NovelToon NovelToon
Menjadi Triliuner Dalam Semalam

Menjadi Triliuner Dalam Semalam

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Sistem / CEO / Tamat
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ginian

​"Hanya karena arloji murah ini, kau membuang tiga tahun hubungan kita?"
​Vandiko Elhaz hanyalah pemuda miskin yang bekerja keras demi masa depan kekasihnya, Clarissa. Namun, di hari ulang tahun Clarissa, Vandiko justru dipermalukan di depan kaum elit dan dicampakkan demi seorang pewaris kaya.
​Di titik terendah hidupnya, di bawah guyuran hujan dan hinaan yang membakar dada, sebuah suara mekanis menggema di kepalanya

​Sejak malam itu, hidup Vandiko berubah total.
Orang-orang yang dulu meludahi kakinya, kini mengemis di depan kantornya.
Wanita yang dulu mencampakkannya, kini menangis memohon kesempatan kedua.
​Dengan kekayaan tak terbatas dan sistem yang terus memberinya misi rahasia, Vandiko akan menunjukkan pada dunia: Siapa yang sebenarnya berkuasa?
​"Dulu kau bilang aku sampah? Sekarang, bahkan seluruh hartamu tidak cukup untuk membeli satu jam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ginian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Penyamaran Sang Triliuner

Vandiko tiba di Bandara Soekarno-Hatta dengan penerbangan ekonomi kelas paling bawah. Ia sengaja menumbuhkan jenggot tipis dan mengenakan kacamata berbingkai hitam besar. Kemeja flanel kotak-kotak dan celana jins lamanya membuatnya tampak seperti pekerja lepas biasa yang baru pulang merantau.

​Ia menghirup udara Jakarta yang panas dan lembap. Bau polusi dan aspal yang terbakar matahari justru membuatnya tersenyum. Ini adalah bau yang ia rindukan. Bau dari tempat di mana ia memulai mimpinya, dan tempat di mana ia akan menguburnya.

​Ia tidak menelepon supir pribadi. Ia berjalan menuju pangkalan bus Damri. Di sana, ia duduk berhimpitan dengan seorang buruh pabrik dan seorang ibu-ibu yang membawa keranjang belanja.

​"Mau ke mana, Mas? Baru pulang kerja?" tanya si ibu ramah.

​Vandiko tersenyum. "Iya, Bu. Habis kerja jauh. Sekarang mau pulang ke rumah orang tua."

​"Wah, pasti orang tuanya senang. Zaman sekarang susah cari anak yang mau pulang bantu orang tua," sahut si ibu lagi.

​Kalimat sederhana itu menghujam jantung Vandiko lebih dalam dari peluru mana pun. Selama sepuluh tahun, ia mengirimkan miliaran rupiah ke rekening orang tuanya secara anonim, mengira uang adalah segalanya. Namun ia lupa bahwa yang mereka inginkan hanyalah anaknya duduk di meja makan bersama mereka.

​Vandiko turun di perempatan Sudirman. Ia berdiri sejenak menatap Menara Wijaya. Gedung itu masih di sana, tampak angkuh. Namun bagi Vandiko, gedung itu kini hanyalah tumpukan beton tanpa nyawa. Ia melihat para eksekutif muda keluar dari lobi dengan wajah tegang, sibuk dengan ponsel mereka.

​Kasihan kalian, batin Vandiko. Kalian mengejar bayangan yang tidak akan pernah bisa kalian tangkap.

​Vandiko melanjutkan perjalanannya. Ia naik ojek pangkalan menuju daerah pinggiran yang jalannya mulai menyempit. Ia melihat warung tegal tempat ia dulu berhutang makan. Ia melihat toko kelontong tempat ia dulu mencuci mobil orang demi recehan. Semuanya tampak tidak berubah, seolah waktu berhenti di sini sementara ia sibuk berpindah-pindah antar benua.

​Ia berhenti di sebuah toko ponsel kecil. Ia membeli sebuah ponsel murah seharga satu juta rupiah. Ia memasukkan kartu SIM lamanya yang telah ia aktifkan kembali. Saat ponsel itu menyala, notifikasi saldo masuk.

​[Saldo Anda: Rp 10.000.450]

​Vandiko menatap angka itu. Sepuluh juta rupiah. Dulu, ini adalah uang yang ia butuhkan untuk operasi ibunya. Sekarang, ini adalah seluruh modal hidupnya. Namun, ia merasa jauh lebih kaya daripada saat ia memegang kartu kredit hitam tanpa batas. Dengan uang ini, ia tidak perlu lagi menipu, tidak perlu lagi membunuh karakter orang lain, dan tidak perlu lagi berbohong.

​Ia mulai berjalan kaki menuju gang rumahnya. Setiap langkah yang ia ambil terasa seperti melepaskan beban berton-ton dari pundaknya. Ia hampir sampai. Ia hampir pulang.

​Lampu jalan di gang rumah Vandiko berkedip-kedip, seolah-olah menyambut sang putra yang hilang. Suara azan magrib berkumandang dari musala kecil di ujung jalan, memberikan suasana damai yang tak pernah ia temukan di hotel bintang lima mana pun di Paris atau New York.

​Vandiko berhenti di depan sebuah pintu kayu yang sudah dimakan usia. Cat hijaunya sudah mengelupas di sana-sini. Ia mengatur napasnya. Tangannya gemetar saat hendak mengetuk.

​Tok... tok... tok...

​"Assalamu’alaikum," suara Vandiko terdengar serak.

​Hening sejenak. Lalu terdengar langkah kaki pelan dari dalam. Pintu terbuka dengan suara derit yang khas. Seorang wanita paruh baya dengan mukena putih muncul di balik pintu. Wajahnya penuh kerutan, namun matanya tetap jernih dan penuh cinta.

​"Vandiko...?" bisik ibunya, Rahma.

​Vandiko tidak bisa menahan dirinya. Ia langsung sujud di kaki ibunya, mencium kakinya yang kasar karena sering berjalan di pasar. Air matanya tumpah, membasahi kain mukena ibunya. Semua harga diri sebagai Billionaire, semua keangkuhan sebagai penguasa ekonomi, runtuh seketika.

​"Ibu... Vandiko pulang. Vandiko minta maaf baru pulang sekarang," isaknya.

​Rahma ikut menangis, ia memeluk kepala putranya dan menariknya berdiri. "Anakku... sudah, jangan menangis. Ibu nggak butuh maafmu. Ibu cuma butuh kamu ada di sini. Ayo masuk, Nak. Ayahmu baru saja selesai salat."

​Vandiko masuk ke dalam rumah yang sempit namun terasa sangat luas karena penuh dengan kasih sayang. Di ruang tengah, ayahnya, Adipati, duduk di kursi rotan sambil memegang tasbih. Ayahnya tampak lebih kurus, namun senyumnya tetap hangat.

​"Kamu sudah pulang, Van?" tanya Adipati tenang, seolah Vandiko hanya pergi ke warung depan, bukan pergi selama sepuluh tahun untuk mengguncang dunia.

​"Iya, Yah. Vandiko sudah berhenti dari semua urusan di luar sana. Vandiko mau di rumah saja, temani Ayah dan Ibu."

​Malam itu, mereka makan malam di atas tikar pandan. Menunya sangat sederhana: sayur lodeh, tempe goreng, dan sambal terasi. Namun bagi Vandiko, ini adalah jamuan makan paling mewah yang pernah ia santap. Setiap suapan terasa begitu nikmat karena dimasak dengan cinta, bukan oleh koki bayaran mahal.

​"Vandiko, Ibu nggak pernah tanya soal uang yang sering masuk ke rekening Ibu itu," ucap Rahma pelan. "Ibu pakai sedikit buat bayar hutang lama kita dan perbaiki atap yang bocor. Selebihnya Ibu simpan buat kamu. Ibu tahu kamu kerja keras di sana."

​Vandiko tersenyum pahit. "Simpan saja buat Ibu dan Ayah. Vandiko sekarang punya cukup uang buat kita makan sehari-hari. Vandiko mau mulai dari awal lagi, Yah. Mau coba usaha kecil-kecilan di sini."

​Adipati mengangguk setuju. "Itu bagus, Nak. Hidup itu nggak perlu muluk-muluk. Asal hati tenang, makan apa pun terasa enak. Ayah nggak pernah minta kamu jadi kaya, Ayah cuma minta kamu jadi orang baik."

​Vandiko menatap kedua orang tuanya. Ia menyadari bahwa kekayaan yang ia kejar selama ini ada di depan matanya. Selama ini ia buta, mengira angka di bank adalah ukuran kebahagiaan. Ternyata, kebahagiaan adalah bisa melihat orang tuanya bernapas dengan lega dan tersenyum tanpa beban.

1
Ali
Thor knapa si isabela dibiarin hidup...bego lu thor.skip ah.cerita muter muter kayak gasing.
Ginian
iya terimakasih
Ginian
terimakasih 🙏
D'ken Nicko
ga seru kalau ada sistem lain. jadi hambar
D'ken Nicko
tetap semangat thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!