Gugur dalam tragedi berdarah di abad ke-14, jiwa Nyai Kencana—kesatria wanita Kerajaan Sunda—terlempar ke masa modern. Ia merasuki raga Citra, mahasiswi beasiswa yang nekat melompat dari jembatan demi menjaga kehormatannya dari jebakan pemerkosaan.
Kini, Citra bangkit dengan kepribadian baru: dingin, tegap, dan menguasai ilmu kanuragan kuno. Tidak ada lagi Citra lemah yang bisa ditindas!
Perubahan drastis Citra membuat Elang Dirgantara, pewaris tunggal konglomerat yang angkuh dan sombong, penasaran sekaligus jengkel. Hubungan mereka layaknya anjing dan kucing yang selalu bergesek konflik.
Namun, roda takdir berputar. Keluarga Elang bangkrut total dalam semalam. Diusir, dikhianati teman-temannya, dan nyaris bunuh diri.
Bagaimana kisahnya baca terus novelnya ya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamah Nissa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Benang Merah yang Terputus
Suasana di dalam kamar tidur utama kediaman Rania Puspa Dewi terasa begitu pekat dan pengap, seolah-olah dilapisi oleh kabut tipis dari ambisi yang membusuk.
Di atas ranjang berukuran king-size dengan sprei sutra abu-abu yang kini tampak kusut berantakan, gema dari napas yang memburu perlahan-lahan meredup. Cahaya matahari siang yang menyelinap dari balik tirai beludru yang tertutup rapat hanya mampu menerangi sebagian ruangan, menciptakan siluet-siluet panjang yang suram.
Rania berbaring telentang, membiarkan selimut tebal menutupi separuh tubuhnya yang polos. Gurat-gurat penuaan di sudut matanya yang tidak bisa sepenuhnya disembunyikan oleh perawatan medis mahal kini tampak lebih tegas di bawah temaram ruangan. Di sampingnya, Wijaya Samudra, kekasih gelapnya yang berusia jauh lebih muda, masih berbaring dengan napas yang berangsur teratur.
Pemuda itu menatap langit-langit kamar dengan seulas senyum sinis yang khas, seolah-olah baru saja menyelesaikan sebuah transaksi yang menguntungkan ego mudanya. Panggilan-panggilan laknat dan desahan yang baru saja memenuhi kamar itu kini menyisakan keheningan yang dingin.
"Kamu kelihatan gelisah banget hari ini, Tan," gumam Samudra, suaranya terdengar malas dan kasual. Ia membalikkan tubuhnya, menumpu kepalanya dengan satu tangan sembari menatap wajah Rania yang tampak kaku.
"Biasanya setelah sesi enak-enak kita, kamu lebih rileks. Ada masalah apa sebenarnya kamu bisa bicara sama aku?"
Rania tidak langsung menjawab.
Ia bangkit dari baringan, menarik napas panjang yang terasa berat di dalam rongga dadanya, lalu menyambar jubah tidur sutra hitamnya yang tergeletak di lantai. Dengan gerakan kasar, ia memakai jubah tersebut dan berjalan mendekati meja rias marmer miliknya.
"Aku lagi kesel Sam. Tiga orang preman yang aku sewa semalam hilang," desis Rania, suaranya pelan namun sarat akan nada amarah yang tertahan.
Jemarinya yang dihiasi kutek merah darah mengetuk-ngetuk permukaan meja kaca dengan ritme yang cepat, membuat botol-botol parfum mahal di atasnya bergetar pelan.
"Ponsel mereka mati total sejak pukul dua dini hari. Informanku di lapangan bilang, minibus mereka ditemukan telantar begitu saja di pinggir jalan arteri dekat kampus. Tidak ada bekas darah, tidak ada laporan polisi, dan yang paling membuatku gila... angkringan sialan tempat Elang bekerja itu masih berdiri utuh pagi ini!"
Samudra mengerutkan dahinya, mendadak kehilangan minat untuk bermalas-malasan di atas ranjang. Ia ikut bangkit dan duduk di tepi tempat tidur, menatap punggung Rania dari kejauhan. "Hilang? Maksudmu mereka kabur setelah menerima uang mukanya?"
"Mereka itu preman profesional yang biasa melakukan pekerjaan seperti ini, Sam! Mereka nggak akan berani kabur dari aku," bentak Rania, membalikkan tubuhnya dengan mata yang berkilat penuh amarah.
"Ini yang membuatku cemas. Seolah-olah masih ada pihak ketiga yang ikut campur. Seseorang telah membersihkan mereka dalam hitungan menit tanpa menimbulkan keributan sedikit pun. Aku mulai curiga... jangan-jangan ada rival bisnis lama atau sisa-sisa loyalis Bramantyo yang diam-diam bergerak di balik bayang-bayang untuk melindungi anak manja itu."
Ketakutan yang merayap di dinding dadanya membuat Rania merasa tidak aman. Jika benar ada kekuatan besar yang melindungi Elang, maka seluruh rencana sabotase aset korporasi yang sedang ia susun bersama sirkel rahasianya bisa terancam berantakan sebelum waktunya.
"Kamu harus perketat pengawasan di sekitar kampus, Sam," perintah Rania, nadanya tidak lagi membuka ruang untuk bantahan.
"Gunakan pengaruhmu di kalangan mahasiswa untuk memantau setiap gerak-gerik Elang. Aku akan menyewa kaki tangan baru dari luar kota yang tidak memiliki rekam jejak di Jakarta. Kita tidak boleh membiarkan anak harimau itu memiliki celah sedikit pun untuk membangun kembali kekuatannya dari bawah."
Samudra menyunggingkan senyum tipis, menyerap setiap kata dari wanita paruh baya di hadapannya dengan rasa percaya diri yang berlebihan.
"Tenang saja, Tante. Di kampus, Elang sudah bukan siapa-siapa lagi. Dia sudah jadi bahan tertawaan satu angkatan. Aku sendiri yang akan memastikan hidupnya di sana terasa seperti berjalan di atas pecahan kaca. Dan pada akhirnya dia akan menyerah, lalu memilih untuk keluar dari kampus itu!"
*
Sore harinya, setelah matahari mulai condong ke barat dan jam kuliah terakhir selesai, suasana di sebuah kafe bergaya industrial yang terletak beberapa ratus meter dari gerbang kampus tampak cukup ramai oleh kepulan asap kopi dan obrolan mahasiswa. Di sudut ruangan yang agak terisolasi oleh sekat tanaman hias, Natasha duduk sembari mengaduk es kopi latenya dengan gerakan jari yang tidak sabar. Sepasang matanya yang tajam berulang kali melirik ke arah pintu masuk, menunggu kehadiran seseorang.
Pintu kafe terbuka, denting bel kuningan berbunyi, dan sosok Samudra melangkah masuk dengan gaya angkuh yang biasa ia pamerkan di koridor kampus. Begitu melihat Natasha, pemuda itu langsung berjalan mendekat dan mengambil posisi duduk di kursi kayu di hadapan sang selebram kampus.
"Ada apa? Tiba-tiba mengajak bertemu di sini?" tanya Samudra langsung, menyandarkan punggungnya dengan santai.
Natasha memajukan tubuhnya ke arah meja, menurunkan volume suaranya namun memastikan setiap katanya terdengar jelas dan tajam di telinga Samudra.
"Gue cuma mau bahas apa yang terjadi di koridor fakultas kemarin pagi, Sam. Lo sadar nggak sih? Sikap Elang itu mulai melunjak. Dia sama sekali nggak kelihatan takut waktu lo gertak di depan anak-anak."
Samudra mendengus remeh, mencoba menyembunyikan rasa canggung yang sempat ia rasakan tadi pagi. "Hmm kamu yakin dengan sikapnya itu. Atau dia cuma pura-pura tenang, Nat. Gengsi lamanya sebagai anak konglomerat masih tersisa sedikit, makanya dia coba pasang muka tembok. Tinggal tunggu waktu saja sampai dia benar-benar pecah."
"Nggak, Sam. Lo salah menilai situasi," potong Natasha cepat, matanya menyipit penuh manipulasi ego.
"Kemarin itu lo kelihatan seperti pecundang di depan anak-anak angkatan. I-itu karena Elang bahkan nggak sudi membalas kata-kata lo dengan amarah. Dia cuma menatap lo seolah-olah lo itu nggak ada harganya. Kalau lo biarkan ini terus berlanjut, reputasi lo sebagai penguasa baru di fakultas bakal perlahan-lahan runtuh karena anak-anak kampus bakal menganggap lo nggak punya taji di depan mantan pangeran yang sudah jatuh miskin. Lo nggak mau itu terjadi kan?"
Kata-kata Natasha menghantam tepat pada titik terlemah dari ego Samudra. Pemuda itu mengepalkan tangannya di atas meja, urat-urat di pergelangan tangannya menegang sesaat. Gengsi dan harga diri adalah segalanya bagi Samudra di lingkungan sosial kampus ini.
"Lalu lo mau gue ngapain? Memukul dia di area kampus? Itu bisa bikin gue kena sanksi drop-out dari dekanat," desis Samudra kesal.
Natasha menyunggingkan senyum licik, merasa berhasil mengarahkan emosi Samudra sesuai dengan keinginannya.
"Jangan sentuh Elang dulu kalau di dalam kampus. Otak dari semua perubahan ini bukan dia, Sam. Tapi cewek beasiswa sialan itu... Citra Kencana."
Samudra mengernyit. "Citra? Haha... jangan jangan lo cemburu sama dia, karena Elang lebih dekat dengannya?"
"Itu tidak level bagi gue, Sam! Gue yakin banget, Citra itu memiliki pengaruh positif terhadap perubahan Elang. Dia mendadak menjadi punya nyali untuk bertahan, tidak lagi emosi yang berlebihan," ucap Natasha, rasa iri dan kebenciannya yang pekat terhadap kecerdasan Citra kian meluap dalam setiap kata yang diucapkannya.
"Di kelas, dia selalu membuat gue kelihatan bodoh di depan dosen-dosen. Popularitas gue sebagai selebram kampus, dan anak pengusaha terkaya mulai terancam. Kita harus cari cara untuk menjatuhkan Citra terlebih dahulu. Kalau reputasi akademiknya hancur, dia bakal ditendang dari kampus, dan Elang bakal kehilangan satu-satunya pelindung tempat dia bersandar. Dan gue yakin dia akan balik ke mode awal, saat itu lah kita rencanakan plan selanjutnya. Menendang Elang dari kampus. Dan itu sangat mudah."
Samudra merenungkan ucapan Natasha selama beberapa saat. Skenario tersebut terasa jauh lebih elegan dan mematikan daripada sekadar adu jotos di pinggir jalan yang berisiko.
"Oke. Gue bakal cari celah untuk menjebak cewek beasiswa itu. Tapi untuk Elang... gue tetap punya cara sendiri. Gue bersumpah bakal memberi dia pelajaran yang jauh lebih keras di luar area kampus, di tempat di mana namanya nggak akan bisa menolongnya lagi."
Natasha tersenyum puas, menyesap kembali minumannya dengan perasaan kemenangan yang mulai mekar di dalam hatinya. Benang merah konspirasi di antara mereka kini telah terikat dengan kuat, siap untuk menjerat target mereka dalam waktu dekat.
**
Malam pun tiba, membawa kembali embusan angin dingin yang menusuk tulang melintasi jalanan kota Jakarta yang kian sepi. Di tepi trotoar jalan utama dekat kompleks kos, Angkringan Tenda Arema kembali dibuka untuk umum. Terpal plastik biru-oranye berkibar-kibar pelan dihantam angin malam yang kian kencang. Meskipun Surya telah berusaha membersihkan area gerobaknya dengan air sabun sejak sore tadi, bau sisa bensin yang tumpah semalam masih tercium samar di udara, bertindak sebagai pengingat bisu bahwa maut hampir saja melalap tempat ini.
Suasana pembeli malam ini tidak sepadat biasanya, meninggalkan jeda waktu yang cukup panjang di antara pesanan. Surya berdiri di balik panggangan, sepasang matanya yang tajam terus bergerak mengawasi setiap kendaraan yang melintas di depan jalan utama dengan tingkat kewaspadaan yang tidak biasa untuk ukuran seorang penjual makanan.
Saat ia sedang membalik beberapa tusuk sate usus di atas bara arang, insting jalanannya menangkap sebuah objek yang mencurigakan. Sebuah mobil sedan hitam dengan kaca film yang sangat gelap terparkir pasif di bawah bayangan ruko kosong yang berada jauh di seberang jalan. Mesin mobil itu mati, seluruh lampunya padam, namun posisi parkirnya terlalu presisi untuk sekadar kendaraan yang sedang beristirahat.
Surya tidak tahu bahwa mobil tersebut adalah unit pengawas rahasia milik tim intelijen Wirawan Dirgantara yang ditugaskan untuk memastikan tidak ada serangan susulan dari pihak Rania. Dalam benaknya sebagai anak perantauan, mobil itu adalah perpanjangan tangan dari kelompok preman yang datang kembali untuk mengintai situasi sebelum melancarkan aksi balas dendam.
Surya menggeser tubuhnya mendekati Elang yang sedang berdiri kaku sembari menahan sisa kram di otot pahanya akibat latihan tadi pagi. Pemuda Malang itu menurunkan volume suaranya hingga menyerupai bisikan rendah di sela-sela kepulan asap panggangan.
"Lang... lihat mobil sedan hitam di seberang jalan itu," bisik Surya, matanya melirik sekilas tanpa menggerakkan kepalanya secara mencolok.
"Mobil itu sudah nongkrong di sana sejak kita buka tenda tadi sore. Feeling-ku nggak enak, Sam. Kayaknya orang-orang semalam datang lagi buat mengintai kita."
Elang menghentikan gerakannya memegang jepitan sate, matanya melirik ke arah yang ditunjuk Surya. Dinding dadanya mendadak berdegup kencang, bukan karena ketakutan yang melumpuhkan seperti hari-hari sebelumnya, melainkan karena lonjakan adrenalin yang memicu kesadarannya untuk waspada.
Surya menepuk pundak Elang dengan telapak tangannya yang kasar, sebuah gestur yang sarat akan loyalitas persahabatan yang murni.
"Malam ini kita beneran harus siaga satu. Kalau sampai terjadi keributan lagi dan situasinya nggak terkendali, lo nggak usah mikirin gerobak atau dagangan gue, Lang. Lo langsung lari bawa Citra sama Kirana masuk ke dalam kos. Kunci gerbangnya. Biar gue sendiri yang urus gerobak ini pakai balok kayu di belakang."
Mendengar kata-kata tersebut, ada sesuatu yang hangat namun tajam yang menusuk ke dalam batin Elang. Ia terenyuh melihat bagaimana Surya, sebagai sahabatnya di kampus, rela mempertaruhkan sumber penghidupan satu-satunya dan keselamatan dirinya sendiri hanya demi melindungi dirinya dan yang lain.
Loyalitas tanpa pamrih ini terasa begitu asing namun teramat berharga bagi Elang yang selama ini terbiasa hidup di dunia elite yang penuh dengan kepura-puraan dan transaksi kepentingan.
Gue nggak boleh lari lagi, sumpah Elang di dalam hatinya dengan kepalan tangan yang mengeras di balik meja pendek. Gue nggak akan biarkan tempat ini hancur, dan gue nggak akan biarkan Surya menghadapi bahaya sendirian hanya karena kelemahan gue.
Tekadnya untuk menjadi kuat kini tidak lagi didorong oleh sekadar rasa bersalah atau gengsi yang terluka; tekad itu kini memiliki akar yang lebih dalam, yaitu keinginan mutlak untuk melindungi orang-orang yang telah bersedia menjadi tempatnya bersandar di saat seluruh dunianya runtuh menjadi abu.
Tengah malam pun tiba, membawa kesunyian yang kian mencekam setelah bentangan terpal plastik biru-oranye selesai digulung dan diikat kuat pada gerobak kayu. Kirana telah masuk ke dalam kosnya, mengunci pintu gerbang dari dalam dengan jemari yang masih dingin oleh sisa ketakutan semalam.
Di bawah koordinasi singkat, Citra kembali membawa Elang menuju ke area taman mati yang terbengkalai di bagian belakang kompleks kompleks hunian kos-kosan.
Di bawah siraman cahaya temaram dari sebatang tiang lampu taman yang berkarat, atmosfer di sekeliling mereka terasa sunyi dan agung.
Elang berdiri dengan kedua kaki dibuka selebar bahu. Meskipun paha dan betisnya masih terasa kaku dan berdenyut-denyut akibat kram sepanjang hari, posisi kuda-kuda rendahnya malam ini terlihat jauh lebih kokoh dan stabil daripada malam pertama. Poros tubuhnya terkunci dengan baik, menapak kuat pada permukaan tanah yang basah oleh embun malam.
Citra berdiri tepat dua langkah di hadapan Elang.
Di tangan kanannya, ia kembali menggenggam sebatang ranting pohon kecil yang patah dari pohon mangga.
Sepasang mata bulatnya yang tajam menatap lurus ke dalam pupil mata Elang, melakukan penilaian tanpa suara terhadap kesiapan mental murid barunya.
"Kuda-kuda lo sudah mulai menemukan dasarnya," ucap Citra, suaranya jernih dan dingin membelah keheningan malam.
"Tapi di dalam pertarungan yang sebenarnya, musuh tidak akan membiarkan lo diam mengunci posisi seperti patung batu. Kekuatan tanpa refleks adalah sasaran empuk bagi sebilah pisau. Malam ini, kita masuk ke tahap kedua: transisi fisik ke refleks tangkisan."
Citra mengangkat ranting pohon di tangannya, memosisikannya sejajar dengan dada. "Gue akan menyerang titik-titik vital di tubuh lo, bahu, rusuk, dan wajah, dengan kecepatan sedang. Tugas lo hanya satu: jangan ubah posisi kuda-kuda rendah lo, dan gunakan lengan bawah lo untuk menepis setiap hantaman ranting ini sebelum menyentuh kulit lo. Mulai."
Tanpa memberikan aba-aba lanjutan, tangan kanan Citra bergerak dengan kecepatan yang konstan namun terarah. Ranting pohon itu mengayun cepat, mengincar bahu kiri Elang.
Plak!
Elang terlambat menggerakkan lengannya.
Ranting kecil itu mendarat dengan akurasi yang tepat di bahu kirinya, meninggalkan rasa perih yang tajam yang langsung menusuk sarafnya. Elang meringis kecil, poros tubuhnya sempat goyah ke atas karena refleks menahan sakit.
"Jangan naikkan poros tubuh lo! Tetap di bawah!" bentak Citra dingin, matanya sama sekali tidak menunjukkan rasa iba atau toleransi terhadap rasa sakit fisik Elang.
"Fokus mata lo bukan pada ranting ini, tapi pada pergerakan pundak gue. Setiap serangan selalu dimulai dari rotasi pundak."
Detik berikutnya, ranting itu kembali mengayun, kali ini mengincar rusuk kanan Elang yang terbuka. Elang mencoba mengayunkan lengan kanannya untuk menepis, namun gerakannya terlalu kaku dan lambat.
Plak!
Hantaman kedua mendarat telak di tulang rusuknya, membuat napas Elang sempat tercekat selama satu detik.
Rasa perihnya kian membakar, memicu keringat dingin untuk kembali mengucur deras dari dahi dan pelipisnya yang pucat. Kaos oblong pudarnya kini mulai menempel ketat di kulit dadanya yang naik-turun megap-megap mengatur pasokan oksigen yang kian menipis.
Namun, berbeda dengan malam-malam sebelumnya di mana Elang mungkin akan mengeluh atau merasa frustrasi di dalam batinnya, kali ini tidak ada satu kata protes pun yang keluar dari tenggorokannya.
Setiap kali ia gagal menangkis dan menerima hantaman rasa sakit, ia langsung mengatupkan rahangnya begitu rapat hingga giginya berkerit, lalu segera mengembalikan posisi kedua tangannya ke depan dada dalam sikap siaga yang penuh tekad.
Siksaan fisik itu terus berlanjut selama hampir satu jam penuh di bawah tiang lampu taman. Kulit di sepanjang kedua lengan bawah Elang kini mulai dihiasi oleh guratan-guratan memar kebiruan akibat hantaman konstan dari ranting kayu Citra.
Setiap sentuhan ranting terasa seperti siraman cairan panas yang menguji batas ketahanan saraf otaknya. Pandangannya beberapa kali sempat mengabur karena kelelahan yang menumpuk di otot matanya, namun jiwanya menolak untuk menyerah pada kelemahan raga tersebut.
Citra diam-diam menangkap perubahan yang luar biasa kokoh pada diri pemuda di hadapannya ini. Kecepatan adaptasi mental Elang melampaui perhitungan matematisnya tentang seorang anak manja. Kebebalan aristokrat itu telah melebur sepenuhnya di atas tanah taman yang keras, digantikan oleh kesadaran murni seorang petarung yang sedang lapar akan kekuatan untuk membela diri.
Di tengah-tengah sesi latihan yang kian intens, gerakan tubuh Citra mendadak melambat, lalu berhenti sepenuhnya. Ia menurunkan ranting pohonnya, sepasang telinganya bergerak tipis menangkap sebuah getaran suara yang sangat halus dari arah luar kompleks taman.
Pendengaran kanuragannya yang tajam mendeteksi bahwa pengawas rahasia, mobil sedan hitam yang sejak sore tadi dicurigai oleh Surya, masih berada di posisinya, dan salah satu dari orang di dalamnya tampaknya sedang mengamati pergerakan mereka di taman ini dari balik celah ruko kosong menggunakan teropong jarak jauh.
Citra sengaja memanfaatkan situasi pengawasan ini sebagai materi ujian tambahan bagi Elang, tanpa perlu membocorkan kehadiran tim intelijen tersebut agar fokus Elang tidak terbagi oleh rasa aman yang palsu.
"Elang, dengar baik-baik," ucap Citra, suaranya beralih menjadi lirih namun memiliki bobot tekanan yang menembus ulu hati kesadaran Elang.
"Saat lo berada di medan laga, musuh terbesar lo itu bukan orang yang sedang mengayunkan senjata di depan mata lo. Tapi rasa takut dan kecemasan di dalam pikiran lo sendiri kalau lo sedang diawasi, dinilai, atau dihakimi oleh orang lain. Kunci fokus lo. Buang semua distorsi di sekeliling lo. Anggap malam ini hanya ada gue, lo, dan ranting ini."
Elang menarik napas panjang lurus melintasi rongga dadanya, mencoba menyerap esensi dari kalimat Citra. Ia memejamkan matanya selama tiga detik untuk menstabilkan detak jantungnya yang berdegup kencang, lalu membukanya kembali dengan binar mata yang sepenuhnya jernih, tajam, dan terkunci total pada sosok Citra di hadapannya. Ia melupakan rasa sakit di pahanya, melupakan memar di lengannya, dan mengabaikan desau angin malam yang kian kencang di sekeliling taman.
Citra tersenyum tipis dalam batinnya, lalu melakukan satu pergerakan tipis yang teramat cepat. Ranting di tangannya menusuk lurus, mengincar titik tengah di antara kedua mata Elang dengan kecepatan penuh, sebuah serangan mendadak yang tidak lagi menggunakan kecepatan sedang.
Kali ini, saraf refleks Elang yang telah ditempa oleh puluhan hantaman rasa sakit bergerak mendahului logikanya.
Kedua lengan bawahnya menyilang di depan wajah dengan presisi yang sempurna, menapak kuat pada poros kuda-kuda rendahnya yang tak bergeming sedikit pun.
Prat!
Ujung ranting pohon di tangan Citra menghantam telat pergelangan tangan kiri Elang yang sudah mengunci posisi tangkisan. Kekuatan momentum dari tangkisan bersih pertama Elang itu begitu solid hingga membuat ranting kayu yang kering di tangan Citra patah menjadi dua bagian di udara, menyisakan patahan kecil yang jatuh di atas hamparan rumput taman yang basah.
Keheningan malam mendadak mengunci atmosfer taman mati tersebut.
Elang menurunkan kedua tangannya perlahan, menatap patahan ranting di atas tanah dengan sepasang mata yang melebar, kali ini bukan karena syok atau ketakutan, melainkan karena rasa tidak percaya yang bercampur dengan letupan kepuasan yang murni dari lubuk jiwanya. Ia berhasil.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia berhasil mementahkan sebuah serangan nyata bukan karena nama besar kakeknya atau tebalnya dompet emas keluarganya, melainkan karena ketangguhan jiwanya sendiri yang berdiri tegak menantang ujian fisik di atas tanah keras.
Citra membuang sisa patahan ranting di tangannya, lalu menatap Elang dengan seulas anggukan kepala yang sangat samar namun sarat akan pengakuan wibawa.
"Latihan malam ini selesai. Tanah mentah di kaki lo... sudah mulai mengeras menjadi sebuah senjata," ucap Citra lirih sebelum berbalik badan berjalan meninggalkan taman menuju koridor kos.
Elang berdiri mematung di bawah tiang lampu taman yang berkarat, menatap kedua telapak tangannya yang kini dipenuhi warna hitam arang kotor dan memar kebiruan.
Rasa sakit di tubuhnya malam ini tidak lagi terasa membebani; rasa sakit itu kini telah bertransformasi menjadi tanda kehormatan fisik yang sah bahwa ia bukan lagi seorang pengecut yang meratapi nasib di balik terpal angkringan, melainkan seorang pria yang baru saja mengambil langkah pertama untuk merebut kembali takhta kehormatannya dari dasar bumi.