Penyatuan dua dinasti bisnis raksasa melalui pernikahan mendadak Fank Manafe dan Renata Batistuta memaksa Ezzvaro dan Gabriel terjebak dalam satu atap sebagai saudara tiri.
Namun, di balik status formal itu, tersimpan sejarah kelam: mereka adalah mantan kekasih yang berpisah dengan luka menganga akibat pengkhianatan dan kecemburuan fatal tiga tahun lalu.
Ketika gairah terlarang dan dendam masa lalu mulai membakar batasan moral, mereka terseret ke dalam konspirasi bisnis yang berbahaya.
Di tengah desingan peluru dan pengkhianatan keluarga, Ezzvaro harus memilih antara melindungi wanita yang paling ia benci atau membiarkan dunia menghancurkannya.
Di dunia di mana "cinta adalah kelemahan dan kekuasaan adalah segalanya," kelebihan/melampaui batas akan memaksa mereka menghadapi pilihan tersulit: bersatu dalam kehancuran atau saling menghancurkan demi bertahan hidup 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#24
Di ruang kerja utama Mayfair Mansion, aroma cerutu mahal bercampur dengan bau kematian yang dingin. Fank Manafe membanting laporan medis rumah sakit itu ke atas meja mahoninya. Matanya menyala, bukan oleh kebahagiaan menyambut cucu pertama, melainkan oleh murka yang tak terkendali.
"Hamil?" desis Fank, suaranya parau namun menggelegar. "Dia pikir dia bisa menjerat pewaris Manafe dengan sepotong daging di rahimnya? Aku tidak akan membiarkan anakku tunduk pada seorang wanita hamil yang licik!"
Fank berdiri, bayangannya memanjang di dinding seperti monster. Dengan suara yang menggema ke seluruh ruangan, ia memberikan instruksi kepada kepala pengawalnya melalui interkom. "Habisi mereka. Aku tidak butuh pewaris yang lemah oleh perasaan. Bunuh Ezzvaro dan Gabriel Batistuta malam ini juga. Jangan tinggalkan jejak."
Di balik pintu yang sedikit terbuka, Tharzeo membeku. Jantung sang "Robot" Manafe itu berdegup kencang untuk pertama kalinya dalam hidupnya. Ia tahu ayahnya kejam, tapi ia tidak menyangka Fank akan setega itu membantai darah dagingnya sendiri demi sebuah dominasi.
Tanpa suara, Tharzeo mundur, kembali ke kamarnya dengan langkah cepat. Ia mengunci pintu dan segera menekan nomor ponsel adiknya.
"Ezzvaro... angkat," bisiknya gelisah.
Di rumah sakit, Ezzvaro mengangkat telepon itu dengan tangan gemetar. "Halo, Kak?"
"Kalian harus lari sekarang! Detik ini juga!" suara Tharzeo terdengar mendesak. "Pengawal Ayah sedang menuju ke sana dengan perintah eksekusi. Aku sudah menyiapkan perjalanan kalian ke arah Utara. Di pelabuhan, seseorang kepercayaanku akan menunggu. Keluarga Gabriel saat ini sedang lemah, mereka tidak bisa melindungi mu. Selamatkan diri kalian... dan jaga keponakanku."
Deg.
Ezzvaro terpaku. Suaranya tercekat. "Terima kasih, Kak. Aku berhutang nyawa padamu."
"Jangan bicara. Cepat pergi!"
Tidak menunggu lama, Ezzvaro langsung melepaskan paksa jarum infus di punggung tangan Gabriel. Darah sedikit merembes, namun ia tidak punya waktu untuk bersikap lembut.
"Gaby... kita dalam masalah besar. Ayah mengirim orang untuk membunuh kita," ucap Ezzvaro sambil membantu Gabriel berdiri. Gabriel yang masih lemas hanya bisa mengangguk pelan, wajahnya pucat pasi mendengar kenyataan bahwa calon kakek dari bayinya sendiri menginginkannya mati.
Perjalanan menuju pelabuhan bukan hal yang mudah. Baru saja mereka keluar melalui pintu darurat rumah sakit, suara ban mobil yang berdecit keras terdengar dari arah lobi. Ezzvaro segera membawa Gabriel masuk ke dalam mobil SUV hitam yang sudah ia siapkan.
Baru beberapa kilometer melaju di jalanan London yang gelap, sebuah mobil sedan hitam mulai membuntuti mereka.
Dor!
Kaca belakang mobil Ezzvaro pecah berantakan. Gabriel menjerit, menundukkan kepalanya dalam-dalam sambil memeluk perutnya. Ezzvaro tersentak, matanya memanas. Air mata hampir menetes saat menyadari bahwa peluru itu berasal dari senjata orang-orang ayahnya sendiri. Ternyata, Fank Manafe benar-benar tidak lagi membutuhkannya.
"Sialan!" kutuk Ezzvaro. Ia mengeluarkan pistol dari laci dashboard. Ia yang selama ini dikenal sebagai pria berjas rapi, kini harus memegang senjata untuk melawan darah dagingnya sendiri.
Ia melirik Gabriel yang gemetar di kursi samping. "Sabar, Sayang... Tahan sedikit lagi."
Ezzvaro menurunkan kaca jendela, menembakkan beberapa peluru balasan ke arah mobil pengejar sambil mengemudi dengan kecepatan gila.
Dor! Dor!
"Vavo... perutku sakit..." rintih Gabriel.
Ezzvaro segera menoleh sejenak, mencoba menenangkan wanita itu di tengah desingan peluru yang meleset mengenai bodi mobil. "Apa bayi kita nakal di dalam sana? Katakan padanya untuk bersabar sebentar lagi, Ayahnya sedang membereskan sampah-sampah ini," ucap Ezzvaro dengan nada yang dipaksakan tenang, mencoba memberi sedikit romansa di tengah maut yang mengintai.
Gabriel tersenyum getir di tengah isaknya. "Dia hanya takut... seperti ibunya."
Gabriel sendiri mencoba membantu. Ia memegang sisa kotak peluru di pangkuannya untuk berjaga-jaga jika Ezzvaro butuh pengisian ulang, tapi tangannya gemetar hebat. Ia memeluk dirinya sendiri, menatap punggung tegap Ezzvaro yang kini harus menjadi tameng bagi nyawanya. Hatinya hancur melihat kekasihnya harus menembak orang-orang yang biasanya melindunginya, hanya demi menyelamatkan dirinya dan janin di rahimnya.
"Aku mencintaimu, Vavo... jangan tinggalkan kami," bisik Gabriel.
"Tidak akan, Gaby. Sampai napas terakhirku," sahut Ezzvaro.
Mobil mereka melesat masuk ke kawasan gudang pelabuhan yang sepi. Di depan sana, lampu sebuah kapal motor kecil berkedip tiga kali—kode dari orang suruhan Tharzeo. Namun, mobil pengejar semakin dekat. Ezzvaro menginjak rem mendadak, membuat mobilnya berputar 180 derajat untuk menahan laju musuh sementara Gabriel keluar menuju kapal.
"Lari ke kapal, Gaby! Jangan menoleh!" teriak Ezzvaro sambil keluar dari mobil, berlindung di balik pintu untuk memberikan tembakan perlindungan.
Gabriel berlari dengan sisa tenaganya, tangannya terus mendekap perutnya yang berusia enam minggu itu. Ia menoleh sekali, melihat Ezzvaro berdiri gagah di tengah hujan peluru, melawan tirani ayahnya sendiri demi sebuah kehidupan kecil yang bahkan belum lahir ke dunia.
Malam itu, pelabuhan London menjadi saksi bisu runtuhnya sebuah dinasti dan lahirnya sebuah perjuangan berdarah. Manafe telah pecah, meninggalkan luka yang tak akan pernah bisa sembuh hanya dengan kata maaf.
🌷🌷🌷🌷