Warning Dark Romance ❗❗
Bagi Aluna, Gavin Alvaris Ramadhan adalah iblis yang berwujud manusia. Namun, demi menyelamatkan keluarganya yang hancur, ia terpaksa menyerahkan kebebasannya ke tangan pria itu. Di balik kemewahan yang terlihat menggoda, Aluna harus menghadapi kenyataan pahit: Gavin tidak akan pernah berencana melepaskannya sebelum berhasil menanamkan benihnya dan memiliki Aluna seutuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa1999, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 Gavin ada di sini!
Gavin ada di sini!
Alarm tanda bahaya seketika berbunyi di dalam hati ketiga orang yang sedang berada di taman. Mereka semua serentak menoleh ke arah sumber suara.
Sisi bereaksi paling cepat. Matanya bergerak gelisah, memutar otak dengan cepat untuk mencari alasan guna menyelamatkan dirinya sendiri. Begitu melihat Gavin melangkah mendekat, ia segera memasang wajah menjilat dan membuka mulutnya, bersiap memutarbalikkan fakta untuk menyudutkan Aluna dan Adrian.
Namun, di luar dugaan semua orang, Gavin berjalan lurus melewati Sisi begitu saja, mengabaikan keberadaan pelayan itu sepenuhnya. Sisi terpaksa menggertakkan giginya rapat-rapat, mengatupkan bibirnya dengan kaku, lalu melangkah mundur dengan pasrah untuk memberi jalan.
"Aluna, jangan takut. Aku akan melindungimu," ujar Adrian tiba-tiba. Melihat tubuh Aluna yang gemetar di kursi roda, entah dari mana datangnya keberanian, Adrian malah nekat berusaha menantang Gavin.
"Adrian..." Aluna berbisik dengan panik.
Mendengar bisikan itu, emosi Gavin langsung tersulut. Ia menyipitkan matanya yang tajam, lalu melayangkan satu pukulan keras yang melaju secepat angin ke arah wajah Adrian.
Adrian ketakutan setengah mati. Ia secara naluriah menelan ludah dan buru-buru melangkah mundur untuk menghindar. Pada momen kritis itu, Aluna memanfaatkan celah yang ada untuk mendorong roda kursi rodanya, memposisikan dirinya tepat di depan Adrian guna menghalangi Gavin.
"Apa kamu juga mau memukulku?" tantang Aluna.
Mata Aluna terlihat jernih namun memperlihatkan ekspresi ketakutan sambil menatap lurus ke arah Gavin. Gavin mengambil langkah lebar ke depan, namun secara mendadak ia menarik kembali tinjunya di udara.
Melihat Aluna yang pasang badan demi melindungi Adrian di hadapannya, Gavin merasa harga dirinya sebagai pria sangat diinjak-injak. Ia menatap Aluna dengan pandangan tidak percaya. "Kamu... kamu benar-benar nekat menantangku hanya demi melindungi pria ini?"
Aluna mendongak. Ditatap oleh mata gelap Gavin yang penuh dengan amarah membuat urat sarafnya menegang hebat. Di dalam hati, ia sangat ingin melarikan diri dari situasi mencekam ini.
Untuk menyudahi ketegangan, Aluna diam-diam mencubit kulit lengannya sendiri dengan sangat keras. Rasa sakit yang menusuk seketika memancing keringat dingin keluar di pelipisnya. Detik berikutnya, ia memejamkan mata dan berpura-pura jatuh pingsan di atas kursi roda.
Melihat Aluna mendadak tidak sadarkan diri, Gavin seketika panik. Ia mengabaikan kemarahannya pada Adrian, lalu bergegas maju untuk memeluk tubuh Aluna dengan erat. Dengan suara cemas, ia bertanya,
"Aluna! Aluna, kamu kenapa?!"
Aluna sebenarnya hanya bersandiwara. Begitu mendengar teriakan panik Gavin, ia perlahan membuka matanya dengan lemah. Ia mengangkat kedua lengan rampingnya, lalu mengalungkannya secara di leher Gavin. Bilah bibirnya bergerak perlahan untuk berbisik lirih.
"Kak Gavin... semua ini hanya salah paham. Ini adalah jebakan yang sengaja direncanakan oleh Sisi."
"Sisi?" Gavin menoleh dengan cepat, menatap pelayan itu dengan kening berkerut.
Sorot mata Gavin yang semula panik mendadak berubah menjadi sangat tajam dan dingin. Sisi yang ditatap seperti itu langsung ketakutan. Mana berani ia mengatakan skenario yang yang dia buat?
Sisi buru-buru melangkah maju, menundukkan kepalanya dalam-dalam, dan berucap dengan suara gemetar, "Tuan, Nona Aluna hanya salah paham. Bagaimana mungkin saya berani melakukan hal seperti itu? Saya benar-benar tidak bersalah, Tuan."
"Hah, kamu masih mau mengelak?" potong Aluna langsung, tidak memberikan Sisi celah sedikit pun untuk membela diri. "Aku bahkan tidak memiliki nomor ponsel atau info kontak Adrian. Dia juga sudah dipaksa pergi dari kota ini atas perintah Kak Gavin, lalu bagaimana bisa hari ini dia tiba-tiba tahu aku ada di sini dan langsung menemuiku? Pasti ada orang dalam yang sengaja mengaturnya."
"Nona Aluna, Anda..."
"Lagi pula," sela Aluna tegas, "sangat sedikit orang yang mengetahui bahwa aku sedang dirawat di rumah sakit ini. Selain Kak Gavin yang menjagaku, hanya kamu pelayan yang memiliki akses untuk mendekatiku dan mencari celah untuk membawa Adrian ke taman ini. Jadi, apa lagi yang mau kamu jelaskan?"
Aluna mengunci pandangannya pada Sisi dengan ekspresi wajah yang dibuat seolah-olah sangat tenang. Padahal, di balik selimut kursi roda, jarinya mengepal dengan erat dan jantungnya berdegup kencang. Ia cemas jika Sisi nekat bertindak anarkis seperti anjing gila, dan ia juga takut jika Gavin tidak mempercayai kata katanya.
"Nona Aluna, Anda benar-benar memfitna......"
Bruk!
Belum sempat Sisi menyelesaikan kalimat pembelaannya, Gavin sudah melayangkan satu tendangan keras tepat di perut pelayan itu.
Gavin memiliki kekuatan fisik yang besar, ditambah lagi ia sedang dikuasai oleh amarah karena merasa privasi Aluna diusik. Akibat hantaman tendangan tersebut, tubuh Sisi terlempar dan terseret sejauh dua meter di atas hamparan rumput taman.
Sisi berusaha keras untuk kembali bangkit, namun darah segar mulai merembes keluar dari sudut mulutnya, disertai rasa nyeri yang luar biasa di sekujur tubuh yang membuatnya tidak mampu untuk berdiri.
"Sepertinya kamu cepat sekali melupakan rasa sakit dari hukuman di ruang bawah tanah kemarin," desis Gavin dingin. "Karena kamu tidak bisa kapok, aku akan membuatmu merasakannya lagi dengan yang lebih parah.
Mulai detik ini, kamu resmi dipecat dan tidak akan pernah bisa mendekati Aluna lagi."
Mendengar keputusan Gavin, Sisi menyadari bahwa rencananya telah gagal sepenuhnya dan ia tidak akan pernah memiliki kesempatan lagi untuk mendekati Gavin.
Emosi kesedihan dan ketakutan bercampur aduk di dadanya.
Dengan sisa tenaga yang ada, Sisi menyeka darah di sudut mulutnya dengan kasar menggunakan punggung tangan, lalu merangkak di atas rumput mendekati posisi Gavin. Aluna hanya bisa mengernyitkan dahi, menatap pemandangan memprihatinkan itu dengan perasaan campur aduk.
Sisi dengan putus asa mencengkeram ujung celana panjang Gavin dan berteriak histeris,
"Tuan, saya mohon ampuni saya! Saya bersumpah bukan saya dalang utamanya!"
Brak!
Gavin kembali mengibaskan kakinya dengan kasar hingga cengkeraman Sisi terlepas. Namun, Sisi bertingkah bagai kecoak yang menolak mati; ia tetap keras kepala tidak mau menyerah. Untuk kedua kalinya, ia kembali memeluk kaki Gavin, lalu dengan jemari yang gemetar, ia menunjuk lurus ke arah Adrian.
"Tuan Muda! Saya dijebak oleh pria itu! Kemarin dia memohon kepada saya dan berjanji hanya ingin melihat Nona Aluna dari jarak jauh lalu pergi. Siapa yang menyangka begitu melihat Nona Aluna di taman, dia langsung bertindak lancang seperti lintah yang menempel terus!" teriak Sisi
memindahkan seluruh kesalahan pada Adrian.
Mendapat tuduhan mendadak yang mengarah kepadanya, Adrian seketika panik.
Mata Gavin menyipit berbahaya. Ia melepaskan dekapannya pada Aluna, lalu melangkah lebar menghampiri Adrian dan langsung melayangkan pukulan fisik tanpa ampun.
Entah karena harga dirinya sebagai pria terluka atau karena merasa malu kerena dipermalukan di depan umum, Adrian mendadak ikut menjadi nekat. Ia bangkit berdiri dan membalas serangan Gavin seolah sedang mempertaruhkan nyawanya.
Aksi pergulatan fisik terjadi di antara keduanya, namun perbedaan kemampuan bela diri membuat duel tersebut menjadi pemukulan yang brutal bagi Adrian. Dalam waktu singkat, Gavin berhasil menjatuhkan Adrian ke tanah, lalu mengunci pergerakan pria itu dengan menekan kepala Adrian di bawah alas sepatunya.
"Ah!"
Aluna berteriak pelan menyaksikan kekejaman Gavin. Ia segera mengangkat tangannya untuk menutup mulutnya sendiri rapat-rapat. Ia tidak menyangka Gavin akan memberikan penghinaan serendah itu kepada Adrian di depan matanya sendiri.
Dia tiba-tiba merasa bersalah pada Adrian.
"Gavin, lepas! Aku akan membunuhmu, sialan!" teriak Adrian histeris dengan wajah yang tertekan di atas tanah. Harga dirinya sebagai seorang instruktur musik hancur lebur diinjak-injak di tempat umum. Ia meronta brutal dan berteriak tanpa kendali.
Namun, Gavin sama sekali tidak menganggap perlawanan Adrian sebagai ancaman. Ia justru menambah tekanan kakinya pada kepala Adrian, sembari menyunggingkan senyum ejekan yang dingin di sudut bibirnya.
"Berdiri dulu dan buktikan ucapanmu, baru kamu boleh bicara tentang membunuhku," desis Gavin meremehkan.