NovelToon NovelToon
SIMPUL DENDAM YANG TERIKAT

SIMPUL DENDAM YANG TERIKAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:916
Nilai: 5
Nama Author: Mikaelach09

Tiga puluh tahun lalu, kakak perempuan Rakha tewas secara tragis akibat kejahatan konglomerat Hardi Adi Soetomo. Kini, Rakha telah tumbuh menjadi pengacara kelas atas yang penuh kuasa, namun hidupnya hanya didorong oleh satu tujuan: balas dendam.

Rencananya sempurna. Ia akan menghancurkan Hardi melalui titik lemahnya—sang putri semata wayang, Maharani Ayudia Soetomo, bintang muda yang sedang bersinar. Rakha mendekati Maharani, berniat menjadikannya alat penghancur bagi ayahnya sendiri.
Namun, di tengah intrik dan manipulasi, Rakha goyah. Maharani terlalu polos dan tidak tahu apa-apa tentang dosa masa lalu ayahnya. Saat kebenaran mulai terkuak dan perasaan mulai tumbuh, Rakha terjebak dalam pilihan mustahil: Menuntaskan sumpah dendamnya atau melindungi wanita yang seharusnya ia hancurkan?

Sebuah pertaruhan antara kebencian masa lalu dan cinta yang tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mikaelach09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB TIGA PULUH

Maharani menatapnya lekat, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu. "Tapi kok kebetulan banget ya?"

Rakha akhirnya menoleh, tatapan mereka bertemu. "Seorang pengacara yang baik harus tahu detail sekecil apa pun, Hani," jawab Rakha tenang, meski ada sedikit gurat terkejut yang cepat ia sembunyikan. "Termasuk detail preferensi kliennya-atau, dalam hal ini, tamu yang sedang ia lindungi."

Ia kemudian mengambil tempat duduk di sofa single di seberang Maharani, membiarkan keheningan yang nyaman menyelimuti.

"Makanlah," katanya lembut. "Kamu butuh energi. Saya nggak mau besok kamu nggak bisa fokus saat kita mulai langkah hukum."

Maharani menahan senyumnya. Pria ini luar biasa dalam menarik batas, tapi di saat yang sama, ia sangat perhatian. Itu perpaduan yang mematikan.

Ia mengambil satu gigitan kecil dari croissant-nya. Rasanya persis seperti yang ia ingat.

"Terima kasih, Mas Rakha," ujarnya tulus, sambil menatapnya. "Ini lebih dari sekadar makanan. Ini... seperti jeda yang saya butuhkan. Di tengah semua kegilaan ini, rasanya tenang bisa berada di sini."

Rakha hanya mengangguk tipis, pandangannya kembali tertuju pada laptop-nya yang terbuka, seolah-olah percakapan pribadi barusan tidak pernah terjadi. Namun, Maharani melihat bahwa jemarinya berhenti mengetik.

Setelah menghabiskan croissant dan tehnya, Maharani merasa jauh lebih baik. Energi Rakha-dingin, terkontrol, tapi entah kenapa menenangkan-seolah menyeimbangkan kekacauan di hatinya.

Ia berdiri, berjalan perlahan ke meja kerja Rakha yang luas dan tertata rapi. Sebuah map hitam dengan label 'MAHARANI CASE - CONFIDENTIAL' menarik perhatiannya. Maharani menahan diri untuk tidak membukanya.

"Dokumen itu harusnya nggak menarik," ujar Rakha tanpa menoleh, jarinya bergerak cepat di keyboard. Ia seolah memiliki mata di belakang kepala.

Maharani tersenyum kecil. "Cuma penasaran kenapa semua berkas hukum bisa kelihatan begitu elegan di sini."

Rakha akhirnya berhenti mengetik, menutup laptop-nya pelan. Ia menatap Maharani yang berdiri di samping mejanya. Cahaya sore masuk dari jendela besar ruangan kerja Rakha.

"Elegansi itu bagian dari strategi," jelas Rakha. "Kita menciptakan kesan kontrol dan ketenangan, bahkan saat kita sedang berperang. Itulah yang membedakan pengacara dengan seniman: kita membuat kekacauan terlihat terstruktur."

Maharani duduk di kursi kulit di seberang meja, menatap Rakha. "Dan apa yang Mas Rakha lakukan sekarang? Strategi apa yang sedang Mas siapkan?"

Rakha bersandar, jari-jarinya bertautan di depan wajah. "Kita sudah mengidentifikasi pelaku utama, Risyad. Kita punya the smoking gun berupa ancaman verbal dan bukti forensik digital bahwa dia yang mengunggah video itu. Tapi kasus ini bukan cuma tentang menuntut Risyad."

"Lalu?"

"Ini tentang narasi," kata Rakha, matanya tajam. "Publik sudah telanjur percaya bahwa kamu adalah femme fatale yang selingkuh, atau menjual diri. Tujuan kita bukan hanya membuktikan Risyad bersalah. Tujuan kita adalah merehabilitasi nama baikmu di mata publik-dan menghancurkan narasi yang mereka buat." Rakha mengambil sebuah berkas tipis. "Dan untuk itu, kita butuh lebih dari sekadar data digital. Kita butuh emosi."

"Emosi?" Maharani mengerutkan kening. "Mas Rakha bukannya selalu menghindari emosi di courtroom?"

"Ya, tapi kita tidak berada di courtroom sekarang. Kita berada di court of public opinion," koreksi Rakha. "Kita akan buat konferensi pers besok pagi. Dan kamu harus hadir."

Maharani menegang. "Konferensi pers? Saya belum siap, Mas. Media akan... melahap saya hidup-hidup."

"Mereka memang akan melahapmu, Hani. Tapi kali ini, mereka akan melahap cerita yang kita berikan." Rakha mencondongkan tubuh sedikit. "Kamu akan berdiri di sana, bukan sebagai artis yang panik, tapi sebagai korban pemerasan dan abusive relationship."

"Mas Rakha mau saya menangis di depan kamera?" tanyanya, suaranya bergetar.

Rakha menggeleng. "Tidak. Kamu tidak boleh menangis. Air mata menunjukkan kelemahan. Kamu harus menunjukkan ketegasan, kejujuran, dan vulnerability yang terkontrol."

Ia menatap Maharani lurus-lurus. "Kamu akan menjelaskan dengan tenang, bahwa video itu adalah hasil pemerasan setelah kamu memutuskan hubungan yang sudah toxic dan abusive. Kamu akan menjelaskan bahwa Risyad menggunakan kekuasaannya untuk menghancurkan hidupmu setelah dia tidak bisa mengontrolmu lagi."

Maharani menarik napas dalam-dalam. Itu adalah peran tersulit yang pernah ia mainkan. "Bagaimana jika mereka tetap tidak percaya?"

Rakha tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke matanya. "Di situlah saya dan Aditya akan masuk. Kami akan tunjukkan data forensik yang sudah terenkripsi, bukti transfer dana ke wartawan, dan rekaman ancaman Risyad. Kami akan membingkai Risyad sebagai narcissistic abuser yang kehilangan segalanya-termasuk kendali atas dirinya sendiri."

Ia menyentuh map di depannya dengan ujung jarinya. "Dengan kata lain, kita akan mengubah narasi dari: 'Maharani the cheater' menjadi 'Maharani the brave victim of an abusive monster'."

Keheningan melanda. Maharani menatap Rakha, merasakan gelombang keberanian yang dingin dari aura pria itu.

"Kenapa Mas Rakha begitu yakin?" tanya Maharani pelan.

Rakha bangkit, berjalan ke jendela, dan menatap halaman yang mulai bermandikan lampu malam.

"Karena dunia suka cerita underdog yang bangkit," katanya, suaranya dalam. "Dan kali ini, kita akan memastikan bahwa kamu adalah pahlawannya. Bukan dia."

Rakha berbalik, matanya memancarkan tekad yang tak tergoyahkan.

"Sekarang, kamu harus istirahat," katanya. "Saya akan siapkan briefing dan materi yang akan kamu sampaikan besok. Malam ini, jangan pikirkan apa-apa kecuali bagaimana kamu akan melihat ke kamera dan mengatakan yang sebenarnya dengan penuh percaya diri."

Maharani mengangguk. Ia tahu, esok hari adalah garis start peperangan yang sesungguhnya. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menyerap sedikit aura Rakha yang penuh kontrol.

"Mas Rakha," panggilnya, sebelum Rakha bisa kembali ke mejanya. "Bagaimana saya bisa terlihat tegar? Saya masih takut."

Rakha tidak langsung menjawab. Ia menatap Maharani, dan untuk sesaat, dinding emosionalnya sedikit runtuh.

"Kamu tidak harus berpura-pura tidak takut, Hani," ujar Rakha, suaranya melembut, kontras dengan ketegasan sebelumnya. "Ketakutan itu jujur. Tapi kamu harus memilih mana yang lebih besar: Ketakutanmu pada media, atau keinginanmu untuk membuktikan kebenaran?"

Ia melangkah mendekat, berdiri di hadapan Maharani. Jarak fisik mereka kini sangat dekat, dan Maharani bisa merasakan panas yang memancar dari tubuh Rakha yang kelelahan. "Besok, kamu tidak hanya berbicara untuk dirimu sendiri," lanjut Rakha, tatapannya menghujam Maharani. "Kamu berbicara untuk setiap korban yang dilecehkan, diancam, dan dipaksa diam oleh pria seperti Risyad. Kamu harus menjadi simbol perlawanan mereka."

Ia mengangkat tangan, lalu ragu sejenak-seperti ada konflik batin yang besar-sebelum akhirnya hanya menyentuh bahu Maharani dengan ujung jarinya, sentuhan singkat yang terasa seperti sengatan listrik.

"Tunjukkan pada mereka fighter yang selama ini bersembunyi di balik peran artis yang kamu mainkan," bisik Rakha.

1
jekey
up banyak"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!