NovelToon NovelToon
Sultan Desa

Sultan Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Balas Dendam
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

​"Menikahlah dengannya, atau kamu pergi dari rumah ini tanpa membawa apa pun!"

​Tepat dua hari sebelum pernikahan adiknya, Aira dipaksa menikah dengan pria kusam dari ujung desa demi membuang sial. Dewa, pria yang hanya bermodalkan motor tua dan pakaian lusuh, menjadi suaminya dalam semalam.

​Aira sudah bersiap hidup melarat. Namun, saat ia mulai tulus mencintai sang suami di tengah kemiskinan, sebuah iring-iringan mobil mewah datang menjemput.

​Siapa sangka, pria yang dihina keluarganya sebagai fakir itu ternyata pemegang tahta tertinggi di kota ini. Saat topeng terbuka, mampukah Aira bertahan di dunia suaminya yang penuh intrik, atau justru ia yang akan berbalik meninggalkan kemewahan itu?

Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Sultan Desa.
By - Miss Ra

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Pagi itu, sinar matahari menerobos masuk melalui celah-celah ventilasi kayu di kontrakan sempit mereka, menyinari partikel debu yang menari di udara. Suasana terasa sangat hangat, kontras dengan lantai semen yang masih terasa dingin di telapak kaki.

Kini yang ada hanyalah realitas sederhana sebuah pernikahan yang dibangun di atas keterbatasan, namun penuh dengan percikan emosi yang nyata.

Aira sedang sibuk di dapur kecil yang merangkap sebagai ruang cuci. Ia berdiri di samping mesin cuci, mengucek kemeja kerja Dewa yang sudah memudar warnanya. Bau sabun batangan menyeruak, bercampur dengan aroma kopi hitam yang baru saja ia seduh untuk suaminya.

"Aira, di mana kaos kaki hitamku yang lubang di jempolnya itu?" teriakan Dewa terdengar dari kamar mandi yang hanya tertutup pintu plastik tipis.

Aira tersenyum kecil. "Sudah aku jahit, Mas! Ada di tumpukan baju paling bawah di lemari plastik. Pakai yang itu saja, jangan pakai yang satunya, karetnya sudah molor!"

Dewa keluar dari kamar mandi dengan handuk yang hanya melilit pinggangnya. Tubuhnya yang atletis, tampak mengkilap terkena sisa air. Ia menghampiri Aira, lalu tanpa permisi menyandarkan dagunya di bahu sang istri yang masih asyik mengucek.

"Mas, geli! Sana berpakaian, nanti masuk angin," protes Aira, meski pipinya mendadak merona merah.

"Sebentar saja. Wangi sabunmu lebih enak daripada wangi debu di proyek nanti," gumam Dewa dengan suara berat yang selalu berhasil membuat jantung Aira berdegup tidak karuan. "Maaf ya, malam ini aku akan pulang telat lagi. Lembur angkut material itu melelahkan, tapi bonusnya lumayan buat tambahan tabungan."

Aira menghentikan kegiatannya. Ia membalikkan badan, menatap wajah Dewa yang terlihat letih namun tetap berusaha tersenyum. Ia mengusap sisa air sabun di tangannya ke daster, lalu menyentuh kening Dewa.

"Jangan dipaksakan, Mas. Kita makan tempe setiap hari pun aku tidak keberatan, asal kamu tidak sakit," ucap Aira tulus. Ada rasa haru yang menyelinap, ia merasa sangat dicintai oleh pria yang mau membanting tulang demi dirinya.

Dewa tertawa, tawa khasnya yang renyah dan sedikit nakal. "Makan tempe terus nanti pipimu jadi kotak seperti tempe. Sudah, sekarang bantu aku pakai dasi... eh, maksudku, bantu aku cari sabuk. Aku lupa taruh di mana."

Suasana haru itu pecah ketika Dewa mulai bersiap-siap. Sebenarnya, melihat Dewa bersiap berangkat kerja adalah hiburan harian bagi Aira. Pria itu bisa terlihat sangat berwibawa saat berbicara tentang struktur bangunan, namun menjadi sangat ceroboh saat berurusan dengan barang rumah tangga.

"Mas! Itu bukan sabukmu, itu tali jemuran yang tempo hari putus!" teriak Aira saat melihat Dewa mencoba melilitkan tali plastik berwarna biru ke pinggang celana kerjanya.

"Habisnya warnanya sama-sama gelap, Ai! Sabuk kulitku yang imitasi itu sudah mengelupas semua, malu kalau dilihat mandor," keluh Dewa sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Aira tertawa terpingkal-pingkal sampai air matanya keluar. Ia bangkit, mengambilkan sebuah sabuk kain tua dari laci. "Sini, aku pasangkan. Makanya, kalau taruh barang itu pakai mata, jangan pakai perasaan."

Dewa berdiri tegak, membiarkan jemari mungil Aira lincah memasangkan sabuk di pinggangnya. Jarak mereka begitu dekat. Dewa bisa mencium aroma sampo sachet murahan dari rambut Aira, sementara Aira bisa merasakan napas hangat Dewa di puncak kepalanya.

"Kalau aku jadi orang kaya nanti," bisik Dewa tiba-tiba, suaranya berubah serius, "aku akan beli sabuk dari kulit buaya asli buat kamu. Bukan buat dipakai, tapi buat kamu cambuk kalau aku nakal."

"Hush! Ngomong apa sih, Mas. Memangnya aku pawang buaya?" jawab Aira sambil mencubit perut Dewa gemas. "Sudah, cepat habiskan kopinya. Keburu dingin."

Mereka duduk berhadapan di lantai beralaskan tikar pandan yang sudah mulai robek di pinggirannya. Sarapan mereka pagi itu sangat sederhana, nasi putih, dua potong tahu goreng, dan sambal terasi buatan Aira yang aromanya menggugah selera.

"Mas, nanti kalau pulang, jangan mampir-mampir ya. Aku mau masak tumis kangkung kesukaanmu," ujar Aira sambil menyuapkan nasi ke mulut Dewa.

Dewa mengunyah dengan lahap, seolah nasi dan tahu itu adalah hidangan bintang lima. "Pasti. Oh iya, Ai, tadi malam aku mimpi kita punya rumah yang besar sekali. Pintunya otomatis, lampunya dari kristal, dan kamu punya pelayan banyak sekali supaya kamu tidak perlu mencuci baju sampai tanganmu lecet begini, padahal sudah ada mesin cuci."

Aira terdiam sejenak. Ia menatap telapak tangannya yang memang sedikit kasar dan memerah karena deterjen. Ia tersenyum getir namun penuh kasih.

"Mas, punya rumah besar itu capek membersihkannya. Aku lebih suka di sini. Sempit, jadi kalau kamu tidur, kamu tidak bisa jauh-jauh dariku. Kalau di rumah besar, nanti kamu malah menghilang di ruangan lain."

Dewa tersedak kopi karena tertawa. "Kamu ini, bukannya mengaminkan doa suami malah takut kehilangan."

"Habisnya, aku takut kalau kamu jadi orang kaya, nanti kamu jadi sombong seperti Papa Surya atau Siska," bisik Aira pelan. Nama keluarganya selalu menjadi duri dalam daging bagi hubungan mereka.

Dewa meletakkan gelas kopinya. Ia meraih kedua tangan Aira, menggenggamnya erat di atas tikar. "Dengarkan aku, Aira. Mau aku jadi kuli, mau aku jadi tukang sapu, atau kalaupun suatu saat takdir membawaku jadi orang paling kaya di kota ini... hatiku tidak akan berubah. Aku tetap Dewa yang kamu rawat saat sakit, dan kamu tetap Aira yang menjadi alasanku untuk pulang."

Mata Aira berkaca-kaca. Di rumah kontrakan yang bocor jika hujan ini, ia merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia. Ia tidak butuh kemewahan, ia hanya butuh kepastian bahwa pria di depannya ini tidak akan pernah pergi.

Saatnya Dewa berangkat. Ia menuntun motor bebek tuanya yang suara knalpotnya sering diprotes tetangga. Aira mengikutinya sampai ke depan pintu.

"Mas, tunggu!" Aira berlari kecil kembali ke dalam, lalu keluar membawa sebuah kotak bekal plastik berwarna kuning. "Hampir lupa. Ini isinya nasi dan sisa tahu tadi. Jangan jajan di luar, mahal. Uangnya disimpan."

Dewa menerima kotak itu dengan pandangan yang sangat dalam. Ia menyalakan mesin motornya yang bergetar hebat. "Terima kasih, Istriku yang cantik. Doakan hari ini borongan-nya lancar, ya."

Dewa menarik tangan Aira, mencium punggung tangannya lama. Kemudian, dengan gerakan cepat yang tak terduga, ia mengecup kening Aira di depan umum, membuat seorang ibu tetangga yang sedang menyapu jalan berdehem keras karena iri.

"Mas Dewa! Malu dilihat orang!" seru Aira sambil menutup wajahnya dengan ujung hijab.

"Biar saja! Biar mereka tahu kalau kuli ini punya istri bidadari!" teriak Dewa sambil mulai melajukan motornya.

Aira melambaikan tangan sampai bayangan Dewa menghilang di tikungan gang yang becek. Ia kembali masuk ke dalam rumah dengan perasaan membuncah. Ia merasa semuanya akan baik-baik saja selama mereka bersama.

Menjelang siang, saat Aira sedang menyetrika baju, pintu kontrakan diketuk dengan sopan. Aira mengerutkan kening. Biasanya tetangga akan langsung berteriak, atau Siska akan menendang pintu jika datang.

Aira membuka pintu dan mendapati seorang kurir berpakaian rapi membawa sebuah kotak besar.

"Benar ini dengan Ibu Aira?" tanya kurir itu.

"Iya, saya sendiri. Dari siapa ya, Mas?"

"Dari suami Ibu. Katanya ini untuk merayakan tiga bulan pernikahan."

Aira bingung. "Mas Dewa? Dari mana dia punya uang ?"

Aira membawa kotak itu masuk dan membukanya dengan hati-hati. Di dalamnya ada sebuah daster baru berbahan sutra yang sangat lembut, jauh lebih mewah dari semua pakaian yang pernah ia miliki dan sepasang sandal rumah yang empuk.

Di atasnya ada secarik kertas dengan tulisan tangan yang berantakan.

"Aira, tadi aku dapat bonus awal dari mandor karena pekerjaanku rapi. Jangan tanya harganya, yang penting pakai ini supaya kakimu tidak dingin lagi di lantai semen. Tunggu aku pulang, ya. Aku sayang kamu."

Aira memeluk daster itu erat-erat. Ia menangis haru. Di tengah kemiskinan yang mencekik, suaminya selalu menemukan cara untuk memuliakannya.

Ia tidak menyadari bahwa di balik kelembutan daster itu, ada sebuah label kecil yang tersembunyi, sebuah brand eksklusif yang hanya dijual di mall paling mewah di Jakarta, mall yang dimiliki oleh Pradipta Group.

~~

Malam harinya, saat mereka sedang makan malam dengan tumis kangkung yang dijanjikan, suasana mendadak berubah tegang. Sebuah mobil mewah hitam berhenti di depan gang sempit mereka, lampunya yang terang menembus masuk melalui celah pintu kontrakan.

Dewa yang sedang menyuap nasi tiba-tiba membeku. Rahangnya mengeras. Ia meletakkan piringnya dengan tangan gemetar.

"Mas? Ada apa? Siapa yang datang?" tanya Aira cemas.

Sebelum Dewa bisa menjawab, pintu kontrakan digedor dengan keras. Kali ini bukan gedoran penagih utang, melainkan ketukan yang sangat berwibawa.

"Tuan Muda... mohon maaf, sudah mengganggu waktu Anda. Nyonya Besar jatuh sakit dan meminta Anda kembali ke kediaman Pradipta sekarang juga," suara seorang pria dari luar pintu terdengar sangat jernih.

Aira menatap Dewa dengan pandangan kosong. "Mas, ada apa ?"

...----------------...

To Be Continue ....

1
ρυтяσ kang'typo✨
malu kali Ai kalo Dewa jujur dia cembokur🤣🤣🤣
ρυтяσ kang'typo✨
hanya di novel ini... 🥺🥺🥺Dewa bener" mengikuti Ai yang sederhana, dan cinta itu tumbuh di kehidupan mereka yang sederhana dulu di gang sempit, semoga tak pernah berubah yaaa, bahagia selalu
Yunita Asep
waktu itu kan Aira, panggilnua ayah kok jadi ppah y..
Yunita Asep
lanjuutt...
ρυтяσ kang'typo✨
weeeh datang" mau minta mahar buat anak'y, lah wong anak'y saja di usir setelah akad ko😏😏apa kau pantas di sebut ayah??? g punya kaca ya pak di rumah 🤦‍♀️😌🤪
ρυтяσ kang'typo✨
sesayang itu Dewa sama Ai🥰🥰🥰MasyahAllah
Patrish
manis sekali kalian berdua...biarkan saja para tikus got berulah..ga akan ngefek
Patrish
aku membayangkan..kok dasternya Aira seperti punyaku ya😩😩😩
Patrish: kandhani ora percoyo
total 2 replies
Yunita Asep
lanjuutt dong authorr ceritanya baguuss aku suka...
Yunita Asep
alhmdulillah Aira, berbahagialah kamu, nikmati menjadi istri sultann...
Yunita Asep
Naah gitu dong seneng bcnya...
Yunita Asep
ya... mmhnya Dewa sakit, pasti gk tega trus pulang dah jngn ap nggk thorr...
Yunita Asep
lanjuutt.,
Yunita Asep
syukurin lu Arvin Siska... songong sih... lanjuutt...
Yunita Asep
dngn kebohongnnya justru dia akn kehilangn istrinya...
Yunita Asep
ketauan aj sih gpp y thorr, udah ketauan in Aira mah bukan wanita matre...
Yunita Asep
kasih panjang umur ayahnya Aira thorr bir tau syp sbnrnya suami Aira...
Yunita Asep
asyeekk nih certa baru serru... kasih tau Siska.. y.,
Yunita Asep
mampirr y thorr.
ρυтяσ kang'typo✨
Good Ai...jangan biarkan mereka merendahkan mu hanya karna baju dan rantang di tangan, dikira haku dan gila🤦‍♀️😌hadeeeh...padahal orang kampung lebih jujur dari pada orang kota yang sok baik di balut dengan baju mewah'y namun hati'y busuk🤭🤭🤭nak kan u harus siap mentak lagi Ai, di rumah ada tamu tak di undang yang mau kembali sam suami mu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!