NovelToon NovelToon
Obsesi Sang Mafia Kejam

Obsesi Sang Mafia Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Mafia / Diam-Diam Cinta
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Rosline gadis berusia 20 tahun yang terlahir bukan dari keluarga berada. Dia memiliki hidup yang sulit, bukan hanya menanggung beban hidupnya sendiri, tapi juga menanggung beban keluarganya. Suatu ketika Rosline mendapat tawaran kerja partime di salah satu rumah mewah untuk menjaga kakek tua, tapi tanpa diduga rumah itu ternyata rumah seorang Mafia kejam...

Rosline semakin bingung harus bertahan atau harus pergi dari sana. Sementara dia sangat butuh uang untuk keluarganya....
Apa yang terjadi selanjutnya dengan Rosline?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24 : Rosline Terancam

Suasana ruang tengah langsung hening.

Tatapan Edwin dan Bara saling bertemu beberapa detik. Dua bersaudara itu sama-sama tahu… Black Viper bukan tipe musuh yang bergerak tanpa rencana.

Dan justru itu yang membuat situasi ini terasa lebih berbahaya.

Kakek Alberto akhirnya bersandar pelan di sofa sambil menyipitkan mata. “Kalau mereka hanya ingin menyerang…” gumamnya rendah. “Mereka tidak akan diam di luar gerbang selama ini.”

Edwin mengangguk kecil. “Mereka sedang mencari celah.”

Rosline langsung memeluk dirinya sendiri tanpa sadar. Mansion sebesar ini tiba-tiba terasa menakutkan sekarang.

Di layar monitor, Bara masih memperhatikan dua mobil hitam itu tanpa berkedip sedikit pun.

Lalu tiba-tiba, salah satu mobil perlahan menyalakan lampunya.

Brummm…

Mobil itu bergerak maju beberapa meter mendekati gerbang utama mansion.

Semua penjaga langsung siaga. Salah satu petugas keamanan bahkan terdengar tegang lewat alat komunikasi. “Tuan, kendaraan bergerak mendekat.”

Tatapan Bara langsung berubah sangat tajam. “Jangan buka gerbang.”

“Baik, Tuan.”

Mobil hitam itu akhirnya berhenti tepat di depan gerbang besar mansion Alexander. Lampu depannya menyinari pagar besi hitam mansion dengan suasana yang terasa menyeramkan.

Dan beberapa detik kemudian…

Pintu mobil perlahan terbuka. Seseorang keluar, pria tinggi dengan pakaian hitam dan sarung tangan gelap berjalan santai mendekati gerbang mansion. Wajahnya tertutup masker hitam.

Namun yang membuat semua orang langsung menegang. Di dadanya terlihat pin kecil berbentuk ular hitam melingkar... Black Viper.

Rosline refleks menggenggam ujung bajunya lebih erat.

Sedangkan Edwin langsung berkata dingin, “Dia sengaja menunjukkan identitasnya.”

Pria misterius itu berhenti tepat di depan gerbang. Lalu perlahan mengangkat kepalanya menatap kamera CCTV mansion.

Dan… ia tersenyum tipis. Meski wajahnya tertutup masker, senyum itu tetap terlihat jelas dari sorot matanya.

“Kurang ajar…” Daniel bergumam pelan.

Lalu pria itu tiba-tiba mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya.

Rosline langsung menegang.

Namun benda itu bukan senjata. Melainkan sebuah kotak hitam kecil. Pria misterius itu meletakkan kotak tersebut di depan gerbang mansion dengan santai. Setelah itu ia mundur beberapa langkah.

Tatapan Bara langsung berubah dingin penuh kewaspadaan. “Jangan ada yang mendekat.” perintahnya tajam lewat alat komunikasi.

“Siap, Tuan.”

Pria misterius tadi kembali melirik kamera mansion sebentar. Kemudian, ia mengangkat dua jarinya perlahan ke arah kamera. Gerakan itu seperti salam mengejek. Lalu berbalik masuk kembali ke mobilnya.

Brummm…

Dua mobil hitam itu akhirnya pergi meninggalkan area mansion begitu saja. Namun tidak ada seorang pun di ruang tengah yang benar-benar merasa lega sekarang.

Karena kotak hitam itu masih tergeletak tepat di depan gerbang utama mansion Alexander. Dan entah kenapa, perasaan Rosline tiba-tiba menjadi jauh lebih buruk sekarang.

“Tuan…” suara salah satu petugas keamanan terdengar tegang dari monitor. “Apa kami perlu memeriksa kotak itu?”

Tatapan Bara berubah dingin menakutkan. “Tidak ada yang menyentuhnya.” ucapnya rendah. “Panggil tim pemeriksa bom. Sekarang.”

Suasana ruang tengah langsung berubah semakin tegang setelah perintah Bara tadi. Rosline bahkan refleks menaruh mangkuk supnya perlahan karena tangannya mulai dingin.

Salah satu petugas keamanan di monitor langsung mengangguk cepat. “Baik, Tuan. Tim pemeriksa bom sedang menuju gerbang.”

Edwin menyilangkan tangan di depan dada sambil terus menatap layar CCTV. “Mereka sengaja meninggalkan itu untuk mengulur waktu.”

“Atau menakut-nakuti.” gumam Daniel pelan.

“Tidak.” suara Bara terdengar dingin dari monitor. “Black Viper tidak pernah melakukan sesuatu tanpa tujuan.”

Kalimat itu langsung membuat suasana semakin berat.

Rosline diam-diam menelan ludah gugup. Kotak hitam kecil di depan gerbang itu terlihat sederhana. Namun benda itu terasa jauh lebih menyeramkan.

Beberapa menit kemudian, dua pria berpakaian khusus terlihat muncul di layar CCTV membawa alat pemeriksa. Mereka bergerak hati-hati mendekati gerbang mansion. Seluruh ruang tengah benar-benar hening sekarang.

Rosline bahkan menahan napas tanpa sadar saat salah satu petugas perlahan memeriksa kotak hitam tersebut menggunakan alat pemindai.

Beep… beep…

Beberapa detik terasa sangat lama.

Lalu tiba-tiba…

“Tidak ada bahan peledak, Tuan.” suara petugas terdengar dari alat komunikasi.

Rosline langsung menghela napas lega kecil.

Namun Bara justru menyipitkan matanya tipis. “Buka perlahan.”

“Baik.”

Petugas itu mulai membuka kotak hitam tersebut dengan hati-hati.

Klik.

Dan detik berikutnya, wajah petugas langsung berubah.

Edwin mengernyit tajam. “Apa isinya?”

Petugas itu tampak ragu beberapa detik sebelum akhirnya menjawab pelan,

“Ini… foto.”

“Foto?” ulang Daniel bingung.

Petugas itu segera mengangkat isi kotak ke arah kamera CCTV. Dan seketika, Rosline langsung membeku. Itu foto Bara, bukan hanya satu.

Melainkan beberapa foto Bara di berbagai tempat. Di depan kantor, di area pelabuhan, bahkan ada foto Bara saat berada di minimarket tadi bersama Rosline.

Jantung Rosline langsung terasa jatuh. “Me-mereka mengikuti kita sejak tadi…” gumamnya pelan dengan wajah pucat.

Tatapan Edwin langsung berubah gelap. Sedangkan di layar monitor, wajah Bara benar-benar dingin sekarang. Namun yang paling membuat suasana berubah mencekam…

Di bagian belakang salah satu foto terdapat tulisan merah besar seperti tinta darah.

“Kami selalu memantaumu Tuan Bara Alexander.”

Rosline refleks merinding hebat.

Kakek Alberto langsung mendecak kasar. “Bajingan.”

Daniel mengepalkan tangannya kuat-kuat. “Mereka sengaja mengirim ancaman psikologis.”

Namun beberapa detik kemudian, petugas keamanan kembali berbicara dengan suara tegang.

“Tuan…”

Tatapan Bara langsung tajam. “Apa lagi?”

Petugas itu perlahan mengangkat satu foto terakhir dari dalam kotak hitam. Dan kali ini, bukan foto Bara, melainkan foto Rosline. Foto itu diambil diam-diam saat Rosline berdiri di depan rak mi instan di minimarket tadi.

Di bagian bawah fotonya, ada tanda silang merah besar. Suasana ruang tengah langsung membeku, Rosline bahkan merasa tubuhnya mendadak dingin dan lemas sekarang.

Kini aura Bara berubah benar-benar mengerikan.

Ruangan itu benar-benar hening sekarang. Rosline menatap foto dirinya di layar CCTV dengan napas memburu. Foto itu diambil diam-diam saat ia sedang memilih mi instan tadi.

Bahkan ekspresi bingungnya terlihat jelas di sana. Dan tanda silang merah besar di bawah fotonya.Terasa seperti ancaman kematian.

Rosline langsung merasa tenggorokannya kering. “Ke-kenapa ada foto saya…” suaranya nyaris berbisik.

Tidak ada yang langsung menjawab. Karena semua orang di ruangan itu tahu arti tanda merah tersebut. Tatapan Edwin berubah sangat gelap sekarang. Rahangnya mengeras saat melihat foto Rosline di layar.

Sedangkan Daniel terlihat benar-benar marah untuk kali ini “Mereka mulai menyentuh orang luar…” gumamnya rendah.

Kakek Alberto mendecak kasar sambil memukul tongkatnya ke lantai. “Kurang ajar! Mereka berani mengincar gadis itu?”

Namun di antara semuanya, Bara adalah yang paling menyeramkan sekarang. Pria itu masih berdiri di ruang keamanan mansion dengan wajah dingin tanpa ekspresi. Tapi justru karena terlalu tenang, auranya terasa jauh lebih mengerikan.

Tatapannya lurus menatap foto Rosline beberapa detik. Lalu perlahan…

Ia berkata. “Cari semua rekaman minimarket itu.”

Petugas keamanan langsung tersentak. “Ba-baik Tuan!”

“Lacak semua kendaraan yang berada di sekitar sana satu jam terakhir.” lanjut Bara dingin. “Aku ingin identitas pria tadi.” Nada suaranya begitu datar.

Namun semua orang tahu, Bara benar-benar marah sekarang.

Edwin langsung mengambil ponselnya cepat. “Aku akan hubungi tim cyber dan keamanan kota.”

“Tidak cukup.” potong Bara tajam.

Edwin menoleh.

Tatapan Bara kini benar-benar gelap. “Kalau perlu, bongkar seluruh jaringan mereka.”

Suasana mendadak makin dingin.

Rosline bahkan sampai menahan napas mendengar nada suara pria itu. Ia belum pernah melihat Bara seperti ini sebelumnya. Bukan sekadar marah, melainkan seperti predator yang benar-benar terusik.

Dan entah kenapa, semua itu terjadi setelah Black Viper mulai mengincar dirinya juga.

Rosline perlahan menunduk. Jemarinya gemetar saat menggenggam ujung bajunya sendiri. “Ma-maaf…” gumamnya pelan tanpa sadar.

Edwin langsung mengernyit. “Untuk apa kau minta maaf?”

Rosline menggigit bibir pelan. “Karena saya jadi beban…”

Kalimat itu langsung membuat suasana kembali hening. Dan detik berikutnya...

“Jangan bicara sembarangan.” Suara Bara terdengar dingin dari layar monitor.

Rosline langsung tersentak kecil dan menoleh ke arah monitor CCTV.

Tatapan Bara lurus mengarah padanya sekarang. “Ini bukan salahmu.” ucap pria itu rendah penuh tekanan. “Black Viper memang sengaja mencari celah untuk menyerang keluarga Alexander.”

“Tapi...”

“Mereka memakai fotomu hanya untuk mengganggu psikologis kita.” lanjut Bara memotong dingin. “Jadi berhenti menyalahkan dirimu sendiri.”

Rosline langsung terdiam. Kini, kalimat itu justru membuat dadanya terasa makin aneh. Sedangkan Edwin diam-diam memperhatikan wajah kakaknya beberapa detik.

Karena ia sangat tahu satu hal. Bara bukan tipe pria yang suka menjelaskan atau menenangkan orang lain. Namun sekarang, ia itu justru menenangkan Rosline secara langsung. Dan itu membuat tatapan Edwin perlahan berubah rumit.

1
Arditya
wiihh, jadi ini yang namanya victor. tangkap bara jangan kasih ampun😄
It's me Sky: terimakasih ka🙏
total 1 replies
Indri
Sukaaaa🤣
It's me Sky: wkwkwkkw/Proud/
total 1 replies
Keenan41
semangat thor
It's me Sky: Pasti dong, mksh dukungannya✌🏻/Hey/
total 1 replies
Hennyy exo
semangat rosaline🤭🤭
It's me Sky: Hihihihi, mksh/Smile/
total 1 replies
Hennyy exo
wow sampai sini alurnya bagus thor
It's me Sky: terimakasih bnykk/Smile/
total 1 replies
Amoera
semakin menegangkan thoor, lanjutkan dong😍
It's me Sky: hrs dong/Chuckle/
total 1 replies
Amoera
ceritanya sangat menarik, lanjutkan ceritanya thoor... semangat ratusan bab
It's me Sky: psti dong, mksh/Doge//Rose/
total 1 replies
Amoera
woww... ada cerita baru nih, wajib baca sih kayanya... semangat thoor😍
It's me Sky: iya dong, sni¹ mmpir/Hey/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!