NovelToon NovelToon
Yun Ma Yang Menolak Takdir Novel

Yun Ma Yang Menolak Takdir Novel

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Identitas Tersembunyi / Kelahiran kembali menjadi kuat / Bepergian untuk menjadi kaya / Mengubah Takdir
Popularitas:10.7k
Nilai: 5
Nama Author: inda

Yun Ma, seorang gadis modern yang sedang menikmati cuti dari pekerjaannya yang melelahkan, tak pernah menyangka kematiannya di dasar sebuah sumur tua justru membawanya ke dunia lain. Saat membuka mata, ia terbangun sebagai Yun Mailan, putri sah Menteri Pendidikan Kekaisaran tokoh utama wanita dalam sebuah novel tragis yang pernah ia baca dan benci.

Dalam cerita asli, Yun Mailan dibenci ayahnya, dimanfaatkan kakaknya, dikhianati tunangannya, difitnah tanpa pembelaan, lalu mati sendirian dalam kehinaan. Mengetahui seluruh alur nasib tersebut, Yun Ma menolak menerima takdir.

Pada malam kebangkitannya, ia melarikan diri dari kediaman keluarga Yun dan membakar masa lalu yang penuh kepalsuan. Bersama pelayan setia bernama Ayin, Yun Mailan memulai hidup baru dari nol.

Berbekal pengetahuan masa depan, tekad kuat untuk bertahan hidup, dan sebuah liontin peninggalan ibunya yang menyimpan kekuatan tersembunyi, Yun Mailan bersumpah untuk bangkit. Suatu hari, ia akan kembali bukan sebagai korban

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon inda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Langkah mereka dipercepat.

Tidak ada lagi jeda panjang, tidak ada lagi malam yang dihabiskan untuk menimbang terlalu lama. Xuan memimpin dari depan, langkahnya stabil, matanya terus menyapu sekitar. Lin Que dan dua pengawal lain menyebar, membentuk setengah lingkaran pengamanan.

Hutan mulai menipis.

“Kalau kita terus ke arah ini,” kata Lin Que pelan, “kita akan masuk wilayah netral sebelum senja.”

“Netral itu kata yang bagus,” sahut Ye datar. “Biasanya berarti penuh mata.”

Shen Yu berjalan di sisi Yun Ma. “Pasar Agung masih dua hari perjalanan. Tapi desa saksi berikutnya ada di depan.”

Yun Ma mengangguk. “Desa Batu Tua.”

Hui mendengus. “Namanya saja sudah suram.”

“Desa itu seharusnya sudah kosong,” tambah Shen Yu. “Laporan terakhir mengatakan semua penduduk menghilang.”

Xuan berhenti. Semua ikut berhenti.

“Menghilang atau disingkirkan?” tanya Xuan.

“Belum jelas,” jawab Shen Yu.

Xuan menatap Yun Ma. “Apa yang kau rasakan?”

Yun Ma memejamkan mata sejenak. “Takut. Tapi belum mati.”

“Bagus,” kata Xuan singkat. “Berarti masih ada yang bisa kita dengar.”

Mereka tiba di Desa Batu Tua saat matahari sudah condong.

Rumah-rumah kayu berdiri miring, beberapa pintu terbuka, tidak ada asap dapur, tidak ada suara ayam. Sunyi, tapi bukan sunyi kosong, sunyi yang seperti menunggu.

Hui mengendus tanah. “Ada orang. Sedikit. Mereka bersembunyi.”

Xuan mengangkat tangan, memberi isyarat berhenti. “Jangan menyebar dulu.”

Ia melangkah ke tengah desa. “Kami tidak datang membawa pasukan.”

Tidak ada jawaban.

“Kami tidak akan menyakiti siapa pun,” lanjut Xuan, suaranya tegas tapi tidak mengancam. “Kami ingin mendengar kebenaran.”

Pintu sebuah rumah tua berderit pelan.

Seorang wanita tua muncul, tangannya gemetar memegang tongkat. “Kebenaran?” suaranya serak. “Kalian datang terlambat.”

Yun Ma melangkah maju. “Kami tahu. Tapi kami tetap datang.”

Wanita itu menatap Yun Ma lama, lalu menghela napas. “Masuk. Sebelum yang lain melihat.”

Di dalam rumah, mereka duduk melingkar.

Ada tujuh orang. Kurus. Lelah. Mata mereka tidak lagi menyimpan harapan, hanya kebiasaan bertahan.

“Mereka datang malam hari,” kata seorang pria muda. “Tidak pakai bendera. Tidak bicara banyak.”

“Berapa orang?” tanya Lin Que.

“Sepuluh. Mungkin dua belas,” jawabnya. “Tapi mereka tahu persis siapa yang dicari.”

Wanita tua itu menatap Xuan. “Mereka menyebut namamu.”

Xuan tidak terkejut. “Apa yang mereka katakan?”

“Bahwa kau mengkhianati dunia. Bahwa siapa pun yang membantumu adalah musuh.”

Yun Ma mengepalkan tangannya. “Lalu?”

“Mereka membunuh kepala desa,” lanjut wanita itu. “Tabib. Dua penjaga gerbang.”

“Dan kalian?” tanya Shen Yu.

“Mereka bilang kami boleh hidup,” jawab pria muda itu pahit. “Agar kami bisa menceritakan siapa yang melakukannya.”

“Siapa?” tanya Hui tajam.

Pria itu menatap Xuan. “Kau.”

Ruangan menjadi sunyi.

Xuan berdiri. “Dengarkan aku baik-baik.”

Semua mata tertuju padanya.

“Aku tidak pernah mengirim pasukan ke sini,” katanya tegas. “Dan orang-orang yang membunuh desa kalian… bukan bawahanku.”

Wanita tua itu tertawa pendek. “Kami sudah tahu.”

Xuan terdiam. “Kalian… tahu?”

“Kami melihat mata mereka,” kata wanita itu. “Mereka tidak bertarung seperti prajuritmu dulu.”

Yun Ma mencondongkan tubuh. “Apa yang berbeda?”

“Mereka terlalu rapi,” jawab pria muda itu. “Terlalu tenang. Seperti algojo, bukan tentara.”

Shen Yu mengangguk pelan. “Ciri Dewan Bayangan.”

Xuan menghembuskan napas. “Kami akan membawa kesaksian kalian.”

Wanita tua itu menggeleng. “Bawa? Ke mana?”

“Ke Pasar Agung,” jawab Yun Ma. “Ke tempat semua orang mendengar.”

“Dan setelah itu?” tanya pria muda itu. “Apa yang terjadi pada kami?”

Xuan menatap mereka satu per satu. “Aku akan bertanggung jawab.”

Itu bukan janji kosong. Cara ia mengatakannya membuat ruangan kembali bernapas.

Malam itu, mereka tidak tidur lama.

Shen Yu menarik Yun Ma ke samping. “Tekanan di Qinghe meningkat.”

“Ayin masih bertahan?” tanya Yun Ma cepat.

“Masih. Tapi mereka mulai mengirim orang yang lebih halus.”

Yun Ma menutup mata sejenak. “Mereka ingin memecah fokusku.”

“Dan berhasil?” tanya Shen Yu.

Yun Ma membuka mata. “Tidak.”

Keesokan paginya, mereka bergerak lagi.

Kali ini membawa lima orang dari Desa Batu Tua.

“Apa kalian yakin?” tanya Lin Que.

“Kami tidak punya apa-apa lagi di sini,” jawab wanita tua itu. “Kalau harus mati, lebih baik mati sambil bicara.”

Hui menggeram pelan. “Aku mulai tidak sabar dengan Dewan Bayangan.”

Ye meliriknya. “Kau baru sekarang?”

Hari ketiga, mereka mendekati wilayah luar Pasar Agung.

Jalanan mulai ramai. Pedagang. Kafilah. Tentara bayaran. Mata-mata.

“Mulai dari sini,” kata Xuan, “kita berpisah peran.”

Lin Que menegakkan tubuh. “Perintah?”

“Sebagian menyebar, sebarkan cerita,” jawab Xuan. “Bukan teriak. Bukan tuduh. Cerita.”

Yun Ma menambahkan, “Kebenaran lebih kuat kalau terdengar seperti pengalaman, bukan pidato.”

Shen Yu mengangguk. “Aku akan pastikan Dewan Bayangan tahu kita datang.”

Hui tersenyum lebar. “Oh, aku sangat ingin melihat wajah mereka.”

Sementara itu, di Qinghe

Ayin duduk di tengah lingkaran simbol.

Keringat dingin mengalir di pelipisnya.

“Terlalu banyak,” gumamnya. “Kalian benar-benar keras kepala.”

Bayangan muncul lagi.

Bukan satu.

Tiga.

“Kau seharusnya sudah menyerah,” kata salah satu dari mereka.

Ayin mengangkat kepala, matanya tajam. “Dan kalian seharusnya sudah pergi.”

Tekanan menghantam perlindungan.

Simbol berdenyut keras.

Ayin menggertakkan gigi. “Nona… cepatlah.”

Di Pasar Agung, Xuan berdiri di tengah keramaian.

Tidak di panggung.

Tidak di istana.

Di antara orang-orang.

Seorang pedagang berbisik pada yang lain. “Itu dia.”

“Yang mana?”

“Xuan.”

Bisikan menyebar.

Yun Ma berdiri di sampingnya, tenang, matanya awas.

“Mulai,” kata Xuan pelan.

Dan di berbagai sudut pasar, cerita mulai terdengar.

Tentang desa yang dibakar.

Tentang pasukan tanpa lambang.

Tentang nama Xuan yang digunakan untuk menutupi kejahatan orang lain.

Dewan Bayangan tidak langsung bergerak.

Namun mereka mendengar.

Dan mereka tahu

Permainan sudah memasuki tahap terbuka.

Jauh di sebuah ruangan gelap, seseorang memukul meja.

“Dia berani,” katanya dingin.

“Dan wanita itu,” sahut yang lain, “tidak bisa kita biarkan lebih lama.”

“Belum,” jawab yang pertama. “Tapi sekarang… tekan Qinghe.”

Senyum tipis muncul. “Mari lihat pilihan apa yang akan dia buat.”

Di Pasar Agung, Yun Ma tiba-tiba mencengkeram lengan Xuan.

“Apa?” tanya Xuan cepat.

“Qinghe,” jawab Yun Ma singkat. “Mereka meningkatkan tekanan.”

Xuan menegang.

“Kalau kau harus memilih” Yun Ma mulai.

“Tidak,” potong Xuan. “Kita tidak memilih.”

Ia menoleh ke Lin Que. “Siapkan pasukan kecil.”

“Kita ke Qinghe?” tanya Lin Que.

Xuan menatap kerumunan pasar yang mulai bergolak. “Tidak.”

“Kita buat Dewan Bayangan datang ke kita.”

Yun Ma menatapnya, lalu tersenyum tipis. “Baik.”

Di kejauhan, lonceng Pasar Agung berdentang.

Dan untuk pertama kalinya sejak lama, dunia benar-benar mulai memperhatikan.

Bersambung.

1
Shai'er
💪💪💪💪💪💪💪
Shai'er
👍👍👍👍👍
Shai'er
🙄🙄🙄🙄🙄
Shai'er
💪💪💪💪💪
Cindy
lanjut kak
Shai'er
👍👍👍👍👍👍
Shai'er
😱😱😱😱
Shai'er
💪💪💪💪💪
Shai'er
🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️
Shai'er
🤧🤧🤧🤧🤧
sahabat pena
bener ternyata mantan ya? mantan yg menyesal dan mengejar masa depan
sahabat pena
siapa itu? apa mantan tunangan nya ya
Naviah
lanjut thor
Shai'er
puyeng 😵‍💫😵‍💫😵‍💫😵‍💫
Shai'er
lha...... kenapa baru sekarang lu ngomong tentang keadilan 😏😏😏
Shai'er
hayoo loh😏😏😏
Shai'er
Ayin💪💪💪
Cindy
lanjut kak
Naviah
ini perang narasi kah 🤔 dan siapa itu Dewan bayangan
Naviah
semangat Ayin bertahan lah🙌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!