Di hari ulang tahun nyonya yang ke 35, kedatangan jenderal menjadi kabar yang sangat membahagiakan.
Siapa sangka, bukan hadiah yang dia dapatkan. Namun kedatangan seorang wanita muda seusia putra sulungnya. Dan bukan ucapan ulang tahun yang jenderal katakan pada nyonya, tapi keinginannya menjadikan wanita itu sebagai istri keduanya.
Tanpa jenderal sadari, nyonya yang selama ini menciptakan hal-hal luar biasa untuk membantunya naik pangkat dan disegani itu, sama sekali tidak berasal dari tempat ini. Dia datang dari masa depan, dan karena jenderal telah berkhianat, sesuai janji mereka ketika menikah dulu, nyonya akan pergi meninggalkan jenderal.
Nama besar yang diperoleh atas dukungan nyonya, tidak mungkin akan bertahan ketika sang nyonya meninggalkannya bukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24. Pergi tak Kembali
Kereta kuda yang di tumpangi oleh Mei Huarin perlahan menuju ke istana. Di ruang belajar kekaisaran, tempat dia akan kembali ke jaman modern lagi.
Mei Huarin melihat ke keluar jendela, dia sudah 18 tahun tinggal di tempat ini. Dia ingat pertama kalinya dia pasrah saja tinggal di tempat ini, karena memang dia tidak tahu caranya kembali. Namun seiring waktu, dia bertemu dengan guru suci, diapun menemukan cara kembali.
Tadinya dia berpikir, meskipun dia tahu cara kembali. Dia tidak akan pernah kembali. Dia punya suami yang sangat dia cintai, punya dua anak yang sangat dia sayangi. Sayangnya, setelah 18 tahun hati jenderal pada akhirnya berubah. Dan Mei Huarin tidak punya alasan lagi untuk tetap tinggal.
Satu hal yang tidak bisa diterima oleh Mei Huarin adalah pengkhianatan. Cinta dan hati yang dibagi.
Jalan sudah mulai sepi. Sudah hampir tengah malam memang. Dan tiba-tiba saja kereta kuda itu berhenti. Padahal belum sampai di istana.
"Ada apa?" tanya Mei pada kusir dari istana.
"Nyonya Jenderal, yang mulia ada di depan!"
Mei Huarin melihat keluar, dan benar saja. Kaisar Jinhuan berada di depan kereta. Hanya di temani Kasim Han.
Mei Huarin keluar dari kereta, di bantu yang mulia Kaisar Jinhuan.
"Waktunya masih cukup, bagaimana kalau kita jalan sambil mengobrol!" kata Kaisar Jinhuan.
Mei Huarin tersenyum dan mengangguk
"Sebelumnya aku tidak pernah bertanya padamu, seperti apa tempatmu berasal itu?" tanya Kaisar Jinhuan.
"Di jaman itu, bangunan tidak terbuat dari batu dan kayu. Bangunan juga sangat tinggi...!"
"Lebih tinggi dari menara Weihua?" tanya Kaisar Jinhuan menyela.
Mei Huarin terdiam sesaat. Jika di bandingkan dengan menara tujuh tingkat itu, tentu saja gedung apartemen tempat dia tinggal lebih tinggi.
"Iya, lebih tinggi. Ada yang punya sampai 30 lebih tingkat!" jelas Mei Huarin.
"Bagaimana membangunnya?" tanya Kaisar Jinhuan.
Di jaman ini, bangunan di bangun dengan tangga dari bambu. Beda dengan jaman modern yang menggunakan alat berat.
"Ada yang namanya kontraktor, mereka punya alat berat, punya berbagai mesin canggih..."
"Mesin?" tanya Kaisar Jinhuan lagi.
Mei Huarin menganggukkan kepalanya.
"Iya mesin, berbagai macam alat yang bisa mempermudah pekerjaan manusia!" jelas Mei Huarin.
Kaisar Jinhuan tampak berpikir, tapi dia rasa dia juga tidak akan pernah mengerti.
"Lalu, bagaimana dengan orang-orangnya?" tanya Kaisar Jinhuan.
"Kalau orang, sama dengan disini. Hanya saja di jaman modern itu, orang-orang tidak lagi pakai hanfu yang tebalnya berlapis-lapis begini!" jawab Mei Huarin sambil tertawa.
Kaisar Jinhuan menghentikan langkahnya. Dia menoleh, menatap lekat pada Mei Huarin.
"Apa ada yang seperti ku, di tempat itu?"
Pertanyaan kaisar Jinhuan itu membuat langkah Mei Huarin terhenti. Dia tahu, sebenarnya jadi kaisar Jinhuan juga sangat tidak mudah. Benar-benar tidak mudah. Dia bahkan tidak bisa memikirkan diri sendiri, demi kerajaan. Setiap helaan nafas, dia harus memikirkan kesejahteraan seluruh negeri.
"Ada, banyak. Para pemimpin yang sangat adil, baik dan bijaksana!"
Kaisar Jinhuan tersenyum. Setidaknya ada yang seperti dirinya. Artinya, Mei Huarin tidak akan melupakannya.
Mei Huarin dan Kaisar Jinhuan akhirnya sampai di ruang belajar. Waktu juga sudah hampir tengah malam.
"Tolong jangan lupakan aku! Mei Huarin!"
Mei Huarin menatap kaisar Jinhuan.
"Aku tidak akan pernah melupakanmu!"
Cahaya putih terlihat di tempat dimana Mei Huarin berdiri. Dan ketika cahaya itu membuat Kaisar Jinhuan menutup matanya dengan lengan. Mei Huarin segera menghilang.
Brukk
Kaisar Jinhuan jatuh berlutut. Air matanya menetes. Dia merasa sangat sedih, satu-satunya orang yang bisa membuatnya merasa tenang dan nyaman telah pergi.
Sementara itu di kediaman Jinxi. Jenderal dan nyonya tua Wang bersikeras ingin masuk. Meski para penjaga sudah melarang. Mereka tetap merangsak masuk.
Yao Yao yang mulai panik, segera memanggil Lu Yanzhi. Meski dia tahu kalau nonanya itu sedang tidak ingin di ganggu oleh siapapun.
Pada akhirnya, Lu Yanzhi yang mendengar keributan itu juga keluar dari kamarnya.
Lu Yanzhi terus menyeka air matanya yang tak kunjung berhenti. Meski dia sudah menyeka berulang kali.
"Yan'er, nenek tahu kalau kamu tidak akan tega melihat nenek berdiri di luar! Yan'er ijinkan kami masuk ya. Nenek ada yang ingin dibicarakan dengan ibumu!" Nyonya tua tampak membujuk Lu Yanzhi.
Dia sungguh nenek yang perhatian, bahkan mata Lu Yanzhi sembab saja dia tidak melihatnya dan hanya bicara apa yang ingin dia bicarakan.
"Ibu tidak ada, percuma nenek dan ayah masuk!"
"Yan'er, apa begitu cara bicara dengan nenekku. Ayah dan ibumu memang ada kesalahpahaman. Minta pada penjaga ini pergi, kami seperti sedang berusaha masuk ke rumah orang lain!"
Lu Yanzhi yang mendengar ayahnya bicara. Ingin sekali marah. Ibunya pergi kan gara-gara ayahnya. Tapi, dia kembali ingat pada apa yang dikatakan ibunya. Meskipun ayahnya salah, Lu Yansheng tetap ayahnya. Dia tidak boleh membenci ayahnya. Tidak ada yang namanya mantan ayah, atau mantan anak.
"Ayah, sejak ayah mengkhianati ibu. Ayah sudah menjadi orang lain...!"
"Yan'er!" pekik Lu Yansheng tidak terima.
"Pengawal bayangan!" teriak Lu Yanzhi.
Tangan pria itu bahkan sudah terangkat tinggi. Untung saja para pengawal bayangan langsung datang dan bersiaga dengan pedang mereka.
Nyonya tua Wang dan, jenderal Lu tampak terkejut. Bukankah pengawal bayangan hanya akan datang jika Mei Huarin memanggil dan dalam bahaya.
"Mereka..."
Air mata Lu Yanzhi kembali mengalir, tapi dia buru-buru menyeka dengan sapu tangannya.
"Ayah telah ingkar janji. Maka jangan harap, ayah akan bertemu dengan ibu lagi!" kata Lu Yanzhi lirih namun terdengar penuh kekecewaan.
"Yan'er, kamu bicara apa? cepat panggil ibumu! tadi kata pelayan ibumu pergi, tapi mana mungkin malam-malam begini...!"
"Ibu sudah pergi, dan kalian tidak akan pernah melihat ibu lagi!"
"Yan'er, berhenti bercanda!" bentak Lu Yansheng.
Rahang Lu Yanzhi mengeras. Ibunya pergi sungguh karena pengkhianatan ayahnya. Sekarang ayahnya malah bersikap sangat arogan di depannya.
"Pengawal, tutup pintu gerbang. Jangan biarkan orang-orang dari kediaman jenderal masuk ke kediaman Jinxi!"
Lu Yanzhi menghentakkan jubah dinginnya, dengan tatapan mata yang sangat tajam pada ayahnya. Dia berbalik dan meninggalkan tempat itu.
***
Bersambung...
kalau pun dibandingkan Mei sama Shen ya kayak langit dan bumi, Mei lebih segalanya dari Shen 🤭
Absen dulu, baru kita baca..
Terimakasih Kak Noer untuk updatenya.. ❤❤🤭🤭
Terimakasih Kak Noer untuk updatenya.. ❤❤❤❤
padan muka....