Perjuangan cinta yang juga harus membutuhkan restu.
"kamu itu terlahir dalam adat apa? sadar gak sih kamu????"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pasaribu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berani Tampil Berbeda Demi Dia
"Aaaaa.......!"
Elora tiba-tiba berteriak di tengah ceritanya sendiri, membuat Elisya yang sedang minum langsung tersedak.
"Astaga!!! Kenapa lagi sih?"
Elora menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia menggulingkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri di lantai begitu saja.
"Aaaa!! Kalau kuingat-ingat lagi, malu kali aku....."
"Berarti tadi kau gereja sama dia?" tanya Elisya langsung tanpa basa basi.
Elora yang tersenyum salting tiba-tiba membeku.
"Eee.... Eee..."
"Dia jadi alasannya kau ninggalin aku gitu aja?" Elisya menatapnya lekat, menunggu jawaban.
Elora perlahan duduk tegak. Senyum canggung muncul di wajahnya.
"Hehehe......"
Elisya masih dengan ekspresinya membuat Elora mengangguk kecil.
"Iyaa....." jawabnya terasa panjang dan penuh rasa bersalah.
Elisya langsung memejamkan mata.
"Astaga..... Aku ditinggal sendirian di gereja gara-gara kau cari laki-laki itu?"
Elora kembali nyengir tak enak.
"Sedikit....."
"Sedikit apanya? Jelas-jelas iya. Mana kamu bilang sebentar lagi."
Elora tertawa kecil sambil menghindari tatapan sahabatnya.
"Aku panik waktu dia bilang udah sampai."
"Jadi aku ditinggal? Hebat ya....."
Elora langsung meraih tangan sahabatnya.
"Jangan marah ya....." ucapnya sambil memasang wajah kasihan.
Meski terdengar kesal, Elisya sebenarnya sudah mulai menahan tawa melihat wajah bersalah Elora.
"Maaf ya...." Elora merapatkan kedua tangannya. Itu cukup menandakan bahwa ia sangat merasa bersalah.
"Iya....Tapi lain kali jangan gitu ya.... Aku kan bingung jadinya." jawab Elisya kembali pada wajah Elisya yang melembut.
"Janji....." balas Elora sambil memeluk sahabatnya itu.
Keduanya kembali mengobrol santai sampai malam benar-benar mulai turun.
Di tempat lain, Asido duduk di depan meja kerja kecilnya dengan laptop yang menyala sejak satu jam lalu.
Beberapa dokumen terbuka di layar. Sesekali ia mengetik, sesekali berhenti untuk membaca kembali catatan yang telah dibuatnya.
Besok bukan hari yang bisa dianggap sepele. Ada rapat penting di kliniknya. Asido akan bertemu dengan beberapa dokter yang sedang dipertimbangkan untuk bergabung dan bekerja sama dengannya.
Itu alasannya, banyak hal yang harus dipersiapkan.
Mulai dari profil klinik, rencana pengembangan layanan, pembagian jadwal praktik, hingga target yang ingin dicapai dalam beberapa tahun ke depan.
Asido mengusap dagunya pelan sambil membaca sebuah berkas.
"Dokter konservasi......."
Klik.
Ia berpindah ke berkas berikutnya.
"Dokter ortodonti....."
Klik.
Beberapa nama dan pengalaman kerja terpampang di layar.
Asido memperhatikan semuanya dengan serius. Ia bukan tipe orang yang asal merekrut. Baginya, kemampuan memang penting, tetapi sikap dan cara dokter memperlakukan pasien jauh lebih penting lagi.
Asido memang biasanya selalu meluangkan waktu untuk mengenal calon rekan kerjanya sebelum mengambil keputusan.
Jam di sudut layar laptopnya menunjukkan waktu yang semakin malam. Namun, Asido masih belum beranjak. Sebuah cangkir kopi di sampingnya sudah hampir kosong.
Ia meregangkan bahunya lalu bersandar ke kursi.
"Semoga besok semuanya berjalan lancar....." gumamnya pelan.
Meski lelah, ada rasa puas yang muncul dalam dirinya. Klinik yang dulu dirintis dengan susah payah kini perlahan berkembang.
Asido akhirnya menutup laptopnya. Ia meregangkan tubuhnya sebelum berdiri.
"Sudah jam segini rupanya....." gumamnya.
Di luar juga sudah tak ada terdengar suara ribut dari teman-temannya, yang biasanya akan terdengar berisik dan cukup mengganggu.
"Pantasan," ucapnya.
Ia mengambil handuknya dan melangkah ke kamar mandi.Tepat di depan pintunya, pikirannya kembali pada Nowela tadi.
"Cerita......? Astaga......"
Asido melangkah cepat mengambil HPnya.
"Jangan sampai dia salah paham......" gumamnya khawatir.
Ia tak ingin sikapnya tadi malam membuat perempuan itu merasa diabaikan. Tangannya langsung meraih ponsel yang tergeletak di atas meja.
"Tapi......" ujarnya, jarinya sempat berhenti di atas layar.
Setelah ia pikir pikir, menanyakan langsung malam itu juga mungkin bukan ide yang baik. Jika memang ada hal berat yang ingin diceritakan, bisa jadi Nowela malah kembali memikirkannya sepanjang malam.
"Besok saja," simpulnya.
...Asido : Besok pagi aku akan mampir ke sana ya....
Istirahat yang cukup malam ini, Nowela."
Asido membaca ulang pesannya beberapa kali. Sederhana. Tapi cukup untuk memberi tau bahwa ia tidak melupakan percakapan mereka.
Ting...... Nowela membaca pesan itu. Sudut bibirnya langsung terangkat, tersenyum bahagia.
"Abang itu besok pagi ke sini? Ngapain ya......" ucapnya masih tetap tersenyum.
Rasa percaya dirinya langsung meningkat. Dadanya terasa hangat membacanya. Bahkan dia belum kepikiran dengan cerita yang tak jadi dikatakannya itu tadi.
^^^Nowela : Iya, Bang..... Selamat istirahat juga."^^^
Malam itu Nowela tertidur kurang nyenyak. Sepanjang malam ia terbangun-bangun tanpa alasan yang jelas. Bukan karna gelisah tapi karna rasa tak sabar akan pagi, pagi yang ia nantikan karna ingin bertemu dengan Asido.
Jam menunjukkan pukul empat, Nowela sudah terbangun.
"Rapikan yang ini dulu, dia kan dokter..... Pasti tak suka melihat sesuatu yang berantakan." gumamnya sendiri.
Kamar itu perlahan kembali rapi di tangannya. Setelah membereskan kamar, ia lanjut menuju kamar mandi. Sebenarnya tak ada jadwal kuliah yang mau dia kejar hari ini. Lagipun, dari caranya bergerak pagi ini terlihat berbeda, lebih bersemangat.
"Apa aku........?"
Nowela melihat wajahnya sendiri pada cerminnya. Ia membuka laci meja dan mengambil sebuah pensil alis. Perlengkapan rias yang biasanya jarang ia sentuh.
Hari-hari biasa, Nowela tak pernah memakai make up.
"Ini tidak masalah kan?" tanyanya sendiri meyakinkan bahwa tindakannya tak salah.
Ia mulai merapikan alisnya sedikit. Diikuti make up tipis di wajahnya.
"Warna ini..... Cocok."
Nowela menambahkan warna pada bibirnya. Tidak mencolok. Tapi cukup membuat wajahnya terlihat lebih segar.
Semuanya selesai, ia kembali menatap cermin.
"......emmm......" Dia memiringkan sedikit kepalanya ke kanan dan kiri. Ia seolah sedang menilai hasilnya.
Saat itu, sudut bibirnya terangkat tipis. Bukan senyum lebar. Hanya senyum kecil.
"Cantik....." ucapnya.
Di tempat lain, pagi Asido berjalan jauh dari rencana. Malam sebelumnya ia tidur terlalu larut karna tugasnya. Akibatnya, alarm yang biasanya langsung membuatnya bangun justru tidak berhasil pagi itu.
Hingga akhirnya, Asido membuka mata perlahan. Seketika matanya membelalak saat melirik jam di samping tempat tidurnya.
"Mampus...."
Asido langsung bangkit dari kasur. Hari itu ia memiliki meeting penting di pagi hari.
Asido bergegas menuju kamar mandi. Dan semuanya dilakukan terburu-buru. Kemejanya dipakai sambil berjalan. Jam tangan hampir saja tertinggal di meja. Bahkan rambutnya hanya sekedar dirapikan saat ia mengambil tasnya dan keluar kamar.
"Astaga......." gerutunya sambil mengunci pintu kamarnya.
Dengan langkah cepat, ia sudah berada di parkiran dan hendak mengambil motornya. Namun saat tangannya menyentuh stang motor, ia tiba tiba membeku.
"...... "
Wajahnya berubah. Ingatannya langsung kembali pada pesan yang ia kirim semalam.
"Astaga....."
Hari ini ia berjanji akan datang ke kos Nowela. Sementara jam terus berjalan dan meetingnya juga tak bisa ditinggalkan.