Setelah mengalami kecelakaan, mata batin Nino terbuka. Pemuda berusia 20 tahun itu jadi bisa melihat makhluk astral di sekitarnya.
Sejak tersadar dari komanya, pemuda itu selalu diikuti oleh arwah seorang wanita muda yang dilihatnya ketika kecelakaan terjadi.
Karena tak kuat terus menerus harus melihat makhluk astral, Nino meminta bantuan Pamannya untuk menutup mata batinnya. Sang Paman pun memberikan doa agar bisa menutupi mata batin.
Alih-alih menutup mata batin, kemampuan Nino yang awalnya hanya bisa melihat, justru berkembang jadi bisa berkomunikasi dengan para arwah.
Tak mau menderita sendirian, Nino pun meminta sahabatnya yang penakut, Asep untuk ikut membaca doa dengan dalih supaya menjadi berani. Dan ketika Asep mengamalkannya, sama seperti Nino, pemuda itu juga bisa melihat makhluk halus.
Kejadian demi kejadian aneh terus menimpa kedua sahabat tersebut. Lewat petunjuk dari makhluk astral, mereka bisa mengungkap kejahatan kasus kriminal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari Jejak
Miko segera meninggalkan mejanya kemudian menghampiri Iqbal. Rekannya itu menunjukkan hasil penemuannya.
“Besok kita ke sana untuk memeriksa,” ujar Miko.
“Ya. Lebih baik kita pulang sekarang.”
Iqbal segera mematikan laptopnya lalu memasukkan ke dalam tas. Apa yang dilakukan pria itu juga dilakukan oleh Miko. Keduanya segera meninggalkan kantor Polrestabes yang sudah sepi. Hanya ada petugas piket saja yang berjaga di bagian luar.
Mobil yang dikendarai Miko berbelok memasuki pelataran parkir gedung apartemen tempatnya tinggal. Selama di Bandung, pria itu memang tinggal sendiri. Kedua orang tuanya tinggal di Brebes, sementara Kakak perempuannya sudah menikah dan ikut dengan suaminya tinggal di Serang. Miko adalah anak bungsu dari dua bersaudara.
Lampu unit apartemen Miko langsung menyala setelah pria itu masuk ke dalamnya. Apartemen studio yang ditinggalinya ini hanya memiliki satu kamar, satu ruang tamu yang merangkap sebagai ruang santai, satu dapur dan satu kamar mandi.
Miko langsung masuk ke dalam kamar. Ditaruhnya tas kerjanya di atas meja kerjanya. Di atas meja kerjanya terdapat figura yang memajang seorang wanita cantik. Dia adalah kekasih Miko. Kekasihnya adalah seorang reporter dan saat ini dia sedang melakukan liputan investigasi. Jika sedang melakukan pekerjaannya, keduanya jarang berkomunikasi.
Usai membersihkan tubuh, Miko segera naik ke atas ranjang. Besok dia akan kembali melakukan tugas yang mungkin akan kembali menyita waktunya. Semoga saja besok pria itu bisa menemukan sesuatu yang bisa mengaitkannya pada Anton. Dengan begitu misteri kematian Maya bisa segera diselesaikan.
***
Pukul sembilan pagi, Miko dan Iqbal sudah berada di tempat usaha yang dimiliki oleh Anton. Letak tempat usahanya berada di daerah Bandung Timur. Rupanya Anton membangun tempat usaha di tanah warisan orang tuanya. Di sana dia membangun usaha cuci mobil, mini market dan café.
“Kalau memang Maya simpanan Anton, melihat usaha yang dimilikinya, tidak heran kalau dia bisa mengirimkan uang untuk Maya setiap bulannya,” gumam Iqbal.
“Aku ke tempat pencucian mobil, kamu ke mini market,” ujar Miko.
Kedua pria itu segera berpencar begitu sampai di sana. Miko mendatangi tempat pencucian mobil. Karena waktu masih pagi, jadi suasananya belum terlalu ramai. Pria itu mengeluarkan kartu identitasnya pada salah satu pegawai.
“Apa benar Pak Anton pemilik bisnis ini?”
“Benar, Pak.”
“Apa dia sering datang kemari?”
“Paling akhir bulan, Pak. Untuk mengecek keuangan.”
“Apa dia selalu datang sendiri atau bersama orang lain?”
“Sendiri, Pak. Kadang Ibu juga ikut ke sini.”
“Ibu maksudnya istri Anton.”
“Iya, Pak.”
“Siapa orang yang dipercaya oleh Anton di sini?”
“Selain Pak Seno, manajer di sini. Ada juga Pak Cipto. Dia pegawai di sini tapi cukup dekat dengan Pak Anton. Kadang dia menjadi supir Bapak kalau Bapak mau pergi keluar kota untuk liburan atau urusan pekerjaan.”
“Apa kamu mengenal orang ini?”
Miko memperlihatkan sketsa wajah yang dibawanya tadi. Pegawai itu memperhatikan sejenak, kemudian menganggukkan kepalanya setelah mengenali wajah di sketsa.
“Ini Pak Cipto.”
“Di mana dia sekarang?”
“Pak Cipto libur hari ini.”
“Apa saya bisa minta alamat rumahnya.”
“Maaf Pak, harus tanya Pak Manajer dulu.”
“Di mana dia?”
Pria itu segera mengajak Miko menuju kantor pencucian mobil. Seorang pria berusia tiga puluhan keluar dari kantor. Setelah memperkenalkan dirinya, Miko pun segera meminta alamat rumah Cipto. Mau tdak mau Seno memberikan alamat tersebut. selesai mendapat alamat, Miko mengajak Iqbal segera menemui Cipto.
Sepeninggal Miko, Seno segera menghubungi Anton. Tak butuh waktu lama, Anton menjawab panggilannya.
“Halo, Pak.”
“Ada apa?”
“Tadi ada polisi ke sini. Dia tanya soal Pak Cipto.”
“Dia tanya apa?”
“Cuma tanya alamat Pak Cipto aja.”
“Kamu kasih?”
“Iya, Pak.”
“Sial! Ya sudah.”
Panggilan terputus begitu saja. Anton nampak gusar setelah menerima telepon dari Seno. Entah bagaimana polisi sampai bisa mengetahui soal Cipto. Pria itu buru-buru menghubungi pegawai setianya.
“Halo Pak Cipto.”
“Iya, Pak. Ada apa?”
“Polisi sedang ke rumah Bapak sekarang. Saya mau Bapak pergi untuk sementara waktu. Bersembunyi sampai keadaan aman.”
“Memangnya kenapa, Pak?”
“Tidak usah banyak tanya! Pergi aja!”
“Baik, Pak.”
“Saya akan kirimkan uang untuk mu sekarang.”
Setelah mengatakan itu, Anton langsung mengakhiri panggilan. Lima menit berselang pria itu mengirimkan bukti transfer pada Cipto. Semoga saja pria itu sudah pergi sebelum polisi datang ke tempatnya.
***
Empat puluh menit kemudian Miko dan Iqbal sudah tiba di daerah di mana Cipto tinggal. Setelah bertanya pada orang yang melintas, akhirnya mereka tiba di kontrakan Cipto. Keadaan rumah kontrakan itu nampak sepi. Beberapa kali Miko mengetuk pintu namun tidak ada jawaban sama sekali dari dalam.
Seorang tetangga Cipto keluar ketika mendengar suara ketukan di rumah sebelahnya. Wanita dengan tubuh sedikit gempal segera mendekati dua polisi yang berada di depan rumah Cipto.
“Cari Pak Cipto?”
“Iya, Bu. Pak Ciptonya ada?”
“Baru aja pergi. Sekitar setengah jam yang lalu.”
“Apa ibu tahu kemana?”
“Ngga tahu, Pak.”
“Baik, Bu. Terima kasih. Kalau Ibu tahu kabar soal Pak Cipto, tolong kabari saya.”
Iqbal memberikan kartu namanya pada tetangga Cipto. Kemudian kedua petugas itu segera meninggalkan kontrakan Cipto. Sepertinya mereka terlambat satu langkah. Pasti sudah ada yang memperingati Cipto hingga pria itu pergi lebih dulu.
“Kita kemana sekarang?” tanya Iqbal.
“Kembali ke kantor saja dulu.”
***
Wah Anton udah ngeh nih
Upin ipin lgi sibuk liburan 🤣
eeehh🤔
belum waktunya kamu ke tangkep Anton...tunggu aja gk bakal lama juga kamu akan mendekam jd penghuni hotel prodeo...karena apartemen mu udah di pindah sewakan ke orang lain...untuk meniggalkan jejak ke jahatanmu....ementara kamu tinggal gretongan di bui 😂
pintar sekali kamu ya Anton /Curse/