NovelToon NovelToon
ISTRI BERCADAR MAFIA

ISTRI BERCADAR MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Saniaa96

ISTRI BERCADAR MAFIA

​Jakarta. Di bawah guyuran hujan yang meradang.
​Di dalam dinding mansion mewah bergaya Eropa, takdir dua dunia yang bertolak belakang baru saja disatukan oleh paksaan dan ancaman. Ini bukan kisah cinta, melainkan kisah pengorbanan di ujung moncong pistol.

​Alaska Ravendra. Nama itu adalah sinonim dari kekuasaan, kegelapan, dan kekejaman. Sebagai pemimpin Black Vipers, kelompok mafia yang paling ditakuti di Asia Tenggara, ia hidup dalam hukumnya sendiri, yang kuat memakan yang lemah. Di tangan dinginnya, pistol Beretta perak hanyalah mainan, dan nyawa manusia adalah alat tawar menawar.

​Di hadapannya berdiri Sania Humairah, seorang gadis sederhana yang jiwanya berhias iman dan raga terbungkus cadar hitam—simbol dari kehormatan yang ia jaga melebihi nyawanya.

Sania dipaksa menjadi "bayaran" atas hutang ayahnya kepada Alaska.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saniaa96, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ISTRI BERCADAR MAFIA

​Bab 24: Sajadah di Atas Bara dan Bisikan dari Penjara.

​Lantai rubanah The Fortress selalu terasa dingin, namun bagi Dante, dinginnya semen itu tak sebanding dengan api dendam yang membakar dadanya. Di balik jeruji besi khusus, ia tertawa kecil melihat sosok yang berdiri di depannya.

​Alaska. Sang Naga.

​"Kau terlihat berbeda, Al," suara Dante serak, sisa-sisa luka di wajahnya membuatnya tampak semakin mengerikan. "Ada kedamaian yang menjijikkan di matamu. Apa wanita bercadar itu sudah mencuci otakmu dengan dongeng-dongeng surga?"

​Alaska tetap diam. Ia hanya berdiri dengan tangan bersedekap, menatap musuh bebuyutannya dengan tatapan kosong. Di saku kemejanya, ada sebuah buku kecil tentang dasar-dasar doa yang diberikan Sania tadi pagi, sebuah benda yang terasa lebih berat daripada senjata api kaliber 45 miliknya.

​"Kau pikir dengan menyembah Tuhan, dosa-dosamu akan hanyut begitu saja?" Dante meludah ke lantai. "Darah orang-orang yang kita bantai tidak akan pernah bisa dihapus oleh air wudu, Alaska. Kita ditakdirkan untuk neraka yang sama."

​"Mungkin," jawab Alaska akhirnya, suaranya rendah dan dalam. "Tapi jika aku pergi ke neraka, aku akan memastikan kau sudah ada di sana untuk menyambutku. Dan saat ini, aku sedang belajar cara agar wanita itu tidak perlu ikut ke tempat yang sama dengan kita."

​Ujian Pertama: Integritas dan Bisnis Haram.

​Kekacauan muncul di lantai atas. Bara masuk dengan langkah terburu-buru, wajahnya menunjukkan kegelisahan yang jarang terjadi.

​"Tuan, ada masalah di pelabuhan utara. Pengiriman 'barang gelap' dari kartel Meksiko tiba. Mereka menuntut tanda tanganmu untuk distribusi ke pasar gelap kota ini. Nilainya ratusan miliar," lapor Bara.

​Biasanya, Alaska akan menandatanganinya tanpa berkedip. Tapi bayangan Sania yang sedang bersujud di sepertiga malam tadi, doa-doanya yang tulus untuk keselamatan jiwa Alaska membuat tangannya kaku.

​"Batalkan," ucap Alaska singkat.

​Bara terbelalak. "Apa? Tuan, kalau kita batalkan secara sepihak, mereka akan menganggap ini deklarasi perang. Kita akan menghadapi dua front: Dante di dalam, dan kartel internasional di luar. Anda belum siap untuk ini!"

​"Aku bilang batalkan, Bara! Cari cara untuk mengembalikannya atau hancurkan sekalian. Aku tidak mau uang yang didapat dari menghancurkan hidup orang lain masuk ke rumah tempat Sania bernapas," bentak Alaska.

​Bara terdiam. Ia melihat perubahan yang menakutkan pada bosnya. Bukan perubahan menuju kelemahan, melainkan perubahan menuju sesuatu yang jauh lebih berbahaya: Keras kepala yang didasari prinsip.

​Pelajaran yang Menyakitkan.

​Malam harinya, Alaska menemui Sania di perpustakaan. Sania sedang merapikan beberapa kitab. Melihat Alaska yang tampak kacau dengan rambut berantakan dan kancing kemeja atas yang terbuka, Sania hanya tersenyum di balik cadarnya.

​"Belajar tentang kebenaran memang lebih melelahkan daripada berperang, bukan begitu Tuan?" tanya Sania lembut.

​Alaska duduk di lantai, bersandar pada rak buku besar.

"Sania, orang-orang di luar sana ingin membunuhku karena aku mencoba menjadi sedikit lebih baik. Musuhku lebih suka aku menjadi iblis daripada menjadi manusia. Apakah Tuhanmu sesulit itu untuk didekati?"

​Sania mendekat, namun tetap menjaga jarak yang sopan.

"Tuhan tidak sulit didekati, Tuan. Yang sulit adalah meninggalkan berhala-berhala dalam diri kita: kesombongan, harta haram, dan dendam. Anda tidak sedang berperang melawan kartel, Anda sedang berperang melawan diri Anda sendiri."

​Sania memberikan sebuah sajadah kecil kepada Alaska.

"Cobalah bersujud sekali saja malam ini. Bukan untuk meminta harta, tapi untuk meminta agar hati Anda diberikan ketenangan. Karena hanya hati yang tenang yang bisa melihat jalan keluar dari kepungan musuh."

​Pengkhianatan di Dalam Benteng.

​Tanpa sepengetahuan Alaska, instruksinya untuk membatalkan pengiriman barang haram telah memicu api di dalam organisasinya sendiri. Beberapa petinggi keamanan yang selama ini hidup dari komisi bisnis gelap mulai merasa terancam.

​Di sudut gelap koridor, salah satu orang kepercayaan Bara berbisik melalui ponsel satelit.

"Sang Naga mulai kehilangan taringnya. Dia menjadi lemah karena wanita itu. Buka pintu darurat sektor 4 malam ini... biarkan orang-orang Dante masuk. Kita butuh pemimpin yang haus darah, bukan yang belajar berdoa."

​Sementara itu, di kamarnya, Alaska membentangkan sajadah itu dengan tangan gemetar. Ia mencoba mengingat gerakan yang dijelaskan dalam buku kecil itu. Saat lututnya menyentuh lantai, sebuah ledakan keras mengguncang The Fortress.

​BOOM!

​Alarm keamanan meraung-raung. Lampu merah berkedip di seluruh penjuru bangunan.

​Alaska langsung bangkit, naluri membunuhnya kembali seketika. Ia meraih pistolnya di atas meja, tapi matanya tertuju pada Sania yang juga terkejut.

​"Tunggu di sini! Jangan keluar!" perintah Alaska.

​Ia berlari keluar, namun di koridor ia bertemu dengan Bara yang sudah bersimbah darah di lengannya. "Tuan! Penghianatan! Orang-orang kita sendiri membuka pintu untuk tentara bayaran Dante! Mereka datang untuk menjemput bos mereka dan... mereka menargetkan Nyonya Sania!"

​Alaska tertawa, tapi itu adalah tawa yang mengerikan. Ia menyadari satu hal: Ternyata, untuk menjadi orang baik, dia harus menjadi monster terakhir kalinya untuk memusnahkan semua iblis yang menghalanginya.

​"Bara, ambil senjatamu," desis Alaska sambil mengokang senjatanya. "Malam ini, kita tunjukkan pada mereka bahwa Naga yang mencoba bertobat jauh lebih mematikan daripada Naga yang sedang murka."

​__Jangan pernah meremehkan seorang pendosa yang sedang berjalan menuju pertobatan. Karena ia tidak hanya berperang melawan musuh di depannya, tetapi juga sedang mencabik-cabik setan di dalam dirinya. Saat seseorang memutuskan untuk mencari cahaya, kegelapan akan melakukan segala cara untuk menariknya kembali. Namun ingatlah, satu lilin kecil di dalam kegelapan yang pekat jauh lebih berkuasa daripada seluruh kegelapan itu sendiri__

​Bersambung ....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!