Tabib Wi Lu mendapati dirinya dituduh meracuni Kaisar dan dipaksa menikahi Putri Yu Ming, pewaris tahta yang penuh dendam. Dengan reputasi tercoreng dan pengawasan ketat, Wei Lu harus melawan intrik licik Pangeran De, paman Kaisar, yang sebenarnya merencanakan kudeta dengan memanipulasi ilmu farmasi. Saat Yu Ming menjadikannya musuh, Wei Lu diam-diam menggunakan kejeniusan medisnya untuk membongkar konspirasi Pangeran De, menyelamatkan Kekaisaran dari wabah buatan, dan akhirnya mengungkap kebenaran di balik kematian Kaisar. Perjalanan ini memaksa Yu Ming menghadapi prasangkanya dan secara bertahap belajar mempercayai Wei Lu , mengubah pernikahan politik mereka menjadi pernikahan sejati yang di dasari cinta, kejujuran, dan penyembuhan bagi seluruh kerajaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila ANT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehancuran Moral
—bahkan jika itu berarti saya harus berhadapan langsung dengan Jenderal Xu di gerbang istana—”
Yu Ming tidak lagi terlihat seperti Ratu yang membenci. Di wajahnya, kini hanya ada ketakutan, tetapi juga otoritas yang teguh. Ia telah melihat gulungan L-9008, ia telah melihat laporan gudang gandum, dan ia telah menahan pembunuh yang dikirim pamannya. Keraguan pribadinya tentang Wei Lu kini ditenggelamkan oleh ancaman nyata terhadap Kekaisaran.
“Kau meminta saya untuk menempatkan semua kepercayaan saya pada seorang pria yang baru saja dituduh gila oleh Dewan Militer?” desis Yu Ming, suaranya parau. Jarak antara mereka sangat dekat, hampir intim, meskipun mereka berada di sel penjara yang dingin.
“Tidak, Yang Mulia,” balas Wei Lu, matanya setajam ujung jarum peraknya. Ia menahan kotak obat logam yang kini diizinkan ia pegang.
“Saya meminta Anda untuk menempatkan kepercayaan pada perhitungan. Gudang Gandum Surplus, Bahan Baku Langka, dan L-9008 adalah bukti fisik yang tidak dapat dibantah. Jenderal Xu dan tuduhan ‘kewarasan’ hanyalah asap. Pangeran De mencoba membakar kertas kecil (Pengarsipan) sementara ia mencuri emas batangan (Dana Bencana Alam).”
Wei Lu mencondongkan tubuh sedikit.
“Jika Anda menunda penangkapan ini, Pangeran De akan menggunakan 24 jam ini untuk melenyapkanku, menuduhku gila, dan menyalahkan kekacauan di gudang gandum padaku. Kemudian, ia akan mengklaim takhta melalui Dewan Militer dengan dalih ‘stabilitas’.”
Yu Ming menarik napas dalam-dalam. Udara di sel isolasi itu dingin, menusuk. Ia memejamkan mata sesaat, membayangkan ayahnya, Kaisar, yang selalu menekankan perlunya tindakan cepat di masa krisis.
“Baik,” kata Yu Ming, membuka matanya. Keputusannya dingin, tidak didorong oleh emosi, melainkan oleh tanggung jawab.
“Saya akan mengeluarkan surat perintah penangkapan. Bukan untuk Jenderal Xu. Kita tidak akan melawan Militer secara langsung. Kita akan menyerang para pencuri. Menteri Keuangan, Tuan Jian, dan Menteri Logistik yang terlibat dalam L-9008.”
“Tepat, Yang Mulia,” kata Wei Lu, mengangguk.
“Serangan pada rantai logistik dan keuangan. Itu akan memotong aliran darah Pangeran De, membuatnya lumpuh sebelum ia menyadari apa yang terjadi.”
“Surat perintah itu akan ditandatangani dan disegel dalam sepuluh menit,” kata Yu Ming. Ia berbalik ke arah Tang, pemimpin pengawal yang berdiri di pintu.
“Tang, segera hubungi Wakil Kepala Pengawal Istana. Beri tahu dia bahwa ini adalah misi rahasia, di luar rantai komando militer, dan hanya melibatkan pengawal yang loyal kepada Ratu—orang-orang yang direkrut sebelum Pangeran De mulai mencampuri urusan istana. Mereka harus bergerak dalam satu jam.”
Tang memberi hormat, wajahnya menunjukkan ketegasan yang sama dengan Ratu.
“Dan Perdana Menteri,” tambah Yu Ming, menoleh ke Wei Lu.
“Saya akan membebaskan Anda dari sel ini. Anda akan memimpin penangkapan ini. Anda memiliki formula, dan Anda tahu siapa yang harus dicari. Saya akan bertanggung jawab atas kekacauan politik yang akan terjadi saat fajar menyingsing. Jika kau gagal, atau jika tuduhanmu salah—kau tidak hanya akan dieksekusi, Wei Lu. Aku sendiri yang akan mematahkan jarummu.”
Itu adalah janji yang menakutkan, tetapi Wei Lu hanya membungkuk dalam-dalam.
“Saya menerima sumpah itu, Yang Mulia.”
***
Tengah malam, Istana Kekaisaran diselimuti keheningan yang menyesakkan.
Wei Lu, yang seharusnya menjadi tahanan yang dituduh gila, kini berdiri di halaman belakang Sayap Administratif, mengenakan jubah gelap dan membawa kembali kotak obatnya, yang sekarang bukan lagi wadah ramuan, tetapi gudang kecil untuk senjata dan alat pelumpuh.
Di hadapannya, berkumpul dua puluh pengawal elit Ratu yang paling terpercaya, dipimpin oleh Tang. Mereka tidak mengenakan lencana resmi, tetapi mata mereka tajam. Mereka adalah tentara bayangan Yu Ming.
“Kita tidak akan berperang,” bisik Wei Lu, suaranya rendah dan tajam.
“Kita akan melakukan operasi pembedahan. Kita akan memotong tumor korupsi ini tanpa merusak organ yang sehat.”
Rencana itu sangat berisiko. Mereka harus menangkap tiga pejabat senior dalam waktu tiga puluh menit, sebelum Pangeran De atau Jenderal Xu menyadari adanya pergerakan yang tidak wajar.
Target pertama: Menteri Keuangan, Tuan Ling, Target kedua: Kepala Logistik Gudang Gandum. Target ketiga: Juru Tulis Utama Pengarsipan yang dicurigai memalsukan diagram.
“Tang,” perintah Wei Lu.
“Kau dan lima orang pergi ke kediaman Juru Tulis Pengarsipan. Jangan sentuh dokumen. Amankan dia dan bawa dia ke sel isolasi yang sama dengan Jian. Jangan interogasi. Kunci saja dia.”
“Siap, Perdana Menteri,” jawab Tang.
Wei Lu menoleh ke sisa tim.
“Kita akan menuju kediaman Menteri Keuangan. Dia adalah urat nadi finansial L-9008. Dia tidak akan menyerah tanpa perlawanan.”
Wei Lu memimpin tim kecilnya melintasi taman istana yang gelap. Udara malam terasa dingin, tetapi Wei Lu merasakan adrenalin yang membakar. Ia harus membuang citra tabib yang cermat dan menggantinya dengan citra algojo yang efisien.
Mereka tiba di kediaman Menteri Keuangan, sebuah bangunan mewah yang berpagar tinggi di dekat area bangsawan.
“Ada dua penjaga di gerbang depan, satu di gerbang belakang,” bisik Wei Lu.
“Mereka adalah prajurit bayaran Pangeran De. Mereka tidak akan patuh pada perintah Ratu.”
Wei Lu mengambil tiga panah bius dari kotak obatnya. Panah-panah ini dilapisi dengan ekstrak bunga Naktos, pelumpuh yang kuat namun non-fatal.
“Aku yang akan mengurus penjaga di gerbang depan,” kata Wei Lu.
“Kalian masuk melalui taman, ke kamar tidur utama.”
Wei Lu tidak menunggu jawaban. Ia bergerak seperti bayangan, tubuhnya yang ramping bersembunyi di balik semak-semak. Ia adalah tabib yang tahu betul cara kerja tubuh manusia; ia tahu titik kelemahan, dan ia tahu cara melumpuhkan tanpa menimbulkan suara.
Swoosh.
Panah pertama menancap di leher penjaga pertama. Penjaga itu tersentak, tetapi tidak sempat mengeluarkan suara sebelum ia jatuh dengan suara thud yang teredam.
Swoosh.
Panah kedua menemukan sasarannya. Wei Lu mengambil panah ketiga, bersiap untuk penjaga yang ada di dalam.
“Cepat!” bisik Wei Lu ke pengawalnya.
Mereka masuk ke dalam rumah. Bau anggur mahal dan makanan sisa tercium di udara. Kehidupan mewah yang didanai oleh Dana Bencana Alam.
Wei Lu memimpin tim ke kamar tidur utama. Pintu kayu berukir itu ditutup rapat.
“Ambil formasi,” perintah Wei Lu. Ia tidak membawa senjata, hanya jarum perak yang ia sembunyikan di lengan bajunya.
Wei Lu mendorong pintu hingga terbuka.
Di dalam, Menteri Keuangan, seorang pria gemuk dengan wajah merah, sedang duduk di meja, menghitung tumpukan koin emas di bawah cahaya lilin. Ia tampak sangat puas dengan dirinya sendiri.
Dia mendongak, matanya yang kecil melebar karena terkejut melihat Wei Lu, yang seharusnya berada di sel isolasi, berdiri di kamarnya, dikelilingi oleh pengawal Ratu.
“Wei Lu?” raungnya, mencoba meraih bel alarm di sisinya.
“Apa yang kau lakukan? Ini adalah pelanggaran hak asasi! Ratu telah menahanmu!”
“Menteri,” kata Wei Lu, suaranya sangat tenang, berbanding terbalik dengan kekacauan di sekitarnya.
“Ratu telah mengeluarkan surat perintah penangkapan atas tuduhan penggelapan Dana Bencana Alam, Nomor Transaksi L-9008. Anda ditangkap.”
Menteri Keuangan tertawa histeris, tawa yang bergema di ruangan itu.
“Omong kosong! Tuduhan itu akan dikubur dalam birokrasi, sama seperti permintaan audit kertasmu, tabib gila! Kau tidak punya bukti!”
“Oh, saya punya bukti,” balas Wei Lu, sambil melangkah maju. Ia menunjuk ke tumpukan koin emas di atas meja.
“Dan bukti itu ada di depan mata Anda, dicuri dari rakyat yang kelaparan.”
Menteri Keuangan melompat dari kursinya, tangannya meraih pedang pendek yang tersembunyi di bawah meja.
“Pangeran De akan membunuhmu!” teriaknya.
Wei Lu tidak gentar. Ia bergerak lebih cepat daripada yang bisa diantisipasi oleh seorang birokrat yang dimanjakan. Sebelum Menteri Keuangan sempat menarik pedangnya sepenuhnya, Wei Lu telah meluncur di bawah meja.
Clang!
Pedang itu jatuh ke lantai. Menteri Keuangan menjerit pendek, bukan karena rasa sakit, tetapi karena kebingungan.
Wei Lu telah menyuntikkan jarum perak tipis ke titik tekan di pangkal pahanya, memutuskan kendali saraf dari pinggang ke bawah.
Menteri Keuangan jatuh ke lantai, wajahnya pucat pasi, namun ia masih sadar.
“Kau tidak akan mati,” bisik Wei Lu, berjongkok di sampingnya.
“Kau akan hidup untuk menjadi saksi pengadilan. Tapi mulai sekarang, kau akan membusuk di sel yang sama dengan Ling dan Jian.”
Pengawal Ratu segera mengamankan menteri yang lumpuh itu.
“Cari dokumen di sini,” perintah Wei Lu kepada pengawal.
“Fokus pada gulungan yang disegel dengan tinta merah. Itu pasti terkait dengan logistik gudang.”
Wei Lu berdiri dan menyeka tangannya. Operasi pertama berhasil dalam lima menit.
“Target berikutnya: Kepala Logistik Gudang Gandum,” katanya, suaranya tidak menunjukkan kelelahan.
“Cepat, kita hanya punya dua puluh menit tersisa sebelum fajar menyingsing.”
***
Mereka bergerak cepat melintasi ibukota yang tidur. Udara terasa semakin dingin, dan Wei Lu bisa merasakan fajar mulai menyingsing di cakrawala timur.
Di kediaman Kepala Logistik, Wei Lu kembali menggunakan jarumnya. Kali ini, ia harus lebih agresif. Kepala Logistik ternyata memiliki penjaga yang lebih terlatih yang bereaksi cepat terhadap intrusi.
Pergumulan singkat terjadi di koridor, tetapi pasukan elit Ratu, yang dipimpin oleh Wei Lu yang jenius secara taktis (meskipun tidak bersenjata berat), berhasil melumpuhkan penjaga dengan cepat, menggunakan teknik melumpuhkan yang diajarkan oleh jaringan intelijen Wei Lu.
Dalam sepuluh menit, Kepala Logistik diamankan, bersama dengan gulungan yang merinci rincian gudang gandum surplus di Distrik Timur—bukti fisik yang menghubungkan Dana Bencana Alam, Bahan Baku Langka, dan Pangeran De.
Wei Lu melihat jam. Waktunya tipis. Ia harus kembali ke istana dan memastikan semua bukti diserahkan langsung kepada Yu Ming sebelum Dewan Militer berkumpul.
“Tang dan timnya telah berhasil mengamankan Juru Tulis Pengarsipan,” lapor salah satu pengawal melalui komunikasi kode tangan.
“Bagus,” kata Wei Lu.
“Semua target utama telah diamankan. Kita kembali. Bawa semua bukti fisik ini langsung ke hadapan Ratu.”
Wei Lu memimpin tim kembali. Saat mereka melewati gerbang belakang istana, fajar telah menyingsing. Cahaya pagi yang dingin menyinari batu-batu istana.
Wei Lu merasa lelah, tetapi puas. Ia telah mengorbankan kehormatan pribadinya di hadapan Dewan Militer, membiarkan mereka menuduhnya gila, hanya untuk mendapatkan waktu yang krusial ini.
Saat mereka memasuki Sayap Administratif, mereka disambut oleh suasana yang tegang.
Seorang ajudan senior Ratu, yang tampak kelelahan, berlari ke arah Wei Lu.
“Perdana Menteri! Yang Mulia Ratu memerintahkan Anda segera menghadap! Ada keributan besar!”
“Aku tahu,” kata Wei Lu, menyerahkan gulungan bukti yang berat itu kepada ajudan tersebut.
“Serahkan ini segera kepada Ratu. Ini adalah bukti korupsi yang tak terbantahkan.”
“Bukan hanya itu, Perdana Menteri,” kata ajudan itu, suaranya gemetar.
“Jenderal Xu dari Dewan Militer telah tiba di Aula Singgasana. Dia membawa 500 prajurit bersenjata. Dia menuntut akses ke ruang interogasi Ratu, mengklaim bahwa ia akan melaksanakan ‘pemeriksaan kewarasan’ terhadap semua tahanan politik Ratu, termasuk Anda!”
Wei Lu meremas pelipisnya. Pangeran De telah menekan tombol panik. Penangkapan massal ini telah menimbulkan reaksi berantai. Jenderal Xu tidak datang untuk memeriksa kewarasan—ia datang untuk membebaskan kaki tangan Pangeran De dan menahan Wei Lu.
“Di mana Ratu?” tanya Wei Lu.
“Di Aula Singgasana, menghadapi Jenderal Xu sendirian,” jawab ajudan.
“Dia menolak Jenderal Xu. Jenderal Xu mengancam akan menyatakan keadaan darurat militer dan mengambil alih kendali istana jika Yang Mulia tidak menyerahkan Anda—”
Wei Lu mengabaikan sisa kata-kata ajudan itu. Ia harus bergerak sekarang. Yu Ming sedang menghadapi kudeta legal militer, dan itu semua karena ia mengikuti rencana Wei Lu.
Wei Lu berlari menuju Aula Singgasana.
Di sana, ia melihat Yu Ming berdiri di hadapan Jenderal Xu yang tinggi dan berotot, dikelilingi oleh prajurit bersenjata lengkap. Jenderal Xu mengenakan zirah perang, sebuah penghinaan langsung terhadap Ratu.
“Saya ulangi, Yang Mulia,” gertak Jenderal Xu, suaranya memantul di aula.
“Perdana Menteri Wei Lu tidak stabil secara mental. Dia telah melakukan penangkapan ilegal terhadap pejabat senior negara di tengah malam. Dewan Militer akan mengambil alih! Kami butuh Wei Lu!”
Yu Ming menatap Jenderal Xu, wajahnya pucat tetapi matanya menyala dengan api kerajaan.
“Jenderal Xu,” kata Yu Ming, suaranya mantap.
“Perdana Menteri Wei Lu telah melakukan penangkapan ini di bawah dekret Ratu yang sah, berdasarkan bukti korupsi L-9008 yang tak terbantahkan. Anda telah melanggar wilayah istana, dan Anda mengancam Ratu Anda!”
“Bawa Wei Lu!” raung Jenderal Xu, mengabaikan Ratu dan menunjuk ke arah pintu di mana Wei Lu baru saja muncul.
“Aku akan memeriksanya sekarang!”
Wei Lu melangkah maju, membiarkan dirinya terlihat oleh Jenderal Xu. Ia tampak tenang, tetapi matanya memancarkan tekad yang dingin.
“Aku di sini, Jenderal,” kata Wei Lu, suaranya jelas.
“Tuduhanmu terhadap kewarasanku adalah fitnah. Aku tidak gila. Aku hanya sedang membersihkan istana.”
Jenderal Xu menyeringai.
“Bagus. Kau akan ikut denganku untuk pemeriksaan, atau pasukanku akan menyeretmu keluar.”
“Anda tidak akan menyeretku, Jenderal,” balas Wei Lu. Ia menunjuk ke arah Yu Ming.
“Dan kau tidak akan menyatakan darurat militer.”
Wei Lu kemudian menoleh ke Yu Ming, dan ia mengucapkan kata-kata yang ia tahu akan membuat Yu Ming marah, tetapi yang akan menyelamatkan situasinya.
“Yang Mulia Ratu,” kata Wei Lu, suaranya meninggi.
“Tuduhan Pangeran De terhadapku telah merusak reputasiku dan reputasi Kerajaan. Saya tidak bisa membiarkan keraguan atas kepemimpinan saya merusak stabilitas yang baru Anda peroleh. Oleh karena itu, saya menyatakan: Saya akan mengundurkan diri.”
Keheningan yang mematikan menyelimuti Aula Singgasana. Semua menteri terkejut. Yu Ming tersentak, wajahnya menunjukkan keterkejutan dan pengkhianatan. Ini bukan bagian dari rencana.
“Wei Lu!” desis Yu Ming, nyaris tidak terdengar.
Jenderal Xu tertawa terbahak-bahak.
“Lihat, Ratu! Bahkan dia tahu dia tidak layak! Terimalah pengunduran dirinya dan serahkan dia kepadaku!”
Wei Lu mengabaikan Jenderal Xu dan terus berbicara kepada Yu Ming, mengorbankan dirinya di hadapan umum.
“Saya mengundurkan diri sebagai Perdana Menteri,” tegas Wei Lu.
“Tetapi saya tidak bersalah. Saya menuntut pengadilan penuh dan terbuka atas tuduhan pembunuhan Kaisar. Biarkan kebenaran terungkap di hadapan hukum, bukan di bawah ancaman militer. Saya bersedia menyerahkan diri kepada Dewan Keadilan sipil, tetapi bukan kepada Dewan Militer Anda, Jenderal Xu. Saya akan melawan tuduhan pembunuhan itu sebagai warga negara biasa, bukan sebagai PM yang dicerca.”
Ini adalah pengorbanan terakhir Wei Lu. Ia melepaskan kekuasaannya untuk memaksa Yu Ming berhadapan langsung dengan Jenderal Xu di arena hukum, bukan militer.
Jenderal Xu, yang hanya menginginkan kontrol politik, menjadi bingung. Pengunduran diri Wei Lu menghilangkan alasan untuk kudeta militer.
“Yang Mulia,” kata Wei Lu, membungkuk dalam-dalam.
“Pilihlah: Pengadilan sipil atau darurat militer. Dan jangan lupa, bukti korupsi baru saja tiba di meja Anda.”
Yu Ming berdiri membeku, di ambang kekalahan, di antara Jenderal Xu yang mengancam dan suaminya yang baru saja mengorbankan segalanya.
“Saya menerima pengunduran diri Anda, Wei Lu,” kata Yu Ming, suaranya tercekat.
“Dan saya memerintahkan Anda untuk segera ditahan oleh Pengawal Ratu, bukan oleh Militer. Anda akan menghadapi pengadilan sipil atas pembunuhan ayah saya, dan pengadilan itu akan dimulai—”