Erina Hutomo, single mom yang harus berjuang sendiri mengatasi kekacauan hidup--anak sulung yang beranjak remaja dan banyak ulah, anak bungsu yang autis, tetangga yang selalu nyinyir karena dia janda--hingga tumpukan pekerjaan yang terus menghantuinya di kantor.
Sampai suatu ketika, petir terbesar menyambarnya--Erina divonis mengidap kanker otak, dan usianya tak akan lama.
Di tengah badai, Erina tak sempat menangis. Garis akhir itu seperti bom waktu. Dan ia memilih mati-matian mempersiapkan segalanya, terutama untuk buah hati yang paling dicintainya. Ia hanya ingin anak-anaknya hidup layak dan bahagia--bahkan setelah ia tak ada lagi di dunia.
Termasuk, memberi mereka sosok ayah yang bisa menjaga dan menyayangi mereka seperti darah daging sendiri, sampai akhir.
Berhasilkah Erina menuntaskan misi dan harapan terakhirnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Rumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. TAK MAU BAKSO, MAUNYA RENDANG
Erina melirik jam dinding--sudah pukul lima lewat sepuluh menit.
"Maafkan saya, Pak... maaf, saya lalai..."
Erina hampir menitikkan air mata--bukan hanya karena sesal, tetapi juga karena rasa sakit di kepalanya makin menjadi-jadi.
"Akan saya maafkan, tapi kamu harus jujur... apa kamu sedang sakit? Kamu benar-benar terlihat pucat," timpal Alvin seraya menatap lekat Erina dengan sorot khawatir.
"Saya...," Erina menelan ludah dan mengelap bintik-bintik keringat di wajahnya dengan tangan. "Saya tidak apa-apa... hanya kurang tidur dan kecapekan..."
"Rin..."
"Saya harus kembali menuntaskan pekerjaan saya... sekali lagi, maafkan saya..."
"Erina!"
Suara Alvin begitu tegas. Spontan Erina membeku dan menahan napas.
"Jangan urus pekerjaan lagi!" cetus Alvin--nada dan ekspresinya sarat perintah yang tak sudi dibantah. "Kamu sebaiknya pulang dan istirahat. Atau pergilah ke dokter. Saya tak mau anak buah saya kondisinya lebih parah gara-gara mengabaikan kesehatannya sendiri hanya demi tumpukan orderan sialan itu--karena kalau terjadi apa-apa, sayalah yang akan dimintai pertanggungjawaban! Kamu mengerti?"
Erina tertegun sejenak. Ia sama sekali tak menduga akan mendapat siraman kemarahan dari bosnya seperti ini--bukan karena dia sudah lalai. Tetapi lebih karena ia keras kepala ingin menuntaskan semuanya sendiri tanpa peduli kondisi--seperti yang biasa terjadi.
"Ya... saya mengerti. Sekali lagi, maafkan saya..."
Erina memutuskan untuk tidak membantah. Bagaimanapun, ia hanyalah bawahan. Disuruh menggelinding seperti trenggiling ke kutub selatan pun, mau tak mau tetap harus ia lakukan. Apalagi ini cuma diperintah pulang.
Dengan gerakan pelan dan langkah goyah, Erina membereskan mukena dan sajadah. Ia pun berjalan keluar musholla dan memasuki ruangan Marketing yang sepi untuk mengambil tasnya, diikuti Alvin yang seakan sengaja mengawasi untuk memastikan ia tidak ketiduran sampai ngiler lagi di kursi atau lantai.
"Saya baik-baik saja, Pak, saya tidak akan ketiduran lagi... Bapak silakan urus urusan Bapak atau pulang sekalian," gumam Erina, rikuh dan risih diekori seperti itu.
"Saya antar kamu pulang," kata Alvin perlahan.
Erina kini menghadap Alvin sepenuhnya. Kepalanya sakit, tapi itu tak menghentikan emosi membuncah di kedalaman batinnya kala teringat kemarahan Saga dan janjinya semalam.
"Jangan--tak usah. Saya tak mau," tolak Erina keras.
"Rin, kamu sedang sakit--"
"Bukan urusan Anda! Saya bilang tak mau, ya tak mau! Jangan memaksa!"
Alvin terdiam. Sepintas, ada siratan kaget dan lara terpancar di wajahnya yang sangat tampan.
"Maaf, saya tak bermaksud--"
Erina dan Alvin melontarkan kalimat yang sama, di detik yang sama.
Keduanya pun terdiam.
"Maafkan saya. Saya akan pulang. Sendiri. Sekarang. Jadi tolong..."
Erina memejamkan mata sejenak. Sudut-sudut rahangnya berkedut keras, bukan karena emosi, tetapi karena menahan sensasi bagai ditimpa reruntuhan Saturnus lengkap dengan cincinnya tepat di puncak kepalanya.
"Saya permisi. Selamat sore, Pak Alvin."
Sekujur tubuh Erina mengeluarkan keringat dan ia gemetaran hebat saat melangkah keluar gudang dan menyusuri jalanan--akibat menahan rasa sakit dahsyat yang kemudian juga membuat netranya memburam sehingga ia tak lagi bisa melihat sekitar dengan jelas.
TIIIIIN!
CKIIIIT!
BRAAAKK!
Erina merasa terserempet sesuatu dan terlempar. Pandangannya gelap total, dan rasa sakitnya kian menggila bagai dikoyak tombak berapi oleh malaikat penjaga neraka--merata dari ujung kaki sampai kepala.
"ERINA!"
Suara yang menggetarkan hati itu memanggilnya--tetapi Erina tak bisa menjawabnya.
Tak ada lagi yang bisa dilakukannya--selain jatuh dan hilang dalam kegelapan yang asing dan lengang.
***
"Rendang... rendangnya gosong!"
Kata-kata itu meluncur dari bibir pucat Erina, tepat ketika kedua kelopak matanya kembali terbuka.
Selama beberapa detik, Erina yang baru saja terjaga hanya bisa terpana. Netra hitamnya memerangkap cahaya dan panorama panel langit-langit seputih salju. Hidungnya menghirup udara dingin beraroma antiseptik kuat. Telinganya mendengar berbagai suara--sesuatu yang menetes selembut embun dini hari, bunyi mesin, langkah kaki, percakapan lirih, dan suara yang familiar terdengar begitu merdu menyebut namanya.
"Rin... syukurlah kamu sudah sadar!"
Erina mengerjap dan menoleh. Raut wajah luar biasa menawan Alvin Hermawan merasuki pandangnya.
"Pak... Alvin?" Erina terperangah, bingung. "Kenapa Bapak di sini...?"
"Saya harus mendampingi kamu... apa kamu tidak ingat? Kamu mengalami kecelakaan di jalan depan gudang sepulang kerja tadi sore," gumam Alvin, kelegaan yang sempat memancar di wajahnya kini berganti pedih.
Erina mengerjap. Ingatan terakhirnya adalah tentang mimpinya sebelum sadar--ia sedang ribut dengan tetangga-tetangga yang tiba-tiba menggeruduk kontrakannya sambil menuntut undangan pernikahan, sampai ia lupa kalau sedang memanaskan rendang di dapur hingga masakan andalannya itu berubah jadi gumpalan arang gosong.
"Kecelakaan gimana...? Saya tadi lagi nangisin rendang...," Erina melantur bingung.
Alvin melongo, ikutan bingung.
"Dokter...!"
Alvin memanggil dokter yang bertugas jaga di IGD petang itu.
Seorang dokter laki-laki bertubuh tinggi, tegap, berahang tegas yang dihiasi janggut dan kumis hitam tipis berantakan pun muncul sambil membawa tablet di tangan.
"Bu Erina sudah sadar?"
"Ya, Dok... tapi sepertinya dia tidak baik-baik saja," lapor Alvin cemas.
"Izinkan saya periksa sebentar."
Dokter itu dengan cepat dan cekatan memeriksa Erina menggunakan stetoskop. Ia juga melakukan serangkaian tes dengan senter kecil dan jari tangan yang diarahkan ke netra Erina untuk memastikan reaksi dan tingkat kesadarannya.
"Sadar penuh," simpul dokter itu. "Apa yang dirasakan sekarang, Bu Erina?"
Erina mengerjap setelah kedua pupilnya menerima sorotan senter. Pertanyaan sang dokter juga membuatnya kembali merasakan tubuhnya sendiri--yang justru terasa buruk.
Kepalanya terasa menyakitkan, seakan ditusuk dan terbelah. Beberapa bagian tubuhnya nyeri. Perutnya tiba-tiba mual seakan ia baru saja ditinju di ulu hati.
"Ugh... hueeeekk!"
Erina tak tahan lagi dan muntah sejadinya ke lantai.
Sang dokter dengan sigap menghindar. Alvin terperangah dan hanya bisa mematung saat melihat muntahan Erina berceceran, bahkan mengotori ujung celana panjang dan sepatunya yang mahal.
"M-maaf...," Erina mengusap mulutnya dengan tangan gemetar, matanya pun berkaca-kaca.
"Mual ya, Bu?" Sang dokter tak jijik sama sekali, dan ia kembali mendekat untuk memastikan kondisi Erina sekali lagi. "Selain mual, apa lagi yang dirasa? Kepala sakit? Pandangan mengabur? Telinga berdenging? Ada yang terasa kesemutan atau mati rasa?"
Ketika Erina sedang diperiksa ulang secara intensif, tiba-tiba terdengar suara mengejutkan tepat di belakang punggung sang dokter.
"Hueeeekk! Hueeeeeekkk!"
Sang dokter dan Erina pun menoleh, kaget.
"Lah, Pak?"
Alvin muntah-muntah di tempat. Wajahnya tampak pucat dan tangannya mencengkeram perutnya, seakan menahan lara.
"Va... Eva! Tangani Bapak ini, Va!" Dokter itu memanggil perawat yang lewat dan menunjuk Alvin. "Suruh orang bersihkan lantai di sini sekarang juga. Cepat!"
"Baik, Dok."
Perawat Eva mendekati Alvin yang lemas dan membawanya pergi. Erina hanya bisa menatap lemah dan bingung, di tengah rasa sakit yang tak putus menghantam dirinya.
"Dia kenapa...?" tanya Erina pelan. "Saya kenapa, Dok...?"
"Bapak itu mungkin kena gastroentritis--sebentar akan saya periksa juga. Sementara Anda..."
Dokter itu kembali meraih dan mengecek tabletnya. Ekspresinya seketika berubah muram.
"Bu Erina, Anda dibawa ke sini karena terserempet motor tadi sore sepulang kerja. Untungnya tak ada patah tulang atau perdarahan parah, tetapi kemungkinan Anda terkena gegar otak ringan."
Erina mengerjap. Samar ia ingat pandangan yang menggelap dan sensasi benturan ketika meninggalkan gudang tempatnya bekerja sore tadi, sebelum ia terseret ke dalam mimpi aneh tentang tuntutan undangan pernikahan dan rendang yang gosong.
"Jadi... itu sebabnya kepala saya sakit sekali, sampai saya muntah...?" gumam Erina lemah.
Dokter itu menghela napas panjang.
"Kami sudah melakukan CT Scan pada kepala Anda untuk lebih memastikan, dan hasilnya... ada massa di otak Anda."
Erina melongo. Ia mengira kata massa itu merujuk pada gerombolan tetangga yang tiba-tiba menyerbunya dalam mimpi saat pingsan tadi.
"Kok bisa tepat...?"
Sang dokter menatap Erina lekat.
"Bu Erina sudah tahu kondisi Ibu?" tanyanya serius. "Sudah pernah melakukan pemeriksaan sebelumnya?"
Erina memandang sang dokter dengan bingung.
"Maksud Dokter...?"
Sang dokter kembali menarik dan membuang napas panjang. Baginya, kelinglungan Erina semakin mempertegas diagnosis yang tersusun melalui serangkaian pemeriksaan medis barusan dan pengetahuan yang sudah dipelajarinya selama bertahun-tahun.
"Dengan berat hati saya sampaikan, Anda mengidap glioma. Atau dengan kata lain, ada tumor seukuran bakso kecil tumbuh di sel glia otak Anda. Itulah yang menyebabkan gejala berupa sakit kepala hebat, pandangan mengabur, hingga muntah."
Erina terdiam beberapa saat--seakan ia butuh waktu untuk bisa mencerna dan menerima penjelasan yang disampaikan dokter barusan.
"Dokter... yang bener aja dok... tadi katanya saya keserempet motor... kenapa malah jadi ada bakso di otak saya? Emang yang nyerempet saya tadi tukang bakso?"
Sang dokter mengerjap. Jelas tak menduga pasiennya akan bicara seabsurd itu.
"Bu Erina..."
"Saya nggak mau bakso. Saya maunya rendang," kicauan Erina makin tak karuan.
"Bu..."
"Saya mau rendang. Ada rendang di rumah saya. Saya mau pulang, sekarang!"
***