" Hidup memang harus berani, berani pergi dari sesuatu yang tak pantas untuk di tinggali.
kisah Ana wanita paruh baya yang terpaksa menjadi tenaga kerja wanita(TKW) demi masa depan Anak-anaknya dan juga perjuangannya terlepas dari suami patriaki.
Ana yang selalu gagal dalam rumah tangga merasa dirinya tak layak di cintai sampai dia bertemu dengan laki-laki bernama Huang Lhi yang juga majikan tempatnya bekerja. Namun kisah cinta Ana dan Lhi tak semulus drama perbedaan kasta menjadi penghalang utama. bagaimana kisah mereka? Bisakah Ana mendapatkan cinta sejati? Kemana Akhir akan membawa kisah mereka?
Malam berakhir dengan gemerlap bintang-bintang dan bunga-bunga yang bermekaran mengantarkan pada mimpi yang menjanjikan sebuah harapan. Malam ini Ana lupa akan traumanya bunga di hatinya memaksa bersemi mesti tak pasti akankah tumbuh atau kembali layu dan mati.
ikuti terus kisah Ana dan jangan lupa dukungannya ....
terimakasih .. Update setiap hari, No libur kecuali mati lampu!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IbuAnna30, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 Berlibur
"Mata kamu sembab bener, An." sapa mbak Ika saat mereka kembali bertemu.
"Iya mbak, nggak bisa nahan nangis aku 2 minggu ini."jawab Ana sembari melihat
Tampilannya lewat layar handphone. Kita beli kaca mata monokrom dulu ya mbak, biar
Agak ketutupan sembab ku." Imbuh nya.
Mbak Ika tersenyum kecil melihat sahabat nya itu nampak kacau seperti habis di tinggal pergi sang kekasih, "iya nanti kita beli di "Taipe main station" Berangkat yok itu bus nya sudah datang." Lanjut mbak Ika.
Ana memutuskan untuk pergi berlibur, setelah hampir 2 minggu berkutat di rumah duka untuk acara sembahyangan sampai dengan kremasi Ama.
Majikan nya sendiri memintanya menunggu seminggu baru ia akan pulang ke agensi, alasannya ia ingin Ana membantu merapikan barang-barang peningggalan ama,
Sekalian beristirahat sejenak setelah lelah menjaga ibunya sampai dengan ritual pemakaman .
"Kapan kamu pulang ke agensi, An.'' Tanya mbak Ika saat mereka menuju tempat yang mbak Ika maksut.
"Lusa kayaknya mbak,'' jawab Ana.
"Udah ada indo job?" Tanya mbak ika sembari terus menggandeng Ana mencari toko kacamata.
"Belum, semoga cepet dapet." Sahut Ana yang pandangannya sibuk melihat kanan dan kiri.
Mereka sampai di sebuah toko kecil tempat menjual kacamata dan beberapa aksesoris. Ruang bawah tanah itu seperti pasar rupanya, bermacam-macam toko berjejer rapih bahkan ada toko indonesia juga yang menawarkan berbagai macam barang ada juga yang menjual makanan persis seperti warteg atau rumah makan padang.
Taipe main station adalah stasiun terbesar dan tersibuk di Taiwan yang ada di pusat kota Taipe. Sering di sebut juga icon nya para pekerja migran karena tepat di tengah tempat itu ada ruanganan cukup luas yang di sebut aula dan di situlah lautan para pekerja migran duduk bersantai sembari melihat orang lewat.
Mbak Ika sendiri memilih m3ngajak Ana keluar bangunan itu duduk berteduh di bawah pohon di dekat kereta yang sudah tidak terpakai atau orang-orang menyebutnya kereta mati.
Semilir angin membawa ketenangan di antara bisingnya hiruk pikuk stasiun kota setelah berbulan-bulan hanya irama kesakitan yang Ana dengarkan.
"Rame juga ya, Mbak," celetuk Ana saat mbak Ika kembali dengan membawa 2 gelas es boba.
"Makanya keluar! Kamu di sini udah tahunan kalau nggak di paksa nggak pernah mau keluar," sahut mbak Ika berlagak galak.
Ana hanya terkekeh mendengar omelan mbak Ika, ia memang selalu menolak tiap kali di ajak berlibur, hanya sesekali keluar di malam hari atau sore saat majikannya tidak lembur bekerja itupun hanya 2 jam tidak lebih, sekedar membeli jajan.
"Jalan lagi yok, keburu panas nanti." Ajak mbak ika
Tujuan ke dua mereka adalah balai peringatan Chiang Kai-Shek bangunan megah dengan atap berwarna biru. Yang di bangun untuk memperingati mantan presiden Republik Tiongkok Chiang Kai-Shek. Tempat ini juga di gunakan sebagai teater dan balai konser yang berada di kedua sisi bangunan utama. Atau sering juga di sebut pusat kebudayaan Chiang Kai-Shek atau para pekerja migran seperti Ana menyebutnya CKS.
CKS sendiri menjadi salah satu destinasi tempat berlibur para pekerja migran selain taipe main station dan juga gedung pencakar langit yang selalu menjadi pemandangan Ana saat drama kehidupannya melanda 2 tahun silam, gedung 101. Ibaratnya
"belum sah jadi tkw kalau belum menjejakkan kaki di 3 tempat ini"
Hanya sebentar Ana dan mbak Ika singgah di tempat bersejarah itu sebelum mereka menuju tujuan utama liburan mereka, Tamsui.
Tamsui merupakan kota pelabuhan tua di tepi sebelah kanan muara sungai tamsui.
Tempat ini cukup bersejarah karena pernah di jadikan pos terdepan dari militer pasukan barat dan tiongkok. Tapi bukan itu tujuan Ana dan mbak Ika datang ketempat itu.
Kuliner lautnya yang terkenal dengan cumi-cumi panggang berukuran jumbo menjadi tujuan utama mereka. Begitu sampai hidung Ana langsung di sambut wangi gurihnya cumi-cumi panggang pun berbagai macam gorengan khas taiwan salah satunya
Jī pái atau ayam goreng khas Taiwan Tapi tetap saja cumi-cumi yang menarik perhatiannya.
"Mau nyebrang nggak, An?" Tawar mbak Ika di sela-sela mereka menikmati cumi-cumi panggang yang sebesar telapak tangan.
"Kemana mbak," sahut Ana balik bertanya.
"Pulau Bali !"
Ana terperangah dengan jawaban mbak Ika, ia pikir teman yang sudah seperti saudara itu sedang bercanda. " Ngaco mbak Ika ini," sahut nya.
"Lha beneran, An. Kita bisa naik perahu bayar 200NT paling, aku juga belum pernah soal nya," kekeh mbak Ika.
"Seriusan tah!" Pulau Bali!" Tekan Ana meyakinkan.
"Bukan Bali Indonesia aneh. Pulau kecil tapi di sana ada tugu tulisan i love Bali kalau nggak salah apa Bali doang ya, lupa lah pokok nya itu jadi orang-orang nyebutnya pulau Bali." Jelas mbak Ika.
Ana terkekeh menyadari kebodohannya, " huh kirain beneran pulau Bali." Oceh nya.
" Ya kali, An kita naik feri nyampe pulau Bali cuma 200NT tiap minggu pulang aku." Sahut mbak Ika di susul tawa keduanya.
Kedua wanita yang sudah tak lagi muda itu kemudian duduk bersantai di bawah pohon rindang setelah hampir 2 jam berkeliling ke semua titik yang ada di tempat wisata itu. Mengeksplor bak turist pariwisata mereview berbagai macam makanan dan minuman bak food vlogger berakhir kelelahan.
"Ternyata usia nggak bisa bohong yaa, capek!" Seru mbak Ika sembari mengatur nafasnya yang kembang-kempis.
"Jiwa muda tenaga renta." Timpal Ana. Yang kemudian di sambut tawa keduanya.
Matahari mulai bersembunyi di kaki barat, jingga nya mengilat di antara kapal-kapal nelayan yang berjejer abstrak di sepanjang dermaga. Riuh rombongan pesepeda di jalur khusus Golden Riverside menambah indah pemandangan senja.
Gelap merayap hari bersenang-senang telah selesai kembali pada kesunyian apartemen yang di rasa masih ada ama yang menunggunya. Ana tersenyum pilu hanya 2 tahun pengabdian nya, esok hari baru akan tiba bersama kisah baru, cerita baru yang Ana harap tidak akan lagi ada air mata di dalamnya.
__Bersambung.
__IbuAnna.