Christian sudah menyukai Maya sejak lama—gadis manja, pemarah, dan tertutup yang selalu menjauh darinya.
Sementara itu, Chris adalah kebalikan dari semua yang Maya benci. Pria urakan, berisik, mesum, dan terlalu bebas.
Chris selalu mengejar Maya. Bahkan sampai menunda kelulusannya hanya untuk tetap berada di dekat gadis itu.
Awalnya, Maya menganggap Chris gangguan. Seseorang yang tak pernah ia anggap serius.
Tapi perlahan, perhatian yang tak pernah hilang itu mulai melemahkan pertahanannya.
Sampai tanpa sadar, Maya jatuh cinta.
Namun saat perasaan itu akhirnya saling terbalas, kenyataan justru datang menghantam mereka. Perbedaan keyakinan membuat cinta mereka… mustahil.
Sekarang Chris harus memilih, melawan segalanya atau kehilangan Maya untuk selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eliana Rovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 24. perasaan yang terlambat
"Kok mendadak, sih?" Maya berusaha menyembunyikan kesedihan di suaranya.
"Sebenarnya sudah hampir dua bulan yang lalu ayah meminta ku untuk pulang dan segera menyelesaikan skripsi ku." Chris tersenyum lembut dengan mata masih terarah lurus ke arah Maya. "Tapi aku berusaha mengulur waktu untuk menyelesaikannya."
"Memangnya kenapa kamu mengulur waktu?"
Chris kembali tersenyum sambil mengambil tangan Maya. "Rahasia."
Suasana menjadi hening, dan keduanya memilih untuk diam.
"Ayo, aku antar kamu pulang," ucap Chris.
Di dalam taksi yang berguncang pelan mengikuti jalanan, suasana hening membalut Maya dan Chris. Tak ada percakapan, hanya suara samar kendaraan yang melintas dan deru mesin yang mengisi ruang kecil itu. Maya duduk dengan tangan saling bertautan erat-erat di pangkuan untuk menyembunyikan kesedihannya, sesekali mencuri pandang ke arah Chris yang menatap keluar jendela.
Ucapan Chris tadi masih terngiang-ngiang di telinganya, tentang rencana kepulangannya ke Jakarta. Entah mengapa, hatinya terasa berat. Dadanya sesak seolah ada sesuatu yang memberatkan napasnya. Ini aneh. Bukankah Chris hanya temannya? Sama seperti Putri, sahabat yang selalu ada di sisinya? Lalu kenapa perasaannya kali ini berbeda?
Maya menggigit bibirnya pelan, mencoba menahan gejolak yang bahkan ia sendiri tak mengerti. Dadanya semakin terasa nyeri, bukan karena penyakit lamanya, tapi karena sesuatu yang lain, sesuatu yang tumbuh perlahan dan kini mulai menyakitinya.
"Apakah... aku mulai mencintai Chris?" batinnya berbisik lirih, nyaris tidak percaya dengan pikirannya sendiri.
Maya menunduk, menatap jemarinya yang bergetar lemah di atas pangkuannya. Ia tak tahu jawabannya, tapi yang pasti, membayangkan hari-hari tanpa Chris di sisinya tiba-tiba terasa terlalu sunyi dan hampa.
"Sudah sampai," ucap Chris sambil keluar dan berjalan ke sisi pintu milik Maya lalu membukakan pintu untuknya.
"Makasih." Maya keluar dari dalam mobil tanpa berusaha untuk membalas tatapan Chris kepadanya.
"Wan'an, Maya."
Kalimat sederhana itu seharusnya biasa saja. Namun di telinga Maya, kata-kata itu terdengar seperti ucapan perpisahan. Seperti akhir dari sesuatu yang baru saja mulai ia pahami. Matanya tiba-tiba memanas, dadanya terasa semakin sesak. Maya kemudian memutar tubuhnya, membelakangi Chris dan menghadap pagar pintu rumahnya. Maya ingin segera masuk ke dalam dan menyembunyikan kesedihannya.
"Selamat malam," balas Maya dengan suara bergetar, lalu berjalan cepat meninggalkan Chris yang masih berdiri di tempatnya.
Maya membuka pintu rumah dengan tangan gemetar, melangkah masuk dengan langkah berat. Begitu daun pintu tertutup rapat di belakangnya, pertahanan yang tadi ia tahan sekuat tenaga runtuh seketika.
Air mata yang hangat mulai mengalir tanpa suara. Maya membungkuk, memeluk dirinya sendiri di kegelapan ruang tamu. Ia menangis begitu keras, begitu dalam, bukan karena dimarahi, bukan karena sakit jantungnya, tapi karena hatinya terasa hancur.
Rasa sakit itu benar-benar baru baginya. Rasanya jauh lebih menyesakkan daripada ketakutan pada penyakitnya. Ini adalah rasa sakit kehilangan, sebuah luka yang bahkan ia belum sepenuhnya mengerti, tapi cukup kuat untuk membuatnya merasa seolah dunia runtuh menimpanya malam itu.
"Dek?" Suara lembut sang kakak membuat tangis Maya semakin menjadi-jadi. "Loh, kok kamu nangis? Ada apa?"
Maya mengangkat wajahnya, lalu dipeluknya tubuh sang kakak.
Di tengah isaknya yang masih mengguncang tubuh, Maya perlahan menyadari sesuatu yang menyesakkan, ia mencintai Chris.
Penyesalan itu datang terlambat, menghantam keras hingga membuat napasnya tercekat. Selama ini, ia selalu menyangkal setiap debaran aneh di dadanya, setiap senyum kecil yang tanpa sadar muncul saat mengingat Chris, setiap keresahan saat Chris tidak ada di dekatnya. Ia mengira itu hanyalah rasa nyaman seperti sahabat. Seperti saat bersama Putri. Tapi kini, setelah Chris mengatakan akan pergi... rasa itu menjelma menjadi rasa kehilangan yang terlalu dalam untuk sekadar hubungan pertemanan.
Andai saja ia lebih cepat sadar. Andai saja ia tidak terlalu sibuk menyangkal perasaannya.
Kini, semua tampak sia-sia. Chris akan pergi, dan ia hanya bisa menyesali ketidakberaniannya untuk mengakui perasaannya lebih awal.
Air mata Maya terus mengalir, membawa serta semua ketakutan, penyesalan, dan perasaan cintanya yang terlambat ia sadari.
Dalam hening malam itu, Maya merasakan betapa pedihnya mencintai seseorang yang mungkin sebentar lagi hanya akan menjadi kenangan.
Maya menyesal...
Maya telah mencintai dia...
Maya mencintai Chris...
...****************...
Maya.
Satu kata. Satu nama.
Hanya sebuah nama, tetapi bagi Chris, Maya bukanlah sekadar nama biasa. Gadis itu adalah alasan di balik keputusannya bertahan di Yogyakarta, kota yang awalnya hanya menjadi tempat singgah sementara.
Hampir empat tahun lamanya Chris tinggal di sana, menunda semua rencana besar yang sudah ia susun saat pertama kali menginjakkan kaki. Ia menunda kepulangan, menunda ambisi karier, dan bahkan menunda banyak kesempatan, hanya karena kehadiran Maya yang secara perlahan namun pasti mengikat hatinya.
Chris bisa saja lulus lebih cepat dan kembali ke kota kelahirannya untuk membantu ayahnya di bidang konstruksi, tetapi itu semua mustahil saat hatinya masih tertanam dalam untuk Maya. Perempuan yang hingga saat ini hanya menganggapnya sebagai sahabat.
Maya, dengan segala tingkah polos, kemarahan yang seringkali tidak masuk akal, ketakutan kecilnya, dan ketulusan hatinya, menjadi pusat dunia kecil Chris yang tidak pernah ia sadari sebelumnya.
Maya adalah rumah.
Seseorang yang, tanpa Chris sadari, membuatnya merasa hidup dan berarti.
Dan kini, saat jarak dan waktu mulai mengintai, Chris tahu bahwa kehilangan Maya bukan hanya soal kehilangan seorang teman... tapi kehilangan bagian dari dirinya sendiri.
"Sudah sampai, Mas."
Suara supir taksi itu mengalihkan perhatian Chris sejenak. Chris menghela nafasnya datar, lalu mengeluarkan selembar uang warna merah kepada supir itu.
"Ini kembaliannya, Mas."
Chris mengambilnya dan keluar dari dalam taksi. Saat itulah, Chris melihat mobil Pajero nya telah bertengger manis di garasi. Itu menandakan bahwa kedua temannya telah kembali dari club.
Chris berjalan dan sekelebat samar mendengar suara cekikikan seorang gadis dari dalam rumah. Benar saja, Chris melihat Alif sedang bercanda ria dengan seorang gadis yang Chris yakini adalah pacar baru temannya itu.
Ya.. setidaknya itulah yang dipikirkan oleh Chris saat ia melihat gadis dengan berpakaian tangtop putih dan hotpants yang kelewatan seksi dan berani itu. Mereka duduk berdampingan di sofa dengan beberapa makanan ringan dan kaleng bir di atas meja.
"Eh, udah pulang Lo, Chris?" sapa Alif yang dijawab dengan gumaman singkat Chris.
Chris menanggalkan jaketnya dan meletakkannya di sofa. Saat itulah ia yakin, gadis asing itu sedang menatapnya. Tetapi Chris hanya membalas tatapannya biasa.
Chris berjalan ke arah dapur, berniat untuk mengambil minuman kaleng, tapi sialnya minumannya telah lenyap tanpa sisa.
"Sorry, Chris. Tadi minuman lo gue habisin buat si Ami sama Bilqis." Alif menyentuh bahu Chris dengan suara pelan, takut gadis itu mendengarnya.
"Sialan, lo." Chris berdecih, lalu mengambil sebotol air mineral dengan wajah tertekuk. Ia sedang tidak mood untuk bertengkar, apalagi jika itu masalah minuman. Sangat tidak penting.