Menemukan batu bintang, tersambar petir lalu koma tiga hari. Setelah bangun semua berubah, rumah jerami reot perlahan menjadi mewah dan nyaman. Bubur sayuran liar hilang dari meja makan, berganti dengan nasi dan gandum wangi.
Setiap hari akan ada ikan, daging, telur, yang kesemuanya cuma dapat mereka makan setahun sekali.
Bagaimana bisa perubahan itu terjadi pada keluarga miskin tanpa bakat dan kemampuan..?
Apa sebenarnya yang dialami gadis itu saat koma tiga hari..?
Batu bintang, benda apa dan darimana asalnya itu...?
Ikuti perjalanannya dan dapatkan jawabannya di Bai Anshu Story.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Ata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24
Keesokan harinya, begitu Chen Yaran dan Chen Linli tiba didesa Huanshan, Bai Anshu langsung mengajak keduanya serta Bai Lushi kekota Tiankeng.
Tujuannya ialah membeli kawat tembaga, benang sutra aneka warna, set peralatan menyulam dan menjahit, beragam manik-manik, juga mutiara.
Kain brokat, satin, sutra, dan linen, akan dibeli pula.
Pokoknya, semua yang dibutuhkan dalam pembuatan bunga bludru dan beragam asesoris, akan Bai Anshu borong.
Empat gadis remaja, berbusana katun halus dengan surai ditata rapi, berjalan beriringan menebar tawa hingga berhasil menarik perhatian banyak mata.
Berkulit putih cerah, wajah merona ceria, senyuman rupawan, sungguh sangat elok dipandang.
Meski berpenampilan sederhana, namun justru hal tersebut yang menjadi daya tarik keempat gadis remaja itu.
Berbeda dari para nona muda bangsawan berpakain brokat dan perhiasan mewah, namun berwajah pongah tanpa senyuman. Amat sangat menyakitkan kornea.
"Suatu hari nanti, kita akan memiliki toko seperti ini. Bukan cuma asesoris dan bunga bludru, kita juga akan menjual perhiasan perak serta giok hasil rancangan sendiri." ucap Anshu penuh tekad, sembari memandangi sebuah bangunan dua lantai.
Keempat gadis remaja itu kini sedang berdiri didepan menara Zhubao, satu-satunya gerai perhiasan mewah dikota Tiankeng khusus bagi kaum old money.
"Toko kita harus lebih besar dan bagus." sambar Bai Lushi berambisi.
"Harus jauh lebih terkenal, memiliki banyak pelanggan karena buatan tangan kita adalah produk terbaik." Chen Yoran menimpali.
"Itu semua wajib, dan kita pasti berhasil." sahut Chen Linli, terselip doa harapan dan keyakinan.
Puas mengagumi, mereka berempat berkeliling kota sembari sesekali menyambangi setiap toko pernak pernik dan bunga bludru guna melihat-lihat agar dapat digunakan acuan perbandingan dan referensi inspirasi baik dalam segi model serta harga.
Tidak banyak ruko yang menjual asesoris dan bunga bludru, cuma ada dua tempat.
Sedangkan toko perhiasan, selain paviliun Zhubao, terdapat tiga lainnya namun lebih kecil, sebab sasarannya adalah kaum menengah kebawah.
Mendekati makan siang, mereka memutuskan pergi membeli peralatan tulis dan lukis kepaviliun Tepekong.
"Ah, cat warna..!" pekik berbinar Chen Linli.
Anshu terkekeh "sepupu, kau pandai menggambar. Nanti urusan model bordiran prodak kita, akan menjadi tanggung jawabmu."
"Tentu, dengan senang hati aku melakukannya." balas Linli bersemangat.
Chen Linli, gadis remaja ceria yang sangat hobby melukis. Namun karena keterbatasan ekonomi serta mahalnya peralatan menggambar dan kanvas linen, Linli cuma bisa menuangkan imajinasinya pada media tanah atau daun dan ujung ranting sebagai pensilnya.
Chen Yaran dan Bai Lushi mendekat, menempel pada Anshu lalu berbisik.
"Shu-ya, nanti ajari aku membaca dan menulis ya..?"
"Hem, aku juga ingin..!"
Bai Anshu melebarkan senyumnya "baik, kita nanti sekalian belajar berhitung."
"Terimakasih..!"
Keempatnya gegas kekasir, ketika semua barang yang dibutuhkan berada dalam genggaman.
"Setelah ini kita kekedai paman Jang ya..? aku ingin mencicipi mie acar ikan buatannya." ajak Anshu dan diiyakan oleh ketiga sepupu.
Petugas kasir yang sekaligus putra pemilik Tepekong, memandangi barang yang menumpuk dimeja dan keempat gadis belia didepannya secara bergantian.
"Nona-nona, apa kalian bisa melukis..?" tanyanya kepo.
"Ya...!" jawab Anshu dan Linli bebarengan.
Netra elang Jiang Xufang tersenyum, memperkenalkan namanya lalu berkata "jika ingin menjual lukisan yang kalian buat, aku harap menara Tepekong menjadi pilihan untuk didatangi lebih dulu."
Bai Anshu dan Chen Linli bertukar senyuman, Yaran dan Lushi terpekik riang.
Mereka kembali mendapatkan peluang untuk bisa menghasilkan uang tambahan, sekaligus mengembangkan bakat dan menyalurkan hobby.
"Baik tuan muda Jiang, terimakasih atas kesempatan yang kau berikan..!" ucap Anshu yang diikuti oleh ketiga sepupu.
Setelah membayar dan barang belanjaan dibungkus, mereka pun berpamitan.
Diambang pintu, keempatnya bertubrukan dengan Murong Canfeng, Liu Hongli dan Yan.
Karena posisi mereka melangkah beriringan, jadi mulut pintu terhalang barisan badan mereka.
Drama kecil pun terjadi.
Setiap Anshu dan tiga sepupunya bergerak kekiri, Murong Canfeng bersama dua temannya pun bergeser kesana. Giliran kekanan, ketiga remaja pria jua kompak kesisi tersebut.
Hal itu terjadi dua kali balikan.
Bai Anshu mengangkat wajah, netra jernihnya langsung bersitatap dengan kornea tegas Murong Canfeng.
Satu alis Canfeng naik tinggi, memandang lekat wajah lembut Bai Anshu.
"Ah, maaf...!" Anshu bergeser, mendorong ketiga sepupu kepinggir kiri.
Bebarengan, Murong Canfeng juga memberi jalan, menarik Hongli dan Yan kesisi kanan.
"Silahkan..!" ucap serempak muda mudi itu.
Dahi tujuh remaja tampan dan cantik mengernyit, saling melirik lalu terkekeh.
Cuma Murong Canfeng yang menggoreskan senyuman tipis.
"Kalau begitu kami duluan, terimakasih tuan muda...!" ucap Bai Anshu menunduk, dan berlalu pergi.
Lushi, Yaran dan Linli, juga melakukan hal yang sama.
"Mana yang kau pilih..?" tanya Liu Hongli memandangi punggung keempat gadis remaja yang menghilang tertelan keramaian kota.
"Jangan gila, kita belum pantas memikirkan itu..!" sengit Canfeng, menepuk kepala belakang sang sahabat.
"Hei, tiga tahun lagi kita sudah harus menikah, apa salahnya kalau mencari dari sekarang..?" ketus Hongli.
Murong Canfeng menggelengkan kepalanya "aku ingin empat tahun lagi, setelah selesai ujian negara."
"Diusia delapan belas tahun, itu sudah terlalu tua." balas Hongli.
"Berarti Yan ini-----
Murong Canfeng menggantung ucapannya, melirik terkekeh pada sahabat merangkap pengawalnya.
Liu Hongli menatap Yan, lalu menyengir kuda seraya mengangkat kedua tangan tanda menyerah.
"Kau pengecualiannya..!"
Murang Canfeng tergelak, Yan mendengus kasar.
Usia Yan memang sudah menginjak dua puluh tahun dan belum menikah. Diera ini, pemuda itu sudah dijuluki sebagai bujangan lapuk.
Lazimnya para lelaki menikah dimasa sekarang ialah usia enam hingga delapan belas.
Sedangkan wanita empat hingga enam belas tahun.
Kalau dikalangan darah biru, malah kebanyakan perjodohan ditetapkan sedari bayi. Bahkan jika ada bocah lelaki dan perempuan memiliki kedekatan dimasa balita, saat dewasa mereka akan disebut atau dianggap sebagai kekasih masa kecil.
Kembali keempat gadis bersaudara.
Mereka kini sudah berada dilapak paman Jang dan putrinya.
Beruntung masih ada empat mangkuk porsi terakhir.
Dikota baru paman Jang yang menjual mie acar pedas, makannya sejak lapak dibuka sudah ramai pembeli.
Selain itu, kenapa semua makanan yang dijual penduduk Huanshan enak, dan selalu laku keras.
Itu berkat air suci yang Anshu alirkan kesumur desa.
Bukan cuma kenyang, tapi sesuatu perubahan yang dirasakan oleh raga setelah menyantapnya.
Tidur lebih nyenyak, keluhan ringan yang selama ini dirasakan berkurang, dan tubuh lebih bugar.
"Sudah mendekati musim gugur, udara menjadi lebih dingin. Makan mie acar ikan pedas memang pilihan yang tepat." ucap Anshu usai menyeruput kuah kaldu.
"Benar, apa lagi mie buatan paman Jang dan Qiao-ya sangat enak, pantas saja bisa laris manis." balas Bai Lushi.
"Ini berkat Shu-ya, jika tidak, mana mungkin paman dan Qiao'er memiliki kemampuan untuk membuat mie acar ikan pedas." sahut paman Jang tulus.
"Paman jangan berlebih, ini semua murni karena paman dan Qiao-ya memang berbakat dan hebat." balas Anshu.
Delapan wen, harga yang ditetapkan paman Jang untuk semangkuk mie acar ikan pedas, sedangkan yang kaldu putih enam koin.
Setelah kenyang dan membantu paman Jang membereskan lapaknya, empat gadis bersaudara menuju kepasar ternak guna membeli lemak hewan, sebelum pulang kedesa.