ig: @namemonarch
Di sebuah multiverse di mana para penguasa mengandalkan insting dan amarah, Ye Chen mendominasi dengan kalkulasi dingin. Ia adalah sosok yang memanipulasi keadaan dari balik layar, memandang konflik dunia layaknya bidak catur di papan raksasa.
"Kultivasi hanyalah proses penyempurnaan sirkulasi energi. Dan takdir? Itu hanyalah sekumpulan data yang belum dikendalikan oleh tangan yang tepat."
Inilah awal dari perjalanan lintas jagat raya. Sebuah jalan di mana hukum langit akan tunduk di bawah kendali seorang analis sistem yang memulai langkahnya dari titik terendah untuk mencapai puncak tertinggi multiverse.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nameless Monarch, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24 — Skenario yang Sempurna
Badai energi di dalam gua bawah tanah itu perlahan mereda. Pendaran cahaya biru kehijauan yang sebelumnya menyilaukan mata kini memudar drastis, menyisakan ruang remang-remang yang terasa hampa dan dingin. Kristal-kristal Nadi Batu Spiritual yang menempel di dinding telah kehilangan intisari mistisnya; mereka kini tampak tak ubahnya seperti bongkahan batu kuarsa kusam yang rapuh dan siap menjadi debu.
Di tengah gua, Ye Chen membuka matanya perlahan. Napasnya berat, terdengar berderak di rongga dadanya seolah paru-parunya dipenuhi oleh serpihan kaca tajam.
"Sistem, hentikan proses penyerapan. Putus resonansi esensi sekarang," perintah Ye Chen dengan suara serak, namun nadanya tetap sedingin es.
[Resonansi diputus. Mengkalkulasi total konversi esensi...]
[Laporan: 82% kapasitas Nadi Spiritual berhasil dikonversi.]
[Total Poin Kenaikan yang Diperoleh: +114.500 Poin.]
[Saldo Akhir: 146.700 Poin.]
[Status Kultivasi Tuan Rumah: Alam Kondensasi Qi (Tahap Tengah - Stabil).]
Melihat deretan angka yang berjejer rapi di benaknya, sudut bibir Ye Chen sedikit berkedut, membentuk senyum tipis. Ini adalah akumulasi aset terbesar yang pernah ia capai sejak tiba di dunia ini. Ratusan ribu poin adalah modal yang luar biasa besar untuk mensimulasikan hukum alam tingkat lanjut di ruang mentalnya nanti. Namun, senyum itu segera pudar saat sistem menampilkan baris peringatan merah berikutnya.
[Peringatan Kondisi Jasmani: Bagian kiri tubuh Tuan Rumah mengalami kerusakan struktural parah akibat pemaksaan batas meridian. 3 meridian utama retak, pembuluh darah kapiler pecah, dan jaringan otot mengalami robekan mikro. Fungsi pergerakan lengan kiri turun hingga 91%.]
Ye Chen menoleh ke lengan kirinya. Lengan itu terkulai lemas di sisinya, kulitnya dipenuhi ruam keunguan yang mengerikan akibat pendarahan internal. Rasa sakit yang berdenyut dari pangkal bahu hingga ke ujung jarinya cukup untuk membuat manusia biasa menjerit dan kehilangan kesadaran, namun Ye Chen telah mengunci persepsi emosionalnya rapat-rapat di belakang dinding logika.
Bagi Ye Chen, lengannya saat ini bukanlah anggota tubuh yang harus ditangisi, melainkan sekadar wadah fisik yang rusak karena digunakan untuk menampung aliran esensi yang jauh melampaui batas kewajarannya. Sebuah harga yang sangat pantas untuk rasio timbal balik sebesar seratus ribu poin.
"Sistem, tampilkan rute kembali dan cari titik buta penjaga," perintahnya datar.
Ia tidak meminta sistem untuk memperbaiki tubuhnya, karena ia tahu sistem tidak memiliki fungsi penyembuhan ajaib. Menggunakan tangan kanannya yang masih berfungsi sempurna, Ye Chen merobek bagian bawah jubah usangnya. Ia menggigit salah satu ujung kain tersebut, lalu dengan gerakan cekatan yang mengabaikan rasa perih, ia mengikat lengan kirinya erat-erat ke batang tubuhnya. Bidai darurat ini akan menahan lengannya agar tidak berayun dan memperparah robekan meridian saat ia merayap naik.
Setelah itu, ia menarik sisa Qi di Dantiannya secara manual. Mengandalkan pemahamannya sendiri, ia memompa energi itu ke kaki kanan dan otot punggungnya, menciptakan semacam penopang tenaga dari dalam untuk menyeimbangkan tubuhnya yang kini kehilangan beban di satu sisi.
Ia sengaja menyisakan sekitar 18% energi di dalam Nadi Spiritual ini. Jika ia menyedotnya hingga kering kerontang, fondasi gua bisa runtuh seketika dan menguburnya hidup-hidup. Selain itu, menyisakan residu energi akan menjadi pengecoh yang sempurna. Para tetua Keluarga Lin nantinya hanya akan mengira bahwa nadi ini "mati muda" secara alami atau intisarinya dihisap oleh monster buas dari kedalaman bumi, bukan dicuri oleh seorang manusia dalam semalam.
Dengan langkah yang terhuyung-huyung namun dikalkulasi dengan efisiensi tinggi, Ye Chen kembali memanjat terowongan ventilasi yang sempit. Rasa sakit di setiap tarikan napasnya adalah pengingat yang kejam bahwa ia masih terikat pada hukum fana. Ketika ia akhirnya berhasil menyelinap masuk ke gua penampungan pekerja dan menggeser batu penutup celah dinding, udara dingin menjelang fajar baru saja menembus ruangan berbau pesing tersebut.
Ia kembali ke sudut gelapnya, memejamkan mata, dan mengatur ritme pernapasannya menyerupai pekerja fana yang tertidur pulas akibat kelelahan luar biasa.
Dua jam kemudian, suara peluit melengking yang memekakkan telinga dan lecutan cambuk keras membangunkan para pekerja tambang dari tidur singkat mereka.
"Bangun, dasar babi-babi pemalas! Ambil kapak beliung kalian! Kuota hari ini dinaikkan sepuluh persen! Yang tidak memenuhi target tidak akan mendapat jatah air!" teriak seorang pengawas berseragam abu-abu dengan suara kasarnya.
Ye Chen bangkit berdiri dengan perlahan. Ia menarik jubah kotornya untuk menyembunyikan lengan kirinya yang bengkak. Pikirannya kini berpacu ke tahap selanjutnya: merancang Skenario Pelarian.
Melarikan diri dari tambang ini secara diam-diam di kegelapan adalah taktik rendahan; itu hanya akan meninggalkan kecurigaan. Jika ia menghilang, Keluarga Lin akan memasukkannya ke daftar buronan, dan identitas "Paman Zhao" yang ia gunakan akan diselidiki. Itu bisa membahayakan penduduk Desa Kayu Hitam dan merusak rencana jangka panjangnya. Ia harus keluar melalui pintu depan, secara terang-terangan, tanpa dicurigai, dan sebagai sesuatu yang tidak lagi memiliki nilai untuk diperas.
Ia harus mengubah dirinya menjadi anak buangan.
"Untuk menutupi kerusakan meridian akibat ledakan energi semalam, aku butuh alasan kerusakan fisik yang sangat brutal dan terlihat nyata," batin Ye Chen sambil berjalan mengikuti barisan pekerja menuju sektor galian. "Jika tulangku hancur karena tertimpa batu, tidak akan ada ahli medis Keluarga Lin yang sempat memeriksa nadiku untuk menyadari bahwa meridian di dalamnya sudah lebih dulu hangus terbakar."
Begitu tiba di area kerjanya, suara dentingan kapak beliung kembali menggema. Ye Chen mulai mengamati struktur geologis dinding batu cadas di sekitarnya.
"Sistem, gunakan pemindai. Analisis integritas struktur di sektor ini. Cari titik beban pada dinding yang memiliki retakan alami paling rapuh."
[Memindai struktur geologis... Titik kelemahan ditemukan. Koordinat: Arah jam dua, 4 meter dari posisi Tuan Rumah. Sebuah batu cadas dengan estimasi berat 450 kilogram bertumpu pada lapisan pasir hisap yang tidak stabil.]
Mata Ye Chen mengunci bongkahan batu raksasa yang menonjol di langit-langit terowongan rendah tersebut. Ia berjalan mendekati titik itu dengan tenang. Ia mengangkat kapak beliungnya hanya dengan menggunakan tangan kanan.
Di ujung lorong, pendengarannya yang tajam menangkap suara langkah kaki yang berat. Itu adalah pengawas gemuk berkumis melintang—orang yang mendaftarkannya kemarin—yang sedang berjalan mendekat untuk melakukan patroli rutin.
'Kalkulasi waktu yang tepat,' pikir Ye Chen.
Ia mengayunkan beliungnya. Namun ayunan itu tidak diarahkan ke urat bijih besi di depannya, melainkan diayunkan lurus ke atas, tepat ke celah penyangga yang menahan batu cadas 450 kilogram tersebut. Ayunan itu terlihat persis seperti pukulan buruh rendahan yang ceroboh dan kelelahan, namun di ujung bilah kapaknya, Ye Chen menyisipkan letupan Qi yang sangat padat untuk menghancurkan sisa fondasi pasir di dalamnya.
*KRAK!*
Suara gemuruh memecah kebisingan tambang. Dinding di depan Ye Chen runtuh seketika. Batu cadas raksasa itu terlepas dari sarangnya dan meluncur turun layaknya tebing yang longsor.
Para pekerja di sekitarnya menjerit panik dan melompat mundur untuk menyelamatkan nyawa mereka. Ye Chen juga melompat mundur, seolah ia terkejut. Namun pada kenyataannya, pikirannya sedang menghitung lintasan jatuhnya batu tersebut dengan presisi mutlak.
Di detik terakhir sebelum benturan, Ye Chen memposisikan tubuhnya secara sengaja. Ia membiarkan sisi tumpul namun sangat berat dari batu raksasa itu menghantam telak bahu dan lengan kirinya.
*Brak!!*
Batu itu jatuh, menjepit lengan kiri Ye Chen ke dinding tanah terowongan. Tulang lengannya, yang sudah rapuh karena ledakan penyerapan energi semalam, kini remuk secara fisik. Bunyi patahan tulang terdengar jelas, menggetarkan gendang telinga siapa pun yang mendengarnya di sela-sela debu yang mengepul.
"ARGHHH!" Ye Chen berteriak dengan suara serak.
Kali ini, tidak ada yang perlu disimulasikan. Rasa sakit itu murni, absolut, dan menembus langsung ke sumsum tulangnya. Keringat dingin sebesar biji jagung seketika membanjiri wajahnya yang pucat.
Pengawas gemuk itu berlari menghampiri lokasi kejadian sambil terbatuk-batuk menembus debu. Ia menendang kerikil yang berserakan dengan ekspresi penuh amarah.
"Apa-apaan ini?! Siapa babi bodoh yang meruntuhkan dinding penahan?!" raungnya menggelegar.
Para pekerja yang pucat pasi hanya bisa gemetar ketakutan dan menunjuk ke arah Ye Chen yang sedang terduduk di tanah. Lengan kiri pemuda itu berlumuran darah kental, terjepit di bawah batu raksasa, dan melengkung dengan sudut yang mengerikan.
Pengawas itu berjalan mendekat. Ia mendengus jijik saat melihat pelat kayu nomor 404 yang menggantung di leher Ye Chen. "Bocah dari Kayu Hitam yang direkomendasikan si Pincang Zhao. Benar-benar sampah pembawa sial! Baru bekerja satu hari dan sudah membuat kekacauan yang menghambat produksi. Beraninya kau ceroboh di waktu kerjaku!"
Ia menarik kerah baju Ye Chen dengan kasar, memaksa pemuda itu menatapnya. Membuang seluruh kebanggaannya sebagai kultivator, Ye Chen menggunakan sisa tekadnya untuk menatap pengawas itu dengan ekspresi ketakutan dan keputusasaan yang sangat meyakinkan—ekspresi khas manusia fana rendahan yang baru saja menyadari bahwa mata pencahariannya telah hancur.
"T-Tuan... tolong... lenganku... aku tidak bisa merasakannya..." rintih Ye Chen, memohon dengan bibir bergetar pucat.
Pengawas itu meludah ke tanah, tepat di sebelah kaki Ye Chen. "Tolong? Kau pikir Keluarga Lin mengumpulkan ramuan penyembuh untuk sampah sepertimu? Lihat lengan kirimu itu. Tulangnya remuk menjadi lumpur, dagingnya koyak. Kau bahkan tidak akan bisa memegang mangkuk kayu dengan tangan itu, apalagi mengayunkan kapak tambang."
"T-tapi... Tuan... aku janji aku masih bisa bekerja dengan satu tangan... jangan usir aku..." Ye Chen memainkan peran buruh putus asanya tanpa celah. Di dalam benaknya yang dingin, ia sedang menghitung mundur kapan persisnya ia akan dibuang.
"Buang tumpukan kotoran ini!" perintah si pengawas dengan muak kepada dua orang penjaga bersenjata tombak yang baru tiba. "Kita tidak akan membuang jatah makanan bulanan untuk memelihara orang cacat. Lempar dia ke kereta pengangkut limbah yang menuju ke area pembuangan di luar kota. Biarkan anjing-anjing liar di jalanan Daun Gugur yang mengurus sisa napasnya."
Kedua penjaga itu mengangguk patuh. Tanpa memedulikan penderitaan Ye Chen, mereka menarik tubuhnya dengan kasar dari bawah himpitan batu. Mereka menyeret Ye Chen yang berpura-pura setengah pingsan, merampas pelat nomor 404 dari lehernya sebagai tanda pemutusan ikatan, dan membawanya menjauh dari area tambang.
Beberapa waktu kemudian, di atas kereta kayu beroda dua yang berbau busuk dan dipenuhi sisa-sisa lumpur galian, Ye Chen dilemparkan begitu saja bagaikan karung rongsokan yang tak lagi berharga. Kereta itu ditarik oleh seekor binatang bertanduk tebal, perlahan-lahan berderit bergerak meninggalkan gerbang kayu raksasa Tambang Utara Keluarga Lin.
Sambil menahan rasa sakit yang masih berdenyut tajam di lengannya, Ye Chen membiarkan tubuhnya berbaring rileks di atas tumpukan tanah buangan. Ia menatap langit biru yang perlahan cerah, menyambut udara bebas untuk pertama kalinya sejak ia menyusup ke tempat ini. Di balik wajahnya yang pucat, kotor, dan berdebu, sebuah senyum dingin dan penuh kemenangan tersungging tipis.
Keluarga Lin telah membuangnya dengan penuh rasa jijik karena mengira ia hanyalah tenaga kerja rendahan yang hancur akibat kecelakaan konyol. Mereka sama sekali tidak menyadari bahwa "sampah" yang baru saja mereka tendang keluar ini telah menjarah inti kekayaan terbesar mereka, merampok ratusan ribu poin esensi, dan meninggalkan fondasi klan mereka dalam kondisi sekarat.
ada usul tidak jelas