Dunia memiliki sistem mutlak yang ditetapkan jutaan tahun lamanya. Sistem rimba, yang terkuat dialah yang berkuasa dan yang lemah akan tersingkir. Sistem itulah awal terlahir kasta antara mahkluk hidup, sebuah hukum yang tidak dapat diubah dan akan terus berjalan. Tahun berganti, hukum mulai goyah. Keadilan tidak diberikan pada yang hak. Namun pada yang berkuasa. Jutaan tahun berlalu. Langit menciptakan hukum baru yang berpusat pada keseimbangan. Malaikat penyelamat bagi mereka yang tersingkir, memiliki tujuan menghancurkan sistem yang telah goyah. Dewa agung menjadi dakwa yang berdosa telah menciptakan iblis berwujud cahaya. Mereka yang berkuasa melawan mereka yang dibuang, terus bertahan hidup untuk melanjutkan perang tiada akhir demi jawaban kebenaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arkara Novel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 019 —Kebenaran
"Masuk lah... Aku juga sedang menunggu mu sedari tadi!" Seru Zabarin tersenyum tipis, menyembunyikan kecurigaan dan spekulasi yang muncul tentang pemuda itu.
Enki pun masuk, dan duduk diujung kasur Zabarin. Sementara Zabarin sendiri ikut duduk setelah menutup pintu. Sejenak kedua nya diam tanpa suara, menghadirkan keheningan yang dalam diruangan itu.
"Aku tidak tau akan memulainya dari mana... " Gumam Enki sembari memberikan kertas yang berisikan surat, yang dahulu diterima Shi Jian.
Zabarin mengambil surat itu, membuka dan membacanya. Dengan jantung yang berdetak lebih cepat, setiap kalimat uang tertulis. Walaupun tidak berisikan keterangan langsing, namun dengan satu nama kota yang disebutkan. Ia langsung mengerti.
"Hei... Ini bercanda kan?, kalian sedang mempermainkan ku kan?... Shi Jian sedang menunggu kita diluar, atau disebuah tempat dikota ini?... Benar kan?" Seru nya, memberondong pertanyaan itu pada Enki. Walaupun ia sudah menebak ini semua, tapi tetap saja. Mengetahui kebenaran asli nya masih menimbulkan rasa sakit yang mendalam.
Enki tidakk membalas semua pertanyaan itu, baginya. Diam adalah hal yang lebih baik daripada menjawab dan menghasilkan luka lain. Melihat Enki yang diam saja, sembari menatap lantai dibawah nya. Itu membuat Zabarin kesal, dan segera menarik pemuda itu dalam cengkeraman nya.
Bruk! Zabarin mencengkram kerah Enki dan menghantam nyaa ke dinding, nafas nya berat dan hatinya bergemuruh. Tanpa peduli status yang Enki miliki. "Hei... Kenapa harus menyembunyikan itu semua!. Kalian telah membawa ku sejauh ini... Untuk apa?, kalau dikota ini... Hanya ada kenyataan itu?!" Bentak nya didepan wajah pemuda itu, sementara Enki terkejut dengan apa yang dilakukan Zabarin.
Namun, ia cukup merasa bersalah untuk melawan. Semua ini karena nya, ia pun terima jika pemuda itu ingin menghajar nya habis-habisan. Baginya, kesalahan yang hanya ia sendiri yang tahu itu. Harus ditebus kembali, walaupun mengorbankan tubuh nya menjadi samsak seorang teman, yang paling dekat dengan nya itu.
Zabarin yang tidak mendapati adanya perlawanan dari Enki, mengendurkan cengkeraman nya. Dan menjatuhkan tubuh nya keatas kasur, Enki yang melihat itu heran dengan apa yang ia lakukan. "Kenapa?... Kenapa?" Seru nya dengan nada pelan.
"Tidak ada gunanya juga menghajar mu... Kekuatan ku tidak akan sanggup melukai sekecil apapun!" Balas Zabarin pelan, mencoba menenangkan debaran jantungnya karena tragedi barusan.
Enki masih tidak mengerti, namun sebelum ia bisa bertanya. Zabarin bangkit dari rebahan nya dan berkata, "Kalian berdua... Tidak bisa menyembunyikan apapun dariku tau. Aku sudah memperkirakan ini sebelumnya... Tidak, tapi jauh sebelum kita keluar dari rumah itu!" Jelas nya kemudian, membuat Enki terkejut.
"Ka-kau sudah tau semuanya?. Kenapa kau tidak mengatakan itu pada kami?" Tanya Enki, mulai melihat Zabarin dari sudut yang berbeda.
"Aku tidak ingin tim yang kita bentuk sedikit demi sedikit retak karena ketidakpercayaan itu... Dan aku ingin, kalian lah yang mengatakan nya langsung padaku!" Jawab nya lagi, menambah rasa bersalah yang tumbuh dihati Enki.
"Seberapa jauh kau mengetahui rahasia yang kami sembunyikan?" Tanya Enki, mencoba mencari tahu semua yang Zabarin sadari dibelakang mereka.
"Itu sangat banyak... Sampai aku sendiri tidak tau akan memulainya darimana, tapi satu yang jelas... Kau tidak bisa menyembunyikan apapun dariku, bahkan identitas asli mu itu!" Seru nya kemudian, membuat Enki terkejut.
"Apa maksud mu?" Suara Enki tanpa bergetar. namun Zabarin tidak menjawab dan hanya berkata, "Sudahlah... Tidak perlu dipikirkan terlalu jauh, kita sudah sampai dikota ini... Seharusnya kita gembira, bukan malah sebaliknya nya!" Seru nya, dan kemudian membaringkan kan tubuh nya lagi. Seakan tidak terjadi apa-apa.
Enki yang tidak ingin menganggu lagi memutuskan keluar dari kamar Zabarin, dan kembali kekamar nya sendiri. "Apa dia sudah mengetahui identitas ku?" Gumam nya dalam hati, seakan tidak percaya. Tidak ada satupun petunjuk yang menunjukkan itu, tapi kenapa ia bisa tau?.
Namun, saat kembali kekamar nya. Ia melihat Azrealon yang sedang tidur nyenyak, membuat semua pikiran negatif itu hilang. Dan membuat iaa semakin berwaspada, orang yang dahulu terlihat polos dan seperti anak-anak ternyata memiliki banyak rahasia yang ia sembunyikan dibalik senyuman nya.
"Aku terlalu lama melihat sikap nya yang seperti itu... Sampai aku lupa, bahwa dia adalah orang yang diberkahi oleh langit!" Gumam nya sembari tersenyum tipis, dan yakin masih ada banyak rahasia yang disembunyikan pemuda itu. Sebagai mahkluk suci, akan terlihat aneh jika dia adalah manusia biasa dengan kemampuan standar. Kedepannya, mungkin ia tidak lagi meremehkan Zabarin. Tidak sama sekali.
\*\*\*\*\*\*
Malam hari tiba dengan cepat, menutupi kota dengan kegelapan. Namun cahaya dari lentera dan lampu pijar menyala diseluruh kota, menerangi malam yang gelap dengan lingkup cahaya yang mempesona.
Zabarin pun keluar dari kamar, dan mengetuk pintu kamar Enki. Beberapa saat, pemuda itu membuka kamar nya. "Lupakan yang tadi... Bukan kah kau bilang kota ini akan lebih ramai dan indah dimalam hari?" Seru Zabarin, mengajak Enki untuk berjalan-jalan dikota.
Enki mengangguk, tidak ada salah nya jalan-jalan untuk memahami setiap tempat yang ada dikota ini. Karena, ia baru dua kali kekota ini. Jadi, mungkin ia bisa sedikit bernostalgia atau apapun lah itu. Demi menghabiskan waktu malam.
Setelah menitipkan kunci pada penjaga, mereka keluar dan melihat seisi kota. Yang dipenuhi cahaya kelap-kelip, berdesakan karena keramaian. Juga, aroma makanan yang menggugah selera.
"Enki... Apa kita bisa menjual apel itu disini?, kita bisa mendapatkan lebih banyak uang kalau menjual semuanya!" Ucap Zabarin penuh antusias, Enki kemudian menjawab. "Tidak ada salahnya... Tapi, keuntungan yang kita dapat mungkin akan standar jikaa kita jual sekarang!" Balas nya.
"Kan memang sesuai harga? Jika dapat uang, tidak ada salahnya kan?" Ucap nya lagi. Enki menggeleng, "Mungkin, tapi keuntungan kita akan lebih sedikit jika kita lewati kesempatan ini!" Balas Enki lagi.
"Maksudnya?"
"Lihatlah, poster pembuka lelang telah digelar... Kita bisa jual apel-apel ini di pelelangan, karena apel ini langka dan begitu mahal. Jadi banyak pedagang atau pejabat kaya yang ingin membeli nya dengan harga lebih mahal daripada harga asli nya!" Jelas Enki kemudian, sembari menunjuk sekelompok orang yang sedang memasang posyer pelelangan diujung jalan.
Zabarin hanya mengangguk, iapun mengikuti rencana Enki. Karena sari penjelasan nya, mereka bisa mendapatkan untung lebih banyak.
Enki membawa nya kesebuah gedung besar, dengan halaman yang begitu luas. Juga terparkir kereta kuda dihalaman nya, begitu banyak. Sampai halaman itu penuh dengan tunggangan mereka.
Masuk kedalam, seseorang menyambut mereka. Dan membawa keduanya ke meja penjaga, untuk memberikan aturan dan informasi yang harus diketahui.
"Silahkan tuan... Apakah tuan ini hanya ingin menghadiri lelang, atau menjual sesuatu dilelang ini?" Tanya penjaga itu tersenyum ramah.
"Kami ingin menaruh barang kami di lelang ini!" Jawab Enki kemudian, dan meminta Zabarin memberikan cincin yang ia kenakan pada nya. Cincin itu, ia dapatkan dari seekor monster roh saat perjalanan panjang itu. Dan saat ini menjadi sebuah cincin penyimpanan, yang berguna membawa barang lebih banyak dan praktis.
Enki kemudian mengeluarkan sebuah karung besar, dan meletakkan nya dimeja penjaga itu. Wanita penjaga yah melihat itu langsung menunjukkan perubahan diwajahnya, bukan terkejut melainkan merasa jijik. Melihat penampilan dan karung itu yang sederhana, membuat ia berpikir mereka berasal dari desa dan tidak mengetahui standar penjualan di lelang ini.
Namun karena tugas, ia menerima karung itu dan menjawab, "Baiklah tuan... Saya akan memeriksa barang ini, dan menilai apakah barang anda mencukupi STANDAR penjualan kami!" Ucap wanita itu, menekankan kata standar. Seolah menyindir mereka.
Ekspresi wajah mereka berdua berubah, merasa terhina dengan ungkapan itu. Namun, mereka hanya tenang dan melihat. Siapa yang terkejut diakhir, mereka... Atau kah penjaga itu?.
Beberapa menit kemudian, penjaga itu kembali dengan tangan bergetar. Dan berkata, "Maafkan saya tuan... Telah membuat anda menunggu lama, silahkan masuk keruangan lelang... Barang anda telah kami terima dengan baik, dan akan dijual dilelang kali ini!" Ucap nya sedikit membungkuk dan menuntun mereka menuju sebuah pintu dimana dibaliknya terdapat ruangan lelang, yang akan dihadiri oleh orang-orang kaya dikota ini.
"Hah... Ingat lah baik-baik, ada banyak manusia seperti itu... Yang menilai sesuatu dari luarnya saja, tanpa tau isi didalamnya begitu berharga!" Seru Enki saat mereka masuk kedalam ruangan itu. Zabarin mengangguk paham, dan itu kembali membuka mata nya lebih jauh.
Mereka pun duduk diantara kursi yang berjejer begitu banyak, dengan banyak tingkatan diantara kursi nya. Juga, banyak balkon didinding. Tempat itu, adalah untuk mereka yang memesan ruangan VIP. Tentu yang mendapatkan nya adalah pejabat kaya.
Suasana begitu ramai, namun untung nya mereka tiba sebelum kehabisan kursi. Dan tinggal menunggu lelang itu dimulai, diwaktu bosan seperti itu. Zabarin bertanya, "Menurut mu... Dari semua apel yang kita miliki. Berapa uang yang kita dapat?" Tanya nya. Enki kemudian berpikir dan menilai, harga normal satu apel kristal Ruby adalah sepuluh koin emas. Mereka memiliki setidaknya dua ratus empat, jadi jika ditotal mereka mendapatkan dua ribu empat puluh koin emas. Namun, itu tidak dihitung dengan peningkatan harga yang mungkin akan naik diantara pembeli.
"Mungkin empat ribu koin emas, kurang lebih segitu... Tapi aku tidak bisa pastikan lebih jelas... Kita lihat saja, berapa apel itu bisa naik harga nanti!" Ucap nya, dengan perhitungan sedikit matang. Zabarin pun mengangguk, karena ia paham menganalisis pasar itu cukup sulit.
Sampai akhirnya yang ditunggu-tunggu telah tiba, pembawa acara muncul dari balik tirai dengan baju yang begitu elegan, dengan belasan wanita pengawal. Yang semuanya tampak begitu cantik dan elegan.
"Karena waktu sudah sangat larut... Saya ingin langsung membuka lelang ini, lelang akan dibuka dengan barang pertama!" Teriak pemandu acara meriah, sembari memukul palu nya keatas meja. Dan segera setelah itu, seorang wanita dibelakangnya maju dan menaruh sebuah talang besi yang ditutupi oleh kain. Menghadirkan ketegangan sekaligus rasa penasaran, tentang apa yang ada dibalik kain itu?. Zabarin pun begitu, ia begitu penasaran dengan barang apa saja yang dijual ditempat ini. Terkhusus nya yang sudah diletakkan dihadapan semua orang, akan kah itu senjata?. Artefak? Atau sesuatu yang memiliki nilai yang cukup tinggi?.
judul : Professor & Student: Love Through Time.
ikuti setiap langkah bab barunya sampai tamat enggak setengah², terima kasih ☺️🙏🏻💪.