Angka bukan sembarangan Angka, Angka yang di pilih semuanya menunjukkan hadiah besar kecilnya yang di dapat.
Tapi jika kamu beruntung, kau akan mendapatkan hadiah besar.
Dan itulah yang di alami oleh Alneo setelah ia mendapatkan penyiksanya oleh ayah jika ia tidak mendapat uang.
Bukan hanya itu, yang membuatnya murka adalah Adik perempuan ingin di jual ayahnya pada rentenir untuk membayar hutang, saat ia mencoba menghalangi, ia malah mendapatkan pukulan berat oleh ayahnya hingga pingsan.
Dan saat itulah, ia mendapatkan sebuah sistem misterius yang mengubah hidupnya.
Ia memenjarakan ayahnya karena sang ayah agar tidak menganggu kehidupan mereka lagi.
Dengan sistem pilihan angka, ia bagaikan menemukan jetpot di hidupnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14
"Mau pindah, Pak. Malam ini juga," jawab Alneo singkat sambil tersenyum sopan.
"Kok cepat banget pindahnya, memangnya ada apa? Biasanya kan kalau pindahan siang hari, Mas. Ini sudah mau tengah malam, lho. Apa ndak ngeri di jalan?" tanya Pak Penjaga lagi, matanya menyelidik, merasa heran dengan perubahan drastis gaya berpakaian dua bersaudara itu.
Alneo memutar otak dengan cepat. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa ia baru saja mendapat rumah mewah gratis dari sistem misterius yang mendadak muncul di otaknya.
"Maaf Pak, saya baru ingat sebaiknya kami pulang ke rumah kami sendiri. Kebetulan urusan warisan keluarga baru selesai dibalik nama. Nggak baik kalau kami terus-terusan ngontrak begini, mumpung ada kesempatan," kata Alneo beralasan agar kebohongannya tidak ketahuan.
Pak Penjaga mangut-mangut, wajah curiganya berubah menjadi senyuman maklum.
"Oh, syukurlah kalau begitu. Iya, jika kalian punya rumah sendiri lebih baik kembali, ngapain ngekos lama-lama di sini," katanya percaya.
"Iya Pak, Anda benar. Kalau begitu saya permisi dulu. Terima kasih sudah menjaga adik saya tadi," kata Alneo.
"Sama-sama. Hati-hati di jalan!" seru Pak Penjaga.
Alneo langsung menggandeng tangan Riani, setengah menyeretnya untuk segera pergi dari area kosan tersebut sebelum bapak kos mengajukan pertanyaan yang lebih rumit.
Suasana jalanan kota sangat ramai. Angin malam berembus cukup kencang saat mereka berdiri di pinggir jalan raya yang hanya diterangi lampu jalan kekuningan.
"Kak, dingin... apa kita pergi jauh?" keluh Riani sambil mengeratkan bajunya.
"Sabar, kita naik taksi aja ya." Alneo mengangkat tangannya saat melihat sorot lampu dari kejauhan.
"Taksi!" panggil Alneo lantang.
Sebuah taksi berwarna kuning pun berhenti tepat di depan mereka. Alneo dengan cepat memasukkan tas ke dalam mobil, lalu menyuruh Riani masuk terlebih dahulu sebelum ia menyusul di jok belakang.
"Selamat malam, Dek. Mau ke mana malam-malam begini?" tanya supir taksi itu, seorang pria tua bertopi yang ramah, sambil melirik mereka dari spion tengah.
Alneo tidak langsung menjawab. Ia memeriksa aplikasi peta, membaca petunjuk koordinat dari sistemnya.
[Sistem Notification: Target lokasi. Jalan Bunga Melati Nomor 20.]
"Ke Jalan Bunga Melati nomor 20, Pak. Tolong agak cepat ya, Pak, sebelum jam dua belas kalau bisa," kata Alneo tegas.
Supir taksi itu tertegun sejenak, matanya membelalak lewat kaca spion.
"Jalan Bunga Melati Nomor 20? Wah... Dek, tidak salah alamat?" tanya pa supir memastikan.
Riani yang duduk di sebelah Alneo langsung menoleh. "Memangnya kenapa, Pak? Alamatnya aneh, ya?"
"Bukan aneh, Neng," sahut supir taksi itu sambil mulai menginjak gas, melaju di jalanan kota yang ramai.
"Jalan Bunga Melati itu kan kawasan perumahan elite The Royal Residence. Isinya rumah-rumah menteri, pengusaha kaya, dan selebriti papan atas. Setahu saya, nomor 20 itu mansion paling besar yang sudah kosong bertahun-tahun karena harganya ratusan miliar. Kalian... mau ke sana?"
Riani langsung menatap kakaknya dengan mata bulat, meminta penjelasan.
Sementara Alneo hanya bisa tertegun menyadari bahwa hidupnya dan sang adik benar-benar berubah total malam ini.
Riani mencengkeram lengan Alneo dengan sangat kuat. Matanya melotot, meminta penjelasan yang masuk akal dari sang kakak yang saat ini justru berpura-pura tenang, meski keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.
"Kak! Demi apa? Mansion ratusan miliar?!" bisik Riani berusaha agar suaranya tidak terdengar terlalu jelas oleh supir taksi di depan.
"Kakak main saham apa sampai bisa beli rumah di kawasan menteri? Kakak tidak sedang terlibat sindikat pencucian uang, kan?!" tanyanya menginterogasi.