Hari ini adalah hari ulang tahun Arla yang ke-18, dimana ia sudah dianggap dewasa dan 'matang'. Sehingga sudah saatnya ia dipanen dan dijual oleh rumah lelang ini.
Sebagai seorang gadis yang dijual oleh keluarganya sendiri, ia dirawat oleh rumah lelang ini untuk dijual kepada para laki-laki hidung belang dengan harga yang lebih mahal. Meski begitu, keluarganya sering datang dan mengatakan bahwa mereka menyesal menjualnya dan berjanji untuk membelinya kembali agar dapat pulang ke rumah dan berkumpul dengan keluarganya lagi.
Akan tetapi saat malam ulang tahunnya datang, tak ada satupun keluarga yang datang untuk menebusnya. Sehingga ia terpaksa dijual kepada laki-laki yang tidak ia kenal.
Bagaimana nasib Arla setelah dibeli oleh laki-laki itu, dan apakah ia akan berakhir menyedihkan seperti para budak nafsu yang telah mati karena kekerasan, seperti yang dialami oleh banyak gadis yang keluar dari tempat ini...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Q Lembayun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyesalan
Beberapa saat setelah Diana ditinggalkan oleh Reza, ia segera kembali menuju ruangannya dengan perasaan gusar dan lelah. Namun, masalah itu tampaknya belum selesai, karena Gio kini sudah berada di ruangannya.
Gio menatap Diana dengan tatapan yang tidak sabar.
“Apa yang dikatakan Reza? Apakah dia bisa membujuk Abimana untuk meminta maaf padaku?” ucap Gio dengan nada marah.
Diana hanya terdiam, tidak mampu mengatakan apa-apa lagi. Ia tidak bisa membujuk Reza untuk meminta maaf pada Gio, dan ia juga tidak bisa bertemu dengan Abimana karena laki-laki itu pasti masih marah padanya.
Melihat Diana yang hanya diam tanpa jawaban, Gio semakin naik pitam. Ia benar-benar membenci dua orang laki-laki itu.
“Satu orang nepo baby, dan yang lainnya parasit. Bagaimana bisa mereka mengkritik ku seperti itu? Kalau bukan karena mereka temanmu, aku sudah menghajarnya sejak lama. Kamu juga kenapa mau bergaul dengan mereka? Mereka hanya sekumpulan penyuka sesama jenis yang menjadikanmu tameng untuk hubungan mereka. Diana, kamu harusnya jauh lebih pintar memilih teman. Kamu…”
“Bisakah kamu keluar? Aku butuh istirahat.”
Laki-laki itu akhirnya pergi dari ruangan Diana. Kepergiannya justru membuat pikiran Diana sedikit lebih jernih dibanding sebelumnya. Abimana marah padanya, Reza memarahinya, dan Gio datang hanya untuk mengeluh padanya. Semuanya terasa seperti bencana tanpa ujung.
Dulu, ketika ia masih berpacaran dengan Abimana, laki-laki itu begitu lembut padanya dalam segala hal. Ia juga tidak pernah melarang Diana bergaul dengan siapa pun, apalagi memarahinya. Diana teringat ketika ia menampar Abimana; laki-laki itu bahkan tidak membalas dengan pukulan atau umpatan. Justru dari matanya terlihat jelas luka dan patah hati yang dalam—seolah perasaan itu terlalu besar untuk diungkapkan dengan amarah.
Diana menyesal. Seandainya saat itu ia memilih Abimana, mungkin sekarang ia sudah menikah dengannya. Apalagi ketika ia mengingat bahwa Abimana pernah berencana membawanya bertemu keluarga besarnya, bahkan ingin membawa hubungan itu ke jenjang yang lebih serius. Ia juga sudah menyiapkan tempat tinggal di apartemen mewah yang tidak jauh dari rumah sakit.
Namun sayangnya, kebohongan Diana terbongkar lebih cepat dari perkiraan, hingga Abimana merasa sangat kecewa dan menyuruhnya memilih antara dirinya atau Reza. Saat itu, ia jelas memilih Reza, karena Reza tampak terlalu sempurna di matanya—teman masa kecil yang tumbuh bersama, lalu meraih cita-cita menjadi dokter bersama. Diana mengira itu adalah pilihan terbaik. Ternyata ia salah. Abimana justru adalah yang terbaik.
Kini, perhatian Abimana dan cara laki-laki itu memperlakukannya terasa begitu istimewa setelah ia melepaskannya. Diana sadar, dari semua pengagum yang ia miliki, Abimana adalah yang paling tulus. Jika tidak ada Abimana, mungkin ia dan Reza tidak akan bisa masuk ke lingkungan kerja ini bersama. Bahkan mungkin mereka akan menjadi korban perundungan para senior karena latar belakang yang biasa saja. Kini Diana menyadari bahwa Abimana adalah yang terbaik dari segi bibit, bebet, dan bobot. Apalagi keluarga Abimana adalah keluarga terkemuka di bidang kesehatan.
Diana mulai berpikir bahwa ini belum terlambat. Ia masih punya kesempatan untuk meminta maaf dan membujuk Abimana kembali padanya. Ia bisa melepaskan Reza atau bahkan Gio demi mendapatkan Abimana lagi. Tekad itu membuat Diana semakin frustasi, hampir seperti kehilangan kendali. Ia benar-benar merindukan Abimana dan ingin kembali padanya.
Di sisi lain, Abimana dan Arla kini tengah merayakan keputusan Arla untuk menjadi seorang dokter. Keduanya duduk di bar tempat Abimana dan Reza biasa minum. Tempat itu cukup nyaman untuk mengobrol atau sekadar menikmati makanan ringan. Bagi Abimana, Arla perlu melihat sisi lain dari dunia yang mungkin akan mengejutkannya saat nanti memasuki kehidupan perkuliahan.
“Dengarkan aku, banyak orang dari daerah atau anak rumahan yang akan berkuliah di tempat yang sama seperti kamu. Ada yang tetap pada kepribadiannya, tapi ada juga yang berubah drastis setelah diberi kebebasan hidup mandiri. Kamu bisa lihat di sana,” ujar Abimana sambil mengangguk ke arah beberapa mahasiswa yang tampak bersantai, “ada yang memilih membolos dan bersenang-senang. Dulu saat SMA mereka merasa terkekang, jadi ketika bebas mereka melampiaskannya di sini. Aku mengajakmu kemari supaya kamu terbiasa dan paham bahwa orang-orang seperti itu akan kamu temui nanti di bangku kuliah. Jadi bagaimana kamu bergaul ke depannya tergantung pada pilihanmu sendiri, tapi aku harap semangatmu tetap sama seperti sekarang—ingin menjadi dokter seperti aku.”
Selain ke bar, Abimana juga mengajak Arla ke tempat hiburan yang sering didatangi mahasiswa. Ia bahkan membawa Arla ke perpustakaan kota agar lebih familiar dengan suasana belajar di luar kampus.
“Mau mencari hiburan atau belajar, semuanya terserah kamu. Asal kamu tahu batasannya. Kalau kamu merasa terganggu di tempat lain, kamu bisa datang ke tempat kerjaku. Di sana relatif lebih tenang.”
“Kalau begitu aku akan pergi ke tempat kerja mu.”
Mendengar itu, Abimana tersenyum canggung. Ia sebenarnya hanya bercanda, tetapi tampaknya Arla benar-benar serius ingin belajar di tempat kerjanya.
Selain itu, Abimana juga mengajak Arla berbelanja kebutuhan sehari-hari—makanan sehat, makanan manis, hingga bahan masakan untuk di rumah. Ia juga membelikan beberapa pakaian dan perlengkapan kuliah karena pakaian Arla yang dibawa ke apartemen masih terbatas.
Hari itu mereka berdua benar-benar kelelahan setelah menghabiskan banyak waktu untuk berjalan-jalan dan bersenang-senang. Sesampainya di depan apartemen, Abimana melihat seseorang sedang duduk di depan pintu dengan kepala tertunduk, tampak sangat frustasi. Ia dan Arla pun mendekat, lalu melihat sosok itu dengan lebih jelas.
“Diana?”