Lima tahun menikah, Kanisha Rayya Shanika selalu percaya bahwa rumah tangganya bersama sang suami, Arven Mahendra, akan berjalan harmonis untuk selamanya. Ia rela menekan mimpinya sendiri demi menjadi istri sempurna dan ibu terbaik bagi anak angkat yang sangat ia cintai. Namun semua kepercayaan itu runtuh dalam satu malam.
Kanisha memergoki Arven berselingkuh dengan sekretaris pribadinya sendiri—wanita yang selama ini ia anggap hanya rekan kerja biasa. Belum sempat pulih dari pengkhianatan itu, kenyataan yang jauh lebih kejam kembali menghantamnya. Anak angkat yang ia rawat dengan penuh kasih ternyata adalah darah daging hasil hubungan terlarang suaminya dengan sang selingkuhan.
Dikhianati sebagai istri sekaligus dipermainkan sebagai seorang ibu, Kanisha memilih pergi dan mengakhiri pernikahan yang telah menghancurkan hidupnya. Dengan tekad untuk bangkit, Kanisha mulai membangun hidup baru dan membuktikan bahwa dirinya bukan wanita lemah yang bisa diinjak begitu saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Kalimat itu menghantam jauh lebih keras daripada yang Arven duga sampai sampai ia tidak punya jawaban.
Tok Tok Tok, Suara ketukan terdengar dari arah pintu depan dan membuat seorang pelayan segera berlari untuk membuka pintu dan melihat siapa tamu yang datang.
"Tuan..." Arven menoleh sementara pelayan itu menundukkan kepalanya dengan takut. "Ayah anda baru saja datang."
Belum sempat Arven merespons, sosok Pak Damar sudah muncul di ambang pintu.Wajahnya terlihat jauh lebih tua dibanding beberapa hari lalu. Matanya tampak lelah dengan lingkar hitam di bawah matanya yang terlihat semakin jelas dan ekspresinya menunjukkan bahwa hari ini kembali menjadi hari yang buruk bagi dirinya. Sejak pagi ia menghadapi investor yang keluar, klien yang membatalkan kontrak, telepon yang tidak berhenti masuk. Dan sekarang ia datang mencari putranya untuk mencari jawaban dan solusi, namun begitu memasuki ruang tamu, yang ia lihat justru seorang pengacara, dokumen perceraian dan Arven yang emosinya sedang tidak stabil. Pak Damar langsung mengernyit.
"Ada apa ini?" tanya pak Damar namun tak ada satupun yang mau menjawab sampai akhirnya Arven mengangkat dokumen perceraian yang ada di tangannya dengan tangannya yang sedikit gemetar.
"Kanisha."
Pak Damar langsung menegang.
"Apa?"
"Dia kirim surat pernyataan cerai untuk Arven."
Pak Damar mengambil map itu, membukanya perlahan lalu membeku karena di halaman terakhir ada tanda tangan Kanisha yang mengartikan bahwa semuanya benar-benar sudah sampai di titik ini. Keheningan memenuhi ruangan, pak Damar menatap dokumen itu cukup lama lalu perlahan menutupnya kembali.
"Dia sudah menandatangani?"
Arven mengangguk sementara matanya mulai memerah.
"Dia kirim pengacara." Suara Arven terdengar jauh lebih lemah dari sebelumnya. "Dia mau mengakhiri semuanya."
Pak Damar tidak langsung menjawab, Ia hanya berdiri diam, menatap putranya, menatap anak yang selama ini selalu ia lindungi dan kini ia melihat sendiri akibat dari semua keputusan yang dibuatnya.
"Pa." Arven melangkah mendekat. "Aku nggak mau cerai."
Pak Damar memejamkan mata sebentar lalu menghela napas panjang. Napas yang terasa sangat berat.
"Arven..."
"Aku nggak mau kehilangan dia."
Pak Damar menggeleng pelan.
"Bukan Papa yang menentukan itu."
"Tapi Papa bisa bicara sama Pak Rendra."
"Untuk apa?"
"Agar mereka menghentikan perceraian ini."
Pak Damar tertawa kecil. Tawanya terdengar pahit.
"Kamu masih belum mengerti juga?"
Arven terdiam sementara pak Damar menatapnya lurus.
"Tidak ada yang bisa Papa lakukan."
"Pa..."
"Karena masalah ini kamu sendiri yang memulainya."
Kalimat itu membuat Arven membeku dan membuat Pak Damar melanjutkan kembali perkataannya.
"Dari awal Papa sudah bilang."
"Papa—"
"Kamu yang memilih perempuan lain."
"Pa aku—"
"Kamu yang mengabaikan Kanisha." Arven menunduk dan Pak Damar belum selesai. "Kamu yang menghancurkan rumah tangga kalian." Suara Pak Damar mulai bergetar bukan karena marah tapi karena lelah. "Dan sekarang ketika semuanya hancur," Ia menunjuk surat perceraian itu. "Kamu baru sadar kalau kamu tidak ingin kehilangannya."
Arven mengepalkan tangannya.
"Tapi aku bisa memperbaiki semuanya, aku bisa meminta maaf sama Kanisha."
"Tidak."
"Aku bisa."
"Arven." Pak Damar menatapnya tajam.
"Kamu harus menerima kenyataan."
"Aku tidak mau."
"Kamu harus."
"Aku tidak mau, pa!" Suara Arven pecah, matanya memerah, sementara dadanya naik turun. "Aku nggak mau cerai dari Kanisha."
Pak Damar memejamkan mata sementara pengacara itu hanya diam di tempatnya. Tidak ikut campur ataupun menyela, karena ia tahu keputusan itu bukan lagi berada di tangannya.
"Aku tidak akan menandatangani surat itu."
Suara Arven terdengar lebih tegas. "Aku tidak akan bercerai dengan Kanisha."
Pak Damar menatap putranya sangat lama. Ia melihat sesuatu yang selama ini tidak pernah ada, Penyesalan. Penyesalan yang datang terlalu terlambat namun sayangnya, tidak semua hal bisa diperbaiki hanya karena seseorang akhirnya menyesal. Keheningan yang menyelimuti ruang tamu itu terasa semakin berat. Tidak ada yang berbicara, Arven masih menggenggam dokumen perceraian itu dengan erat di tangannya, seolah jika ia melepaskannya maka semuanya benar-benar akan berakhir. Sementara Pak Damar berdiri tidak jauh darinya dengan wajah lelah yang seakan sudah kehilangan tenaga untuk terus marah.
Pengacara yang duduk di sofa hanya bisa menunggu. Ia sudah menyampaikan maksud kedatangannya, Ia sudah menyerahkan dokumen perceraian Kanisha, Ia juga sudah menjelaskan semuanya, Namun keputusan tetap ada di tangan Arven. Dan saat ini, jelas sekali bahwa laki-laki itu tidak berada dalam kondisi yang bisa diajak berpikir dengan tenang. Pak Damar mengusap wajahnya perlahan lalu menoleh ke arah pengacara.
"Maaf." Suara pria paruh baya itu terdengar berat. "Saya rasa untuk hari ini tidak ada keputusan yang bisa diambil."
Pengacara tersebut mengangguk pelan.
"Saya mengerti, Pak."
Pak Damar menarik napas panjang.
"Tolong pulang dulu. Saya akan bicara dengan anak saya."
Pengacara itu terdiam sejenak sebelum akhirnya berdiri dari duduknya.
"Saya menghargai keputusan Anda." Ia lalu mengambil tas kerjanya. "Tapi saya berharap Pak Arven bisa segera memberikan kepastian."
Arven langsung mengangkat kepalanya.
"Tidak ada yang perlu dipastikan." Sahut Arven dengan keras kepala. "Aku tidak akan menandatangani surat itu."
Pengacara tersebut menatapnya beberapa detik.
"Saya hanya menjalankan tugas saya, Pak."
Arven tidak menjawab. Rahangnya mengeras sementara pengacara itu akhirnya membungkukkan badan dengan sopan kepada Pak Damar.
"Kalau begitu saya pamit."
Pak Damar mengangguk.
"Terima kasih."
Pengacara itu lalu berjalan menuju pintu depan. Beberapa saat kemudian suara pintu tertutup terdengar pelan dan begitu suara itu menghilang, suasana rumah terasa jauh lebih sunyi dari sebelumnya. Yang tersisa hanya seorang ayah dan anak yang sedang berdiri di tengah reruntuhan keputusan mereka sendiri.
Pak Damar memandang Arven cukup lama lalu perlahan duduk di sofa. Tubuhnya terlihat berat seolah beberapa minggu terakhir telah menghabiskan seluruh energinya.
"Arven." Putranya tidak menjawab, tatapannya masih terpaku pada dokumen perceraian di tangannya. "Arven." Kali ini Pak Damar mengulanginya lebih tegas barulah Arven mengangkat kepala.
"Apa?" Suara itu terdengar dingin dan membuat pak Damar menahan napas sejenak.
"Kamu harus berhenti bersikap kekanak-kanakan seperti ini."
Arven tertawa kecil tapi tawanya terdengar kosong.
"Papa bilang aku kekanak-kanakan?"
"Kamu harus menerima semuanya."
Kalimat itu langsung membuat wajah Arven berubah.
"Tidak."
Pak Damar memejamkan mata sesaat.
"Kamu harus."
"Tidak."
"Arven."
"Aku bilang tidak ya tidak!"
Pak Damar akhirnya berdiri. Nada suaranya mulai terdengar lebih tegas.
"Kamu sendiri yang memilih Selena." Arven langsung menegang. "Kamu yang memulai semuanya." Pak Damar melangkah mendekat.
"Kamu yang memutuskan menghancurkan rumah tanggamu."
"Pa—"
"Kamu yang menyakiti Kanisha." Arven mengepalkan tangannya dan Pak Damar belum selesai. "Kamu yang membuat perempuan itu pergi."
Kalimat demi kalimat terasa seperti pukulan yang terus menghantam kepalanya namun kali ini Arven tidak mau mendengar. Ia sudah terlalu lelah, marah, dan takut diceraikan Kanisha.
"Aku tahu!" Bentak Arven tiba-tiba dan membuat Pak Damar terdiam. "Aku tahu semuanya!" Suara Arven terdengar pecah sementara matanya mulai memerah. "Papa pikir aku tidak tahu? Aku tahu aku salah." Napas Arven mulai memburu. "Aku tahu aku sudah menghancurkan semuanya." Ia menunjuk dokumen perceraian di tangannya. "Aku tahu Kanisha membenciku." Suaranya bergetar. "Tapi aku tidak mau kehilangan dia."
Pak Damar memandang putranya cukup lama lalu menggeleng pelan.
"Kamu terlambat menyadarinya."
Kalimat itu membuat sesuatu dalam diri Arven kembali hancur dan kali ini rasa sakitnya jauh lebih besar karena jauh di dalam hatinya, Ia tahu ayahnya benar. Namun ia tidak ingin menerimanya. Tidak untuk sekarang.
"Papa, aku mohon tolong bicara lah dengan Pak Rendra."
"Untuk apa?"
"Untuk menghentikan perceraian ini."
Pak Damar menghela napas.
"Papa tidak bisa."
"Papa bahkan belum mencoba!"
Suara Arven meninggi.
d jmin bkln jth cnta kl udh ktmu lngsng,scra kanisha cntk plus hebat bgt.....