Dulu, Alena percaya bahwa cinta bisa mengalahkan segalanya—bahkan kesombongan seorang pria yang dingin dan tak tersentuh seperti Arkan. Ia menyerahkan hati, harga diri, bahkan masa depannya demi pernikahan yang ternyata hanya dianggap sebagai kesalahan oleh suaminya sendiri.
Di hari ia kehilangan segalanya, Alena tidak hanya diusir dari rumah—ia juga dikhianati, dipermalukan, dan ditinggalkan dalam kehancuran yang nyaris merenggut nyawanya.
Namun, takdir belum selesai menulis kisahnya.
Lima tahun kemudian, Alena kembali.
Bukan sebagai wanita lemah yang dulu diremehkan, melainkan sebagai sosok baru—misterius, elegan, dan berkuasa. Di balik senyumnya yang tenang, tersimpan rencana yang telah ia bangun dengan sabar: menghancurkan satu per satu kehidupan
orang-orang yang pernah menjatuhkannya… termasuk Arkan.
Ketika Arkan kembali bertemu dengan wanita yang dulu ia buang, ada sesuatu yang berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 — DOSA YANG DITINGGALKAN PARA AYAH
Kalimat itu menggantung di udara.
Dan untuk beberapa detik—
aku benar-benar tidak bisa bereaksi.
Ayah Arkan?
Tidak.
Itu tidak masuk akal.
Selama ini semua petunjuk justru mengarah pada ibunya.
Wanita itu yang selalu terlihat memegang kendali.
Yang paling dingin.
Paling manipulatif.
Tapi sekarang…
dia malah menunjuk suaminya sendiri.
Aku menyipitkan mata.
“Kamu pikir aku bakal percaya begitu aja?”
Wanita itu tersenyum tipis.
Tenang sekali.
“Kamu mirip ayahmu.”
Aku langsung muak mendengarnya.
“Jangan bawa ayahku seolah kamu mengenalnya.”
“Aku mengenalnya lebih baik daripada kamu.”
Dadaku langsung memanas.
“Ayahku mati karena keluarga kalian.”
Untuk pertama kalinya—
ekspresinya sedikit berubah.
Bukan marah.
Bukan tersinggung.
Tapi… lelah.
“Kamu masih melihat semuanya terlalu hitam putih.”
Aku tertawa kecil.
“Kalau begitu jelaskan.”
Aku melangkah mendekat.
“Karena sejauh ini yang kulihat cuma keluarga kalian terus menghancurkan hidup orang lain.”
Sunyi.
Dia berjalan perlahan ke meja.
Mengambil satu gelas air.
Santai sekali.
Seolah kami sedang mengobrol biasa.
Dan itu membuatku semakin tidak nyaman.
“Dulu…”
Dia mulai bicara pelan.
“…ayahmu dan suamiku membangun semuanya bersama.”
Aku membeku sedikit.
“Mereka partner.”
Aku langsung teringat foto lama itu.
Ayahku.
Ayah Arkan.
Dan dirinya.
“Apa yang sebenarnya mereka bangun?”
Wanita itu menatapku.
Lama.
“Sesuatu yang terlalu besar.”
Jawaban menyebalkan.
“Aku tidak suka teka-teki.”
“Tapi hidupmu memang dibangun dari teka-teki.”
Aku mengepalkan tangan.
“Langsung ke intinya.”
Dia tersenyum kecil.
“Baik.”
Lalu—
tatapannya berubah.
“Ayahmu menemukan sesuatu.”
Jantungku mulai berdetak lebih cepat.
“Sesuatu yang membuat dia mulai takut pada partnernya sendiri.”
Sunyi.
“Dan setelah itu…”
Dia menatap lurus ke mataku.
“…semuanya mulai hancur.”
Aku mencoba membaca wajahnya.
Mencari kebohongan.
Tapi wanita ini terlalu sulit ditebak.
“Kalau memang ayah Arkan pelakunya…”
Aku menyilangkan tangan.
“…kenapa kamu masih melindungi nama keluarga itu?”
Dia tertawa kecil.
Pahit.
“Karena saat itu aku juga bodoh.”
Aku langsung diam.
Untuk pertama kalinya—
ada sesuatu di matanya.
Sesuatu yang terlihat seperti penyesalan.
Tapi aku belum cukup bodoh untuk langsung percaya.
“Kamu tahu apa yang paling lucu?”
Dia berjalan mendekat sedikit.
“Kalian anak-anak mereka…”
Senyumnya tipis.
“…sedang saling menghancurkan karena dosa yang bahkan bukan kalian buat.”
Kalimat itu menghantam lebih keras dari yang kuharapkan.
Karena sebagian dari diriku tahu—
dia benar.
Tapi semuanya sudah terlalu jauh.
“Kenapa baru bicara sekarang?”
Tatapannya turun sebentar.
“Karena suamiku sudah mati.”
Sunyi.
Aku langsung menegang.
“Apa?”
Dia menatapku lagi.
“Arkan tidak tahu.”
Jantungku langsung berdetak aneh.
“Tunggu…”
Aku mengernyit.
“Bukannya ayah Arkan meninggal karena sakit?”
Wanita itu tersenyum kecil.
Dingin.
“Itu cerita resminya.”
Udara di ruangan terasa makin berat.
“Kalau begitu…”
Aku mulai sadar ke arah mana pembicaraan ini berjalan.
“…dia dibunuh?”
Sunyi.
Dan beberapa detik kemudian—
dia mengangguk pelan.
Darahku langsung terasa dingin.
“Siapa?”
Tatapannya langsung menusuk mataku.
“Orang yang sama…”
Dia berhenti sebentar.
“…yang menghancurkan keluargamu.”
Jantungku serasa berhenti.
“Tidak mungkin…”
Karena kalau itu benar—
berarti selama ini…
kami mengejar orang yang salah.
Ponselku tiba-tiba bergetar.
Nama Arkan muncul di layar.
Aku langsung menatap wanita di depanku.
Dia tersenyum tipis.
“Angkat.”
Aku mengernyit.
“Kenapa?”
“Karena mulai malam ini…”
Tatapannya berubah dingin lagi.
“…kalian tidak punya banyak waktu.”
Perutku langsung terasa tidak nyaman.
Aku mengangkat telepon cepat.
“Arkan?”
Napas kasar terdengar di seberang.
“Alena, keluar dari hotel sekarang.”
Aku langsung menegang.
“Apa yang terjadi?”
“Dia menjebak kita.”
Aku melirik wanita itu.
Dia masih tenang.
Terlalu tenang.
“Arkan—”
“Dengar aku.”
Suaranya terdengar panik untuk pertama kalinya.
“Ada orang menuju ke sana.”
Dan tepat setelah kalimat itu—
lampu kamar langsung mati.
Gelap.
Seketika.
Aku langsung mundur refleks.
“Cantik.”
Suara wanita itu terdengar di tengah gelap.
Tenang.
“Permainannya akhirnya dimulai.”
BRAK!
Pintu kamar tiba-tiba dihantam dari luar.
Aku langsung meraih sesuatu di meja sebagai senjata.
“Siapa mereka?!”
Wanita itu tertawa kecil.
“Orang-orang yang tidak ingin kamu tahu kebenaran.”
BRAK!
Benturan kedua lebih keras.
Sial.
Aku langsung menyalakan senter kecil dari ponsel.
Cahaya samar menyapu ruangan.
Dan saat cahaya itu mengenai
wajah wanita itu—
aku langsung membeku.
Karena…
dia tersenyum.
Bukan senyum takut.
Bukan panik.
Tapi senyum seseorang…
yang memang sudah menunggu semua ini terjadi.
“Kamu tahu sesuatu.”
Kataku pelan.
Tatapannya langsung ke arahku.
“Aku tahu terlalu banyak.”
BRAK!
Pintu mulai retak.
“Kalau begitu ayo pergi!”
Aku mendekat cepat.
Tapi wanita itu justru diam di tempat.
“Aku tidak ikut.”
Aku langsung marah.
“Kamu mau mati di sini?!”
Dia tertawa kecil.
“Kalau mereka datang…”
Tatapannya berubah aneh.
“…berarti aku sudah tidak berguna lagi.”
Dadaku langsung terasa dingin.
Tidak.
Ini bukan sekadar serangan.
Ini pembersihan.
Seseorang sedang menghapus semua orang yang tahu kebenaran.
Dan tiba-tiba—
aku sadar sesuatu yang jauh lebih mengerikan.
Kalau wanita ini benar…
maka target berikutnya—
bisa jadi aku.
Atau…
Arkan.