NovelToon NovelToon
Embers Of The Twin Fates

Embers Of The Twin Fates

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Action / Romantis / Fantasi / Epik Petualangan / Mengubah Takdir
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: ibar

di dunia zentaria, ada sebuah kekaisaran yang berdiri megah di benua Laurentia, kekaisaran terbesar memimpin penuh Banua tersebut.

tapi hingga pada akhirnya takdir pun merubah segalanya, pada saat malam hari menjelang fajar kekaisaran tersebut runtuh dan hanya menyisakan puing-puing bangunan.

Kenzie Laurent dan adiknya Reinzie Laurent terpaksa harus berpisah demi keamanan mereka untuk menghindar dari kejaran dari seorang penghianat bernama Zarco.

hingga pada akhirnya takdir pun merubah segalanya, kedua pangeran itu memiliki jalan mereka masing-masing.

> dunia tidak kehilangan harapan dan cahaya, melainkan kegelapan itu sendiri lah kekurangan terangnya <

> "Di dunia yang hanya menghormati kekuatan, kasih sayang bisa menjadi kutukan, dan takdir… bisa jadi pedang yang menebas keluarga sendiri <.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ibar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 22

Setiap langkah-langkah yang di lakukan Kenzie sangat indah dan sangat akurat dengan ayunan pedangnya, setiap kali Kenzie melakukan gerakan langkah, membuat hati Helen tidak bisa menahan pujian dalam pikirannya, "sangat tenang" pikirnya berkata dalam diam.

di sisi lain, bukan hanya Helen yang melihat Kenzie dengan sangat bangga di hati, tapi wulan pun sama, jelas ia tidak bisa menyembunyikan perasaan ingin memuji Kenzie dalam pikirannya, "sungguh bakat yang luar biasa, aku sangat bangga pada diriku karena telah merekrut seorang yang berbakat" ia berkata dengan suasana hati yang sangat senang dalam pikiran.

Orang lain yang melihat Kenzie memiliki bakat beladiri yang sangat hebat, mereka tidak mengetahui bahwa, menurut Kenzie, dirinya tidak memiliki bakat bawaan dari lahir tentang pelajaran ilmu beladiri

Jika di bandingkan dengan adiknya Reinzie yang memiliki bakat beladiri bawaan dari lahir, jelas reinzie lebih unggul dalam aspek tersebut, sedangkan dirinya sendiri menjadi kuat seperti sekarang ini adalah hasil dari latihan kerasnya dan tekad yang tidak perna goyang sedikitpun untuk mencoba dan memulai dari awal.

jelas bahwa kekuatannya ini terbentuk dari didikan arvendel yang selama ini membentuk dirinya dari anak yang lemah.

"Jika tuan arvendel melihat jurus langkah pembunuh langit ku yang aku katakan padanya mungkin tuan arvendel berkata, masih ada kekurangan, kau masih belum mencapai batasnya" Kenzie berkata dalam pikiran sambil melakukan latihannya

"baiklah kalau begitu" katanya dengan siap melakukan gerakan yang lebih intens, langkahnya lebih bergairah dan penuh penindasan, setiap gerakannya penuh dengan kehalusan

Bagaikan kabut tebal membawa kepanikan di lubuk hati. Tentu, karena jurusnya terinspirasi dari gunung celestara saat ia menghadapi puluhan monster yang tidak ada habisnya berdatangan. Maka dari itu ia menamakan tekniknya langka ilusi kabut.

...----------------...

Beberapa saat kemudian, setelah ia berhasil memahami dan menciptakan teknik langkah pembunuh langit pertama.

Beberapa saat setelah rangkaian langkah itu berakhir, napas Kenzie perlahan kembali stabil. Kabut tipis yang sempat menyelimuti tubuhnya memudar, menyatu dengan udara pegunungan.

Ia menurunkan pedangnya perlahan.

Keringat membasahi pelipisnya, namun wajahnya tenang—bukan kelelahan yang menghancurkan, melainkan rasa puas yang sunyi.

Kenzie berlutut, lalu duduk bersila. Pedangnya diletakkan di depan, telapak tangannya bertumpu di lutut. Ia menutup mata sejenak, menenangkan aliran Ki yang masih berdenyut halus.

Langkah itu… belum sempurna.

Masih ada celah.

Namun untuk pertama kalinya, ia merasakan arah.

Langkah kaki, niat, pedang—semuanya mulai berbicara dalam satu bahasa.

“Cukup.”

Suara itu datang tanpa emosi, namun jelas.

Kenzie membuka mata.

Helen Rowena berdiri beberapa langkah di depannya. Di belakangnya, Wulan Tsuyoki mendekat dengan langkah ringan, senyum kecil terlukis tanpa ia sadari.

“Kau sudah melewati batas latihan hari ini,” kata Helen datar. “Jika kau memaksa lebih jauh, tubuhmu yang akan membayarnya.”

Kenzie segera berdiri dan membungkuk hormat.

“Terima kasih atas bimbingannya, Guru.”

Helen menatapnya sejenak—lebih lama dari biasanya.

“Teknik Langkah Hening Kabut itu…” Helen berhenti sejenak, memilih kata. “Fondasinya sudah benar. Kau tidak memaksakan Ki. Itu keputusan yang tepat.”

Kenzie sedikit terkejut.

Itu… hampir terdengar seperti pujian.

Wulan menyilangkan tangan, menatap Kenzie dengan penuh minat.

“Jujur saja,” katanya ringan, “kalau aku tidak melihatnya sendiri, aku akan mengira kau sudah berlatih langkah itu selama bertahun-tahun.”

Kenzie menggaruk pipinya pelan.

“Aku hanya… mengingat ulang hal-hal yang pernah hampir membunuhku.”

Wulan tertawa kecil. “Pemikiran yang sangat hebat kenzie.”

Helen menghela napas pelan.

“Jangan cepat puas. Teknik itu masih rapuh. Jika kau menggunakannya dalam pertarungan nyata sekarang, satu kesalahan kecil saja bisa membuatmu terbuka.”

“Aku mengerti,” jawab Kenzie mantap.

Helen mengangguk. “Pergilah beristirahat. Tubuh dan pikiranmu perlu ketenangan jarak sebelum melangkah lebih jauh itu perlu ketenangan.”

Kenzie membungkuk sekali lagi.

“Baik, Guru.”

Ia mengambil pedangnya dan melangkah pergi, meninggalkan halaman latihan.

Wulan memandang punggung Kenzie yang menjauh, lalu berkata pelan, hampir tak terdengar,

“Dia benar-benar berbeda… Seorang pria yang berbakat, tapi karena keteguhannya ia bisa melangkah lebih jauh lagi.”

Helen tidak menjawab. Namun tatapannya mengikuti Kenzie lebih lama dari yang ia sadari.

---

Keluar dari Pegunungan

Jalur gunung yang mengarah ke bawah terasa lebih ringan hari ini. Angin berhembus lembut, matahari sudah condong ke barat.

Kenzie mempercepat langkahnya.

Tidak lama kemudian, ia melihat sosok yang sudah dikenalnya.

Rava duduk di atas batu besar, memijat pahanya. Liera berdiri di sampingnya, sementara Ryujin… sedang mengunyah sesuatu entah apa dengan ekspresi santai.

“Kau kelihatan lebih segar dari kami,” kata Rava begitu melihat Kenzie. “Latihan murid dalam memang seenak itu, ya?”

Ryujin menyeringai lebar.

“Wajahnya beda. Itu wajah orang yang habis dapat pencerahan!”

Kenzie terkekeh kecil.

“Kalian kelihatan seperti orang yang hampir mati.”

“Nyaris, saja itu terjadi, lantaran ulah seseorang?” jawab Rava datar dan berkata, dengan memandang ryujin.

Liera tersenyum lega. “Tapi kami senang karena dapat melatih dasar gerakan.”

Kenzie mengangguk.

“Bagus... Kalian bertiga lapar?”

Ryujin langsung berdiri tegak.

“Pertanyaan terbaik hari ini... Tentu saja kami sangat lapar”

---

Kota Kerajaan Elyndor

Gerbang Kerajaan Elyndor berdiri megah, ramai oleh pedagang, petualang, dan murid-murid sekte. Jalan batu dipenuhi suara tawar-menawar dan aroma makanan.

Mereka berhenti di sebuah bangunan yang familiar.

Restoran Sapphire Moon.

Tempat yang sama. Meja kayu, lampion biru, dan suasana hangat yang tak berubah.

“Kita ke sini lagi?” tanya Liera dengan mata berbinar. “Makanannya enak.”

“Kalian duduk saja,” kata Kenzie santai. “Aku yang traktir.”

Rava mengangkat alis. “Serius?”

Kenzie mengangguk. “Anggap saja… hadiah kecil dariku karena kalian sudah menjadi murid sekte gunung langit.”

Ryujin sudah duduk bahkan sebelum makanan datang.

Tak lama, meja mereka dipenuhi hidangan—daging panggang berempah, sup kaldu kental, nasi hangat, dan roti lembut.

Ryujin langsung menyerang. “Ini… luar biasa!” katanya dengan mulut penuh. “Latihanku makan Ki banyak! Aku butuh tambahan energi!” Ia makan seperti badai.

Rava menggeleng. “Pelan sedikit!”

“Tidak bisa!” kata ryujin dengan mengunyah makanan seperti babi kelaparan.

Liera tertawa kecil, sementara Kenzie hanya tersenyum tipis, menikmati kebersamaan itu.

Di sudut restoran, suara percakapan terdengar.

“…katanya sekarang banyak misi terbuka di guild.”

“Bayarannya besar, terutama misi pengawalan dan pembersihan monster.”

Rava menoleh.

“Misi?”

Liera juga mendengarkan dengan saksama.

“Kalau kita ambil misi seperti itu… uangnya cukup besar.”

Rava mengepalkan tangan.

“Kita butuh misi itu untuk mendapatkan uang tambahan.”

Liera mengangguk. “Iya, aku sependapat dengan ucapan mu rava!.”

Ryujin menyeka mulutnya.

“Kalau cuma soal misi… aku ikut saja. Latihan sambil cari uang.”

Semua mata tertuju pada Kenzie.

Kenzie meletakkan makanan perlahan.

“Kalau kalian mau, aku tidak keberatan, aku pasti akan mengikuti kalian.”

Rava tersenyum lebar.

“Kalau begitu, ayo kita ambil.”

Liera menatap mereka satu per satu.

“Baiklah mari kita pergi bersama.”

Kenzie mengangguk.

“Ayo kita lakukan.”

1
أسوين سي
💪💪💪
أسوين سي
👍
{LanLan}.CNL
keren
LanLan.CNL
ayok bantu support
أسوين سي: mudah-mudahan ceritanya bagus sebagus Qing Ruo
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!