oh iya, lo harus tahu apa yang terjadi waktu reuni kemarin" salah satu dari mereka mengingatkan.
"Nah bener. Mantan suami lo bawa cewe muda jadi pasangan dia"
Diana menyerit. Dia tidak mengetahui hal itu. Kemarin dia berbicara panjang lebar dengan David, tapi tidak ada membahas hal ini "Serius?"
"Serius lah. Nih gue punya fotonya" wanita itu menunjukan beberapa gambar yang berhasil dia abadikan secara diam-diam.
Dalam foto itu tampak Bastian menggandeng tangan seorang perempuan muda. Cukup banyak foto yang ia lihat, dan semuanya hanya menampilkan gambar serupa.
Bastian menggandeng tangan wanita tersebut. Sebuah tindakan yang cukup membuatnya heran karena itu sama sekali bukan sifat mantan suaminya.
"Siapa dia? Perempuan bayaran?" tanya Diana dengan pandangannya yang masih tertuju pada satu foto.
Kali ini Bastian sedang menyodorkan sendok berisikan makanan di depan mulut wanita tersebut.
Mantan suaminya itu bahkan menyuapinya?
Sungguh mengejutkan.
"Hus, jangan sembarangan. Menurut informasi yang gue dapet, katanya itu anak temen lamanya."
Fitri berdecih sinis, "Berarti dia ngibulin gue?" gerutunya, namun masih bisa di dengar oleh semua orang.
Benar.
Fitri adalah orang yang mendatangi Keisya hari itu. Dia melakukannya diam-diam, bahkan langsung pergi dari tempat acara setelah keluar dari toilet. Jadi saat ada gosip yang beredar tentang siapa perempuan yang bersama Bastian, ia melewatkannya.
"Jadi lo Fit orangnya?"
"Maksud lo apa?"
Kali ini semua orang melihat ke arah wanita yang mulai menceritakan apa yang terjadi. "Laki gue kan rekan bisnisnya Bastian. Habis pulang itu dia dapet telepon dari dia. Bastian tanya siapa yang tadi pulang duluan"
"Tunggu!" Fitri menyela, "Bastian ga kenal sama gue?!" pekiknya tidak percaya. Bagaimana mungkin! Mereka itu dulunya satu sekolah, bahkan tiga tahun berturut turut selalu dalam satu kelas yang sama.
Temannya itu tampak meringis, "Lo tahu sendiri Bastian gimana"
"Dasar kurang ajar. Bisa-bisanya dia begitu sama gue"
"Terus apa lagi?" desak Diana pada temannya.
"Oh, habis itu dia ngasih tahu nama dia sama nama suaminya juga. Kita ga tahu setelahnya gimana. Tapi laki gue mikir kalau itu ada hubungannya sama perempuan itu"
Yang lain ikut menimpali, "Berarti lo dalam bahaya Fit"
"Bukan cuma dia, tapi lakinya juga"
Fitri mulai merinding. Apakah benar separah itu? Bukannya perempuan itu hanya pasangan palsunya? Atau karena anak dari temannya? Tapi, apa tidak terlalu berlebihan, seolah Bastian benar-benar menyukai gadis muda tersebut.
Selama percakapan itu, Diana tidak lagi berbicara. Pikirannya masih tertuju pada foto yang dilihatnya beberapa saat lalu.
\=\=\=\=\=
"Gila, gosip lo berduaan sama tuh Om Om udah nyebar ke seluruh kampus" Sisi begitu heboh saat Keisya membukakan pintu untuknya.
Setelah beberapa hari tidak bertemu, Sisi mendatangi sendiri rumah temannya itu setelah pulang dari kampus.
"Makanya gue ga masuk kuliah. Males"
Keisya tahu apa yang terjadi. Sosial medianya dipenuhi oleh pesan masuk yang menanyakan tentang kebenaran yang terjadi.
Awalnya dia bingung, jadi memutuskan bertanya pada Sisi.
Begitu Sisi menunjukan sebuah postingan, barulah dia tahu apa yang sedang terjadi. Kebersamaannya saat keluar dari ruangan hari itu, juga jas yang melilit tubuhnya, terabadikan jelas dalam sebuah gambar, dengan caption yang menjurus pada kalimat provokatif.
Keisya kaget tentu saja, apalagi ada yang mengatainya sebagai sugar baby. Dan itu sangat mengganggunya.
Benar saja dugaannya. Berhubungan dengan Bastian akan membuat masa tenang kuliahnya menghilang dalam sekejap.
Keisya sudah memberitahu Bastian tentang hal ini. Namun alih-alih memberikannya solusi, respon pria itu justru sangat menyebalkan.
Begini katanya, "Biarkan saja orang lain tahu tentang kedekatan kita. Itu justru sangat menguntungkan untuk saya. Semoga saja bisa langsung sampai ke telinga Papa kamu."
Ingin sekali dia menggaruk wajah maskulin itu.
''Lagian lo juga sih, ngapain coba pake ketemuan di ruang dosen segala"
"Gue juga ga tahu. Dia yang tiba-tiba.dateng minta ketemu. Nyesel gue nanya tentang Haikal sama dia"
Sisi mengerutkan keningnya, "Apa hubungannya sama Haikal?"
Keisya menunjukan ekspresi serupa, "Ya ada lah, orang dia anaknya"
"What!" Sisi terkejut bukan main. Matanya melotot sejati jadinya. "Haikal anak si Om?!"
"Tunggu, lo ga tahu Haikal anaknya Om Bastian?"
Dengan keterkejutan yang masih tersisa, Sisi menggelengkan kepalanya. Dia tengah berpikir, apakah Vincent juga tidak tahu hal ini?
Sepertinya tidak.
Dia masih ingat saat mereka menggosipkan Bastian selama di perjalanan saat mereka sedang motoran.
"Kei, lo serius?" tanya Sisi lagi.
"Serius Sisi. Buat apa juga gue bohong? Haikal emang anaknya Om Bastian. kakaknya David"
Sisi tiba-tiba terpikirkan satu hal, "Sekarang gue tahu kenapa Haikal tiba-tiba pergi"
"Gue kan udah cerita, dia nerusin usaha bokapnya"
Waktu itu Keisya memang mengatakan alasan itu padanya. Dia pikir temannya itu tahu dari Haikal sendiri, mengingat Keisya sama sekali tidak menyinggung soal Bastian dalam pembicaraan mereka.
Tapi sekarang, Sisi akhirnya paham. alasan sebenarnya kepergian Haikal yang begitu mendadak itu.
"Mampus lo Kei. Si Om beneran naksir berat sama lo" Sisi sangat heboh. Namun Keisya tidak menunjukan reaksi berlebih seperti dulu, karena ucapan Sisi adalah fakta.
"Terus si Haikal di usir sama si Om gara-gara kalian deket" Sisi menambahkan.
Barulah Keisya melotot. "Ngaco lo"
Sisi sangat gemas, "Si anjir, pake ga percaya lagi. Lo ga tahu aja si Om juga nyuruh dosen datengin Vincent minta dia buat ga deketin lo lagi"
"Ga mungkin" Keisya menolak percaya. Itu terlalu berlebihan. Bukan hanya tentang Haikal, tapi juga tentang Vincent. Meski begitu, dalam benaknya Keisya sedang memikirkan semua hal itu.
Apa Bastian benar-benar melakukannya?