NovelToon NovelToon
Celestia Online

Celestia Online

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Aksi / Epik Petualangan / Action
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: alicea0v

Seorang gadis terbangun di tengah rimbunnya hutan benua Vlagria tanpa ingatan bagaimana ia bisa sampai disana. Ini adalah dunia Celestia Online, sebuah MMORPG megah yang menjanjikan petualangan tanpa batas. Namun, bagi Alice, petualangan itu berubah menjadi teka-teki mematikan. Bisakah Alice pulang ke dunia nyata?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alicea0v, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ARC 1-Sanctuary Of Life

Violet melesat cepat ke arah tepian Hutan Wyrm. Di hadapannya, gerombolan Goblin Petarung telah bersiaga, disusul barisan Goblin Pemanah yang mengambil posisi di lini belakang.

Tap... Tap... Tap...

Langkah kaki Violet terdengar ritmis, semakin mendekati kerumunan monster berkulit hijau tersebut. Dalam sekejap mata, ia sudah berdiri tepat di depan seekor goblin yang menggenggam gada kayu besar.

Jarak wajah Violet dan monster itu hanya terpaut beberapa sentimeter.

"Ehehe..." Syuut—! Detik itu juga, sosok Violet lenyap bagai ditelan angin.

Tiba-tiba, gadis itu telah muncul sepuluh meter di belakang si pembawa gada. Belati miliknya sudah tertanam telak di perut seekor Goblin Pemanah. Kecepatannya berada di luar nalar.

Wuuuush....!!!

Angin kencang menderu belakangan, menerpa kerumunan monster yang dilewatinya. Tekanan udara masif dari pergerakan instan Violet membuat makhluk-makhluk hijau itu terhuyung kehilangan keseimbangan.

Namun, salah satu goblin berhasil pulih dengan cepat.

"Wraaak!!!" Monster itu mengayunkan kakinya, mengincar sisi pinggang Violet.

"Hup!" Dengan refleks, Violet melompat ke atas. Ia menjadikan paha monster yang menyerangnya sebagai pijakan, lalu menggunakannya untuk melesat lebih tinggi lagi.

Violet melambung tinggi ke angkasa, hampir melewati rimbunnya pucuk-pucuk pepohonan hutan.

Di titik tertinggi lompatannya, ia membalikkan tubuh. Kepala di bawah, kaki di atas.

Swap.. Swap.. Swap.. Violet berputar bagai tornado yang menukik tajam. Bersamaan dengan putaran tubuhnya, lima buah pisau lempar meluncur dari jemarinya.

Lima ekor hama hijau tertembus belati dalam waktu hampir bersamaan. Tanpa sempat mengerang, mereka langsung tumbang ke tanah.

Sesaat sebelum menyentuh bumi, dengan posisi tubuh yang masih terbalik, Violet menopang berat badannya menggunakan telapak tangan kiri. Menggunakan momentum itu, ia memutar tubuhnya kembali ke posisi merunduk, lalu langsung melesat memanjat pohon terdekat.

Tap! Violet menginjak batang kayu besar, melompat ke dahan yang lebih tinggi, bergelantungan sejenak, lalu berputar di udara sebelum akhirnya mendarat mulus di dahan pohon setinggi lima meter. Sebuah akrobat yang sempurna.

Sementara itu, Arthur yang bergerak sedikit lebih lambat dari Violet baru saja tiba di posisi goblin pertama yang dilewati gadis itu tadi. Kini, enam ekor monster mengepungnya.

"Hyaaah!!!" Arthur berteriak, mengayunkan pedang besarnya dalam tebasan horizontal yang bertenaga dari atas ke bawah. Tebasan kuat itu membelah rerumputan di depannya.

DUEESH!!!

Seekor monster terlempar akibat getaran udara dari pedang Arthur yang menghantam bumi tepat di dekat kakinya.

Brak! Goblin itu menghantam batang pohon di belakangnya dengan keras, lalu terkulai lemas tak bergerak lagi.

Melihat rekan mereka tumbang, goblin lain tidak tinggal diam.

"WRAAK!!" Makhluk itu menyerang dari sisi buta kiri Arthur dengan gada kayunya.

Arthur tetap tenang, menghitung momentum dengan presisi tinggi saat gada itu mendekat.

TRANG!!

Tepat sesaat sebelum gada itu mengenai pundaknya, Arthur menangkisnya menggunakan perisai, sembari memberikan dorongan balik yang kuat ke depan.

Goblin itu terdorong ke belakang, kehilangan keseimbangan akibat adu kekuatan.

"Hup!" Tanpa membuang waktu, Arthur melancarkan tebasan vertikal yang telak merobek dada sang monster.

"Krieeek!!" Monster itu menjerit sebelum ambruk ke belakang.

Arthur memutar tubuhnya, menatap tajam ke arah empat goblin yang tersisa. Ia mengangkat pedang besar dua tangannya, lalu mengarahkan ujung bilahnya langsung ke wajah mereka.

"Sebagai kesatria terhormat Eltra!! Aku menantang kalian berduel satu lawan satu!!" tantang Arthur dengan nada tegas.

Mendengar deklarasi Arthur, keempat makhluk hijau itu justru saling pandang dengan raut wajah kebingungan yang tampak bodoh. Lalu, seekor goblin mulai meracau tak jelas sambil menggerakkan tangannya.

"WRAAK WRAAK.. WRAWRAWRA-WRAK-WRAK!!!" Makhluk itu terlihat frustrasi, bingung, dan dipenuhi emosi.

Jleb!! "WRaaak!!!" Sebuah pisau lempar tiba-tiba menancap telak di tengah-tengah kepala goblin yang sedang mengoceh tersebut, menghentikan suaranya seketika.

Monster itu ambruk, tewas di tempat.

Arthur tersentak kaget. Ia langsung menoleh ke arah kanan atas, mendeteksi asal dari lemparan pisau tadi. Di sana, di atas dahan pohon, Violet sedang berjongkok dengan wajah kesal. Pipi gadis itu menggembung marah.

"Apa yang kau lalukan Arthur? Cepat bereskan mereka sebelum Dewi kelinci datang!!" teriak Violet kesal.

"Ah maafkan aku, sudah lama aku tidak berduel seperti kesatria. Tapi kau benar." Arthur menggaruk belakang kepalanya, lalu mengalihkan pandangannya kembali ke arah tiga goblin yang tersisa.

"Alice akan marah jika aku berlama-lama dengan mereka.. Hiiaah!!!" Arthur memutar tubuhnya. Pedang besar di tangannya menebas dengan kecepatan penuh, menciptakan gema tajam seolah membelah udara sekitar.

Swiiish!!!

Satu tebasan horizontal yang brutal memotong tiga ekor makhluk hijau sekaligus.

"KRIIIEEEK" rintih para monster bersamaan sebelum ambruk ke tanah.

Violet segera bergerak. Ia melompat dari dahan ke dahan bagai bayangan hutan. Di setiap lompatannya, tangannya bergerak secepat kilat, melemparkan pisau ke arah para Goblin Pemanah yang tersisa.

Lompat-lempar-lompat-lempar.

Para Goblin Pemanah yang berada di lini belakang kini kehilangan perisai hidup mereka, mengingat semua goblin petarung pembawa gada telah disapu bersih oleh tebasan maut Arthur. Mereka kini hanyalah target empuk.

Throwing knife milik Violet mendarat akurat tanpa meleset sedikit pun, menancap di dada, kepala, dan leher empat monster tersisa.

Violet meluncur turun ke batang pohon rendah. Memanfaatkan kelenturan tubuh ringannya, ia melakukan gerakan backflip di udara.

Swap.. Dash...!!!

Begitu kakinya menyentuh tanah, ia langsung melakukan dash pendek dan tiba-tiba sudah berdiri tegap di samping Arthur. Matanya melirik ke arah kumpulan goblin yang baru saja ia hujani belati.

Satu per satu, monster-monster itu ambruk ke tanah.

Kini, seluruh goblin di tepi hutan itu telah lenyap sepenuhnya, dibasmi habis oleh kombinasi maut Arthur dan Violet.

Hening...

"Vio.. mari.. umm.. mari kita melaporkan situasi ini pada Alice." ucap Arthur dengan gugup.

"Ya, cepatlah tuan kesatria.. aku ingin minta hadiah pisau lempar baru nanti." sahut Violet. Ia segera berbalik, melangkah menuju arah Desa Tura, tempat di mana mereka memulai penyerangan tadi.

Di hadapan mereka, hamparan sawah membentang luas, membatasi hutan dan area pemukiman.

Dari kejauhan, siluet Alice terlihat berjalan pelan bersama Xena. Di belakang mereka berdua, tampak kerumunan penduduk desa berjalan mengekor, berusaha keras menjaga barisan agar tetap teratur di bawah arahan sang dewi.

"Alice.. lihat, sepertinya mereka sudah berhasil membasmi goblin!" ucap Xena sembari mengarahkan pandangan ke arah Hutan Wyrm.

Di kejauhan, siluet Arthur dan Violet tampak berjalan beriringan dengan langkah yang santai.

"Sepertinya begitu, mari kita siapkan pemberkahannya, Xena." Alice melangkah anggun menuju tepi pematang sawah, diikuti oleh Xena, ratusan penduduk desa, serta para pedagang dari luar daerah.

Saat jarak mereka terkikis hingga tersisa seratus meter, Violet langsung melambaikan tangannya tersenyum riang. Di belakangnya, Arthur mengekor, langkah kakinya terasa berat.

Alice tersenyum lembut, berdiri diam menunggu kedua rekannya itu mendekat.

"Nona kelinci!! Aku sudah basmi semua hama perusak gandum kita!" seru Violet riang.

"Ah bagus sekali Vio, duduklah kau butuh istirahatkan?" tanya Alice, nada suaranya menenangkan.

"Ah, tadi itu cuma goblin! Padahal aku berharap monster lebih besar yang muncul. Tapi.. " Violet tiba-tiba memajukan tubuhnya, mendekatkan wajah ke hadapan Alice.

"Untuk pemanasan bolehlah." Gadis itu menyeringai nakal tepat di depan wajah sang dewi berambut merah muda.

"Eh.. ahahah.. ya.. be-benar sekali.. sekarang istirahatlah dengan tenang." sahut Alice, sedikit gugup.

"Alice aku akan pergi menjaga keamanan di gerbang desa." potong Arthur tiba-tiba. Setelah menyampaikan hal itu, ia langsung berbalik untuk melangkah menuju gerbang Desa Tura.

"Arthur!!" panggil Alice, menahan langkah sang kesatria.

Pria berbaju besi itu menghentikan langkahnya, lalu menoleh.

"Ya? Ada apa?" tanya Arthur singkat.

"Ini, makanlah, kau butuh tenaga, kan?" Alice menyodorkan beberapa roti yang sebelumnya ia bawa dari atas meja kuil.

Arthur tertegun seketika. Matanya membulat menatap roti di tangan Alice, dan perlahan, semburat merah menjalar di kedua pipinya.

"Oh.. terima kasih Alice. Aku akan memakannya." ucap Arthur sembari menerima roti tersebut. Tangannya sedikit gemetar canggung saat jemarinya tak sengaja bersentuhan dengan tangan Alice.

"Ka-kalau begitu, aku pergi dulu!"

Seolah ingin menyembunyikan rasa malunya, Arthur langsung berbalik dan berjalan tergesa-gesa menuju gerbang Desa Tura.

Alice hanya bisa tersenyum simpul menatap punggung kaku itu.

"Dasar... Setidaknya biarkan aku memberimu makan." batin Alice, geli di dalam hati.

Detik berikutnya, Alice mengalihkan pandangan ke arah bentangan sawah di sisi kanan. Matanya memandangi betapa luasnya area pertanian gersang tersebut. Jauh di ujung kanan, sebuah bendungan kokoh berdiri, sarana yang biasanya digunakan untuk mengaliri sawah setiap tahunnya.

Meski sistem irigasi di desa ini masih jauh dari kata modern dan terlihat primitif, infrastruktur ini sudah lebih dari cukup jika hanya untuk memenuhi kebutuhan pangan warga Desa Tura saja.

Alice menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Ia mengosongkan pikiran, menenangkan detak jantung sebelum memanggil mukjizat.

Atmosfer di sekitar mendadak berubah.

"Baiklah kita akan mulai pemberkahannya. Xena!" perintah Alice dengan nada anggun berwibawa, kembali ke mode dewi.

"Oke!!! Perhatian semuanya!!! Dewi akan memberkahi kita sekarang!!! Jadi, berbaris yang tertib!!!" teriak Xena lantang, membuka kedua tangannya lebar-lebar.

Mendengar seruan itu, seluruh penduduk desa langsung bergerak patuh. Mereka berdiri berjejer di tepi pematang sawah dengan rapi tanpa menimbulkan kegaduhan sedikit pun.

Sementara itu, Alice, Xena, dan Violet tegak di garis depan, menghadap hamparan tanah luas yang masih kosong tanpa sebatang padi atau gandum pun.

"Baiklah, manaku masih tersisa 1000 poin hari ini. Artinya, aku bisa menggunakan divine magic sebanyak tiga kali lagi!" pikir Alice dengan riang.

"Nona kelinci, apa yang akan kita lakukan?" tanya Violet yang berdiri siaga di sisi kanan Alice.

Alice tidak menjawab. Ia memfokuskan seluruh kesadaran pada bentangan tanah di hadapannya, lalu perlahan mengangkat tangan kanan. Bibirnya mulai bergerak, merapalkan untaian mantra kuno yang anehnya mengalir begitu saja dari ingatan, seolah ingatan itu telah terukir di dalam jiwanya sejak lama.

"Wahai penduduk langit dan bumi, kuperintahkan kalian untuk tunduk pada perintahku!" ucap Alice. Suaranya terdengar jernih.

Syuut...

Suasana di sekitar mereka mendadak berubah menjadi sangat sakral. Angin yang tadinya berembus liar, kini berputar tenang terdengar jelas di telinga semua orang.

Di atas langit, gumpalan awan tiba-tiba bergerak memutar secara tidak alami, menciptakan sebuah lubang menganga yang melingkar sempurna di angkasa, menembus langit biru.

Bisik-bisik penuh kekaguman mulai menjalar di antara para penduduk.

"Dewi... beliau menolong kita semua!"

"Sungguh maha pengasih."

"Terima kasih Ibunda Dewa Athos."

Di tengah atmosfer khidmat yang menyejukkan jiwa tersebut, suara Alice kembali mengalun, mengakhiri bait mantranya.

"Berilah kehidupan pada dunia yang fana ini!"

WUUUUSH...

Angin berembus lembut, membelai permukaan tanah gersang.

[Divine Magic: Sanctuary of Life]

Ziiing...!!!

Perlahan, seberkas pilar cahaya raksasa turun dari celah awan melingkar di langit. Cahaya suci itu menembus atmosfer dan menyentuh permukaan bumi Vlagria. Detik berikutnya, pendaran cahaya keemasan meledak lembut, menyelimuti seluruh hamparan tanah.

Sebuah keajaiban terjadi di depan mata mereka.

Tunas-tunas padi, gandum, serta berbagai komoditas pertanian lainnya menyembul dari dalam tanah, tumbuh membesar, dan mekar dengan matang sempurna hanya dalam hitungan detik.

Warna keemasan gandum yang siap panen membentang sejauh mata memandang. Tak hanya itu, air mengalir di saluran pematang sawah serta bendungan sungai terdekat mendadak berubah menjadi sebiru kristal dan sangat jernih.

SSIIIINNNNG!!!!

Keindahan yang tercipta di wilayah pertanian itu benar-benar berada di luar nalar manusia. Beberapa penduduk desa langsung jatuh berlutut dengan air mata bercucuran. Sementara yang lain menatap tak percaya ke arah sawah yang baru saja mekar sempurna.

Seketika, gumaman rasa syukur dari ratusan penduduk desa menggema serempak, menggetarkan udara.

"Terpujilah sang Dewi"

"Benar-benar berkah!"

"Kita selamat!! Kita tidak akan kelaparan!!"

"HIDUP DEWI ALICE!!!"

teriak salah satu penduduk yang langsung disusul oleh pekikan serempak.

"HIDUP DEWI KEHIDUPAAAAAAN!!!"

Seluruh warga bersujud penuh hormat ke arah bumi.

Alice menoleh perlahan, menyunggingkan senyum tulus kepada para pengikutnya.

"Syukurlah..." batin Alice.

"Woaaaaah kita sepertinya tidak perlu bekerja susah payah lagi, Alice! Kita lakukan saja ini terus, dan kita akan kaya rayaaa!!" Xena melompat kegirangan sejadi-jadinya.

"Ahahaha... aku suka ini nona Dewi kelinci..." Violet menyeringai lebar, menyilangkan dada sambil menatap wajah-wajah bahagia warga desa.

Sementara itu, para warga gabungan dari tiga desa tersebut kini berlutut khusyuk. Mereka mulai merapatkan kedua telapak tangan di depan dada, menutup mata, dan merapalkan doa dengan ketulusan yang murni dari lubuk hati mereka.

"Terima kasih... terima kasih, Dewi."

"Semoga sang Dewi selalu melindungi langkah kami."

"Demi Dewi Alice, dan segala kemurahan hatinya."

Gumaman doa dari ratusan mulut itu menyatu, menciptakan gema magis, menggetarkan atmosfer. Rasanya begitu tenang dan megah, bagaikan ribuan paduan suara orkestra yang menyapu bersih seluruh noda di dalam hati.

Alice memejamkan mata, menikmati momen itu. Senyumannya teramat tulus. Ia bisa merasakan kehangatan batin dan harapan murni terpancarkan oleh warganya.

Wish... Wish... Wish...

Tiba-tiba, fenomena aneh terjadi. Partikel cahaya putih murni mulai keluar dari tubuh masing-masing penduduk desa. Cahaya-cahaya kecil itu melayang naik ke udara, berkedip-kedip lembut bagai ribuan kunang-kunang suci yang terbang dalam tarian lambat.

Alice membuka matanya, dan seketika ia terbelalak menyaksikan keanehan itu.

"Indah sekali... tapi, apa ini?" batinnya heran. Ia mendongak menatap ke atas. Disana, kini telah dipenuhi oleh lautan pendaran cahaya, menyerupai ribuan kunang-kunang yang menutupi langit.

"A... Alice..." Xena bergumam lirih, wajahnya benar-benar terpukau.

"Luar... biasa.." ucap Violet, ia kini terpaku di tempatnya berdiri, di bola matanya terlihat pantulan cahaya putih yang memenuhi pandangan.

Di sisi lain, ribuan warga masih menutup mata, terlarut dalam keheningan doa mereka tanpa menyadari apa yang terjadi.

Perlahan tapi pasti, ribuan partikel cahaya putih itu mulai bergerak mendekati Alice. Cahaya-cahaya itu terbang berputar, mengitari tubuh ramping sang dewi dengan lembut.

"Wa.. wa.... Benar-benar indah Alice!!!" teriak Xena.

Xena dan Violet refleks melangkah mundur beberapa langkah, memberikan ruang bagi lautan cahaya suci itu untuk membungkus seluruh sosok Sang Dewi.

Rasa bingung di hati Alice semakin membubung. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, mendapati dirinya kini menjadi pusat dari pusaran cahaya suci yang tercipta dari manifestasi doa penduduk.

Meski ragu, ia mengangkat jari telunjuk kanannya, mencoba menyentuh salah satu partikel putih nan indah yang melintas di udara.

"Ini..." Alice tersenyum, melihat ke sekelilingnya.

Saat ujung jarinya bersentuhan...

Syuuu~

Partikel cahaya itu perlahan meresap masuk ke dalam kulitnya. Tak butuh waktu lama, ribuan cahaya lainnya menyusul, menembus pakaian dan raga Alice, mendekapnya dalam sebuah sensasi kehangatan.

"Aah..!!!" Alice memejamkan mata. Rasa hangat mengalir deras di sekujur aliran darahnya, memenuhi setiap sudut spiritual di dalam raga seiring dengan masuknya kumpulan pendaran tersebut.

ZUUUUUSH!!!

Angin tiba-tiba berembus kencang di sekeliling tubuh Alice. Gaun dan rambut merah muda gadis itu berkibar saat cahaya yang berterbangan di udara tersedot masuk ke dalam tubuhnya.

Xena refleks memegangi topinya, agar tidak terbang terbawa angin.

"Alice!!! Kau tidak apa-apa?" teriak Xena khawatir.

"Nona kelinci?" Raut wajah Violet pun mendadak berubah gelisah, tangan wanita itu secara instan meraba gagang belati di pinggang.

Namun, Alice tidak menyahut. Ia masih tenggelam dalam sensasi luar biasa, mencoba memahami energi masif yang baru saja memasuki raganya.

"Ini... Kekuatan ini..." Batin Alice bimbang.

Ssyuuup!!! Cahaya terakhir terserap sepenuhnya ke dalam tubuh Alice.

Atmosfer kembali tenang...

Meninggalkan sosok Alice berdiri diam membisu. Di dalam kesadarannya, sebuah notifikasi sistem game mendadak berkedip intens, menampilkan perubahan status yang drastis.

Total Mana dan HP miliknya melonjak naik.

"Bagaimana mungkin? Mana dan total hpku bertambah permanen sebanyak 900 poin... apa yang terjadi?" Alice masih tenggelam dalam keterkejutannya, matanya terpejam erat saat menganalisis angka status.

​[Mana: 1.000 → 1.900]

[HP: 3.000 → 3.900]

Peningkatan yang tidak masuk akal itu membuat jantungnya berdegup kencang.

"Aku tidak mengerti, aku tidak mengerti sama sekali." batin Alice panik mencoba membaca situasi.

Pluk!!!

Suara dari sebutir tetesan air yang jatuh entah dari mana terdengar begitu jernih.

"Fufufu... apa kau menyukainya?" suara feminin wanita itu tiba-tiba terdengar di telinga Alice bagai sambaran petir di siang bolong.

Hening....

Gadis itu terpaku, tubuhnya kaku, sebelum perlahan membuka sepasang matanya.

"Kau... bagaimana kau bisa ada disini?" Alice menoleh ke arah kiri, melayangkan pandangan tajam ke arah asal suara. "Hestia?"

Alice menatap lurus sosok wanita berambut hitam legam dengan pakaian putih minimalis yang tengah duduk santai di tepi pematang sawah, seolah tempat itu adalah halaman rumahnya sendiri.

Alice refleks melirik ke arah sekitar, dan seketika rasa dingin menjalar. Seluruh tempat itu seakan-akan telah membeku. Di sampingnya, Xena dan Violet mematung tak bergerak. Ekspresi wajah mereka terkunci dalam rasa khawatir mendalam.

Para penduduk desa terdiam kaku dalam posisi tangan yang masih menangkup khusyuk. Bahkan, seekor burung yang sedang mengepakkan sayap di angkasa pun terhenti di udara, persis seperti sebuah lukisan.

Waktu telah berhenti total.

Hestia menyunggingkan senyuman tipis.

"Oh... ayolah, kau tidak perlu bersikap seperti itu." suara Hestia mengalun santai, memaksa Alice untuk kembali menatapnya.

"Bukankah tubuhmu terasa hangat sekarang?" Hestia perlahan berdiri dengan gerakan yang teramat anggun, lalu melangkah pelan, memangkas jarak di antara dirinya dan Alice.

"Memang benar, tapi, kekuatan apa ini? Kenapa cahaya itu masuk ke tubuhku? Apa maksud semua ini? Jelaskan padaku!!" Alice tidak bisa lagi berpura-pura ramah. Suaranya meninggi, bergetar menahan luapan emosi sembari memasang kuda-kuda waspada.

Hestia tetap melangkah tenang. Ia baru menghentikan langkahnya setelah berada di jarak yang cukup aman, seolah sengaja ingin membuat Alice merasa sedikit nyaman.

​"Itu bukan kekuatan, Sayang. Itu adalah... Pengakuan," ucap Hestia, suaranya lembut. Ia perlahan mengangkat tangan kanannya, menggerakkan jemari di udara seolah hendak membelai helai rambut merah muda Alice yang kaku tak bergerak.

"Jangan menyentuhku!!!" bentak Alice kasar.

Pekikan itu seketika menghentikan gerakan tangan Hestia. Jemari lentik wanita berambut hitam itu mematung, menyisakan jarak hanya beberapa milimeter di udara.

"Kenapa... kenapa manaku meningkat seperti ini? Kau merencanakan ini sejak awalkan?!" Alice bertanya tatapan matanya dipenuhi rasa tidak bersahabat.

"Merencanakan? Tidak... aku hanya memberimu kunci. Kau sendiri yang memilih untuk membuka pintunya. Tubuh fana memang selalu mengeluh saat diisi oleh sesuatu yang agung... tapi jangan khawatir." balas Hestia tenang.

Hestia tiba-tiba mencondongkan wajahnya ke depan. Seketika itu juga, aroma bunga yang pekat namun memabukkan, memenuhi indra penciuman Alice.

​"Aku akan membantumu, agar tubuh itu... cukup kuat untuk menampung semuanya."

Alice terpaku, menatap lurus ke dalam manik mata wanita di hadapannya.

"Bukankah ini terlalu menguntungkan bagiku? Sebelum ini, tubuhku hampir tidak sanggup menahan beban dari penggunaan sihir divine jika aku gunakan terlalu banyak." batin Alice dalam hati.

"Kenapa semua ini kelihatan terlalu bagus untukku? Jika ini terus berlanjut, bukankah aku akan semakin kuat?" Alice melontarkan kepingan logika miliknya mencoba mendesak Hestia.

Hestia hanya menarik sudut bibirnya, menyunggingkan senyuman tipis. kemudian berbalik dan berjalan pelan menyusuri tepi sawah.

​"Terlalu bagus? Tubuhmu yang sekarang sebenarnya sama sekali belum siap untuk memikul sihir Divine itu, Alice." Hestia mengangkat dagunya sedikit, melemparkan pandangan ke arah hamparan padi dan gandum yang menguning di bawah langit yang membeku.

"Aku tahu itu, tapi, tapi ini di luar perkiraanku." Alice menatap kedua telapak tangannya sendiri.

"Apa yang akan terjadi padaku jika aku semakin kuat?" Rasa khawatir dan takut terhadap potensi kekuatannya, mulai menggerogoti hati Alice.

Hestia melirik Alice dari sudut matanya. Untuk sepersekian detik, sebuah kedutan terpatri di sudut bibirnya, sebuah seringaian dingin yang jauh dari kata manis. Namun dalam sekejap mata, lengkungan bibir itu kembali bertransisi membentuk postur senyuman suci tanpa cela.

Hestia kembali mengalihkan tatapan ke arah hamparan sawah.

"Jika kau menjadi semakin kuat, bukankah segalanya akan menjadi jauh lebih mudah bagimu... untuk mencari cara pulang ke duniamu?" balas hestia tenang.

Kata-kata itu menghantam kesadaran Alice. Ia tersentak dan terdiam seribu bahasa, menatap nanar ke arah tanah di bawah pijakan kakinya.

"Benar... tapi..."

Alice buru-buru menggelengkan kepalanya, lalu kembali mengarahkan tatapan tajamnya kepada Hestia.

"Tapi apa untungnya bagimu? Kenapa kau membantuku? Tidak ada orang berhati murni di dunia ini!! Jangan berani-beraninya kau mengatakan, kalau kau melakukan ini semua karena murni ingin membantuku!!!" suara Alice menajam menuntut jawaban.

Hestia memutar tubuh menghadap Alice. Sepasang manik mata hitamnya mengunci bola mata gadis itu.

"Alice.. semua ini ku lakukan, karena aku benar-benar menyayangimu." ucapnya tenang, "Kau sangat berharga bagiku, percayalah.."

"Kau terlihat semakin mencurigakan. Aku tidak percaya padamu sama sekali!" jawab Alice tanpa ragu sedikit pun.

Mendengar penolakan mentah-mentah itu, wanita di hadapannya justru meledak dalam tawa kecil yang anggun, menutup mulutnya dengan punggung tangan.

"Ahahaha... begitu ya... hummm.." Hestia meredakan tawanya, kembali memasang senyuman manis yang memikat. "Percaya atau tidak.... Itu terserah padamu.. " ucap wanita itu pelan.

Alice hanya membisu, berdiri tegap tanpa bergeming satu milimeter pun.

"Ah... Waktu kita habis.."

"Tunggu!!!" teriak Alice panik, "kau tidak menjelaskan apa pun padaku!!! Katakan sesuatu padaku!!"

Gadis berambut merah muda itu refleks merangsek maju, menjulurkan tangannya berusaha menggapai jubah putih Hestia.

Namun, sosok wanita itu lenyap dalam sekejap mata. Alice kehilangan target tangkapan terhuyung ke depan, berusaha keras menjaga keseimbangan tubuhnya agar tidak jatuh tersungkur.

"Teruslah kumpulkan doa-doa mereka. Jadilah sosok Dewi yang mereka inginkan. Semakin kau dicintai, semakin 'siap' kau bagi tujuanmu." Suara Hestia menggema di udara dan perlahan memudar, menyisakan atmosfer mencekam di benak Alice.

Syuuuut—!

Detik itu juga, poros waktu kembali berputar seperti sedia kala. Burung di atas langit kembali mengepakkan sayap dan melaju membelah udara. Ratusan penduduk desa yang berada dalam posisi berlutut serempak membuka mata mereka dengan sisa-sisa air mata haru.

Xena dan Violet yang tadinya mematung dengan wajah gelisah, tiba-tiba melanjutkan gerakan mereka yang sempat terputus.

"Alice? Apa yang terjadi?" tanya Xena, nadanya sedikit bergetar.

Alice tertegun, menatap linglung ke sekeliling saat menyadari roda kehidupan di sekitarnya telah kembali bergerak normal.

​Ia tidak langsung menjawab. Gadis itu hanya berdiri diam, menatap lurus ke arah hamparan sawah luas yang kini dipenuhi oleh tanaman padi dan gandum yang siap panen. Jiwanya masih terguncang oleh peringatan Hestia.

"Alice?" Violet juga ikut memanggil, menyipitkan matanya penuh selidik.

Perlahan, Alice menoleh ke arah kedua rekannya. Ia memaksa otot-otot wajahnya untuk menyunggingkan seulas senyum tipis.

"Aku tidak apa-apa.. ayo kita kembali ke kuil!" ucap Alice dengan nada anggun yang dipaksakan.

Sayangnya, baik Xena maupun Violet, tidak ada yang menyadari bahwa senyuman menawan itu hanyalah sebuah topeng demi menutupi kecemasan.

Mereka bertiga mulai melangkah meninggalkan area persawahan menuju kuil desa. Di sepanjang jalan yang mereka lalui, para penduduk desa bersujud penuh khidmat, mengagungkan nama sang dewi di setiap tapak langkahnya.

Sementara itu, jauh di luar batas pandangan mereka...

Di sebuah jalan setapak berdebu berjarak lima kilometer dari Desa Tura, derap langkah kaki kuda terdengar bergemuruh. Sebuah kereta kuda mewah yang dikawal ketat oleh tiga puluh orang prajurit bersenjata lengkap tampak tengah melaju membelah jalan menuju desa.

Di barisan depan, Kapten Leon memimpin pergerakan dengan waspada, mengawal seorang Duke berkedudukan tinggi yang mengemban misi khusus untuk menemui Sang Dewi Kelinci.

1
T28J
buset, kebablasan bah, jauh banget 20 meter 🤣
alicea0v: Eh, Kejauhan kah🤭🤭🤭 gomenasaai..
total 1 replies
Manusia Ikan 🫪
aku akan selalu mendukungmu/Rose/
Manusia Ikan 🫪
TUH SUDAH AKU DUGA DARI AWAL CHAPTER 🤣
Manusia Ikan 🫪: insting ku ini cukup kuat loh/Doge/
tidak ada yang kebetulan untuk nama author dan MC yang sama... kecuali keduanya saling terhubung🥴
total 2 replies
Manusia Ikan 🫪
inilah tantangannya :v
Manusia Ikan 🫪
semangat ya, aku juga gitu T_T
cape😅
alicea0v: makasih bg 🤣 semangat atta halilintar.
total 1 replies
Manusia Ikan 🫪
Hai sayang☺
Manusia Ikan 🫪
is is iiis :v
Manusia Ikan 🫪: iyaa, cantik kok kayak authornya🌹
total 6 replies
Manusia Ikan 🫪
wow bisa ganti POV gitu ya dari sudut pandang ketiga ke pertama... menarik manrik... 🥴
Manusia Ikan 🫪
ooh bagus bagus, aku bakal copy skill ini untuk ceritaku selanjutnya😜
Manusia Ikan 🫪: iya iyaaa :v
total 4 replies
Manusia Ikan 🫪
baru juga aku selesai nulis pertempuran di reruntuhan kuno juga, sama sama di ganggu oleh debu yang bikin sedak sama sakit mata😹 malah ketemu bab ini di sini, kebetulan macam apa ini. 😹
Manusia Ikan 🫪
segala ada lubang 😹
Manusia Ikan 🫪: iyaaah, maap baru hadir :v
total 2 replies
Manusia Ikan 🫪
uweeek daging orc🥴
Manusia Ikan 🫪
temaram artinya apa?
Manusia Ikan 🫪: oalaaah :v
total 2 replies
Manusia Ikan 🫪
agak kejam juga aturannya😹
alicea0v: kan dunianya jadi real gitu🤭
total 1 replies
T28J
cantik. juga si Hestia /Drool/
alicea0v: Ehehe... 🤭 apa ceritanya udah bagus kak? apa yang kurang?
total 1 replies
T28J
kasih bunga untuk 3 jam nya /Rose/
alicea0v: Terima kasih /Drool/
total 1 replies
Manusia Ikan 🫪
bahaya, bisa meninggal oleh tersedak kalau kayak gitu🥴
alicea0v: Roti bantal bang.. gak kesedak kok.. 😄
total 1 replies
T28J
/Rose//Rose//Rose/
T28J
/Sob/ gak jadi sedih deh gue🤣
alicea0v: Wah makasih banyak kakak, kalau ada kritik yang membangun jangan segan-segan ya.. 🙏🙏😍😍
total 3 replies
T28J
/Sob//Sob//Sob//Sob/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!