NovelToon NovelToon
Sistem Pilihan Takdir

Sistem Pilihan Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Dikelilingi wanita cantik / Sistem
Popularitas:956
Nilai: 5
Nama Author: 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i

​Sinopsis
​Di Alam Fana, hukum rimba adalah satu-satunya kebenaran. Lin Chen, murid pelataran luar Sekte Pedang Awan, menyadari kenyataan pahit ini sejak hari pertama. Bakatnya pas-pasan, sumber dayanya selalu dirampas, dan nyawanya tak lebih berharga dari rumput liar. Saat maut hampir merenggutnya di ujung tebing, sebuah anomali tanpa asal-usul bangkit di dalam benaknya: Sistem Pilihan Takdir.
​Sistem ini menolak memberikan kekuatan instan. Setiap krisis hanya akan memunculkan tiga jalur pilihan di matanya, masing-masing membawa risiko dan hadiah yang berbeda. Hadiah tersebut bukanlah pil dewa yang langsung membuatnya kebal, melainkan teknik dasar, petunjuk tersembunyi, atau sekadar kesempatan bertahan hidup sesaat. Semuanya menuntut Lin Chen untuk memeras keringat, darah, dan akalnya sendiri. Dari kerasnya Alam Fana, merangkak naik menuju kemegahan Dunia Tengah para immortal hingga akhirnya mengincar keabadian sejati di alam dewa , Lin Chen mengukir jalannya selangkah demi selang

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 23 Tarian darah sang darah iblis dan gerbang menuju jurang

Angin panas berhembus melintasi arena Koloseum Jalur Darah, menerbangkan debu-debu pasir kemerahan yang berbau anyir. Di tengah kawah kematian tersebut, mayat Han Zo terbaring dengan kepala yang telah kehilangan bentuk aslinya. Sorakan puluhan ribu penonton di tribun bergema memekakkan telinga, menciptakan gelombang suara yang menggetarkan dinding-dinding obsidian setinggi tiga puluh meter.

Mereka meneriakkan satu julukan secara serempak.

"Iblis Satu Tangan! Iblis Satu Tangan! Iblis Satu Tangan!"

Di tengah histeria massal itu, Lin Chen berdiri seperti sebuah monumen penderitaan yang menolak untuk runtuh. Jubah hitamnya robek compang-camping, direndam oleh keringat dan darahnya sendiri, serta darah musuh-musuhnya. Lengan kanannya masih terkulai kaku, namun di balik rasa kebas tersebut, sebuah denyut hangat yang sangat tipis mulai merambat melewati meridian yang rusak. Kesempatan pemulihan lima persen dari Sistem terasa bagaikan setetes air di tengah Gurun Debu Bintang, kecil namun sangat nyata.

Jauh di atas sana, di balkon VIP yang dilapisi formasi kaca pelindung, duduk sesosok pria paruh baya mengenakan jubah sutra berwarna emas gelap. Matanya setajam elang, memancarkan aura Tahap True Immortal Menengah yang menekan udara di sekitarnya. Pria ini adalah Yan Wu, salah satu dari Tiga Penguasa Kota Batu Hitam.

Yan Wu menopang dagunya dengan tangan kanan, mengetukkan jari telunjuknya ke pegangan kursi yang terbuat dari tengkorak binatang iblis.

"Menarik," gumam Yan Wu pelan. Suaranya cukup untuk membuat para pengawal di sekitarnya menahan napas. "Seorang Ascender yang bahkan belum mencapai Tahap Transformasi Fana, bertarung dengan satu lengan, namun mampu membunuh penjagal sekelas Han Zo hanya dengan sentuhan telapak tangan. Teknik apa yang dia gunakan? Fluktuasi energinya sangat aneh, perpaduan antara Yin dan Yang yang dikompresi ke batas ekstrem."

Seorang pengawas arena yang berdiri di samping Yan Wu membungkuk hormat. "Tuan Kota, pemuda bertopeng ini mendaftar dengan nomor 404. Dia telah melewati delapan ronde dalam waktu yang memecahkan rekor koloseum. Apakah kita harus mengeluarkan 'koleksi khusus' untuk dua ronde terakhir? Menghancurkannya sekarang mungkin akan menghibur penonton."

Yan Wu menyeringai tipis, sebuah senyuman yang menyembunyikan kekejaman absolut. "Tentu saja. Jalur Darah tidak pernah memberikan 'Segel Penambang Bebas' secara cuma-cuma. Lepaskan *Naga Pasir Besi Hitam* untuk ronde kesembilan. Jika dia bisa bertahan dari itu... kirimkan Kui untuk menyelesaikannya di ronde kesepuluh."

Pengawas itu terkesiap, namun segera menyembunyikannya. "Sesuai perintah Anda, Tuan Kota."

Di bawah, di dasar arena, suara klakson tanduk naga kembali berbunyi. Kali ini, suaranya terdengar jauh lebih panjang dan berat, menggetarkan lantai pasir.

Tiga gerbang besi di sisi timur arena perlahan ditarik ke atas secara bersamaan. Dari dalam kegelapan lorong raksasa tersebut, terdengar suara geraman rendah yang membuat suhu di dalam arena terasa turun drastis. Tanah berguncang pelan, diikuti oleh suara gesekan sisik logam yang beradu dengan batu.

Seekor monster raksasa merayap keluar dari dalam kegelapan.

Hewan iblis itu memiliki panjang lebih dari lima belas meter. Tubuhnya menyerupai kadal raksasa yang tidak memiliki kaki, melata layaknya ular, namun kepalanya berbentuk seperti naga tanpa tanduk. Seluruh tubuhnya ditutupi oleh sisik-sisik tebal berwarna hitam pekat yang memancarkan kilau logam. Liurnya menetes ke atas pasir, mendesis dan melelehkan batuan di bawahnya akibat kandungan racun asam yang sangat pekat.

Itu adalah *Naga Pasir Besi Hitam*, binatang iblis bawah tanah yang hidup di pinggiran Jurang Kehampaan. Makhluk ini berada di level puncak hewan iblis tingkat menengah, setara dengan praktisi Tahap Transformasi Fana Puncak, dan sisiknya terkenal kebal terhadap sebagian besar senjata dan serangan Qi biasa.

"Ronde Kesembilan!" teriak pembawa acara, suaranya sedikit bergetar melihat monster yang baru saja dilepaskan. "Ujian sesungguhnya bagi sang Iblis Satu Tangan! Bisakah dia menembus pertahanan absolut dari Naga Pasir Besi Hitam?!"

Penonton kembali bergemuruh, namun kali ini banyak yang mulai duduk di tepi kursi mereka dengan tegang. Naga ini adalah eksekutor koloseum; makhluk yang ditugaskan untuk membersihkan gladiator yang terlalu sombong.

Lin Chen menatap monster raksasa di depannya. Matanya yang mengintip dari balik topeng besi tidak menunjukkan ketakutan, melainkan perhitungan yang sangat dingin. Stamina fisiknya telah terkuras. Menggunakan *Telapak Penghancur Bintang* berkali-kali telah memberikan beban luar biasa pada lengan kirinya. Otot-ototnya merintih meminta istirahat.

Layar cahaya biru transparan meledak di depan pandangannya.

**[Situasi Pembantaian Ekstrem: Ronde 9.]**

**[Musuh: Naga Pasir Besi Hitam (Setara Transformasi Fana Puncak). Kelemahan: Rongga mulut dan tenggorokan tidak dilindungi sisik.]**

**[Silakan tentukan strategi eksekusi Anda:]**

**[Pilihan 1: Bergerak menghindar menggunakan 'Langkah Bayangan Iblis' secara terus-menerus hingga monster tersebut kehabisan napas dan kembali ke sarangnya.

Hadiah: Anda selamat ke ronde 10. Cadangan Qi Anda akan habis sepenuhnya. Anda akan menghadapi ronde terakhir tanpa tenaga.]**

**[Pilihan 2: Gunakan sisa pedang patah, pusatkan seluruh Qi untuk menikam mata makhluk tersebut agar buta, lalu hindari amukanya.

Hadiah: Anda kehilangan senjata terakhir. Risiko 70% pedang patah sebelum menembus kornea matanya yang keras. Kematian akibat tebasan ekor.]**

**[Pilihan 3: Biarkan monster itu menyerang. Gunakan celah saat ia membuka rahangnya untuk mengonsumsi Anda. Masukkan lengan kiri Anda yang memegang 'Telapak Penghancur Bintang' langsung ke dalam tenggorokannya dan ledakkan inti iblisnya dari dalam. Serap energi liar dari inti iblis tersebut.

Hadiah: Kematian instan bagi musuh. Lengan kiri Anda akan mengalami luka bakar asam parah. Anda memulihkan 30% stamina melalui penyerapan energi liar. Intimidasi massa mencapai puncaknya.]**

Lin Chen membaca deretan teks mematikan itu dengan senyum seringai yang tidak terlihat di balik topengnya. Sistem ini selalu memahami isi kepalanya. Menghindar hanyalah penundaan kematian. Di Dunia Tengah, hanya kebrutalan yang lebih ekstrem dari musuh yang bisa menjamin kelangsungan hidup. Menukar luka bakar di satu lengan demi memulihkan stamina untuk ronde terakhir adalah taktik berdarah yang paling logis.

"Pilihan ketiga," bisik Lin Chen, menekan seluruh Qi Abadi di tubuhnya ke arah telapak tangan kirinya.

*WUSSS!*

Naga Pasir Besi Hitam itu tidak membuang waktu. Insting buasnya mendeteksi bahwa manusia di depannya ini berbahaya. Monster itu melesat ke depan, tubuh besarnya menggesek pasir dengan kecepatan yang tidak wajar. Rahang raksasanya terbuka lebar, memperlihatkan deretan taring setajam pedang dan uap asam yang sangat mematikan.

Lin Chen berdiri mematung. Di mata puluhan ribu penonton, pemuda bertopeng itu terlihat seperti telah menyerah, membeku ketakutan menghadapi maut yang mendekat.

"Dia menyerah! Dia sudah kehabisan tenaga!" seru beberapa petaruh dengan nada kecewa.

Jarak antara monster dan Lin Chen menyusut menjadi sepuluh meter. Lima meter. Dua meter.

Bau busuk dari mulut naga itu menyapu wajah Lin Chen. Tepat pada sepersekian detik sebelum rahang raksasa itu menutup untuk menggigit tubuhnya menjadi dua, Lin Chen menjejakkan kaki kirinya ke depan.

*Langkah Bayangan Iblis.*

Tubuhnya bergerak dengan kecepatan dan sudut yang sangat tidak masuk akal, menciptakan bayangan ilusi yang bergeser setengah langkah ke samping. Rahang naga itu meleset dari tubuh utamanya, namun masih sangat dekat.

Tanpa ragu sedikit pun, Lin Chen mengulurkan lengan kirinya, menembus kabut asam, dan memasukkan seluruh tangannya langsung ke dalam mulut monster yang sedang menganga tersebut.

*Cesssss!*

Uap asam langsung melepuhkan kulit dan otot di lengan kiri Lin Chen. Rasa sakit yang mengerikan, seolah tangannya dicelupkan ke dalam lahar mendidih, meledak di sarafnya. Pemuda itu menggigit bibirnya hingga berdarah, matanya menyala dengan kegilaan mutlak.

Ia mendorong lengannya lebih dalam, menembus kerongkongan naga tersebut, mencari titik di mana energi iblis makhluk itu berkumpul.

"Hancur," geram Lin Chen.

Pusaran energi Yin dan Yang yang telah ia persiapkan meledak di dalam tenggorokan makhluk tersebut.

*Telapak Penghancur Bintang.*

*BOOOOOOMMMM!*

Sebuah suara dentuman teredam yang sangat berat terdengar dari dalam tubuh naga tersebut. Sisik hitam di bagian leher dan dada monster itu tiba-tiba menonjol keluar secara tidak wajar, sebelum akhirnya retak dan memuntahkan darah hitam bercampur organ dalam yang telah hancur menjadi bubur cair.

Inti iblis makhluk tersebut, sumber kehidupannya, diledakkan secara paksa dari jarak nol sentimeter di dalam tubuhnya sendiri.

Naga Pasir Besi Hitam itu mengeluarkan jeritan panjang yang melengking, tubuh raksasanya mengejang hebat di atas pasir arena. Ekor besarnya menyabet secara membabi buta, menghancurkan lantai pualam di bawah pasir. Lin Chen segera menarik lengan kirinya yang kini berlumuran darah hitam dan asam, melompat mundur untuk menghindari amukan terakhir sang monster.

Beberapa detik kemudian, makhluk raksasa itu ambruk, tak bernyawa.

Sorakan di tribun terhenti. Hening kembali merajai koloseum. Puluhan ribu orang menatap pemandangan itu dengan mulut ternganga. Iblis Satu Tangan tidak menghindar. Ia memasukkan tangannya ke dalam mulut naga dan membunuhnya dari dalam. Tingkat kebrutalan dan pengorbanan diri semacam ini adalah hal yang belum pernah mereka saksikan, bahkan dari gladiator veteran sekalipun.

Lin Chen berdiri dengan dada naik turun. Lengan kirinya gemetar hebat, kulitnya merah melepuh dan berdarah, namun ia bisa merasakan arus energi liar dari inti iblis naga yang hancur tadi meresap melalui pori-porinya. *Napas Karang Esensi* bekerja gila-gilaan, menyaring energi kotor itu dan mengubahnya menjadi penawar kelelahan sementaranya. Stamina yang tadinya berada di ambang batas kini kembali terisi hingga tiga puluh persen.

**[Pilihan 3 Diselesaikan. Kematian Naga Pasir Besi Hitam. Anda menyerap 30% pemulihan stamina liar.]**

Dari atas balkon VIP, Yan Wu berdiri dari kursinya. Cengkeramannya pada pegangan kursi tengkoraknya begitu kuat hingga tulang itu retak. Mata sang Tuan Kota memancarkan kilat amarah sekaligus kekaguman yang terpelintir.

"Luar biasa..." desis Yan Wu. "Pemuda itu benar-benar mengabaikan nyawanya demi kemenangan. Aku menginginkannya. Jika dia mati, jasadnya akan kupelajari. Jika dia hidup, dia akan menjadi anjing penjaga terbaikku."

Yan Wu menoleh ke arah pengawas arena. "Kirim Kui. Katakan padanya, jangan bermain-main. Aku ingin dia menghancurkan kedua kaki pemuda itu. Biarkan dia hidup, tapi pastikan dia tidak akan pernah bisa berdiri lagi."

Pengawas itu mengangguk cepat dan membunyikan bel raksasa yang tergantung di langit-langit balkon.

*TENGGG!*

Suara bel itu menandakan dimulainya ronde final. Ronde kesepuluh.

Pintu gerbang utama koloseum terbuka perlahan. Suara langkah kaki yang sangat berat, diiringi oleh dentingan rantai besi dan gesekan logam tebal ke atas pasir, bergema ke seluruh arena.

Dari dalam kegelapan, muncullah seorang pria raksasa yang tingginya mencapai dua setengah meter. Pria ini mengenakan zirah hitam pekat yang menutupi seluruh tubuhnya, menyisakan celah kecil hanya untuk kedua matanya yang memancarkan cahaya merah haus darah. Di tangan kanannya, ia menyeret sebuah gada raksasa berduri yang ukurannya sebesar batang pohon.

Ini adalah 'Batu Darah' Kui. Gladiator pribadi milik Tuan Kota Yan Wu. Sosok setengah langkah menuju Tahap True Immortal. Berbeda dengan lawan-lawan sebelumnya, Kui bukan hanya memiliki kekuatan fisik mentah, melainkan juga pertahanan Qi Abadi yang mampu memantulkan serangan dari praktisi setingkatnya. Zirah hitamnya ditempa dari Serpihan Meteorit, bahan yang konon tidak bisa dihancurkan oleh senjata tingkat fana.

"Ronde Kesepuluh!" seru pembawa acara, suaranya kembali menggila. "Ronde Final! Iblis Satu Tangan berhadapan dengan Sang Penghancur, Batu Darah Kui! Akankah keajaiban berlanjut, ataukah sang iblis akan menemui ajalnya di ujung gada raksasa ini?!"

Tribun meledak dalam sorakan parau. Para penonton berdiri, menghentakkan kaki mereka ke tanah, menciptakan ritme gemuruh yang mengerikan.

Lin Chen menatap Kui yang berjalan perlahan mendekatinya. Tekanan aura dari setengah langkah True Immortal itu terasa sangat nyata, ribuan kali lebih menindas daripada naga sebelumnya. Lin Chen tahu, lengannya yang sebelah mati, dan tangan kirinya kini terluka parah. Pertahanan musuh terlalu tebal untuk ditembus oleh serangan biasa, dan senjata raksasanya memiliki jangkauan yang akan menghancurkan Lin Chen sebelum ia bisa mendekat.

Layar biru transparan berdenting keras di lautan spiritualnya, memberikan peringatan merah yang menyala-nyala.

**[Situasi Eliminasi Final Terdeteksi: Pertarungan Ronde 10.]**

**[Musuh: 'Batu Darah' Kui (Setengah Langkah True Immortal). Kelemahan: Kecepatan manuver rendah akibat zirah berat. Pertahanan internal dapat ditembus hanya melalui satu titik buta di tengah pelat dada.]**

**[Silakan tentukan metode pertaruhan nyawa Anda:]**

**[Pilihan 1: Hindari serangan gada raksasa itu secara konstan. Buat musuh kelelahan setelah berjam-jam bertarung.

Hadiah: Anda kehabisan stamina di menit kelima. Gada musuh akan meremukkan tubuh Anda menjadi selai daging. Tidak ada pelarian.]**

**[Pilihan 2: Angkat tangan dan menyerah kepada Tuan Kota Yan Wu.

Hadiah: Anda selamat. Anda akan dijadikan budak elit, pikiran Anda akan dicuci menggunakan sihir darah. Anda kehilangan kesadaran diri selamanya.]**

**[Pilihan 3: Gunakan taktik pertukaran nyawa. Padatkan seluruh sisa energi fana Anda yang belum tersaring, campurkan dengan energi liar dari naga pasir, dan pusatkan pada 'Telapak Penghancur Bintang'. Biarkan musuh melancarkan serangan terbaiknya. Gunakan 'Langkah Bayangan Iblis' untuk memotong lintasan serangannya, terima serangan memantul yang akan mematahkan tulang rusuk Anda, lalu tusukkan telapak tangan Anda langsung ke titik pusat pelat dadanya.

Hadiah: Musuh hancur dari dalam. Kemenangan mutlak. Mendapatkan 'Segel Penambang Bebas'. Peringatan: Rasa sakit patah tulang ganda.]**

Mata Lin Chen menyipit tajam. Pilihan ketiga adalah perjudian yang paling gila yang pernah ia lakukan. Ia harus sengaja menerima sebagian dampak dari serangan mematikan itu hanya demi mendapatkan akses ke zona pertahanan absolut musuh. Sedikit saja ia salah perhitungan waktu, gada itu tidak hanya akan mematahkan rusuknya, tapi menghancurkan jantungnya.

"Aku tidak pernah bertaruh untuk kalah," gumam Lin Chen.

Ia memejamkan matanya selama satu detik, menstabilkan ritme pernapasannya. Udara Dunia Tengah yang berat disedot ke dalam paru-parunya, bercampur dengan sisa-sisa energi liar. Lengan kirinya yang melepuh diangkat perlahan, telapak tangannya terbuka. Pusaran energi Yin-Yang mulai berkumpul kembali, namun kali ini jauh lebih padat, lebih buas, dan lebih tidak stabil dari sebelumnya.

Melihat lawannya hanya berdiri dengan satu tangan yang terluka, Kui mendengus kasar dari balik helm besinya. Suaranya terdengar seperti geraman mesin.

"Kau akan menjadi noda di lantai ini, Tikus."

Kui mengayunkan gada raksasanya dengan kedua tangan. Otot-ototnya membengkak di balik zirah. Ia melesat maju. Meskipun tubuhnya raksasa, langkahnya sangat cepat. Pasir merah terbelah saat ia menerjang.

Jarak sepuluh meter. Lima meter. Dua meter.

"MATI!" raung Kui.

Gada raksasa itu diayunkan secara horizontal dengan kekuatan yang merobek udara. Suara angin yang tersayat terdengar memekakkan telinga. Serangan ini membawa tekanan absolut yang mustahil dihindari dengan melompat ke belakang atau menangkis.

Pada detik paling kritis, sepersekian milidetik sebelum duri-duri gada itu merobek jubahnya, Lin Chen memicu *Langkah Bayangan Iblis*.

Alih-alih melompat menjauh, pemuda itu justru merendahkan tubuhnya secara ekstrem dan menukik maju, memotong lintasan ayunan gada tersebut ke arah dalam, langsung menuju zona buta Kui.

*WUSSS!*

Kecepatan pergerakan Lin Chen meninggalkan tiga bayangan ilusi yang dihancurkan oleh gada tersebut. Namun, meskipun ia berhasil masuk ke dalam jangkauan serangan, pusaran angin dan gelombang kejut dari ayunan gada raksasa itu tetap menghantam sisi tubuh kanannya.

*KRAAAK!*

Tiga tulang rusuk di sisi kanan Lin Chen patah seketika. Rasa sakit yang mematikan menusuk paru-parunya. Darah segar menyembur dari mulutnya, membasahi bagian dalam topeng besinya. Jika ia tidak memiliki pertahanan 'Akar Tanah Besi', tubuhnya sudah terbelah dua hanya oleh angin tebasan tersebut.

Mengabaikan tulang rusuknya yang remuk, Lin Chen memutar pinggangnya. Memanfaatkan momentum luncurannya yang brutal, ia menekan tangan kirinya yang telah dipenuhi kompresi energi absolut tepat ke bagian tengah pelat dada zirah hitam Kui.

Di titik itu, jarak mereka adalah nol. Mata merah Kui di balik helm membelalak kaget, melihat seorang pemuda yang tubuhnya patah namun matanya masih memancarkan niat membunuh yang tak padam.

*Telapak Penghancur Bintang: Ledakan Kehampaan Internal.*

*BZZZTTT! BOOOOOOOOMMMM!*

Sebuah ledakan yang memekakkan telinga tidak terjadi di luar, melainkan terkompresi dan meletus di dalam ruang zirah Kui.

Energi Yin dan Yang yang saling bertabrakan, dicampur dengan esensi liar naga, disuntikkan paksa menembus serat-serat Serpihan Meteorit dan langsung menghantam organ dalam sang raksasa.

Zirah luar Kui tetap utuh, tidak ada penyok atau goresan yang bertambah. Namun, di baliknya, sebuah kehancuran total terjadi.

Jantung, paru-paru, dan meridian utama Kui diremukkan menjadi debu dalam sekejap mata. Darah hitam menyembur keluar dari celah-celah helm besi dan sambungan zirahnya. Tubuh raksasa itu membeku seketika. Gada raksasa di tangannya terlepas, jatuh menghantam lantai pasir dengan bunyi *BUM* yang berat.

Waktu seakan berhenti di dalam koloseum.

Mata merah Kui yang menyala di balik helm perlahan meredup, kehilangan cahaya kehidupannya. Tubuh setinggi dua setengah meter itu goyah, bergoyang seperti pohon raksasa yang ditebang, sebelum akhirnya tumbang ke belakang.

*GUBRAK!*

Batu Darah Kui, gladiator terkuat, jatuh telentang tak bernyawa.

Lin Chen berdiri terhuyung di depan mayat raksasa itu. Napasnya putus-putus. Darah menetes deras dari balik topeng besinya, menodai pasir di bawah kakinya. Lengan kirinya kini gemetar tanpa kendali, dan lengan kanannya masih mati rasa. Tiga tulang rusuknya yang patah membuat setiap tarikan napas terasa seperti ditusuk belati panas.

Ia memejamkan mata, membiarkan keheningan koloseum meresap ke dalam dirinya.

**[Pilihan 3 Diselesaikan. Kemenangan Ronde 10. Anda telah mengalahkan setengah langkah True Immortal di Dunia Tengah.]**

**[Hadiah: Peningkatan Intimidasi Absolut. Mengamankan 'Segel Penambang Bebas'.]**

Sorakan tidak langsung meledak. Puluhan ribu penonton di tribun menatap dengan mulut ternganga, pikiran mereka kosong. Kemenangan yang mustahil telah terwujud tepat di depan mata mereka. Seorang pemuda cacat dengan satu lengan, yang terlihat seperti hembusan angin saja bisa menjatuhkannya, telah membantai sepuluh ronde gladiator terkuat, termasuk naga pasir dan Kui.

Detik berikutnya, seluruh Koloseum Jalur Darah meledak. Sorakan, teriakan histeris, dan lolongan kekaguman bergema seakan meruntuhkan langit. Nama "Iblis Satu Tangan" diteriakkan dengan fanatisme yang belum pernah ada sebelumnya.

Di balkon VIP, Tuan Kota Yan Wu berdiri dengan rahang mengeras. Tangannya mengepal kuat. Gladiator kesayangannya tewas. Namun, di balik amarahnya, ada keserakahan yang menyala-nyala. Pemuda ini adalah permata mentah yang harus ia jinakkan.

Yan Wu mengangkat tangannya. Suara dengungan energi yang sangat kuat menyapu koloseum, seketika membungkam teriakan puluhan ribu orang.

"Pertunjukan yang luar biasa!" suara Yan Wu bergema dari atas, nadanya penuh otoritas yang menekan jiwa. "Sesuai dengan hukum Jalur Darah kuno, kau yang telah bertahan dari sepuluh ronde kematian, berhak mendapatkan apa yang kau cari."

Yan Wu menjentikkan jarinya. Sebuah benda melesat dari balkon, melayang membelah udara, dan jatuh tepat di depan kaki Lin Chen. Benda itu menancap di pasir.

Itu adalah sebuah medali yang terbuat dari batu giok hitam pekat, diukir dengan lambang beliang bersilang. Segel Penambang Bebas.

"Ambil segel itu," lanjut Yan Wu dengan senyum tipis. "Pintu gerbang menuju dasar Tambang Batu Hitam terbuka untukmu. Berapapun kekayaan yang kau temukan di bawah sana, setengahnya adalah milikku. Ingatlah itu, Iblis Satu Tangan."

Lin Chen tidak membalas ucapan Tuan Kota. Ia membungkuk dengan sangat pelan, menahan rasa sakit di rusuknya, dan menggunakan tangan kirinya yang terluka untuk mencabut segel giok hitam itu dari pasir. Ia menggenggamnya erat-erat, merasakan dinginnya batu tersebut yang menjanjikan sebuah awal baru.

Tanpa mengangkat wajahnya ke arah balkon, dan tanpa memedulikan sorakan ribuan penonton yang terus mengagungkan namanya, Lin Chen memutar tubuhnya. Ia tidak berjalan menuju pintu keluar bagi para pemenang yang menawarkan minuman dan penyembuhan.

Ia melangkah lurus menuju gerbang besi raksasa di ujung utara arena—gerbang yang memancarkan hawa dingin dan gelap, yang terhubung langsung dengan perut bumi. Pintu menuju Jurang Kehampaan.

Darah segar menetes dari jubahnya, meninggalkan jejak panjang di atas pasir kemerahan. Setiap langkahnya adalah proklamasi rasa sakit.

Para penjaga di gerbang besi itu menatapnya dengan rasa ngeri yang tidak bisa disembunyikan. Melihat segel giok hitam di tangan kiri Lin Chen, mereka segera memutar tuas raksasa. Gerbang besi itu berderit terbuka, menelan cahaya matahari, dan memuntahkan bau belerang yang sangat pekat.

"Esensi Logam Abadi," bisik Lin Chen pada kegelapan di depannya.

Ia melangkah masuk ke dalam bayangan tambang kematian. Di luar sana, ia telah meninggalkan legenda sebagai Iblis Satu Tangan. Di dalam sini, di kedalaman Dunia Tengah tempat bahkan cahaya pun tidak berani masuk, ia akan menempa kembali lengannya, menyatukan kepingan dirinya yang hancur, dan bersiap untuk merobek langit keabadian. Pintu di belakangnya tertutup dengan dentuman keras, mengunci sang predator bersama mimpi-mimpi buruk yang tertidur di dalam Jurang Kehampaan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!